LOGINDion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.
Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga.
"Bagaimana?" Tanya Dion.
"Dirga sudah tidur."
"Parahkah?"
Kian mengangguk ragu.
"Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."
Dion mengangguk paham.
"Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"
Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."
Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu."
"Dia temanmu juga!"
"Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung tertawa.
"Sudah. Biarkan mereka tidur dulu. Tapi aku akan berjaga di sini. Takut nanti Mia bangun dan dia salah langkah."
Kian menautkan alisnya, "Maksudmu?"
"Kau tahu? Mia sangat marah. Aku tak ingin dia khilaf dan menghabisi Dirga. Hahaha."
Kian tercengang mendengar ucapan Dion. Pikiran pria di depannya ini sungguh sangat luar biasa.
Setelah Kian pulang, Dion berjaga. Namun baru juga ia duduk di sofa, suara Teriakan terdengar dari kamar tamu.
Dion langsung berlari menemui Mia. Dion mendapati Mia sedang meringkuk menjerit di atas ranjang. Spontan Dion langsung berlari mendekati Mia dan memeluknya.
Pelukan itu cukup kuat karena Mia memberontak.
"Lepaskan aku!" Teriak Mia.
"Mia. Mia ini aku Dion. Kau aman sekarang."
Mia terdiam. Ia menatap siapa yang ada di depannya. Ia terisak dan kembali memeluk Dion. Walaupun ia tak kenal Dion, namun melihatnya membuat Mia merasa aman.
"Dia jahat. Dia membunuh orang-orang itu." Ucap Mia sambil terisak.
Dion melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lalu mengusap puncak kepala Mia, "Kau salah. Keempat pria itu tak mati. Dirga hanya menembak lututnya."
"Ha? Hanya kamu bilang? Kalau memang begitu, itu artinya pria gila itu sudah menghancurkan kehidupan orang lain."
"Hmm, gimana cara ngomongnya ya. Aku ingin memberitahumu, namun aku takut Dirga marah. Jadi, jika Dirga nanti bangun, kau tanyakan saja padanya. Dia pasti akan menjawabnya."
"Cih! Nggak sudi. Manusia nggak punya hati."
Dion ingin menyumpahi gadis didepannya ini, namun ia harus bersikap baik.
"Kau istirahatlah." Dion berdiri, namun Mia langsung menahan lengannya.
"Tunggu. Aku harus pulang. Besok aku harus bekerja."
"Kalau untuk yang satu itu, lebih baik tanya Dirga saja."
"Kenapa begitu?"
"Karena dia yang membawamu ke sini."
"Tapi,"
"Sudah. Kau harus tidur. Ini sudah sangat larut. Tidak, ini bahkan hampir mendekati subuh. Istirahatkan tubuhmu agar besok punya tenaga menghadapi Dirga."
Kali ini Dion keluar dan Mia tak menahannya lagi. Sepeninggalan Dion, Mia dibuat berpikir keras.
"Kenapa pria gila itu menghancurkan lutut orang?" Ucapnya.
Mia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Entah kenapa matanya justru tertuju pada pintu kamar Dirga yang tertutup. TV ruang tengah menyala dan ia yakin Dion ada di sana.
Perlahan Mia mulai melangkah. Ia berusaha untuk tak membuat suara sedikitpun. Ia bahkan membuka pintu kamar Dirga dengan sangat hati-hati dan menutupnya kembali dengan cara yang sama.
Mia menatap wajah Dirga yang polos saat tertidur. Namun entah kenapa, apa yang Dirga lakukan padanya tadi, tak membuat kepolosan itu begitu saja membuatnya luluh.
Ia mengumpat menatap Dirga.
Mia mendekat bahkan berjongkok di samping tempat tidur Dirga.
"Pria gila!" Umpatnya.
"Kamu pikir wajah tenang dan polos kamu saat itu ini bisa bikin aku luluh! Nggak sama sekali. Pria jahat."
Mia menatap dengan seksama pahatan wajah tersebut.
Tampan. Ia akui Dirga sangat tampan. Tapi ketampanannya benar-benar lenyap karena kelakuan pria itu sendiri.
Mia menatap ke sekelilingnya. Kamar Dirga begitu tenang. Tak terlalu banyak aksesoris di kamar tersebut. Padahal Dirga seorang pria. Biasanya pria akan suka jika dikamarnya diisi banyak mainan dan ada rak nya sendiri. Namun kamar Dirga hanya ada lemari, tempat tidur dan meja. Hanya itu. Oh, ada sofa di sudut ruangan.
Hanya itu, tak lebih.
"Kamu tampan. Dan wajah kamu nggak cocok sebagai mafia. Coba bukan mafia, pasti sudah banyak fansnya." Ucapnya.
Namun satu hal yang Mia tahu, entah kenapa ketakutannya di tengah hutan tadi hilang begitu saja saat ini.
Tak ingin berlama-lama, Mia memutuskan untuk berdiri. Ia takut Dion akan masuk ke sini dan melihat keberadaannya di kamar ini.
"Jadilah anak yang baik. Oke!" Ucapnya.
Mia berdiri. Baru saja ia ingin memutar tubuhnya, Dirga tiba-tiba terbangun dan menarik tangan Mia membuat Mia terjatuh di atas tubuh Dirga.
Mia membola kaget. Ia bahkan berteriak namun dengan cepat ia menutup mulutnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Dirga dengan tatapan tenang namun menusuk.
"Dirga? Itu, lepasin dulu. Aku," Mia memberontak melepaskan diri. Namun tak pernah berhasil. "Aku akan pulang." Ucap Mia tiba-tiba.
"Siapa yang mengizinkan?" Dirga melonggarkan pertahanannya pada Mia. Kesempatan itu dimanfaatkan Mia untuk melepaskan diri.
"Aku tak perlu izin untuk pulang ke kontrakan ku sendiri."
"Nyawamu cukup berbahaya."
"Kata siapa? Justru bersamamu membuat hidupku jauh dari kata baik-baik saja. Bukan tak mungkin suatu saat nanti kamu bakalan ngelakuin hal yang sama dengan yang kamu lakukan tadi."
Dirga berusaha untuk duduk. Dengan cepat ia menjangkau Mia kembali dan kali ini Mia terduduk di pangkuannya. Ia menahan rahang Mia dengan sebelah tangannya, "Tak ada yang bisa membuatmu keluar dari sini. Karena mulai hari ini, kau jadi perawat pribadiku."
*****
Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da
Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba
Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r
Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah
Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar
Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp







