مشاركة

Chapter 6

مؤلف: Rilla
last update تاريخ النشر: 2026-03-11 19:34:31

Dion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.

Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga.

"Bagaimana?" Tanya Dion.

"Dirga sudah tidur."

"Parahkah?"

Kian mengangguk ragu.

"Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."

Dion mengangguk paham. 

"Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"

Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."

Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu."

"Dia temanmu juga!"

"Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung tertawa.

"Sudah. Biarkan mereka tidur dulu. Tapi aku akan berjaga di sini. Takut nanti Mia bangun dan dia salah langkah."

Kian menautkan alisnya, "Maksudmu?"

"Kau tahu? Mia sangat marah. Aku tak ingin dia khilaf dan menghabisi Dirga. Hahaha."

Kian tercengang mendengar ucapan Dion. Pikiran pria di depannya ini sungguh sangat luar biasa.

Setelah Kian pulang, Dion berjaga. Namun baru juga ia duduk di sofa, suara Teriakan terdengar dari kamar tamu.

Dion langsung berlari menemui Mia. Dion mendapati Mia sedang meringkuk menjerit di atas ranjang. Spontan Dion langsung berlari mendekati Mia dan memeluknya.

Pelukan itu cukup kuat karena Mia memberontak.

"Lepaskan aku!" Teriak Mia.

"Mia. Mia ini aku Dion. Kau aman sekarang."

Mia terdiam. Ia menatap siapa yang ada di depannya. Ia terisak dan kembali memeluk Dion. Walaupun ia tak kenal Dion, namun melihatnya membuat Mia merasa aman.

"Dia jahat. Dia membunuh orang-orang itu." Ucap Mia sambil terisak.

Dion melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lalu mengusap puncak kepala Mia, "Kau salah. Keempat pria itu tak mati. Dirga hanya menembak lututnya."

"Ha? Hanya kamu bilang? Kalau memang begitu, itu artinya pria gila itu sudah menghancurkan kehidupan orang lain."

"Hmm, gimana cara ngomongnya ya. Aku ingin memberitahumu, namun aku takut Dirga marah. Jadi, jika Dirga nanti bangun, kau tanyakan saja padanya. Dia pasti akan menjawabnya."

"Cih! Nggak sudi. Manusia nggak punya hati."

Dion ingin menyumpahi gadis didepannya ini, namun ia harus bersikap baik.

"Kau istirahatlah." Dion berdiri, namun Mia langsung menahan lengannya.

"Tunggu. Aku harus pulang. Besok aku harus bekerja."

"Kalau untuk yang satu itu, lebih baik tanya Dirga saja."

"Kenapa begitu?"

"Karena dia yang membawamu ke sini."

"Tapi,"

"Sudah. Kau harus tidur. Ini sudah sangat larut. Tidak, ini bahkan hampir mendekati subuh. Istirahatkan tubuhmu agar besok punya tenaga menghadapi Dirga."

Kali ini Dion keluar dan Mia tak menahannya lagi. Sepeninggalan Dion, Mia dibuat berpikir keras.

"Kenapa pria gila itu menghancurkan lutut orang?" Ucapnya.

Mia turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Entah kenapa matanya justru tertuju pada pintu kamar Dirga yang tertutup. TV ruang tengah menyala dan ia yakin Dion ada di sana.

Perlahan Mia mulai melangkah. Ia berusaha untuk tak membuat suara sedikitpun. Ia bahkan membuka pintu kamar Dirga dengan sangat hati-hati dan menutupnya kembali dengan cara yang sama.

Mia menatap wajah Dirga yang polos saat tertidur. Namun entah kenapa, apa yang Dirga lakukan padanya tadi, tak membuat kepolosan itu begitu saja membuatnya luluh.

Ia mengumpat menatap Dirga.

Mia mendekat bahkan berjongkok di samping tempat tidur Dirga.

"Pria gila!" Umpatnya.

"Kamu pikir wajah tenang dan polos kamu saat itu ini bisa bikin aku luluh! Nggak sama sekali. Pria jahat."

Mia menatap dengan seksama pahatan wajah tersebut.

Tampan. Ia akui Dirga sangat tampan. Tapi ketampanannya benar-benar lenyap karena kelakuan pria itu sendiri.

Mia menatap ke sekelilingnya. Kamar Dirga begitu tenang. Tak terlalu banyak aksesoris di kamar tersebut. Padahal Dirga seorang pria. Biasanya pria akan suka jika dikamarnya diisi banyak mainan dan ada rak nya sendiri. Namun kamar Dirga hanya ada lemari, tempat tidur dan meja. Hanya itu. Oh, ada sofa di sudut ruangan.

Hanya itu, tak lebih.

"Kamu tampan. Dan wajah kamu nggak cocok sebagai mafia. Coba bukan mafia, pasti sudah banyak fansnya." Ucapnya.

Namun satu hal yang Mia tahu, entah kenapa ketakutannya di tengah hutan tadi hilang begitu saja saat ini.

Tak ingin berlama-lama, Mia memutuskan untuk berdiri. Ia takut Dion akan masuk ke sini dan melihat keberadaannya di kamar ini.

"Jadilah anak yang baik. Oke!" Ucapnya.

Mia berdiri. Baru saja ia ingin memutar tubuhnya, Dirga tiba-tiba terbangun dan menarik tangan Mia membuat Mia terjatuh di atas tubuh Dirga.

Mia membola kaget. Ia bahkan berteriak namun dengan cepat ia menutup mulutnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Dirga dengan tatapan tenang namun menusuk.

"Dirga? Itu, lepasin dulu. Aku," Mia memberontak melepaskan diri. Namun tak pernah berhasil. "Aku akan pulang." Ucap Mia tiba-tiba.

"Siapa yang mengizinkan?" Dirga melonggarkan pertahanannya pada Mia. Kesempatan itu dimanfaatkan Mia untuk melepaskan diri.

"Aku tak perlu izin untuk pulang ke kontrakan ku sendiri."

"Nyawamu cukup berbahaya."

"Kata siapa? Justru bersamamu membuat hidupku jauh dari kata baik-baik saja. Bukan tak mungkin suatu saat nanti kamu bakalan ngelakuin hal yang sama dengan yang kamu lakukan tadi."

Dirga berusaha untuk duduk. Dengan cepat ia menjangkau Mia kembali dan kali ini Mia terduduk di pangkuannya. Ia menahan rahang Mia dengan sebelah tangannya, "Tak ada yang bisa membuatmu keluar dari sini. Karena mulai hari ini, kau jadi perawat pribadiku."

*****

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    10. Kontrak Menyesatkan

    Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertarik. Satu hal yang ia tahu sekarang tentang Dirga. Pria itu menyukai novel fiksi. Banyak novel bergenre Romance di lemari bukunya.saat Mia ingin mengambil satu novel, pintu ruang kerja Dirga terbuka. Ia spontan melirik dan mendapati Dirga berdiri di sana dengan pakaian, olahraga?.Mia menatap gugup. Pakaian Dirga yang penuh keringat, mencetak tubuh atletis Dirga dengan jelas. Pria itu mendekat, melewati Mia dan duduk di kursi kerjanya. Aroma tubuh Dirga menguar dan Mia suka itu. Maskulin sekali, batinnya.Dirga berdehem menyadarkan Mia dari pikiran kotornya."Oh iya." Ia duduk di kursi di depan meja. "Jadi, kenapa aku dipanggil pagi-pagi begini?"Dirga membuka laci mejanya dan mengeluarkan

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    9. Perawat pribadi?

    Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, jika sekarang ia mati, tak akan ada yang peduli.Mia masih menatap Dirga. Air matanya masih mengalir. "Aku tak pernah takut untuk mati asal kamu tahu Dirga. Karena aku tak punya siapa-siapa di dunia ini."Kali ini Dirga benar-benar dibuat diam seribu bahasa. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia akan melihat tatapan mata yang menyakitkan seperti ini.Dirga berdehem. Ia melepaskan genggamannya dari lengan Mia. Tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali masuk ke kamarnya. Sepeninggalan Dirga, Mia langsung menyentuh lengannya yang terasa sakit. Ia masih terisak. Lagi-lagi ia menyentuh perutnya. Rasa lapar itu belum reda walaupun moodnya sedang tak baik-baik saja.Mia memutuskan duduk di kursi m

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 8

    Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya paham itu apa. Mia merasakan benda itu semakin menekan.Tidak. Ini tak bisa dilanjutkan. Mia membuka matanya dan dengan dorongan keras, ia mendorong Dirga membuat ciuman itu terlepas.Namun Dirga kembali menariknya. Tubuh Mia menegang saat Dirga tiba-tiba menghimpitnya mendekat. Belum sempat ia bereaksi, kedua pergelangan tangannya sudah terangkat, tertahan di atas kepalanya, terkunci oleh satu genggaman kuat.“Dirga…?” suaranya nyaris tak keluar.Namun laki-laki itu tak menjawab.Dalam satu gerakan cepat, tubuh Mia diputar menghadap dinding. Punggungnya menempel pada permukaan dingin, sementara napasnya mulai tak beraturan. Jantungnya berdetak begitu keras, seolah ingin keluar dari dadanya.I

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 7

    "Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali."Kalian?"Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga."I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga."Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga."Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya."DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kam

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 6

    Dion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga."Bagaimana?" Tanya Dion."Dirga sudah tidur.""Parahkah?"Kian mengangguk ragu."Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."Dion mengangguk paham. "Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu.""Dia temanmu juga!""Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung t

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 5

    Mia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam."Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,""Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh."Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"Ciiitt!!Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang."Turun!" Titah Dirga."Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?""Turun, atau aku ledakkan mobil ini."Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil."Oke.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status