LOGIN
Jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Mia menekan tombol mesin kasir untuk terakhir kalinya malam itu. Layar kecil di depannya sudah kembali ke desktop awal, menandakan akhir pekerjaannya sebagai kasir swalayan hari ini.
Setelah pamit pada rekannya yang akan melanjutkan sift malam sampai pagi, iapun keluar.
Lampu jalan berdiri berjajar, namun tak semuanya menyala. Mia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tipisnya sambil berjalan menuju gang yang menjadi jalan pintas ke kontrakannya.
Ia sudah melewati gang itu ratusan kali. Namun malam ini, entah kenapa terasa sedikit berbeda. Mia merasa langkahnya ada yang mengikuti. Dengan cepat ia berlari menuju kontrakannya yang sudah tak jauh lagi dari posisinya saat ini.
Saat ia masih berusaha membuka pintu rumahnya, seseorang tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang.
"Cepat buka pintunya!!" gertak pria yang tak ia kenal sama sekali.
Jantungnya memburu.
"Ka--kau siapa?"
"Jangan banyak tanya, cepat buka pintunya!!"
Tangannya menggigil. Namun akhirnya ia berhasil membuka pintu. Mia menjerit terpekik saat pria misterius itu mendorongnya kuat ke dalam dan tiba-tiba ambruk.
"Kunci pintunya!!"
Mia masih syok hanya bisa menuruti. Tak lama setelah pintu terkunci, suara teriakan dan umpatan beberapa orang terdengar dari luar.
Mia menatap pria yang kini bersamanya itu dengan teliti. Betapa terkejutnya Mia saat ia melihat pria itu babak belur. Dan basahan warna merah di perut sebelah kiri terlihat dengan jelas.
"Ya Tuhan, kau terluka?" Mia mencoba memeriksa namun ia justru didorong kuat.
"Tinggalkan aku!" Ucapnya dingin.
"Jangan bercanda. Aku tak ingin ada yang mati di rumahku."
Pria misterius itu tak menjawab. Mia berdiri dan berlari menuju dapur. Bahkan tas sandangnya masih ada di punggungnya.
Mia kembali lagi dengan satu baskom kecil air hangat. Ia meletakkan air tersebut di atas meja kecil di ruang tamu. Tak cukup itu, ia berlari memasuki kamarnya dan keluar lagi dengan membawa kotak obat yang memang ia sediakan terus dan meletakkannya di atas meja.
Ia kembali menemui pria misterius tersebut, "Kau bisa berdiri? Biar aku obati."
Pria itu tak lagi mendorong. Ia menurut dan mencoba berdiri walaupun sulit. Tertatih ia berjalan dibantu oleh Mia. Gadis itu mendudukkan pria misterius itu di atas sofa lusuh miliknya, "Pelan-pelan." Ucapnya.
Mia meringis saat melihat semuanya dengan jelas. Wajahnya penuh lebam.
"Aku akan membersihkannya, tahan sebentar." Mia mulai membasahi handuk kecil dan membersihkan area yang menurutnya aman. Walaupun sesekali pria itu meringis karena ngilu saat kain menyentuh lukanya, namun semuanya berjalan lancar.
Mia melirik bagian perut. Tangan pria itu masih di sana menutupi.
"Boleh aku periksa?"
Lagi-lagi pria itu hanya menurut. Ia menyingkirkan tangannya dari sana. Mia menyibak kemeja tersebut dan berapa terkejutnya Mia saat ia melihat luka menganga sepanjang 5 cm dan masih mengeluarkan darah segar.
"Aku akan menjahitnya." Ucap Mia spontan namun cukup membuat pria itu terkejut.
"Kau ingin membunuhku?"
"Ha? Hei bung, kau itu terluka seperti ini. Bahkan tak aku sentuh pun kau akan mati juga karena kehabisan darah."
Mia menatap pria keras kepala itu.
"Sudah. Percayakan padaku. Aku mahasiswa keperawatan asal kau tahu. Ya, walaupun tak sampai wisuda, tapi aku termasuk pintar di kelasku."
Mia mengangkat kaki celananya, "Kau lihat ini?" Ucapnya sambil menunjuk bekas jahitan di betisnya, "Ini aku jahit sendiri."
Pria itu tak sanggup berdebat. Ia menatap Mia seolah menelisik wajah Mia untuk masa yang akan datang.
Melihat tak ada perlawanan lagi, Mia mencoba mendekatkan jemarinya perlahan untuk membuka lebih besar kemeja pria itu sembari melihat respon pria keras kepala yang ada di depannya ini.
Tak ada perlawanan berarti, Mia mulai membersihkan sekitar area luka.
"Kau harus menggigit ini tuan keras kepala, Aku tak punya obat bius." Ucapnya sembari melempar kain bersih lainnya.
Selama melakukan operasi dadakan itu, ketegangan masih terasa. Ia menggigit kuat kainnya saat Mia menembus kulit untuk menjahit lukanya sampai akhirnya semuanya selesai.
Mia melihat hasil kerjanya yang rapi. Setelahnya ia menutupnya dengan perban.
"Selesai."
Mia melirik pria misterius itu.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya.
Pria itu tak menjawab. Nafasnya masih memburu.
"Apa kau maling?"
Pria misterius yang tadi memejamkan mata, langsung menatap nyalang Mia.
"Aku hanya bertanya. Lagian siapapun pasti akan mengira kau baru saja ketahuan maling. Orang gila mana yang dikeroyok malam-malam begini tanpa sebab. Pasti ada penyebabnya."
"Kau bisa diam?"
Mia berdecih. "Ya sudah terserah kau saja. Karena sekarang sudah malah, istirahat dulu di sini dan besok kau harus ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Secara aku hanya perawat gadungan." Ucap Mia dengan senyum menyebalkan.
Pria itu mendesis kesal. Ia ingin memukul gadis di depannya ini namun lukanya sungguh sangat menyakitkan.
Alhasil Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Ia memejamkan matanya, namun tak benar-benar terpejam. Ia menatap dari sudut kecil matanya yang terpejam kalau gadis itu sedang mereskan semua alat dan obat ke dalam kotak dan berdiri beranjak meninggalkan nya untuk menyimpan kembali semuanya.
"Kau bisa istirahat dulu di sini, aku ingin istirahat di kamar."
Tak ada jawaban dari pria misterius tersebut. Namun Mia tak mau ambil pusing. Ia memilih kembali ke kamar untuk beristirahat.
*****
Pagi hari menyambut kediaman Dirga dengan langit biru yang cerah dan udara yang terasa begitu segar. Sejak pukul enam pagi, Mia sudah sibuk mondar-mandir di dalam rumah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Keranjang piknik yang ia persiapkan sejak semalam sudah berada di dekat pintu, lengkap dengan berbagai makanan, minuman, tikar, hingga kamera instan yang sengaja ia bawa untuk mengabadikan momen mereka.Sementara itu, Dirga yang baru selesai bersiap keluar dari kamar sambil mengenakan kaus putih polos dan celana chino berwarna krem. Penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Tidak ada jas mahal ataupun sepatu formal yang biasa melekat pada dirinya sebagai seorang direktur perusahaan besar. Hari ini, Dirga hanya ingin menjadi seorang suami yang menikmati waktu bersama istrinya."Sudah siap semuanya, Sayang?" tanya Dirga.Mia mengangguk antusias.Mia nampak tak sabar untuk segera sampai di tempat piknik. Walaupun mereka di sana tak sampai seharian, namun Mi
Hari mulai berganti minggu, minggu pun mulai berganti bulan. Dan kini satu bulan sudah Mia dan Dirga menjadi sepasang suami istri. Waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang Mia sendiri sulit percaya bahwa dirinya kini benar-benar menyandang status sebagai istri Dirga. Setelah hiruk-pikuk pernikahan mereka berakhir, kehidupan rumah tangga yang dijalani justru jauh lebih hangat dan menyenangkan daripada yang pernah ia bayangkan.Apalagi maminya Dirga. Walaupun wanita itu belum mau bertemu dengannya sepenuhnya, namun Sudah beberapa hari belakangan ini, mertuanya itu selalu mengirimkan makanan kesukaan Dirga ke rumah. Bukan itu saja, dalam makanan tersebut, kadang diselipkan beberapa buah yang memang bagus untuk kandungan. Dan Mia tahu buah itu dikhususkan untuknya.Di luar itu semua, yang jelas terlihat mencolok adalah perubahan dari sosok Dirga. Pria itu semakin manja, posesif, dan selalu mencari kesempatan untuk mengganggunya di sela-sela kesibukan. Jemari Dirga semakin nakal men
Dua jam telah berlalu sejak pesta pernikahan mereka berakhir. Setelah mengantar para tamu penting, berpamitan dengan keluarga dan sahabat-sahabat mereka, Dirga akhirnya membawa Mia pulang ke rumah yang kini resmi menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Kelelahan jelas terlihat di wajah keduanya, namun senyum bahagia tak pernah benar-benar hilang. Mia bahkan masih sesekali melirik cincin di jari manisnya seolah belum percaya bahwa hari yang selama ini hanya ada dalam mimpi akhirnya benar-benar terjadi.Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Dirga turun lebih dulu lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Mia. Jemarinya langsung menggenggam tangan sang istri saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama. Namun langkah mereka terhenti ketika sebuah kotak besar berlapis kertas hadiah berwarna krem terlihat tergeletak tepat di depan pintu rumah.Kening Dirga langsung berkerut. Instingnya sebagai pria yang terbiasa men
Aula utama Hotel Daisy siang itu berubah menjadi lautan cahaya yang begitu memukau. Langit-langit tinggi dihiasi ribuan kristal yang menggantung bak bintang-bintang, memantulkan kilauan lampu ke seluruh ruangan. Hamparan bunga mawar putih, peony, dan anggrek memenuhi setiap sudut aula, menciptakan suasana yang elegan sekaligus hangat. Para tamu undangan dari kalangan pebisnis, sahabat, hingga keluarga memenuhi kursi-kursi yang telah disusun rapi menghadap altar megah yang berdiri di ujung ruangan.Di balik pintu khusus pengantin, Mia berdiri terpaku di depan cermin besar. Gaun pernikahan yang membalut tubuhnya tampak begitu sempurna. Gaun itu didesain dengan potongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya dengan anggun. Ribuan kristal Swarovski dijahit tangan memenuhi bagian dada hingga menjuntai ke rok panjang berlapis tulle yang mengembang megah. Ekor gaunnya membentang beberapa meter di belakangnya, sementara veil transparan bertabur mutiara halus menutupi sebagian ram
Mia mengikuti kemana maminya Dirga pergi. Dan wanita itu melangkah menuju kolam berenang samping rumah."Tante.." panggil Mia membuat maminya Dirga terkejut.Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan menatap Mia tajam."Mau apa anda ke sini." Tanyanya geram.Mia belum mau menjawab. Ia menatap wanita itu dengan seksama.Ia menghela napas panjang."Pada dasarnya, tak ada seorangpun manusia yang ingin dilahirkan jika hanya untuk menjadi permainan dunia." Ucap Mia memulai."Aku tahu masa laluku tak membuat siapapun suka. Tapi itu bukan salahku. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku. Jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin lahir dari rahim mu, tante. Karena aku bisa melihat se sayang apa Tante sama Dirga."Suasana hening seketika. "Aku hanya seorang anak yang menjadi korban jahatnya orang tua. Aku juga nggak mau hidup seperti ini. Aku bahkan sudah beberapa kali bunuh diri namun tetap tak mati. Dari situ aku tahu kalau Tuhan memang ingin aku bertahan."Mia melangkah semakin
Setelah melamar Mia, Maminya Dirga mendengar kabar itu dan ia bertengkar hebat dengan Dirga.Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir yang penuh ketegangan itu. Selama satu bulan pula, Dirga tak pernah berhenti mendatangi mamanya. Lima kali pria itu datang dengan tujuan yang sama, meminta restu untuk menikahi Mia. Namun lima kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama; penolakan.Akan tetapi, Dirga bukan lagi pria yang mudah goyah oleh penolakan. Ia sudah terlalu lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini berbeda. Restu memang ia harapkan, tetapi bukan sesuatu yang akan menentukan langkahnya. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin memberitahukan kepada mamanya bahwa wanita yang dicintainya akan segera menjadi istrinya.Di sisi lain, segala sesuatu berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Rasya berdiri di belakangnya tanpa ragu. Bahkan pria itu ikut membantu mencari keberadaan ayah Mia yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi,
Setelah pertemuan keduanya di taman yang berakhir dengan saling baku hantam, kini Dirga dan Alexa sedang berada di kediaman Dirga. Dan dihadapan Dirga saat ini ada Mia yang sedang mengobati sementara di hadapan Alexa ada Kimi sang adik. Tentu saja sejak tadi Kimi tak pernah berhenti berbicara. Iya
"Pokoknya Amira nggak mau tahu, Dirga harus jadi suami Amira. Papi tahu kan aku cinta banget sama dia pi. Masa papi nggak bisa sih bikin kakek sama papinya Dirga bujuk Dirga buat nikah sama Aku.""Papi tahu Ra, tapi kamu tahu sendiri Dirga itu bagaimana. Sudah hampir satu tahun ini kita usaha tapi
Jangan memulai jika tak ingin menetapkan rasa____Dirga terbangun pagi-pagi sekali. Ia melirik ke samping sudah tak ada Mia. Ia masih ingat, setelah menikmati indahnya pantai semalam, ia meminta Mia untuk tidur bersamanya. Hanya tidur, tidak lebih.Namun pagi ini Mia tak ada di sampingnya.Dirga
Mia menggeleng, "Aku ingin melakukannya sendiri. Dengan uangku sendiri. Saat ini, aku tahu, aku tak punya apa-apa. Aku tak bisa mewujudkan mimpi-mimpiku. Bahkan untuk membayangkannya saja sudah membuatku pusing. Tapi, selama pikiranku belum memutuskan untuk mati, sehebat apapun hantaman hidupku, tu







