Share

Perawat Pribadi Tuan Mafia
Perawat Pribadi Tuan Mafia
Author: Rilla

Chapter 1

Author: Rilla
last update publish date: 2026-03-09 19:20:20

Jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Mia menekan tombol mesin kasir untuk terakhir kalinya malam itu. Layar kecil di depannya sudah kembali ke desktop awal, menandakan akhir pekerjaannya sebagai kasir swalayan hari ini.

Setelah pamit pada rekannya yang akan melanjutkan sift malam sampai pagi, iapun keluar.

Lampu jalan berdiri berjajar, namun tak semuanya menyala. Mia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tipisnya sambil berjalan menuju gang yang menjadi jalan pintas ke kontrakannya.

Ia sudah melewati gang itu ratusan kali. Namun malam ini, entah kenapa terasa sedikit berbeda. Mia merasa langkahnya ada yang mengikuti. Dengan cepat ia berlari menuju kontrakannya yang sudah tak jauh lagi dari posisinya saat ini.

Saat ia masih berusaha membuka pintu rumahnya, seseorang tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang.

"Cepat buka pintunya!!" gertak pria yang tak ia kenal sama sekali.

Jantungnya memburu.

"Ka--kau siapa?"

"Jangan banyak tanya, cepat buka pintunya!!"

Tangannya menggigil. Namun akhirnya ia berhasil membuka pintu. Mia menjerit terpekik saat pria misterius itu mendorongnya kuat ke dalam dan tiba-tiba ambruk.

"Kunci pintunya!!"

Mia masih syok hanya bisa menuruti. Tak lama setelah pintu terkunci, suara teriakan dan umpatan beberapa orang terdengar dari luar.

Mia menatap pria yang kini bersamanya itu dengan teliti. Betapa terkejutnya Mia saat ia melihat pria itu babak belur. Dan basahan warna merah di perut sebelah kiri terlihat dengan jelas.

"Ya Tuhan, kau terluka?" Mia mencoba memeriksa namun ia justru didorong kuat.

"Tinggalkan aku!" Ucapnya dingin.

"Jangan bercanda. Aku tak ingin ada yang mati di rumahku."

Pria misterius itu tak menjawab. Mia berdiri dan berlari menuju dapur. Bahkan tas sandangnya masih ada di punggungnya.

Mia kembali lagi dengan satu baskom kecil air hangat. Ia meletakkan air tersebut di atas meja kecil di ruang tamu. Tak cukup itu, ia berlari memasuki kamarnya dan keluar lagi dengan membawa kotak obat yang memang ia sediakan terus dan meletakkannya di atas meja.

Ia kembali menemui pria misterius tersebut, "Kau bisa berdiri? Biar aku obati."

Pria itu tak lagi mendorong. Ia menurut dan mencoba berdiri walaupun sulit. Tertatih ia berjalan dibantu oleh Mia. Gadis itu mendudukkan pria misterius itu di atas sofa lusuh miliknya, "Pelan-pelan." Ucapnya.

Mia meringis saat melihat semuanya dengan jelas. Wajahnya penuh lebam.

"Aku akan membersihkannya, tahan sebentar." Mia mulai membasahi handuk kecil dan membersihkan area yang menurutnya aman. Walaupun sesekali pria itu meringis karena ngilu saat kain menyentuh lukanya, namun semuanya berjalan lancar.

Mia melirik bagian perut. Tangan pria itu masih di sana menutupi.

"Boleh aku periksa?"

Lagi-lagi pria itu hanya menurut. Ia menyingkirkan tangannya dari sana. Mia menyibak kemeja tersebut dan berapa terkejutnya Mia saat ia melihat luka menganga sepanjang 5 cm dan masih mengeluarkan darah segar.

"Aku akan menjahitnya." Ucap Mia spontan namun cukup membuat pria itu terkejut.

"Kau ingin membunuhku?"

"Ha? Hei bung, kau itu terluka seperti ini. Bahkan tak aku sentuh pun kau akan mati juga karena kehabisan darah."

Mia menatap pria keras kepala itu.

"Sudah. Percayakan padaku. Aku mahasiswa keperawatan asal kau tahu. Ya, walaupun tak sampai wisuda, tapi aku termasuk pintar di kelasku."

Mia mengangkat kaki celananya, "Kau lihat ini?" Ucapnya sambil menunjuk bekas jahitan di betisnya, "Ini aku jahit sendiri."

Pria itu tak sanggup berdebat. Ia menatap Mia seolah menelisik wajah Mia untuk masa yang akan datang.

Melihat tak ada perlawanan lagi, Mia mencoba mendekatkan jemarinya perlahan untuk membuka lebih besar kemeja pria itu sembari melihat respon pria keras kepala yang ada di depannya ini.

Tak ada perlawanan berarti, Mia mulai membersihkan sekitar area luka.

"Kau harus menggigit ini tuan keras kepala, Aku tak punya obat bius."  Ucapnya sembari melempar kain bersih lainnya.

Selama melakukan operasi dadakan itu, ketegangan masih terasa. Ia menggigit kuat kainnya saat Mia menembus kulit untuk menjahit lukanya sampai akhirnya semuanya selesai.

Mia melihat hasil kerjanya yang rapi. Setelahnya ia menutupnya dengan perban.

"Selesai."

Mia melirik pria misterius itu.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya.

Pria itu tak menjawab. Nafasnya masih memburu.

"Apa kau maling?"

Pria misterius yang tadi memejamkan mata, langsung menatap nyalang Mia.

"Aku hanya bertanya. Lagian siapapun pasti akan mengira kau baru saja ketahuan maling. Orang gila mana yang dikeroyok malam-malam begini tanpa sebab. Pasti ada penyebabnya."

"Kau bisa diam?"

Mia berdecih. "Ya sudah terserah kau saja. Karena sekarang sudah malah, istirahat dulu di sini dan besok kau harus ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Secara aku hanya perawat gadungan." Ucap Mia dengan senyum menyebalkan.

Pria itu mendesis kesal. Ia ingin memukul gadis di depannya ini namun lukanya sungguh sangat menyakitkan.

Alhasil Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.

Ia memejamkan matanya, namun tak benar-benar terpejam. Ia menatap dari sudut kecil matanya yang terpejam kalau gadis itu sedang mereskan semua alat dan obat ke dalam kotak dan berdiri beranjak meninggalkan nya untuk menyimpan kembali semuanya.

"Kau bisa istirahat dulu di sini, aku ingin istirahat di kamar."

Tak ada jawaban dari pria misterius tersebut. Namun Mia tak mau ambil pusing. Ia memilih kembali ke kamar untuk beristirahat.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    84. PDKT

    Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    83. Cemburunya Kimi

    Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    82. Kesepakatan yang panas (21++++)

    Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    81. Aku Siap puasin Kamu

    Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    80. Averion Medical Group

    Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    79. Kata Cinta Yang Manis

    Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status