Share

Chapter 2

Author: Rilla
last update publish date: 2026-03-09 19:21:38

Mia tersentak saat suara alarm ponselnya berbunyi cukup keras. Ia meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Biasanya Mia akan melanjutkan kembali tidurnya namun kali ini ia justru langsung duduk, mengumpulkan semua nyawanya dulu lalu turun dan berjalan keluar kamar.

Ia hanya ingin memastikan pria yang ia tolong semalam masih bernyawa.

Saat Mia membuka pintu kamarnya, Ia terkejut karena tak menemukan pria misterius itu ada di ruang tamunya.

"Ha? Kemana dia?" Mia menelusuri ruangan yang kecil itu. Bahkan ia melihat ke dalam kamar mandi namun tak ada siapa-siapa.

Mia melangkah menuju pintu keluar dan ternyata pintu itu tak dikunci.

Dugaannya hanya satu, pria misterius semalam sudah pergi dari rumahnya. Mia berlari keluar namun tak ada siapa-siapa. Tapi di sudut sana, ia melihat beberapa orang pria bertubuh besar sedang menatap ke arahnya.

Mia tersenyum kikuk pada pria tersebut. Tanpa banyak bicara, ia langsung berlari masuk ke dalam dan mengunci pintu rumahnya kembali.

Rasa takutnya mendadak muncul. Ia yakin jika pria-pria tadi adalah manusia. Tapi mau apa mereka di sini? Apa mereka sama dengan segerombolan pria yang mengumpat semalam?

Mia mencoba untuk tak terlalu memikirkan itu. Ia memilih masuk kembali ke kamarnya dan berdiam di sana sampai matahari menyapa.

Mia mengintip keluar jendela dan tak melihat siapa-siapa lagi ada di depan rumahnya.

Huufff .

Ia bernapas lega.

Mia memutuskan untuk bersiap pergi bekerja. Ia tak boleh terlambat hari ini. Ia tak ingin Rian, rekan kerjanya mengamuk karena ia terlambat.

*****

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat ia sampai di swalayan. Selama perjalanan ke sini, ia tak merasa ada yang aneh sama sekali. Semuanya terasa baik-baik saja.

Sebelum jam pergantian shift dimulai, ia memilih mengisi perutnya terlebih dahulu. Ia mengambil sebungkus roti coklat dengan sekotak susu lalu membayarnya. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan. Dan kebetulan kursi tersebut menghadap jendela kaca besar swalayan yang mana ia bisa melihat sisi luar swalayan.

Saat asik menikmati sarapannya, tatapan Mia seketika terfokus pada sebuah mobil sedan hitam yang ada di seberang jalan. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas jika pria yang duduk di kursi kemudi itu sedang menatap ke arahnya.

Namun sebisa mungkin, Mia mencoba untuk tak mau ambil pusing. Ia terus melanjutkan sarapannya sampai roti dan susu itu habis. Setelahnya dengan cepat ia membereskan kembali lalu pergi dari meja tersebut.

Ada yang aneh setelah ia menolong pria semalam. Sebenarnya siapa pria itu?.

Ngomong-ngomong soal pria semalam, bagaimana kabarnya sekarang? Melihat dari lukanya yang cukup parah, bagaimana pria itu keluar dari rumahnya?.

Mia menggeleng. Ia tak harus memikirkan itu bukan? Sekarang, Ia harus fokus untuk bekerja hari ini.

"Mia, hari ini sales akan datang mengisi barang yang kosong." Ucap Rian.

Mia mengangguk. Saat ia ingin merapikan rak bagian makanan ringan, seseorang masuk ke dalam toko. Sebenarnya ini hal biasa saja, mengingat ia bekerja di sebuah swalayan. Namun semenjak Ia menolong pria semalam, pria-pria berpakaian jas seperti ini cukup mampu membuatnya parno.

Pria itu melirik ke arah Mia dan tersenyum. Sungguh, Mia dibuat kikuk. Ia melanjutkan pekerjaannya. Dari tempatnya berdiri, Mia mencoba untuk mengintip. Pria aneh itu ternyata membeli rokok dan sedang menyalakannya satu batang.

Mia masih mengintip dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat keluar jendela dan ia mencari mobil yang tadi sedang berada di seberang dan sekarang mobil itu sudah tak ada lagi.

Saat Mia kembali menatap pria misterius tersebut, Mia langsung terkejut karena pria itu kembali menatap ke arahnya.

"Ada yang tidak beres." Bisiknya.

Mia langsung melangkah ke tengah. Menyembunyikan tubuhnya sedikit lebih ke ujung.

Ia mendadak takut. Sebenarnya siapa yang ia tolong semalam? Kenapa hari ini begitu banyak kejadian aneh dan orang-orang misterius yang ia temui.

Sementara itu di tempat lain dengan waktu yang sama, pria bernama Dirga baru saja mendapatkan informasi dan data diri tentang gadis yang menolongnya semalam.

"Namanya Mia. Dia bekerja si sebuah swalayan 24 jam yang ada di sekitar lokasi tempat anda dikejar kemarin bos." Bagas, orang suruhan yang ia percaya datang memberikan informasi padanya.

"Sekarang gadis itu sedang bekerja?"

"Iya. Kabar tentang keluarganya, Ayah dan ibunya bercerai dan sekarang hidup bersama keluarga baru mereka masing-masing. Sejak perceraian itu, Mia tinggal sendiri di kontrakan yang gadis itu sewa sejak tiga tahun yang lalu."

"Pantau terus dan pastikan kondisinya aman. Anak buah Alexa tak akan tinggal diam soal ini. Aku bahkan sudah yakin jika mereka tahu siapa yang membantuku malam itu."

Bagas mengangguk. Ia pamit setelahnya.

Sepeninggalan Bagas, Dirga duduk dengan tenang di singgasana ruang kerjanya. Lukanya masih ngilu. Beruntung gadis itu menjahitnya dengan baik, jika tidak, ia pastikan gadis itu akan menerima hukumannya.

Dirga menatap layar ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab yang tak ia pedulikan sejak tadi. Panggilan itu masuk lagi namun respon Dirga masih sama. Ia tak mau mengangkatnya. Dirga me reject panggilan tersebut dan langsung mematikan ponselnya.

Ia meraih kunci mobilnya dan memutuskan keluar dari rumah. Ia masih punya banyak urusan yang harus ia selesaikan dari pada merespon hal yang tak penting sama sekali.

____

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    84. PDKT

    Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    83. Cemburunya Kimi

    Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    82. Kesepakatan yang panas (21++++)

    Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    81. Aku Siap puasin Kamu

    Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    80. Averion Medical Group

    Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    79. Kata Cinta Yang Manis

    Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status