LOGINMia tersentak saat suara alarm ponselnya berbunyi cukup keras. Ia meraih ponsel tersebut dan mematikannya. Biasanya Mia akan melanjutkan kembali tidurnya namun kali ini ia justru langsung duduk, mengumpulkan semua nyawanya dulu lalu turun dan berjalan keluar kamar.
Ia hanya ingin memastikan pria yang ia tolong semalam masih bernyawa.
Saat Mia membuka pintu kamarnya, Ia terkejut karena tak menemukan pria misterius itu ada di ruang tamunya.
"Ha? Kemana dia?" Mia menelusuri ruangan yang kecil itu. Bahkan ia melihat ke dalam kamar mandi namun tak ada siapa-siapa.
Mia melangkah menuju pintu keluar dan ternyata pintu itu tak dikunci.
Dugaannya hanya satu, pria misterius semalam sudah pergi dari rumahnya. Mia berlari keluar namun tak ada siapa-siapa. Tapi di sudut sana, ia melihat beberapa orang pria bertubuh besar sedang menatap ke arahnya.
Mia tersenyum kikuk pada pria tersebut. Tanpa banyak bicara, ia langsung berlari masuk ke dalam dan mengunci pintu rumahnya kembali.
Rasa takutnya mendadak muncul. Ia yakin jika pria-pria tadi adalah manusia. Tapi mau apa mereka di sini? Apa mereka sama dengan segerombolan pria yang mengumpat semalam?
Mia mencoba untuk tak terlalu memikirkan itu. Ia memilih masuk kembali ke kamarnya dan berdiam di sana sampai matahari menyapa.
Mia mengintip keluar jendela dan tak melihat siapa-siapa lagi ada di depan rumahnya.
Huufff .
Ia bernapas lega.
Mia memutuskan untuk bersiap pergi bekerja. Ia tak boleh terlambat hari ini. Ia tak ingin Rian, rekan kerjanya mengamuk karena ia terlambat.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat ia sampai di swalayan. Selama perjalanan ke sini, ia tak merasa ada yang aneh sama sekali. Semuanya terasa baik-baik saja.
Sebelum jam pergantian shift dimulai, ia memilih mengisi perutnya terlebih dahulu. Ia mengambil sebungkus roti coklat dengan sekotak susu lalu membayarnya. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan. Dan kebetulan kursi tersebut menghadap jendela kaca besar swalayan yang mana ia bisa melihat sisi luar swalayan.
Saat asik menikmati sarapannya, tatapan Mia seketika terfokus pada sebuah mobil sedan hitam yang ada di seberang jalan. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas jika pria yang duduk di kursi kemudi itu sedang menatap ke arahnya.
Namun sebisa mungkin, Mia mencoba untuk tak mau ambil pusing. Ia terus melanjutkan sarapannya sampai roti dan susu itu habis. Setelahnya dengan cepat ia membereskan kembali lalu pergi dari meja tersebut.
Ada yang aneh setelah ia menolong pria semalam. Sebenarnya siapa pria itu?.
Ngomong-ngomong soal pria semalam, bagaimana kabarnya sekarang? Melihat dari lukanya yang cukup parah, bagaimana pria itu keluar dari rumahnya?.
Mia menggeleng. Ia tak harus memikirkan itu bukan? Sekarang, Ia harus fokus untuk bekerja hari ini.
"Mia, hari ini sales akan datang mengisi barang yang kosong." Ucap Rian.
Mia mengangguk. Saat ia ingin merapikan rak bagian makanan ringan, seseorang masuk ke dalam toko. Sebenarnya ini hal biasa saja, mengingat ia bekerja di sebuah swalayan. Namun semenjak Ia menolong pria semalam, pria-pria berpakaian jas seperti ini cukup mampu membuatnya parno.
Pria itu melirik ke arah Mia dan tersenyum. Sungguh, Mia dibuat kikuk. Ia melanjutkan pekerjaannya. Dari tempatnya berdiri, Mia mencoba untuk mengintip. Pria aneh itu ternyata membeli rokok dan sedang menyalakannya satu batang.
Mia masih mengintip dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat keluar jendela dan ia mencari mobil yang tadi sedang berada di seberang dan sekarang mobil itu sudah tak ada lagi.
Saat Mia kembali menatap pria misterius tersebut, Mia langsung terkejut karena pria itu kembali menatap ke arahnya.
"Ada yang tidak beres." Bisiknya.
Mia langsung melangkah ke tengah. Menyembunyikan tubuhnya sedikit lebih ke ujung.
Ia mendadak takut. Sebenarnya siapa yang ia tolong semalam? Kenapa hari ini begitu banyak kejadian aneh dan orang-orang misterius yang ia temui.
Sementara itu di tempat lain dengan waktu yang sama, pria bernama Dirga baru saja mendapatkan informasi dan data diri tentang gadis yang menolongnya semalam.
"Namanya Mia. Dia bekerja si sebuah swalayan 24 jam yang ada di sekitar lokasi tempat anda dikejar kemarin bos." Bagas, orang suruhan yang ia percaya datang memberikan informasi padanya.
"Sekarang gadis itu sedang bekerja?"
"Iya. Kabar tentang keluarganya, Ayah dan ibunya bercerai dan sekarang hidup bersama keluarga baru mereka masing-masing. Sejak perceraian itu, Mia tinggal sendiri di kontrakan yang gadis itu sewa sejak tiga tahun yang lalu."
"Pantau terus dan pastikan kondisinya aman. Anak buah Alexa tak akan tinggal diam soal ini. Aku bahkan sudah yakin jika mereka tahu siapa yang membantuku malam itu."
Bagas mengangguk. Ia pamit setelahnya.
Sepeninggalan Bagas, Dirga duduk dengan tenang di singgasana ruang kerjanya. Lukanya masih ngilu. Beruntung gadis itu menjahitnya dengan baik, jika tidak, ia pastikan gadis itu akan menerima hukumannya.
Dirga menatap layar ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab yang tak ia pedulikan sejak tadi. Panggilan itu masuk lagi namun respon Dirga masih sama. Ia tak mau mengangkatnya. Dirga me reject panggilan tersebut dan langsung mematikan ponselnya.
Ia meraih kunci mobilnya dan memutuskan keluar dari rumah. Ia masih punya banyak urusan yang harus ia selesaikan dari pada merespon hal yang tak penting sama sekali.
____
Pagi hari menyambut kediaman Dirga dengan langit biru yang cerah dan udara yang terasa begitu segar. Sejak pukul enam pagi, Mia sudah sibuk mondar-mandir di dalam rumah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Keranjang piknik yang ia persiapkan sejak semalam sudah berada di dekat pintu, lengkap dengan berbagai makanan, minuman, tikar, hingga kamera instan yang sengaja ia bawa untuk mengabadikan momen mereka.Sementara itu, Dirga yang baru selesai bersiap keluar dari kamar sambil mengenakan kaus putih polos dan celana chino berwarna krem. Penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Tidak ada jas mahal ataupun sepatu formal yang biasa melekat pada dirinya sebagai seorang direktur perusahaan besar. Hari ini, Dirga hanya ingin menjadi seorang suami yang menikmati waktu bersama istrinya."Sudah siap semuanya, Sayang?" tanya Dirga.Mia mengangguk antusias.Mia nampak tak sabar untuk segera sampai di tempat piknik. Walaupun mereka di sana tak sampai seharian, namun Mi
Hari mulai berganti minggu, minggu pun mulai berganti bulan. Dan kini satu bulan sudah Mia dan Dirga menjadi sepasang suami istri. Waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang Mia sendiri sulit percaya bahwa dirinya kini benar-benar menyandang status sebagai istri Dirga. Setelah hiruk-pikuk pernikahan mereka berakhir, kehidupan rumah tangga yang dijalani justru jauh lebih hangat dan menyenangkan daripada yang pernah ia bayangkan.Apalagi maminya Dirga. Walaupun wanita itu belum mau bertemu dengannya sepenuhnya, namun Sudah beberapa hari belakangan ini, mertuanya itu selalu mengirimkan makanan kesukaan Dirga ke rumah. Bukan itu saja, dalam makanan tersebut, kadang diselipkan beberapa buah yang memang bagus untuk kandungan. Dan Mia tahu buah itu dikhususkan untuknya.Di luar itu semua, yang jelas terlihat mencolok adalah perubahan dari sosok Dirga. Pria itu semakin manja, posesif, dan selalu mencari kesempatan untuk mengganggunya di sela-sela kesibukan. Jemari Dirga semakin nakal men
Dua jam telah berlalu sejak pesta pernikahan mereka berakhir. Setelah mengantar para tamu penting, berpamitan dengan keluarga dan sahabat-sahabat mereka, Dirga akhirnya membawa Mia pulang ke rumah yang kini resmi menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Kelelahan jelas terlihat di wajah keduanya, namun senyum bahagia tak pernah benar-benar hilang. Mia bahkan masih sesekali melirik cincin di jari manisnya seolah belum percaya bahwa hari yang selama ini hanya ada dalam mimpi akhirnya benar-benar terjadi.Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Dirga turun lebih dulu lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Mia. Jemarinya langsung menggenggam tangan sang istri saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama. Namun langkah mereka terhenti ketika sebuah kotak besar berlapis kertas hadiah berwarna krem terlihat tergeletak tepat di depan pintu rumah.Kening Dirga langsung berkerut. Instingnya sebagai pria yang terbiasa men
Aula utama Hotel Daisy siang itu berubah menjadi lautan cahaya yang begitu memukau. Langit-langit tinggi dihiasi ribuan kristal yang menggantung bak bintang-bintang, memantulkan kilauan lampu ke seluruh ruangan. Hamparan bunga mawar putih, peony, dan anggrek memenuhi setiap sudut aula, menciptakan suasana yang elegan sekaligus hangat. Para tamu undangan dari kalangan pebisnis, sahabat, hingga keluarga memenuhi kursi-kursi yang telah disusun rapi menghadap altar megah yang berdiri di ujung ruangan.Di balik pintu khusus pengantin, Mia berdiri terpaku di depan cermin besar. Gaun pernikahan yang membalut tubuhnya tampak begitu sempurna. Gaun itu didesain dengan potongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya dengan anggun. Ribuan kristal Swarovski dijahit tangan memenuhi bagian dada hingga menjuntai ke rok panjang berlapis tulle yang mengembang megah. Ekor gaunnya membentang beberapa meter di belakangnya, sementara veil transparan bertabur mutiara halus menutupi sebagian ram
Mia mengikuti kemana maminya Dirga pergi. Dan wanita itu melangkah menuju kolam berenang samping rumah."Tante.." panggil Mia membuat maminya Dirga terkejut.Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan menatap Mia tajam."Mau apa anda ke sini." Tanyanya geram.Mia belum mau menjawab. Ia menatap wanita itu dengan seksama.Ia menghela napas panjang."Pada dasarnya, tak ada seorangpun manusia yang ingin dilahirkan jika hanya untuk menjadi permainan dunia." Ucap Mia memulai."Aku tahu masa laluku tak membuat siapapun suka. Tapi itu bukan salahku. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku. Jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin lahir dari rahim mu, tante. Karena aku bisa melihat se sayang apa Tante sama Dirga."Suasana hening seketika. "Aku hanya seorang anak yang menjadi korban jahatnya orang tua. Aku juga nggak mau hidup seperti ini. Aku bahkan sudah beberapa kali bunuh diri namun tetap tak mati. Dari situ aku tahu kalau Tuhan memang ingin aku bertahan."Mia melangkah semakin
Setelah melamar Mia, Maminya Dirga mendengar kabar itu dan ia bertengkar hebat dengan Dirga.Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir yang penuh ketegangan itu. Selama satu bulan pula, Dirga tak pernah berhenti mendatangi mamanya. Lima kali pria itu datang dengan tujuan yang sama, meminta restu untuk menikahi Mia. Namun lima kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama; penolakan.Akan tetapi, Dirga bukan lagi pria yang mudah goyah oleh penolakan. Ia sudah terlalu lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini berbeda. Restu memang ia harapkan, tetapi bukan sesuatu yang akan menentukan langkahnya. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin memberitahukan kepada mamanya bahwa wanita yang dicintainya akan segera menjadi istrinya.Di sisi lain, segala sesuatu berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Rasya berdiri di belakangnya tanpa ragu. Bahkan pria itu ikut membantu mencari keberadaan ayah Mia yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi,
Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertar
Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, j
Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya pa
"Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali."Kalian?"Dengan cepat







