LOGIN"Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."
Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.
Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali.
"Kalian?"
Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga.
"I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga.
"Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga.
"Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.
Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.
Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya.
"DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu pikir aku bisa diatur? Iiiiiiihhhhhhh, Mafia menyebalkaaaaan!!" Dada Mia naik turun karena emosinya. Namun siapa sangka, setelah Mia berteriak, air matanya tiba-tiba terjatuh tanpa diminta.
Kenapa hidupnya tak pernah jauh dari kata luka? Kenapa hidupnya tak pernah lepas dari kesialan. Mia terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia terisak sembari menutup mulutnya. Ia tak mau ada yang mendengarnya menangis.
Sejak kecil ia ditinggalkan. Bahkan sebelum orang tuanya bercerai. Setelah bercerai, ia juga ditinggalkan. Kuliahnya harus terhenti karena ibu dan ayahnya menikah lagi dengan orang baru. Ia sangat tahu, mereka bukan tak punya uang untuk membiayai kuliahnya namun semua ini karena ayah dan ibunya merasa lebih bertanggung jawab dengan keluarga baru dan anak sambung mereka. Tak apa ia ditinggalkan. Nasibnya memang tak pernah baik.
Sekarang, ia terjebak dalam lingkaran kehidupan seorang mafia. Kenapa nasib seperti ini yang Tuhan persembahkan padanya.
"Kapan aku akan bahagia." Bisik Mia. "Bahkan tak ada manusia yang peduli denganku. hiks..hiks.."
"Sekarang takdirku justru menjadi budak orang. hiks... Apa-apaan ini ya Tuhan."
Mia membaringkan tubuhnya di lantai dingin. Ia meringkuk bukan karena dinginnya lantai membekukan tubuhnya, namun luka dihatinya terus menyayat tanpa tahu kapan sembuhnya. Rasanya benar-benar sakit. Tanpa Mia sadari, ia tertidur dalam dingin cerita hidupnya.
--
Sinar mentari sudah menyapa. Celah mentari yang masuk, mengusik tidur Mia. Gadis itu mengerjap merasakan ada yang mengganggunya. Mia membuka mata. Ia sedikit kaget karena saat ia benar-benar terjaga, tubuhnya masih meringkuk di lantai yang dingin.
Perlahan ia duduk. Tubuhnya terasa sakit semua. Mungkin karena dinginnya lantai dan juga keras.
Mia menghela napas panjang. Ia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya. Saat melihat cermin di wastafel kamar mandi, ia mengumpat karena matanya bengkak efek menangis semalam.
Setelah membersihkan diri, ia kembali memakai pakaiannya yang semalam karena memang ia tak membawa pakaian saat Dirga membawanya ke sini.
Mia melilitkan handuk di kepalanya lalu melenggang keluar kamar.
Baru saja ia keluar, pandangannya langsung bertabrakan dengan tatapan Dirga. Pria itu sedang menikmati sarapan.
Mia melangkah mendekat, "Aku harus pulang." Ucap Mia tanpa basa-basi.
Dirga tak menjawab. Mia kesal seketika. Ia semakin melangkah mendekati Dirga.
"Dirga, aku mau pulang. Aku harus kerja."
"Kau bekerja denganku."
"Siapa bilang? Kapan aku menyetujuinya?"
Dirga meletakkan makanannya lalu menatap Mia. "Perintahku tak harus mendapatkan persetujuan darimu. Ini perintah dariku, jadi kau harus mematuhinya."
"Cih! Hidupku tak ada yang bisa mengaturnya. Apa hak kamu mengatur segalanya."
Braak!
Dirga memukul meja kuat membuat Kania terdiam.
"Setiap yang sudah masuk ke sini, tak ada yang boleh keluar sebelum dapatkan izin dariku Mia. Jadi, pelajari itu dengan cepat."
"Tapi aku nggak minta di sini. Kamu yang maksa."
"Itu karena kamu keras kepala."
"Dirga!" Mia benar-benar kehilangan kata-katanya. Ia mencoba mencari kata-kata yang bisa ia pakai lagi. "Aku nggak ada baju. Soalnya ada yang langsung nyulik semalam." Ucapnya sekaligus menyindir Dirga.
"Kau akan mendapatkannya nanti."
"Ha?"
"Berapa ukuran celana dalam dan bra mu?"
"Ha?" Mia membelalak kaget. "Ce--celana dalam? B--bra? YAAAKKKK! Kau..."
"Apa? Aku salah tanya? Memang itu namanya kan? Atau ada kosa kata lain yang mewakili?"
Ya Tuhan, Mia syok. Dirga sungguh pria yang blak-blakan dan tak punya urat malu.
Mia menatap Dirga yang berdiri dan kini melangkah ke arahnya. Pria itu semakin mengikis jaraknya dengan Mia. Ia tersenyum miring saat langkahnya sudah terhenti di hadapan Mia.
"Atau apa perlu aku memeriksanya sendiri." Bisiknya sebelum Dirga akhirnya beranjak untuk menghindari amukan yang sepertinya akan terlihat sebentar lagi.
Kepala Mia rasanya panas. Ia bisa merasakan tanduk keluar dari atas sana. Jika kepalanya teko untuk masak air, mungkin saat ini kepalanya sudah berbunyi meraung karena di dalamnya sudah mendidih.
"DASAR PRIA MESUM SIALAAAAAAANN!!!" Teriak Mia sekeras mungkin.
Sementara Dirga hanya mengangkat tangannya memberi respon.
Saking kesalnya, Mia benar-benar ingin menangis lagi. Tingkat stres nya meningkat setiap harinya. Jangan sampai lambat laun hal ini akan membuatnya gila.
Mia mengepalkan tangannya kuat. Ia melangkah mendekati Dirga. Masuk ke dalam kamar Dirga tanpa ingin bersopan santun mengetuknya terlebih dahulu.
"Pokonya hari ini aku balik ke kontrakan. Terserah dapat izin atau tidak. Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur." Mia menutup pintu kamar dengan keras.
Ia langsung berjalan keluar rumah. Ia membuka pintu namun ternyata terkunci.
Mia melirik ke sana kemari untuk mencari kuncinya namun tak ia temukan.
Kesal, ia menendang pintu dengan keras.
Mia kembali melangkah memasuki kamar Dirga. Namun sepertinya ini akan ia sesali seumur hidupnya. Pasalnya pria itu saat ini hanya mengenakan celana dalam saja tanpa ada pakaian yang lain.
"AAAAAAA...."
Braakk!
Pintu kamar tertutup keras. Mia menutupnya dengan keras. Namun ia masih berada di luar."Apa tadi? Aku lihat apa? Ya Tuhan maafkan hambamu." Rengeknya.
"Tapi, aku nggak salah. Siapa suruh dia nggak pakai apa-apa. Siapa suruh dia, Aaaaaa..."
Pintu kamar terbuka tiba-tiba dan Mia ditarik Dirga ke dalam dan pintu tertutup lagi.
Mia membola, "Di--dirga," Mia tak berani melirik ke bawah. Ia tahu Dirga belum memakai apapun selain celana dalamnya.
"Gadis liar."
Hanya itu yang Dirga ucapkan sebelum Mia merasakan bibirnya dilahap oleh Dirga.
"Ya Tuhan, selamatkan aku."
*****
Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da
Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba
Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r
Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah
Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar
Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp







