Compartir

Chapter 7

Autor: Rilla
last update Fecha de publicación: 2026-03-27 09:28:03

"Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."

Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.

Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali.

"Kalian?"

Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga.

"I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga.

"Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga.

"Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.

Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.

Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya.

"DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu pikir aku bisa diatur? Iiiiiiihhhhhhh, Mafia menyebalkaaaaan!!" Dada Mia naik turun karena emosinya. Namun siapa sangka, setelah Mia berteriak, air matanya tiba-tiba terjatuh tanpa diminta. 

Kenapa hidupnya tak pernah jauh dari kata luka? Kenapa hidupnya tak pernah lepas dari kesialan. Mia terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia terisak sembari menutup mulutnya. Ia tak mau ada yang mendengarnya menangis. 

Sejak kecil ia ditinggalkan. Bahkan sebelum orang tuanya bercerai. Setelah bercerai, ia juga ditinggalkan. Kuliahnya harus terhenti karena ibu dan ayahnya menikah lagi dengan orang baru. Ia sangat tahu,  mereka bukan tak punya uang untuk membiayai kuliahnya namun semua ini karena ayah dan ibunya merasa lebih bertanggung jawab dengan keluarga baru dan anak sambung mereka. Tak apa ia ditinggalkan. Nasibnya memang tak pernah baik.

Sekarang, ia terjebak dalam lingkaran kehidupan seorang mafia. Kenapa nasib seperti ini yang Tuhan persembahkan padanya.

"Kapan aku akan bahagia." Bisik Mia. "Bahkan tak ada manusia yang peduli denganku. hiks..hiks.."

"Sekarang takdirku justru menjadi budak orang. hiks... Apa-apaan ini ya Tuhan."

Mia membaringkan tubuhnya di lantai dingin. Ia meringkuk bukan karena dinginnya lantai membekukan tubuhnya, namun luka dihatinya terus menyayat tanpa tahu kapan sembuhnya. Rasanya benar-benar sakit. Tanpa Mia sadari, ia tertidur dalam dingin cerita hidupnya.

--

Sinar mentari sudah menyapa. Celah mentari yang masuk, mengusik tidur Mia. Gadis itu mengerjap merasakan ada yang mengganggunya. Mia membuka mata. Ia sedikit kaget karena saat ia benar-benar terjaga, tubuhnya masih meringkuk di lantai yang dingin.

Perlahan ia duduk. Tubuhnya terasa sakit semua. Mungkin karena dinginnya lantai dan juga keras.

Mia menghela napas panjang. Ia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya. Saat melihat cermin di wastafel kamar mandi, ia mengumpat karena matanya bengkak efek menangis semalam.

Setelah membersihkan diri, ia kembali memakai pakaiannya yang semalam karena memang ia tak membawa pakaian saat Dirga membawanya ke sini.

Mia melilitkan handuk di kepalanya lalu melenggang keluar kamar.

Baru saja ia keluar, pandangannya langsung bertabrakan dengan tatapan Dirga. Pria itu sedang menikmati sarapan.

Mia melangkah mendekat, "Aku harus pulang." Ucap Mia tanpa basa-basi.

Dirga tak menjawab. Mia kesal seketika. Ia semakin melangkah mendekati Dirga.

"Dirga, aku mau pulang. Aku harus kerja."

"Kau bekerja denganku."

"Siapa bilang? Kapan aku menyetujuinya?"

Dirga meletakkan makanannya lalu menatap Mia. "Perintahku tak harus mendapatkan persetujuan darimu. Ini perintah dariku, jadi kau harus mematuhinya."

"Cih! Hidupku tak ada yang bisa mengaturnya. Apa hak kamu mengatur segalanya."

Braak!

Dirga memukul meja kuat membuat Kania terdiam.

"Setiap yang sudah masuk ke sini, tak ada yang boleh keluar sebelum dapatkan izin dariku Mia. Jadi, pelajari itu dengan cepat."

"Tapi aku nggak minta di sini. Kamu yang maksa."

"Itu karena kamu keras kepala."

"Dirga!" Mia benar-benar kehilangan kata-katanya. Ia mencoba mencari kata-kata yang bisa ia pakai lagi. "Aku nggak ada baju. Soalnya ada yang langsung nyulik semalam." Ucapnya sekaligus menyindir Dirga.

"Kau akan mendapatkannya nanti."

"Ha?"

"Berapa ukuran celana dalam dan bra mu?"

"Ha?" Mia membelalak kaget. "Ce--celana dalam? B--bra? YAAAKKKK! Kau..."

"Apa? Aku salah tanya? Memang itu namanya kan? Atau ada kosa kata lain yang mewakili?"

Ya Tuhan, Mia syok. Dirga sungguh pria yang blak-blakan dan tak punya urat malu.

Mia menatap Dirga yang berdiri dan kini melangkah ke arahnya. Pria itu semakin mengikis jaraknya dengan Mia. Ia tersenyum miring saat langkahnya sudah terhenti di hadapan Mia.

"Atau apa perlu aku memeriksanya sendiri." Bisiknya sebelum Dirga akhirnya beranjak untuk menghindari amukan yang sepertinya akan terlihat sebentar lagi.

Kepala Mia rasanya panas. Ia bisa merasakan tanduk keluar dari atas sana. Jika kepalanya teko untuk masak air, mungkin saat ini kepalanya sudah berbunyi meraung karena di dalamnya sudah mendidih.

"DASAR PRIA MESUM SIALAAAAAAANN!!!" Teriak Mia sekeras mungkin.

Sementara Dirga hanya mengangkat tangannya memberi respon.

Saking kesalnya, Mia benar-benar ingin menangis lagi. Tingkat stres nya meningkat setiap harinya. Jangan sampai lambat laun hal ini akan membuatnya gila.

Mia mengepalkan tangannya kuat. Ia melangkah mendekati Dirga. Masuk ke dalam kamar Dirga tanpa ingin bersopan santun mengetuknya terlebih dahulu.

"Pokonya hari ini aku balik ke kontrakan. Terserah dapat izin atau tidak. Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur." Mia menutup pintu kamar dengan keras.

Ia langsung berjalan keluar rumah. Ia membuka pintu namun ternyata terkunci.

Mia melirik ke sana kemari untuk mencari kuncinya namun tak ia temukan.

Kesal, ia menendang pintu dengan keras.

Mia kembali melangkah memasuki kamar Dirga. Namun sepertinya ini akan ia sesali seumur hidupnya. Pasalnya pria itu saat ini hanya mengenakan celana dalam saja tanpa ada pakaian yang lain.

"AAAAAAA...."

Braakk!

Pintu kamar tertutup keras. Mia menutupnya dengan keras. Namun ia masih berada di luar.

"Apa tadi? Aku lihat apa? Ya Tuhan maafkan hambamu." Rengeknya.

"Tapi, aku nggak salah. Siapa suruh dia nggak pakai apa-apa. Siapa suruh dia, Aaaaaa..."

Pintu kamar terbuka tiba-tiba dan Mia ditarik Dirga ke dalam dan pintu tertutup lagi.

Mia membola, "Di--dirga," Mia tak berani melirik ke bawah. Ia tahu Dirga belum memakai apapun selain celana dalamnya.

"Gadis liar."

Hanya itu yang Dirga ucapkan sebelum Mia merasakan bibirnya dilahap oleh Dirga.

"Ya Tuhan, selamatkan aku."

*****

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    10. Kontrak Menyesatkan

    Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertarik. Satu hal yang ia tahu sekarang tentang Dirga. Pria itu menyukai novel fiksi. Banyak novel bergenre Romance di lemari bukunya.saat Mia ingin mengambil satu novel, pintu ruang kerja Dirga terbuka. Ia spontan melirik dan mendapati Dirga berdiri di sana dengan pakaian, olahraga?.Mia menatap gugup. Pakaian Dirga yang penuh keringat, mencetak tubuh atletis Dirga dengan jelas. Pria itu mendekat, melewati Mia dan duduk di kursi kerjanya. Aroma tubuh Dirga menguar dan Mia suka itu. Maskulin sekali, batinnya.Dirga berdehem menyadarkan Mia dari pikiran kotornya."Oh iya." Ia duduk di kursi di depan meja. "Jadi, kenapa aku dipanggil pagi-pagi begini?"Dirga membuka laci mejanya dan mengeluarkan

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    9. Perawat pribadi?

    Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, jika sekarang ia mati, tak akan ada yang peduli.Mia masih menatap Dirga. Air matanya masih mengalir. "Aku tak pernah takut untuk mati asal kamu tahu Dirga. Karena aku tak punya siapa-siapa di dunia ini."Kali ini Dirga benar-benar dibuat diam seribu bahasa. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia akan melihat tatapan mata yang menyakitkan seperti ini.Dirga berdehem. Ia melepaskan genggamannya dari lengan Mia. Tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali masuk ke kamarnya. Sepeninggalan Dirga, Mia langsung menyentuh lengannya yang terasa sakit. Ia masih terisak. Lagi-lagi ia menyentuh perutnya. Rasa lapar itu belum reda walaupun moodnya sedang tak baik-baik saja.Mia memutuskan duduk di kursi m

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 8

    Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya paham itu apa. Mia merasakan benda itu semakin menekan.Tidak. Ini tak bisa dilanjutkan. Mia membuka matanya dan dengan dorongan keras, ia mendorong Dirga membuat ciuman itu terlepas.Namun Dirga kembali menariknya. Tubuh Mia menegang saat Dirga tiba-tiba menghimpitnya mendekat. Belum sempat ia bereaksi, kedua pergelangan tangannya sudah terangkat, tertahan di atas kepalanya, terkunci oleh satu genggaman kuat.“Dirga…?” suaranya nyaris tak keluar.Namun laki-laki itu tak menjawab.Dalam satu gerakan cepat, tubuh Mia diputar menghadap dinding. Punggungnya menempel pada permukaan dingin, sementara napasnya mulai tak beraturan. Jantungnya berdetak begitu keras, seolah ingin keluar dari dadanya.I

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 7

    "Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali."Kalian?"Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga."I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga."Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga."Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya."DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kam

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 6

    Dion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga."Bagaimana?" Tanya Dion."Dirga sudah tidur.""Parahkah?"Kian mengangguk ragu."Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."Dion mengangguk paham. "Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu.""Dia temanmu juga!""Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung t

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 5

    Mia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam."Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,""Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh."Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"Ciiitt!!Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang."Turun!" Titah Dirga."Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?""Turun, atau aku ledakkan mobil ini."Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil."Oke.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status