LOGINMia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.
Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam.
"Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,"
"Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.
Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh.
"Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"
Ciiitt!!
Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang.
"Turun!" Titah Dirga.
"Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?"
"Turun, atau aku ledakkan mobil ini."
Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil.
"Oke. Oke aku turun."
Mia mengejar Dirga yang lebih dulu melangkah dan langsung menahan jemari Dirga, "Dirga, aku minta maaf. Aku tahu kalau aku lancang, aku juga,"
"Ssssttt. Berisik! Bisa lebih tenang sedikit?"
Mia menggeleng kuat. Air matanya sudah jatuh. Ia tak mau mati muda. Ia masih ingin menikah dan punya anak. Ia ingin punya keluarga cemaranya sendiri.
Mia menyadari jika Dirga sidah masuk ke dalam bangunan. Ia melihat ke sekelilingnya. Ingin kabur justru tak ada guna. Di hutan belantara begini dan tengah malam juga.
Mia mengejar Dirga ke dalam. Tubuhnya bergetar takut. Nafasnya memburu, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Saat ia sudah sampai di dalam, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat empat pria yang tadi mengejarnya dan hendak menculiknya.
Ia menatap Dirga. Pria itu memintanya mendekat.
Mia menggeleng takut.
"Kau ke sini, atau," Dirga mengambil pistol di atas meja kecil di depan pria tersebut, "Pistol ini akan menembak kepalamu."
Tubuh Mia bergetar. Kenapa semuanya jadi begini? Ia merasa terjebak dengan kebaikan yang ia buat sendiri.
Dengan langkah sulit, Mia melangkah mendekat.
"Ambil ini!" Dirga menyerahkan pistol yang tadi pria itu pegang pada Mia.
Mia menggeleng cepat. Namun penolakan Mia membuat Dirga murka. Ia berdiri dan menarik Mia mendekat.
Dirga menyerahkan pistol tersebut pada Mia. Melihat senjata itu sudah berpindah tempat ke tangannya, Mia benar-benar ketakutan.
Dirga kini berdiri di belakang Mia. Dadanya bahkan menempel di punggung Mia.
Dirga mendekatkan mulutnya pada telinga Mia, "Kau ingat mereka bukan?" Bisik Dirga.
Mia menggigil. Ketakutannya semakin menjadi. Ia mengangguk.
"Tembak mereka!"
"Nggak! Nggak! Aku nggak mau! Aku bukan pembunuh!" Mia spontan melempar pistol itu mengenai kaki Dirga.
Pria itu tersenyum. Namun senyum yang dianggap Mia sangat menakutkan.
Dirga mengambil pistol itu kembali dan lagi, ia menyerahkan pada Mia.
"Ambil!" Perintah Dirga.
Mia benar-benar hancur. Ia tak menyangka jika menolong seorang mafia, akan merubah statusnya menjadi seorang pembunuh.
"Aku mohon Dirga jangan paksa aku. Hikss.. Aku tak ingin jadi pembunuh. Aku,"
"AMBIL PISTOLNYA DAN TEMBAK!
Mia terpekik karena Dirga berteriak tiba-tiba padanya.
"Aku minta maaf. Aku akui kamu seorang mafia. Aku salah bicara. Aku minta maaf Dirga. Aku,"
"Ambil dan tembak!!"
Mia masih menggeleng ketakutan. Wajahnya sudah sembab karena menangis.
"Mbak, mbak kami minta maaf. Kami hanya disuruh. Maafkan kami. Jangan tembak kami mbak."
"Dirga,"
"TEMBAK!!"
"Nggak! Nggak, aku,"
"Mbak, maafkan kami. Kasihani kami mbak. Kami hanya bekerja, kami,"
Dor! Dor! Dor! Dor!
Empat tembakan terlepas. Suara jeritan sahut menyahut. Mia menjerit sekencang yang ia bisa. Matanya terpejam kuat.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan kembali terdengar dan suara jeritan kesakitan semakin menggila. Mia sungguh tak tahan.
"STOP! BERHENTIIIII!!"
Kali ini teriakan Mia semakin menjadi. Ia tak peduli suaranya akan habis.
"Aku percaya kamu mafia. AKU PERCAYA DIRGA! Sudah hentikan itu." Dengan tangan bergetar, Mia mencoba menjangkau senjata di tangan Dirga.
Dirga menatap Mia tenang. Bahkan jauh lebih tenang membuat Mia sangat ketakutan.
Mia tak berani melirik ke samping. Walaupun ia mampu melihat dari sudut matanya bagaimana kondisi empat pria yang tadi ditembak Dirga, namun ia tak berani melihat.
Dirga melirik ke sekelilingnya. "Kalian urus mereka. Kirim mereka pada Alexa." Ucapnya.
"Baik bos."
Setelah memerintah, Dirga melirik Mia yang masih terlihat sangat ketakutan. Tubuh Mia bahkan masih menggigil hebat. Mata gadis itu terpejam.
Dirga meraih jemari Mia, menarik Mia keluar namun Mia memberontak keras. Tapi bukan Dirga namanya jika pria itu harus kalah dari kekuatan Mia. Ia terus menyeret Mia keluar dan membawa Mia masuk kembali ke dalam mobil.
Kini keduanya sudah berada di dalam. Mia masih menjerit menangis. Suara tembakan masih terngiang di telinganya membuat jantungnya berdebar begitu hebat.
Dengan mata basahnya, ia menatap Dirga tajam, "Membunuh orang, hah? Kamu ternyata seorang pembunuh."
Dirga tersenyum tipis. "Semakin lama kau mengenalku, kau akan tahu seberapa kejamnya aku."
"Dan aku lebih baik mati dari pada harus mengenalmu lebih jauh. Aku tak mau mengenal seorang pembunuh! Kalau aku tahu kamu sekejam ini, aku tak akan mau bantu kamu malam itu. Biarkan kamu kehabisan darah. Aku bakalan seret kamu keluar, membiarkan orang-orang itu menghabisi kamu!"
Tatapan Mia benar-benar nyalang. "Aku nyesel bantu kamu. Aku nyesel biarin kamu hidup. Aku,"
Ucapan Mia terbungkam oleh bibir Dirga yang melahap bibirnya lagi.
Kali ini Mia merasa jijik. Ia mendorong kuat Dirga. Tak peduli pria itu akan kesakitan karena ulahnya, ia tak peduli. Ia benar-benar merasa jijik dan kotor.
Dirga semakin menahan tengkuk Mia. Tak membiarkan ciuman itu terlepas.
Mia yang tersulut emosi dan rasa benci, memukul kuat tepat di luka jahitan Dirga, membuat ciuman itu langsung terlepas. Dirga mendesis kesakitan. Bahkan pria itu mengepalkan tangannya menahan sakit.
Mia hendak keluar dari mobil namun Dirga menahannya.
"Kau, aagghhh..." Dirga tak bisa lagi menahan sakit pada bekas lukanya. Beruntung Dion muncul bersama Bagas. Ia menekan klakson kuat memancing Dion dan Bagas untuk mendekat.
Keduanya sama-sama bingung melihat Dirga dan Mia terlihat kacau dalam situasi yang berbeda.
"Kau, Jangan harap kau bisa kabur dariku, Mia.!!"
****
Kimi masih berjalan di samping Kian menuju area parkir kampus. Meski berusaha terlihat biasa saja, sebenarnya suasana hatinya sedang sangat bersorak senang. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan makan bersama sang pujaan hati.Setidaknya sampai beberapa detik berikutnya."Kiaaan!"Suara perempuan yang terdengar manja itu membuat langkah Kimi langsung berhenti. Ia mendadak jengah. Dalam benaknya sudah terlintas satu nama.Dan benar saja.Icha berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. "Kamu ternyata masih di sini. Aku pikir udah pulang. Aku cariin kamu. Masa tunangannya ditinggal gitu aja."ucap Icha kesal.Belum sempat Kian menjawab, Icha sudah lebih dulu merangkul lengan pria itu dengan manis dan manja. Membuat Kimi ingin muntah saat itu juga. Refleks, senyum yang tadi menghiasi wajah Kimi langsung lenyap. Berganti dengan ekspresi datar.Sangat datar.Kalau boleh jujur, dalam benaknya saat ini sudah muncul sekitar seratus cara untuk menjambak rambut Icha. Menendang Icha jauh-jauh da
Aula utama kampus pagi itu dipenuhi oleh mahasiswa yang antusias mengikuti Seminar Hari Anak Nasional. Spanduk besar membentang di atas panggung, sementara para panitia sibuk mengatur jalannya acara.Di sisi lain kota, seorang gadis tengah berdiri di depan lemari pakaiannya sambil memilih baju untuk kesekian kalinya. Padahal baju yang ia keluarkan dari dalam lemari sudah begitu banyaknya sejak tadi, namun sampai saat ini belum ia temukan mana yang cocok untuk ia kenakan."Kemeja ini terlalu formal..."Kimi mengembalikan gantungan baju itu.Ia mengambil satu lagi, namun kembali menggeleng, "Yang ini terlalu biasa..."ucapnya.Ponsel Kimi kembali bergetar. Ia melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan nama Arini tertera di sana. Dengan cepat Kimi membuka isi pesan tersebut.Arini :"Cepetan berangkat! Nanti keburu penuh."Kimi langsung membalas.Kimi :"Aku datang bukan buat seminar."Arini :"Iya, iya. Datang buat lihat dokter ganteng kesayanganmu."Kimi :"Arin!"Balasan dari sahaba
Wajah Dea memerah malu. "Maaf." Ucapnya lalu berbalik badan dan hendak pergi namun Bagas seketika menahannya. "Kamu mau ke mana?" Tanya Bagas. Dea gugup bukan main. Ia bahkan tak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bagas.Tanpa Dea sadari, Bagas sudah melangkah mendekatinya dan, Bugh!Bagas menarik Dea dan punggung Dea seketika bertubrukan dengan dada bidang Bagas. Jangan lupakan tonjolan Bagas di bawah yang mengenai pinggang Dea. Dea meremang."Kamu berubah pikiran?" Bisiknya lalu mengecup telinga Mia."Oke sebentar, pak Bagas." Dea berbalik badan namun terkejut karena Bagas yang masih seperti tadi. Spontan Dea kembali berbalik membelakangi pria tersebut."Panggil aku Bagas saja.""Oke. Alangkah lebih baiknya jika anda mengenakan pakaian dulu." Bagas tersenyum miring. Ia tak mengindahkan perintah Dea. Pria itu justru melangkah mendekati Dea, memutar tubuh Dea dan menarik tengkuk Dea sebelum bibir mereka akhirnya bertemu.Ciuman Bagas langsung brutal. Lidahnya bermain mengeksplor r
Setengah jam setelah Rasya meninggalkan rumah itu, suasana masih terasa begitu hening.Piring-piring makan siang tadi sudah Mia rapikan. Aroma sambal terasi masih samar memenuhi dapur sementara sinar matahari siang mulai bergeser memasuki ruang keluarga yang luas dan mewah itu.Namun berbeda dengan rumah yang terlihat tenang...Isi kepala Dirga justru kacau luar biasa.Pria itu berdiri sendirian di dekat jendela kaca kamarnya.Kedua tangannya bertumpu iya masukkan ke dalam saku celananya sementara pikirannya terus memutar ucapan papinya beberapa saat yang lalu.Averion Medical Group.Perusahaan besar itu,Milik papanya.Dan sekarang— Milik dirinya.Dirga tertawa kecil tak percaya. Sambil mengusap wajah kasar. Rasanya semua ini terlalu mengejutkan untuk diterima sekaligus dalam satu hari.Pagi tadi ia bertengkar hebat dengan maminya demi mempertahankan Mia tetap berada di sisinya. Namun siangnya, papinya datang membawa fakta yang mengubah seluruh hidupnya. Membawa kabar baik di tengah
Cahaya matahari yang masuk dari sela tirai kamar perlahan menyinari ranjang besar itu. Hari sudah menjelang siang namun suasana di kamar Dirga masih terasa sejuk dan nyaman. Mia terbangun lebih dulu. Ia menggeliat pelan lalu melirik Dirga yang masih terlelap di sampingnya. Mereka belum mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panas mereka sejak tadi pagi. Mia melirik jam di ponsel Dirga dan ia membelalak kaget karena sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Pantas saja perutnya terasa lapar saat ini. Mia memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia tak ingin melewatkan makannya lagi. Karena untuk sarapan pagi sudah pasti terlewatkan.Setelah rapi, Mia keluar kamar menuju dapur. Ia mempersiapkan semua bahan masakan yang ingin ia olah. Dan untuk siang ini, Mia ingin membuat ayam geprek sambal terasi dengan nasi hangat daun jeruk. Ia tahu Dirga sangat menyukai menu yang satu ini.Satu persatu ya selesaikan dengan sempurna. Ar
Braakk!Suara pintu rumah Dirga tertutup keras. Dan pelakunya adalah maminya sendiri. Setelah perdebatan panjang, wanita itu memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya. Seolah memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Dirga mengusap wajahnya kasar. Dia menatap para pelayan yang datang untuk membersihkan rumahnya lalu tersenyum ramah pada mereka semua. "Tuan Dirga nggak pa-pa?" Tanya salah satu pelayan yang umurnya jauh lebih tua dari Dirga. "Saya nggak pa-pa bik. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian."Semua pelayan mengangguk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.Pintu kamar dibuka cukup keras oleh Dirga. Ia masuk dengan nafas memburu, wajahnya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya rendah. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat seolah masih menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Dan Mia melihat itu. Ia melihat Dirga yang masih mencoba untuk mengontrol emosi agar bisa sedikit lebih tenang. Mia memukul pundak Dirga pelan dari samp







