Compartir

Chapter 5

Autor: Rilla
last update Fecha de publicación: 2026-03-10 15:15:40

Mia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.

Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam.

"Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,"

"Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.

Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh.

"Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"

Ciiitt!!

Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang.

"Turun!" Titah Dirga.

"Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?"

"Turun, atau aku ledakkan mobil ini."

Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil.

"Oke. Oke aku turun."

Mia mengejar Dirga yang lebih dulu melangkah dan langsung menahan jemari Dirga, "Dirga, aku minta maaf. Aku tahu kalau aku lancang, aku juga,"

"Ssssttt. Berisik! Bisa lebih tenang sedikit?"

Mia menggeleng kuat. Air matanya sudah jatuh. Ia tak mau mati muda. Ia masih ingin menikah dan punya anak. Ia ingin punya keluarga cemaranya sendiri.

Mia menyadari jika Dirga sidah masuk ke dalam bangunan. Ia melihat ke sekelilingnya. Ingin kabur justru tak ada guna. Di hutan belantara begini dan tengah malam juga.

Mia mengejar Dirga ke dalam. Tubuhnya bergetar takut. Nafasnya memburu, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Saat ia sudah sampai di dalam, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat empat pria yang tadi mengejarnya dan hendak menculiknya.

Ia menatap Dirga. Pria itu memintanya mendekat.

Mia menggeleng takut.

"Kau ke sini, atau," Dirga mengambil pistol di atas meja kecil di depan pria tersebut, "Pistol ini akan menembak kepalamu."

Tubuh Mia bergetar. Kenapa semuanya jadi begini? Ia merasa terjebak dengan kebaikan yang ia buat sendiri.

Dengan langkah sulit, Mia melangkah mendekat.

"Ambil ini!" Dirga menyerahkan pistol yang tadi pria itu pegang pada Mia.

Mia menggeleng cepat. Namun penolakan Mia membuat Dirga murka. Ia berdiri dan menarik Mia mendekat.

Dirga menyerahkan pistol tersebut pada Mia. Melihat senjata itu sudah berpindah tempat ke tangannya, Mia benar-benar ketakutan.

Dirga kini berdiri di belakang Mia. Dadanya bahkan menempel di punggung Mia.

Dirga mendekatkan mulutnya pada telinga Mia, "Kau ingat mereka bukan?" Bisik Dirga.

Mia menggigil. Ketakutannya semakin menjadi. Ia mengangguk.

"Tembak mereka!"

"Nggak! Nggak! Aku nggak mau! Aku bukan pembunuh!" Mia spontan melempar pistol itu mengenai kaki Dirga.

Pria itu tersenyum. Namun senyum yang dianggap Mia sangat menakutkan.

Dirga mengambil pistol itu kembali dan lagi, ia menyerahkan pada Mia.

"Ambil!" Perintah Dirga.

Mia benar-benar hancur. Ia tak menyangka jika menolong seorang mafia, akan merubah statusnya menjadi seorang pembunuh.

"Aku mohon Dirga jangan paksa aku. Hikss.. Aku tak ingin jadi pembunuh. Aku,"

"AMBIL PISTOLNYA DAN TEMBAK!

Mia terpekik karena Dirga berteriak tiba-tiba padanya.

"Aku minta maaf. Aku akui kamu seorang mafia. Aku salah bicara. Aku minta maaf Dirga. Aku,"

"Ambil dan tembak!!"

Mia masih menggeleng ketakutan. Wajahnya sudah sembab karena menangis.

"Mbak, mbak kami minta maaf. Kami hanya disuruh. Maafkan kami. Jangan tembak kami mbak."

"Dirga,"

"TEMBAK!!"

"Nggak! Nggak, aku,"

"Mbak, maafkan kami. Kasihani kami mbak. Kami hanya bekerja, kami,"

Dor! Dor! Dor! Dor!

Empat tembakan terlepas. Suara jeritan sahut menyahut. Mia menjerit sekencang yang ia bisa. Matanya terpejam kuat.

Dor! Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan kembali terdengar dan suara jeritan kesakitan semakin menggila. Mia sungguh tak tahan.

"STOP! BERHENTIIIII!!"

Kali ini teriakan Mia semakin menjadi. Ia tak peduli suaranya akan habis.

"Aku percaya kamu mafia. AKU PERCAYA DIRGA! Sudah hentikan itu." Dengan tangan bergetar, Mia mencoba menjangkau senjata di tangan Dirga.

Dirga menatap Mia tenang. Bahkan jauh lebih tenang membuat Mia sangat ketakutan.

Mia tak berani melirik ke samping. Walaupun ia mampu melihat dari sudut matanya bagaimana kondisi empat pria yang tadi ditembak Dirga, namun ia tak berani melihat.

Dirga melirik ke sekelilingnya. "Kalian urus mereka. Kirim mereka pada Alexa." Ucapnya.

"Baik bos."

Setelah memerintah, Dirga melirik Mia yang masih terlihat sangat ketakutan. Tubuh Mia bahkan masih menggigil hebat. Mata gadis itu terpejam.

Dirga meraih jemari Mia, menarik Mia keluar namun Mia memberontak keras. Tapi bukan Dirga namanya jika pria itu harus kalah dari kekuatan Mia. Ia terus menyeret Mia keluar dan membawa Mia masuk kembali ke dalam mobil.

Kini keduanya sudah berada di dalam. Mia masih menjerit menangis. Suara tembakan masih terngiang di telinganya membuat jantungnya berdebar begitu hebat.

Dengan mata basahnya, ia menatap Dirga tajam, "Membunuh orang, hah? Kamu ternyata seorang pembunuh."

Dirga tersenyum tipis. "Semakin lama kau mengenalku, kau akan tahu seberapa kejamnya aku."

"Dan aku lebih baik mati  dari pada harus mengenalmu lebih jauh. Aku tak mau mengenal seorang pembunuh! Kalau aku tahu kamu sekejam ini, aku tak akan mau bantu kamu malam itu. Biarkan kamu kehabisan darah. Aku bakalan seret kamu keluar, membiarkan orang-orang itu menghabisi kamu!"

Tatapan Mia benar-benar nyalang. "Aku nyesel bantu kamu. Aku nyesel biarin kamu hidup. Aku,"

Ucapan Mia terbungkam oleh bibir Dirga yang melahap bibirnya lagi.

Kali ini Mia merasa jijik. Ia mendorong kuat Dirga. Tak peduli pria itu akan kesakitan karena ulahnya, ia tak peduli. Ia benar-benar merasa jijik dan kotor.

Dirga semakin menahan tengkuk Mia. Tak membiarkan ciuman itu terlepas.

Mia yang tersulut emosi dan rasa benci, memukul kuat tepat di luka jahitan Dirga, membuat ciuman itu langsung terlepas. Dirga mendesis kesakitan. Bahkan pria itu mengepalkan tangannya menahan sakit.

Mia hendak keluar dari mobil namun Dirga menahannya.

"Kau, aagghhh..." Dirga tak bisa lagi menahan sakit pada bekas lukanya. Beruntung  Dion muncul bersama Bagas. Ia menekan klakson kuat memancing Dion dan Bagas untuk mendekat.

Keduanya sama-sama bingung melihat Dirga dan Mia terlihat kacau dalam situasi yang berbeda.

"Kau, Jangan harap kau bisa kabur dariku, Mia.!!"

****

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    10. Kontrak Menyesatkan

    Mia menatap ke sekelilingnya. Ruang kerja Dirga terlihat sangat rapi. Banyak buku yang tersusun di lemari. Pagi ini ia sudah dipanggil Dirga untuk datang ke ruang kerjanya, namun pria itu belum muncul.Mia berdiri dari duduknya lalu melangkah melihat-lihat beberapa buku yang cukup membuatnya tertarik. Satu hal yang ia tahu sekarang tentang Dirga. Pria itu menyukai novel fiksi. Banyak novel bergenre Romance di lemari bukunya.saat Mia ingin mengambil satu novel, pintu ruang kerja Dirga terbuka. Ia spontan melirik dan mendapati Dirga berdiri di sana dengan pakaian, olahraga?.Mia menatap gugup. Pakaian Dirga yang penuh keringat, mencetak tubuh atletis Dirga dengan jelas. Pria itu mendekat, melewati Mia dan duduk di kursi kerjanya. Aroma tubuh Dirga menguar dan Mia suka itu. Maskulin sekali, batinnya.Dirga berdehem menyadarkan Mia dari pikiran kotornya."Oh iya." Ia duduk di kursi di depan meja. "Jadi, kenapa aku dipanggil pagi-pagi begini?"Dirga membuka laci mejanya dan mengeluarkan

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    9. Perawat pribadi?

    Faktanya dunia memang kejam untuk seorang perempuan. Apalagi mereka yang tak punya apa-apa dan tak ada siapapun yang menjaga. Mia merasakan itu semua. Orang tuanya bercerai dan keduanya kembali menikah dengan pasangan mereka masing-masing, hidup bahagia tanpa memikirkan dirinya sama sekali.Jadi, jika sekarang ia mati, tak akan ada yang peduli.Mia masih menatap Dirga. Air matanya masih mengalir. "Aku tak pernah takut untuk mati asal kamu tahu Dirga. Karena aku tak punya siapa-siapa di dunia ini."Kali ini Dirga benar-benar dibuat diam seribu bahasa. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia akan melihat tatapan mata yang menyakitkan seperti ini.Dirga berdehem. Ia melepaskan genggamannya dari lengan Mia. Tanpa banyak bicara lagi, Dirga kembali masuk ke kamarnya. Sepeninggalan Dirga, Mia langsung menyentuh lengannya yang terasa sakit. Ia masih terisak. Lagi-lagi ia menyentuh perutnya. Rasa lapar itu belum reda walaupun moodnya sedang tak baik-baik saja.Mia memutuskan duduk di kursi m

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 8

    Mia masih mengatupkan bibirnya. Ia kehilangan keberaniannya tadi. Dan kini, ia terjebak dalam situasi yang sulit.Matanya masih terpejam. Ia tak berani membuka mata. Kini yang bisa ia rasakan hanya lumatan Dirga pada bibirnya dan satu lagi,"Apa itu yang keras di bawah." Batinnya.Otak cerdasnya paham itu apa. Mia merasakan benda itu semakin menekan.Tidak. Ini tak bisa dilanjutkan. Mia membuka matanya dan dengan dorongan keras, ia mendorong Dirga membuat ciuman itu terlepas.Namun Dirga kembali menariknya. Tubuh Mia menegang saat Dirga tiba-tiba menghimpitnya mendekat. Belum sempat ia bereaksi, kedua pergelangan tangannya sudah terangkat, tertahan di atas kepalanya, terkunci oleh satu genggaman kuat.“Dirga…?” suaranya nyaris tak keluar.Namun laki-laki itu tak menjawab.Dalam satu gerakan cepat, tubuh Mia diputar menghadap dinding. Punggungnya menempel pada permukaan dingin, sementara napasnya mulai tak beraturan. Jantungnya berdetak begitu keras, seolah ingin keluar dari dadanya.I

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 7

    "Apa-apaan kamu. Aku nggak mau! Kamu pikir kamu siapa? Seenak jidat kamu aja nentuin nasib orang."Pintu kamar Dirga terbuka. Dion berdiri di depan sana. Jangan tanyakan ekspresi Dion.Melihat Mia yang duduk di pangkuan Dirga, membuat Dion harus memukul pipinya beberapa kali."Kalian?"Dengan cepat Mia turun dari pangkuan Dirga."I--ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku," Mia melirik Dirga yang terlihat santai. Mia benar-benar ingin mengeluarkan tanduknya saat ini juga."Kamu!!" Mia menunjuk Dirga, "Ini semua salah kamu!! Dasar otak mesum. Otak kotor. Pria aneh, jahat, menyebalkan!!!" Mia mengambil bantal yang tadi Dirga tiduri lalu melemparnya pada Dirga."Mati aja kamu!" Teriaknya sebelum ia memutuskan untuk keluar.Mia membanting pintu kamar Dirga dengan kuat. Ia benar-benar kesal setengah mati.Sesampainya di kamar tamu, Mia berteriak keras. Ia melepaskan emosinya bahkan Dirga bisa mendengar teriakan kesal Mia di kamarnya."DASAR PRIA MESUM SIALAAAANNN!!!" teriaknya. "Kam

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 6

    Dion menggendong Mia dengan hati-hati. Selama perjalanan pulang ke rumah Dirga, gadis itu tertidur. Walaupun isakan sisa tangisnya belum juga hilang. Sementara Dirga, kini berada di kamar utama sedang diperiksa dokter pribadinya sekaligus teman Dirga juga bernama Kian.Dion keluar dari kamar tamu tempat Mia tidur dan langsung menuju ke kamar Dirga."Bagaimana?" Tanya Dion."Dirga sudah tidur.""Parahkah?"Kian mengangguk ragu."Karena ini luka baru dan masih basah, jadi akan lebih cepat kembali infeksi jika terlalu memaksakan gerak.."Dion mengangguk paham. "Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Kau yakin dia tak akan mengalami trauma berat?"Dion menghela napas panjang, "Entahlah. Aku tak bisa menebak. Pria gila itu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia membawa Mia ke tempat seperti itu dan memperlihatkan eksekusi."Kian tertawa, "Pria yang kau sebut gila itu adalah temanmu.""Dia temanmu juga!""Berarti kita berteman dengan orang gila." Celetuk Kian membuat Dion dan dirinya langsung t

  • Perawat Pribadi Tuan Mafia    Chapter 5

    Mia kini berada dalam mobil yang dikemudikan Dirga. Ia bahkan sudah berontak untuk tak pergi, namun pria sialan di sampingnya ini tetap memaksa.Sepanjang perjalanan, Mia dibuat bingung. Kenapa mereka pergi sejauh ini dan sangat terpencil. Apalagi ia sangat yakin jika sekarang sudah tengah malam."Kita mau ke mana? Kamu nggak lagi rencanain sesuatu kan? Atau jangan-jangan," Mia menggenggam erat seat belt nya. Ia menatap Dirga, "Kamu nggak lagi berencana buat,""Otakmu cerdas." Potong Dirga langsung.Mia dengan segala kegilaan di otaknya saat ini langsung berteriak heboh."Kamu nggak gila kan? Dirga, aku tahu kalau kamu,"Ciiitt!!Mobil tiba-tiba berhenti. Mia langsung melirik ke sekelilingnya. Di depan mobil saat ini hanya ada sebuah bangunan sepetak. Hanya ada itu. Di sekelilingnya kini ada begitu banyak pohon menjulang."Turun!" Titah Dirga."Ha? Nggak. Dirga, kamu nggak bercanda kan?""Turun, atau aku ledakkan mobil ini."Mia ketakutan. Ia langsung patuh dan turun dari mobil."Oke.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status