LOGIN"Kalian pulang bersama?" tanya Yumna yang terkejut melihat Arini keluar dari mobil suaminya."Iya, Mbak. Tadi aku-"Ucapan Arini terhenti ketika Haikal membawa Yumna masuk kedalam rumah sambil menggandengnya tak memperdulikan Arini membuat wanita yang tengah hamil muda itu merasa gak di anggap."Mas, kalian pulang bersama, apa kalian habis pergi berdua tanpa memberitahu aku, Kalian pergi ke mana?" Yumna memberondong Haikal dengan pertanyaan.Haikal tersenyum mendengar pertanyaan dari sang istri, ia tahu jika istrinya pasti curiga melihat Arini dan ia pulang bersama."Kamu jangan pikir macam-macam, Sayang. Aku dari kantor langsung pulang kok nggak pergi kemana-mana," jawab Haikal terus menggandeng sang istri hingga mereka sampai di dalam kamar."Terus kenapa bisa bareng Arini? Padahal tadi dia bilang mau ke apotek dan ingin menemui kakaknya!""Aku juga nggak tahu, pas aku mau pulang tiba-tiba Arini ada di depan kantor, terus dia minta pulang bareng.""Kamu nggak bohong kan, Mas?" tany
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Haidar dengan suara baritonnya.Yumna dan Salsa terkejut mendengar suara bariton Haidar, mereka menggelengkan kepala saat melihat Arini menggendong Fathan dan anak lelaki itu menangis menolak di gendong orang yang tak di kenal.Salsa langsung mengambil Fathan dari gendongan Arini, tak ingin anaknya menangis lebih lama dan ia tahu Haidar sang suami enggan mengambil Fathan karena tidak ingin berdekatan dengan Arini."Cup ... cup ... sudah jangan nangis lagi, Fathan sama mama sekarang!" ucap Salsa seraya mengelus punggung anaknya dengan lembut.Haidar menatap Arini seperti elang yang hendak menerkam mangsanya, melihat tatapan Haidar yang tajam membuat Arini ketakutan."Aku sudah bilang anakku tidak suka di dekati orang asing, kenapa kamu lancang menggendongnya dengan paksa hingga membuat dia menangis?!"Arini hanya bisa menunduk, dadanya berdebar kencang mendengar suara Haidar sangat marah. Awalnya ia ingin mencari perhatian Haidar melalui anaknya, tap
"A-aku tidak pernah menjebak suami Mbak!" Arini mengelak dan Yumna hanya tersenyum tipis.Salsa merangkul tangan Yumna dan membawa sahabatnya ke ruang tamu, Haidar mengekori berjalan di belakang dua wanita tersebut. Sementara Arini hanya mematung di tempat, ia keheranan bagaimana bisa antara istri pertama dan kedua bisa akur, tetapi Yumna terlihat sangat tidak menyukai kehadirannya."Yumna, bagaimana Arini hari ini?" tanya Salsa saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu."Bagiamana maksudnya?""Dia menggoda Haikal lagi apa tidak, atau dia membuatmu kesal dengan ulahnya lagi?" Salsa memperjelas pertanyaannya.Yumna menghela nafas dan menceritakan kejadian tadi pagi saat Arini dengan sengaja mengibaskan rambutnya yang masih basah dan memperlihatkan tanda merah di lehernya."Pasti dia sengaja ingin membuatmu berpikir jika dia dan Haikal habis melakukan hubungan intim," tebak Salsa dan di jawab anggukan kepala oleh Yumna."Iya, dia berhasil membuatku berpikir seperti itu dan jika aku tid
Yumna terus memandang leher Arini yang terdapat tanda merah tersebut, sementara Arini yang menyadari arah pandangan Yumna seolah sengaja menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi lehernya sehingga tanda merah itu lebih terlihat jelas. Arini sengaja mengibas rambutnya yang masih basah di depan Yumna."Eh Maaf ya, Mbak. Aku gak punya hairdryer jadi rambutku masih basah dan akhirnya sedikit menciprat ke wajah Mbak!" ucap Arini sambil tersenyum.Yumna merasa kesal, tetapi saat melihat Haikal sama sekali tidak mendengarkan ucapan Arini dan sibuk dengan gawainya membuat Yumna tersenyum tipis, lalu menyenggol lengan sang suami."Kebetulan aku ada Hairdryer yang tidak di pakai, nanti bisa kamu pakai, Arini. Oh iya aku juga punya poundation yang sepertinya cocok untuk warna kulitmu dan bisa kamu pakai untuk menutupi kissmark di lehermu," ucap Yumna kesal karena mengira itu perbuatan suaminya.Haikal langsung melihat leher Arini setelah mendengar ucapan Yumna, sementara Arini yang di pandang
"Apa kamu keberatan jika aku memperlakukannya seperti itu, Mas?" tanya Yumna menatap Haikal."Tentu saja tidak, aku hanya heran karena kamu tidak biasanya bersikap seperti itu kepada siapapun.""Selama ini aku menunjukkan sikap baikku kepada orang yang baik kepada ku, tapi kamu tahu sendiri seperti apa sikap Arini terhadapku. Dia terang-terangan menggoda mu di depanku sama saja dia sedang mengajak perang aku!"Haikal menganggukan kepala tak lagi berniat melanjutkan pembahasan hal itu, ingin mengalihkan pembicaraan untuk membahas hal lain, tetapi Yumna masih fokus menatap laptop yang memperlihatkan CCTV di dapur."Lihat, Mas. Dia membuat rebusan daun katuk dengan wajah cemberut dan terlihat seperti orang marah-marah!""Iya," jawab Haikal singkat takut salah berbicara jika menjawab lebih banyak.Setelah beberapa lama memperhatikan video rekaman CCTV tersebut, Arini selesai membuat rebusan daun katuk dan langsung di berikan ke kamar Yumna.TokTokTokArini mengetuk pintu kamar tersebut,
"Bagaimana cara dia menggoda mu, Mas?" tanya Yumna dengan rasa penasaran bercampur kesal.Haikal memandang Yumna lalu berjalan mendekatinya, menggenggam lembut tangan Yumna sebelum menceritakan semuanya."Aku akan jujur, tapi sebelumnya kamu harus berjanji Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini karena kamu baru saja melahirkan tidak boleh stress nanti berpengaruh pada asi yang akan kamu produksi."Yumna mengangguk mendengar ucapan Haikal, meskipun ia tidak tahu seperti apa reaksinya nanti setelah mendengar cerita dari Haikal. Haikal menceritakan apa saja yang dilakukan Arini selama Yumna tidak ada, termasuk mengajaknya melakukan hal itu lagi selama Yumna tidak bisa melayaninya. "Benar juga kata Arini, setelah melahirkan aku tidak bisa melayani mu, Mas!""Itu bukan masalah, Sayang. Semua suami pasti mengalami hal itu ketika istrinya baru saja melahirkan, jadi aku akan bersabar seperti suami-suami lainnya yang sabar menunggu istrinya sampai siap melayani kembali," ucap Haikal menenangk







