MasukYudha dan kedua anak buahnya mulai memantau kegiatan Arini dan keluarga Yumna, mereka menunggu salah satu dari mereka keluar rumah dan membawa anak mereka keluar.
"Mereka zombie apa ya? Sudah tiga hari kita di sini kok belum lihat salah satu dari mereka keluar!" ucap salah satu teman Yuda."Sepertinya Haikal melarang mereka keluar rumah," ucap Yudha."Terus gimana dong? Kalau mereka gak keluar gimana kita mau culik? Gimana kita mau dapat du"Yudha, kamu yakin bayi ini tidur bukan mati?!" tanya Martin yang merupakan teman Yuda."Sembarangan kalau ngomong, dia pasti tidur itu!" ucap Yudha mencoba tenang meski hatinya mulai resah.Martin melihat dan memegang bayi itu nampak sangat lemas, suhu tubuhnya terasa dingin, dan wajahnya terlihat pucat. Ia lalu mengecek nafas di hidung bayi tersebut dan denyut nadinya, tetapi Martin tidak merasakan hembusan nafas juga denyut nadi bayi tersebut."Gak bener kamu, Yud! Bayi ini sudah mati. Kira-kira dong masa mau jual mayat!" ucap Martin seraya memberikan bayi itu kepada Yuda kembali.Yuda terkejut mendengar ucapan Martin, ia pun akhirnya mengecek nafas dan denyut nadi Aiza. Namun, hal sama di rasakan oleh Yuda, ia tak merasakan hembusan nafas dan denyut nadi Aiza. Yuda tak tahu bayi itu baru saja di imunisasi dan mengalami demam semalaman, tapi Yuda tak merawatnya dengan baik bahkan saat memberi susu formula pad
Malas berurusan dengan Arini, Yudha berniat menjual anaknya pada sindikat yang pernah ia kenal. Malam itu Yuda mencari penginapan dan terpaksa mengurus bayinya sendiri."Merepotkan!"Bayi itu berhenti menangis setelah di beri susu oleh Yudha, melihat wajah bayi yang mirip dengan wajahnya tak membuat hati Yudha mencair. Kabur hitam dan obsesi memiliki uang banyak menutupi hati Yuda sehingga tak lagi merasa iba pada darah dagingnya sendiri.Keesokan harinya, tidur Yuda kembali di bangunkan dengan suara tangis bayinya."Berisik banget sih! Ganggu orang tidur aja!" Yuda membuka matanya ia lupa jika kemarin baru saja menculik anaknya sendiri dari Arini."Sial, mau apa lagi ni anak?" Sudah di beri susu, tetapi bayi itu terus menangis membuat Yuda bingung.Ternyata bayi itu buang air besar dan harus di bersihkan, akhirnya Yuda membersihkannya meski dengan terpaksa.
"Bagaimana ini, Yuda pergi dan membawa Aiza kemana lagi?" tanya Arini sambil menangis."Tenanglah, Arini. Anak buahku sedang mengikuti mobil Yuda, mereka pasti mengabari di mana Yuda berada," ucap Haikal mencoba menenangkan Arini.Mereka pun kembali masuk ke mobil, pergi dari tempat tersebut dan mencari tempat yang lebih ramai karena mereka berada di tempat sepi.Arini masih belum tenang karena memikirkan nasib anaknya yang belum jelas. Haikal terus memantau dan menunggu anak buahnya memberi kabar.Sementara di sisi lain, anak buah Haikal terus membuntuti mobil Yuda dan kawanannya."Sial, kita di buntuti," ucap Yudha saat melihat kebelakang dan menyadari adanya mobil yang mengikuti mereka."Kita harus gimana? Aku gak mau kalau sampai di tangkap polisi," ucap Joko ketakutan."Aku juga gak mau, kalau aku masuk penjara siapa yang mau kasih makan anak dan istri
Sepanjang hari Arini mengurung diri di kamar, Ratna tidak bisa membujuknya bahkan Arini menolak makan karena terus memikirkan bayinya yang diculik oleh Yudha.Haikal yang baru saja pulang bekerja langsung menemui sang istri dan memastikan bahwa keadaan istri dan anaknya baik-baik saja."Sayang, Yuda tidak melukai kamu dan Mazaya kan? Bi Sarti bilang dia sempat datang ke rumah ini," ucap Haikal."Aku gak apa-apa, Mas. Iya Yuda memang sempat ke sini dan hendak menculik anak kita, tapi dia seperti lupa dengan tujuan awalnya karena terkejut melihat ibu yang sudah sehat," ucap Yumna menjelaskan hal yang tadi siang terjadi pada mereka.Haikal menghela nafas dan membuka dasi di lehernya, ia bersyukur anak dan istrinya baik-baik saja meskipun saat ini dia juga belum tenang karena anak Arini masih ada di tangan Yudha."Harusnya aku menambah penjagaan di sini dan juga saat kalian keluar rumah," ucap Haik
"Hah, harus di apakan bayi ini?" ucap Yuda bingung dengan bayi yang terus menangis itu."Yud, bukannya perempuan tadi itu pacar kamu yang suka ngasih kamu uang ya?" tanya Joko saat mengingat wajah Arini."Arini, iya anggap aja jadi mantan. Dia udah nggak mau menuruti permintaanku dan nggak mau lagi ngasih uang sama aku soalnya!"Joko dan Baron saling pandang lalu melihat bayi yang kini sedang menangis, tetapi Yuda masih mendiamkannya."Kalau cewek tadi pacar kamu, berarti anak ini anak kamu dong, Yud? Kok bisa sih kamu nyulik anak sendiri?" tanya Baron merasa keheranan dengan sikap Yuda."Belum tentu juga anak ini adalah anak kandungku, bisa jadi kan Arini melakukan hal itu mengenal laki-laki lain selain aku," ucap Yudha.Karena bayi itu terus menangis akhirnya Yuda meminta Baron untuk membeli susu dan juga botolnya, Mereka takut karena tangisan bayi tersebut mengundang kecur
"Ayo cepet pergi, takut pembantu itu bawa orang terus kita di tangkap!" ucap Baron.Yuda mengikuti apa kata Baron mereka pergi dari rumah tersebut, membuat Yumna dan Ratna menghela nafas lega. Sementara Bi Sarti ternyata keluar rumah untuk mencari bantuan security, tetapi ketika dia mencari security malah menemukan security tersebut pingsan di dalam ruang jaga. Bi Sarti mencoba untuk membangunkan security, tetapi ia ingat Yumna dan Ratna yang mungkin dalam bahaya di dalam rumah."Bu Yumna, Bu Ratna tidak apa-apa?" tanya Bi Sarti yang berlari tergopoh-gopoh memasuki rumah tersebut."Enggak apa-apa, Bi. Cuma ibu terlihat syok," ucap Yumna.Bi Sarti dengan sigap mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Ratna yang duduk di ruang tamu."Ini Bu Ratna minum dulu airnya biar lebih tenang," ucap Bi Sarti."Terima kasih banyak Bi Sarti." Ratna langsung meminum air yang dib







