Beranda / Romansa / Perginya istri Rahasia Ceo / Bab 19. pengakuan Arvino.

Share

Bab 19. pengakuan Arvino.

Penulis: V3yach
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 14:30:32

Keesokan harinya, di perusahaan milik Mahendra Group, ruang kerja Arvino dipenuhi tumpukan berkas dan layar laptop yang menampilkan naskah pidato resmi dari tim PR. Asistennya, Dimas, tampak sibuk menyiapkan dokumen-dokumen tersebut.

“Pak, semuanya sudah siap. Naskah yang Bapak minta sudah dirangkum, poin-poin utamanya menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar. Investor juga sudah diinformasikan, mereka menunggu pernyataan dari Bapak.”

Arvino duduk di kursi, memandangi kertas di tangannya. “…Ti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 140. Penghalang.

    Zahra menghela napas perlahan. “Aku mencintaimu, Kayden.” Kata-kata itu membuat jantung Kayden berdegup lebih cepat. “Tapi aku juga mencintai ayahku,” Zahra melanjutkan. “Dia satu-satunya orang tua yang aku miliki. Aku tidak bisa mengambil keputusan besar ini tanpa berdiskusi dengannya. Ini bukan hanya soal izin … tetapi juga tentang restu dan berkah.” Arvino tersenyum bangga. “Kami menghargai itu.” Kayla menggenggam tangan Zahra dengan lembut. “Kami ingin datang dengan cara yang terhormat. Bukan secara sembunyi-sembunyi.” Kiara mengangguk. “Iya, jika nanti Ayah Zahra ingin mempertimbangkan, kita akan menghormatinya. Tapi setidaknya niat kita sudah jelas.” Kayden menunduk sejenak, lalu kembali menatap Zahra. “Aku akan mengikuti keputusanmu. Jika kamu ingin berbicara terlebih dahulu dengan ayahmu, aku akan menunggu.” Zahra menggeleng pelan. “Tidak.” Semua menoleh. “Jika niatnya baik … datanglah dengan keluarga. Itu lebih sopan.” Wajah Kayden perlahan menjadi cerah. “Jadi kamu t

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 139. Rencana melamar.

    Suasana di ruang keluarga yang awalnya tegang berubah menjadi hening setelah pernyataan Kiara. “Kenapa kalian tidak langsung menikah saja, supaya lebih aman?” Kiara melanjutkan dengan santai, dan semua mata tertuju padanya. “Kiara, kamu ini ngomong apa sih?” Kayden mengerutkan kening, tetapi tatapannya tetap tertuju pada adiknya. Kiara mengangkat bahu dengan santai. “Aku cuma bilang yang logis. Daripada terus-menerus difitnah oleh orang yang tidak jelas, kenapa tidak sekalian diresmikan? Biar tidak ada lagi yang berani macam-macam.” Zahra terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat. Kayla menatap Kiara, lalu beralih ke Arvino. Keduanya saling bertukar pandang seolah sedang membaca pikiran masing-masing. “Mama justru setuju,” kata Kayla dengan tenang namun tegas. “Tante …” Zahra spontan menoleh, terkejut. Arvino mengangguk pelan. “Ide Kiara memang terdengar mendadak. Tapi jika dipikir-pikir, itu adalah solusi yang paling jelas.” “Pa …” Kayden melangkah mendekat, wajahnya serius.

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 138. Dukungan orang tua.

    Zahra yang terkejut akhirnya mengangguk dengan pasrah. “I–iya baik ... Ma,” kata Zahra dengan canggung. Setelah itu, mereka duduk. Suasana terasa hening selama beberapa saat. Arvino bersandar. “Sekarang jelaskan. Ada apa?” “Apa benar Ayah dan Mama sedang membicarakan pertunangan saya dengan Adeline?” tanya Kayden dengan tegas. Kayla dan Arvino saling memandang. “Apa?” Kayla mengernyitkan dahi. Arvino menghela napas pendek. “Dari mana kamu mendengar itu?” “Adeline sendiri yang bilang,” jawab Kayden dengan dingin. “Dia bilang orang tua kami sudah sepakat.” Kayla memandang Zahra dengan lembut. “Dan kamu percaya?” Zahra buru-buru menggeleng. “Saya … saya hanya bingung. Di kantor semua orang menuduh saya sebagai pelakor.” Arvino langsung duduk tegak. “Pelakor?” Kayden mengepalkan tangan. “Adeline mengaku tunangan saya di depan semua orang.” Kayla terlihat terkejut. “Dia berani mengatakan itu?” “Dan karyawan hampir mempercayainya,” Zahra menunduk, suaranya bergetar

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 137. Kepastian.

    Adeline tidak langsung menjawab. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya yang berubah cepat. “Kalau reputasinya hancur …,” gumamnya pelan. “Adeline!” Reyhan membentak. “Jangan berpikir sejauh itu.” Ia berhenti dan menatap kedua orang tuanya. “Kenapa kalian begitu takut? Bukankah kalian juga ingin aku bahagia?” “Kami ingin kamu bahagia tanpa menyakiti orang lain,” jawab Rani lirih. “Aku sudah tersakiti lebih dulu!” balas Adeline. “Di depan semua orang! Harga diriku diinjak!” “Karena kamu yang memulai,” ujar Reyhan tegas. Adeline terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Baiklah. Kalau bicara tidak cukup … aku akan buat keadaan memaksanya.” Rani terkejut. “Apa maksudmu?” Adeline meraih ponselnya. “Orang tua mereka mungkin menolak sekarang. Tapi bagaimana jika situasinya berubah?” “Situasi apa?” tanya Reyhan dengan waspada. Adeline menatap layar ponselnya, lalu tersenyum tipis. “Kalau nama baik keluarga mereka dipertaruhkan.” “Adeline, jangan!” Rani mulai panik. “Itu

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 136. Tidak Mau Kalah.

    Mobil Adeline berhenti dengan mendadak di halaman rumahnya. Ia keluar tanpa menunggu pintu dibuka. Wajahnya tegang, langkahnya cepat, dipenuhi amarah yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. Pintu rumah dibuka dengan keras. “Ma! Pa!” suaranya menggema. Rani yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. Reyhan menoleh dari kursinya, wajahnya sudah bisa menebak badai yang akan datang. “Adeline … kamu sudah pulang?” suara Rani terdengar hati-hati. “Sudah pulang?” ulang Adeline dengan nada sinis. “Itu yang Mama tanyakan? Bukan kenapa Om Arvino menolak?” Reyhan menghela napas. “Kami sudah menjelaskan ...” “Menjelaskan apa?!” potong Adeline dengan keras. “Kenapa bisa ditolak? Apa yang Papa dan Mama katakan sampai mereka menolak aku?” Rani mendekat perlahan. “Kami tidak bisa memaksa, Nak.” “Tidak bisa atau tidak mampu?” serang Adeline dengan tajam. Reyhan berdiri. “Jaga ucapanmu.” Adeline tertawa kecil, pahit. “Aku sudah menjaga semuanya selama ini. Harga diri, perasaan

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 135. Yakin.

    Zahra berhenti di ujung koridor, napasnya terengah-engah. Tangannya bergetar saat ia menghapus air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dadanya terasa sesak, seolah semua tatapan dan kata-kata di kantin tadi masih membayangi dirinya. “Zahra!” Suara itu membuatnya terhenti. Ia menoleh perlahan. Kayden berdiri beberapa meter di belakangnya, wajahnya tegang, napasnya juga berat. Tanpa ragu, Kayden mendekat. “Tunggu ... Jangan pergi,” ucapnya cepat. “Dengarkan aku.” Zahra menggeleng perlahan. “Kayden ...” Zahra menunduk, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Suaranya bergetar saat ia akhirnya berbicara. “Apa lagi yang harus saya dengar, Pak?” ucapnya pelan namun tajam. “Di depan semua orang ... dia bilang dia tunangan kamu. Dan kamu hanya diam sejenak sebelum membantahnya.” Kayden menggeleng keras. “Aku diam karena terkejut. Bukan karena itu benar.” “Terkejut?” Zahra tertawa kecil, getir. “Kalau itu tidak benar, kenapa dia berani mengatakannya? Kenapa dia yakin orang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status