LOGINDi sisi lain, Zahra memasuki ruang rapat dengan map di tangannya. Ia berhenti sejenak ketika menyadari semua orang sudah duduk. Kayden duduk di kursi utama, dan Zahra merasakan tatapan itu bahkan sebelum ia menoleh. Saat matanya bertemu dengan Kayden, ia tahu—tatapan itu berbeda dari kemarin, lebih dalam, lebih tajam, dan lebih … melindungi. Kayden tidak mengucapkan apa pun, hanya mengangguk kecil. “Pagi,” ucap Zahra pelan. Kayden menjawab singkat, “Pagi.” Nada suaranya datar. Namun, tatapannya menyusuri wajah Zahra seolah memastikan gadis itu baik-baik saja. Zahra duduk di kursinya, dan rapat pun dimulai. Ia siap mencatat dengan cepat. “Baik, kita lanjutkan pembahasan kerja sama,” ujar salah satu CEO. “Tolong data halaman tujuh,” kata Kayden tanpa menoleh, dan Zahra langsung menyerahkannya. “Terlalu dekat,” gumam Kayden pelan saat seorang pria dari perusahaan lain mendekati Zahra. Zahra tidak mendengarnya, tetapi Kayden langsung berbicara lebih keras. “Pak Rudi, silakan b
Keesokan paginya, Zahra turun ke lobi hotel lebih awal. Ia mengenakan setelan kerja sederhana dan mengikat rambutnya dengan rapi. Wajahnya tampak tenang, meskipun masih ada sisa kelelahan di matanya.Ia duduk di sofa dan membuka agenda kerjanya. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.“Selamat pagi.” Suara itu membuat Zahra menoleh dengan cepat.Kayden berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja abu-abu dan jas hitam. Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya terlihat segar meskipun jelas kurang tidur.“Selamat pagi, Pak Kayden,” jawab Zahra dengan sedikit gugup.Kayden mengangguk. “Bagaimana, apakah kamu tidur cukup semalam?”Zahra terdiam sejenak. “Cukup.”Kayden menatapnya sejenak, seolah bisa melihat kebohongan kecil itu, tetapi ia tidak memaksa.“Daniel masih menyiapkan berkas,” kata Kayden. “Kita punya waktu untuk sarapan sebentar.”“Da - Daniel?” tanya Zahra terkejut.“Hemm, Daniel. Saya yang meminta dia datang agar kamu ada yang membantu,” jelas Kayden menjawab rasa penasaran
Lampu di kamar hotel menyala redup. Zahra duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat makan malam tadi. Sepatu haknya tergeletak di lantai, sementara tas kerjanya diletakkan sembarangan di kursi.Sunyi ... begitu sunyi hingga detak jantungnya sendiri terdengar jelas.Zahra memeluk lututnya, dagunya bersandar di sana. Pandangannya kosong menatap karpet, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pikiran.“Kenapa selalu seperti ini …” gumamnya pelan.Bayangan wajah Livia kembali muncul di benaknya. Tatapan merendahkan. Kata-kata yang menyakitkan. Tuduhan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.Kenangan itu datang tanpa diundang.“Kamu sok polos, Zahra!”“Jangan berpura-pura suci!”“Kalau kamu tidak genit, mana mungkin cowokku dekat sama kamu?!”Zahra kecil berdiri di lorong sekolah, tasnya ditarik, hijabnya hampir terlepas. Ia hanya diam. Selalu diam.“Jawab dong! Jangan cuma pasang muka kasihan!”Dan kenyataannya, ia hanya bisa menunduk.Hingga ingatan itu menghilang
Kayden mengangkat tangannya. “Saya belum selesai.”Dia menatap Zahra. “Lihat saya.”Zahra mengangkat wajahnya, air mata menggantung tetapi tidak jatuh.“Saya percaya padamu,” kata Kayden dengan tenang namun tegas.Seketika, seluruh ruangan menjadi hening.“Apa?” Livia spontan berseru.Kayden melanjutkan, suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan. “Karena kebohongan selalu rapuh. Dan kejujuran tidak perlu berteriak.”Pelayan itu mundur selangkah. “Tuan, saya ...”“Keamanan,” panggil Kayden singkat.Dua petugas mendekat.“Antar pria ini keluar,” perintah Kayden. “Dan catat bahwa dia tidak pernah bekerja di acara perusahaan saya lagi.”Pelayan itu panik. “Nyonya Livia ...”Livia membelalak. “Jangan sebut nama saya!”Kayden menoleh tajam padanya. “Terlambat.”Livia terdiam, Zahra menutup mata sejenak. Napasnya bergetar.Kayden mendekat, suaranya direndahkan. “Kamu kuat. Dan kamu tidak sendiri.”Zahra menatapnya, matanya basah. “Terima kasih … karena sudah percaya.”Kayden mengangguk. “S
Di sudut ruangan, Livia berdiri sambil memegang segelas wine. Senyumnya bukan lagi senyum biasa, melainkan senyum seseorang yang hatinya terbakar.“Berani sekali dia,” gumamnya pelan. “Merasa menang.”Matanya mengikuti Zahra yang kembali duduk tenang di meja. Kayden masih berdiri di dekatnya, berbincang sebentar sebelum kembali ke kelompok CEO lainnya. Pemandangan itu menyakitkan harga diri Livia.“Baiklah ... Jika cara lama tidak berhasil,” bisiknya, “kita akan gunakan cara yang lebih licik.”Livia melirik seorang pelayan pria yang berdiri tidak jauh dari dapur. Wajahnya polos, seragamnya rapi, tampak gugup menghadapi tamu-tamu kelas atas. Lalu Livia melangkah mendekat.“Kamu,” panggilnya lembut. “Sebentar.”Pelayan itu menoleh. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”Livia tersenyum ramah, namun senyumnya berbahaya. “Aku butuh sedikit bantuan. Kamu ingin tip besar, kan?”Pelayan itu ragu. “Tergantung ... bantuannya apa.”“Tenang,” ujar Livia pelan. “Kamu hanya perlu mengatakan satu hal.
Malam itu, di dalam sebuah ruangan yang cukup mewah, lampu kristal menggantung di langit-langit ruang makan hotel. Percakapan para eksekutif perusahaan terdengar diselingi tawa ringan dan nada formal. Kayden berdiri tidak jauh dari meja utama, dikelilingi beberapa CEO yang sedang mendiskusikan peluang kerja sama lebih lanjut.Di sisi lain ruangan, Zahra duduk sendirian. Punggungnya tegak, tangannya rapi di atas meja. Ia tidak merasa kecil di tengah kemewahan itu; ia hanya memilih untuk tetap tenang. Malam ini, ia hadir sebagai seorang profesional, bukan sekadar hiasan.“Zahra?” Sebuah suara perempuan menyela pikirannya.Zahra menoleh. Seketika dadanya terasa tegang, seorang wanita berdiri di depannya dengan gaun berkilau mencolok, riasan tebal, dan senyum miring yang terasa menusuk. Wajah itu sangat dikenalnya.“Livia …” Zahra menyebut nama itu pelan.“Oh, syukurlah kamu masih ingat?” Livia terkekeh. “Kupikir kamu sudah melupakan orang-orang yang kamu injak demi naik kelas.”Zahra ber







