LOGINMobil Paman Pelix meluncur mulus tanpa hambatan ke area parkir bawah tanah Hotel Dexen. Kemudian mereka naik ke lantai paling atas hotel melalui jalur khusus.
Di atas sini jelas bukan area umum, jadi tidak ada suasana ramai orang berlalu-lalang. Paman Pelix langsung membawa Lucas dan yang lain ke depan pintu sebuah ruangan privat, lalu mengetuk pintu.Sebenarnya, selain Lucas, Melly dan Rainy sudah sering banget ke sini, sampai hafal banget."Masuk."Dari dalam terdengar suaraSetelah diingatkan oleh Roy, baru deh Rainita kepikiran. Memang bener, si tersangka itu sempat ngilang beberapa bulan sebelum akhirnya ketangkep."Kak Roy, maksudnya...?" Rainita agak ragu-ragu nangkep maksudnya."Kasus ini bisa ditunda dulu. Tunggu sampe pelakunya lengah, baru kita bisa bergerak," kata Roy. "Kalau tidak, kamu buru-buru pun tidak bakal ada hasilnya.""Eh, tapi Kak Roy, saya sudah kadung bikin janji sama atasan buat nyelesain kasus ini..."Rainita langsung kelihatan serba salah. Kalau tahu kasusnya rumit gini, mana mungkin dia sok-sokan bikin janji seperti gitu? Malah bikin susah diri sendiri!"Ya ampun..."Roy cuma bisa geleng-geleng kepala. Rainita ini emang punya nyali, tapi terlalu gegabah. Janji seperti gitu, dia sendiri aja tidak bakal berani ngelakuin.Masalahnya, kasus ini memang ruwet. Di baliknya ada kepentingan besar yang tidak keliatan dari permukaan.Siapa itu Surya Dexen?Dia tuh pengusaha terkenal di seluruh provinsi
"Katanya kabar baik tidak ke mana-mana, tapi kabar buruk nyebar sejauh mungkin. Bahkan anak-anak kelas 3-C sebelah sudah pada dengar soal aksi gila Lucas!Siang itu, Tania sebenarnya pengen tidur sebentar, tapi dia tidak bisa tidur. Di kepalanya terus keputar muka Lucas yang menyebalkan itu.Dia mengusap pelipisnya yang agak pegal dan matanya yang masih merah gara-gara habis nangis. Dia coba buka buku buat baca sebentar, tapi malah dengar suara orang ngobrol tidak jauh dari situ. Kayaknya ada yang nyebut nama Lucas.Jantung Tania langsung berdegup tidak karuan. Dia sendiri juga tidak ngerti kenapa dia perhatian banget sama nama itu. Mungkin dia cuma takut orang-orang lagi ngomongin soal Lucas yang ngejar-ngejar dia?"Eh, kamu tahu tidak? Barusan aku ke toilet, terus lihat anak baru di kelas 3-A sebelah, yang baru pindahan itu, dia nendang kursinya Ryan sampe kebalik! Ryan jatuhnya langsung kayak kepiting terbalik!"Cowok itu cerita dengan semangat ke temen-temenn
"Bos, kamu ini pakai 'melalui jalur belakang' ya, hehe. Sepertinya, ibu Tania lumayan suka sama kamu!"Kevin menatap Lucas dengan tatapan penuh arti, "Hehe, kamu memberi resep itu, langsung bikin kamu lebih dekat sama ibu Tania!""Aku lihat kamu tiap hari makan bakar-bakaran, rasanya biasa aja. Aku perbaiki biar aku juga nyaman makan."Lucas menepuk kepala Kevin, "Kamu mikir apa sih?""Hehe, tidak ada, tidak ada."Kevin menggeleng, “Ya sudah, kalau untuk diri sendiri juga tidak masalah.”Lucas hanya tersenyum dan menggeleng, tidak membalas. Di mata Kevin, dia pasti lagi ngejar Tania, kan?Tapi Lucas tidak ada niat buat jelasin. Toh, hari ini dia sudah sesumbar di depan Tania, kalau dijelasin malah tidak masuk akal.Pas jam istirahat siang, area kelas 3 SMA lebih tenang dibanding kelas 1 dan 2 yang ramai dan berisik.Lucas dan Kevin berdiri di ujung koridor dekat jendela. Sinar matahari bulan Maret yang terang tapi tidak terlalu panas menyinari tub
Waktu Pak Wadi cari Lucas sebenarnya nggak ada urusan penting, cuma mau nanya soal Roy yang datang ke Lucas. Dia penasaran, apa benar cuma buat bikin catatan aja, atau ada urusan lain. Kalau ada masalah serius, dia siap minta kepala sekolah buat bantuin.Setelah tahu tidak ada yang serius, Wadi pun lega. Soal nyuruh Tania nulis surat pernyataan juga tidak jadi. Dia sudah bisa lihat kalau Lucas memang sengaja melindungi Tania. Jadi, dia ngerasa tidak perlu jadi pihak jahat. Lagi pula, Lucas masih pegang "rahasia" soal dia.Meskipun di sekolah swasta urusan asmara antar staf tidak seketat di sekolah negeri, kalau sampai ketahuan dewan direksi, posisi Wadi bisa bahaya. Mereka bayar mahal buat dia urus sekolah, bukan buat main perempuan.Makanya, sebelum pergi, Wadi masih sempat tepuk pundak Lucas sambil bilang, jangan terlalu berlebihan soal dia sama Tania, setidaknya jangan sampai bikin dia susah di sekolah.Lucas cuma bisa senyum kecut. Tidak banyak yang bisa dijelask
Tania cukup terkejut, bukan hanya karena Pak Wadi dengan mudah melewatkan kejadian barusan, tapi lebih karena kata-kata Pak Wadi setelahnya. Dia bilang suruh Lucas nanti cari dia lagi!Apa ini benar-benar kata-kata dari Pak Wadi?Bukankah dia biasanya sangat menentang hubungan terlalu dekat antara siswa laki-laki dan perempuan? Tapi kok hari ini...Tania menghela napas pelan lagi. Apa ini semua karena status Lucas?Dengan pikiran yang agak kosong, dia kembali ke kelas tanpa melakukan apa-apa. Dia duduk di kursinya, diam-diam memikirkan semua yang terjadi beberapa hari ini. Rasanya kepala jadi penuh. Dia juga nggak yakin, Lucas benar-benar suka sama dia atau nggak!Secara diam-diam, dia melirik ke luar jendela kelas. Di sana, dia melihat Lucas sedang mengobrol santai dengan Pak Wadi. Tania mendengus pelan. Kalau kamu bukan anak orang kaya, kita lihat apa kamu masih bisa begitu!Terhadap Lucas, sebenarnya Tania punya perasaan campur aduk. Dia merasa takut sekal
Melihat kapten yang penuh aura siswa, Roy menghela napas. Dia selalu menganggapnya sebagai pilar utama, seperti jiwa dari kekamumpok mereka. Tapi sekarang, dia lebih terlihat seperti siswa SMA kelas tiga biasa."Pagi, siang, dan malam, minum ini masing-masing sekali. Dipanaskan di microwave juga bisa, nggak dipanasin juga nggak masalah. Aturannya nggak ribet, pantangannya juga cuma satu: jangan minum alkohol."Lucas menyerahkan sekantong ramuan obat yang sudah direbus ke Roy. Saat itu, di kelas hanya ada dua siswa yang sedang piket bersih-bersih, jadi tidak ada yang memperhatikan apa yang sebenarnya Lucas ambil dari sini."Alkohol sih udah lama nggak aku sentuh. Badan aku juga nggak kuat kalau minum," kata Roy sambil tersenyum pahit. "Ini cukup buat seminggu, kan?""Iya, ini untuk seminggu," jawab Lucas sambil mengangguk. "Seminggu lagi, aku cek lagi perkembangan badan kamu, baru aku racik obat yang sesuai.""Baiklah, kalau gitu aku pulang dulu. Terima kasih bang







