FAZER LOGINKesya baru saja selesai menyeduh teh hangat saat suara raungan mesin mobil memecah keheningan desa dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Detik itu juga, jantungnya langsung berdegup dua kali lebih cepat. Tanpa perlu melongok keluar jendela pun, Kesya sudah tahu siapa yang datang.Raka benar-benar membuktikan ancamannya. Pria itu datang tanpa diundang.Kesya menarik napas panjang, mencoba meredam gemetar di tangannya, lalu melangkah menuju ke teras. Di sana, seorang pria berdiri tegap di samping mobil sedan hitam mengilap yang tampak sangat kontras dengan jalanan desa yang berdebu. Penampilannya masih sama seperti ingatan buruk Kesya: kemeja putih mahal yang pas di badan, celana kain, dan tatanan rambut klimis khas eksekutif muda ibu kota.Begitu menyadari keberadaan Kesya, sebuah senyuman tipis terukir di wajah pria itu. Senyuman yang dulu sempat membuat Kesya bertekuk lutut, namun kini justru memicu mual. "Kesya."Kesya menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal dari pintu.
Sejak mengetahui bahwa Raka akan datang, Kesya menjadi lebih pendiam. Bahkan ketika sedang membuat kopi di dapur, pikirannya tetap melayang kembali pada percakapannya dengan Damar. Pria itu tahu tentang Raka. Lebih buruk lagi, Damar memiliki foto lama yang seharusnya sudah terkubur dan tidak pernah muncul lagi dalam hidupnya. Kesya mengambil ponselnya, menatap satu pesan yang belum ia balas. [Jangan hubungi siapa pun soal surat itu dulu. Aku bisa mengurus masalahku sendiri.] Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, sebuah balasan masuk. [Aku tahu.] Kesya mengerutkan kening. Belum sempat ia mencerna jawaban itu, pesan berikutnya muncul. [Makanya aku gak akan mengurusnya untuk kamu.] Kesya terdiam. Untuk pertama kalinya, jawaban Damar tidak terdengar seperti orang yang ingin ikut campur. Justru, kalimat itu terasa seperti seseorang yang sedang memberinya ruang untuk bernapas. Kesya meletakkan ponselnya, namun rasa penasaran di dadanya tetap tidak bisa diusir begitu saja. *** Si
Kesya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Setiap kali ia memejamkan mata, nama yang tertera di lipatan bawah amplop putih itu terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan mimpi buruk yang enggan pergi.Raka.Sudah hampir setahun ia berusaha untuk melupakan nama itu. Tapi sekarang, nama itu mendadak muncul kembali ke permukaan lewat secarik surat misterius.Kesya meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Pesan terakhir dari Damar masih terpampang jelas di layar kaca itu.“Kalau kamu tahu siapa orang yang sebenarnya menitipkan surat itu padaku untuk diberikan padamu, kamu pasti gak akan pernah mempercayainya.”Dengan jari yang sedikit gemetar, Kesya mengetikkan sebuah balasan singkat.[Kamu kenal Raka?]Ia menatap layar ponselnya selama beberapa detik, menimbang-nimbang apakah pesan itu pantas untuk dikirim, sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Di luar dugaan, tidak sampai satu menit, sebuah balasan masuk dari nomor Damar.[Kenal.]Kesya seketika langsung duduk tegak
Kesya masih berdiri mematung dengan jemari yang mencengkeram erat amplop putih itu. Wajahnya yang semula segar kini berubah pias, memancing rasa heran dari pria di sebelahnya."Kenapa, Kes?" tanya Bagas begitu menyadari perubahan drastis pada ekspresi Kesya.Kesya tidak langsung menjawab. Sepasang matanya kembali bergerak, membaca ulang baris demi baris tulisan di dalam surat yang baru saja ia buka.[Kalau kamu masih berniat untuk kembali ke kota dan menemui pria itu, sebaiknya pikirkan lagi. Seseorang sedang menunggumu di sana dengan rencana yang jauh lebih mengerikan dari apa yang terjadi tiga tahun lalu...]Hanya untaian kalimat penuh ancaman itu yang tertera di sana. Tidak ada nama pengirim, tidak juga ada penjelasan logis lainnya.Kesya mengernyitkan keningnya dalam-dalam. "Aneh banget.""Siapa yang mengirim surat itu?" Bagas ikut melongok penasaran.Sambil buru-buru melipat kembali kertas itu, Kesya menggeleng pelan. "Entahlah, Gas. Aku juga nggak tahu."Bagas akhirnya menganggu
Kesya sedang menyusun beberapa kardus besar di teras rumahnya saat sebuah suara familier memanggil dari arah depan pagar."Kesya!"Kesya menoleh. Seorang pemuda bertubuh jangkung tengah berdiri di samping sepeda motornya yang terparkir di depan gerbang. "Mas Bagas?" pekik Kesya sedikit terkejut.Bagas adalah pemuda yang tinggal tidak jauh dari rumah Pak Hadi dan seumuran Kesya. Pria itu mengulas senyum ramah seraya melangkah masuk ke halaman. "Katanya kamu mau mengirim beberapa barang ke kota hari ini?""Iya, benar. Kenapa, Mas?""Aku kebetulan memang ada perlu ke arah sana. Bagaimana kalau sekalian kubawakan ke agen pengiriman? Biar kamu tidak perlu repot bolak-balik," tawar Bagas.Kesya menimbang-nimbang sejenak. "Yang bener, Mas? Kalau nggak merepotkan sih, aku mau-mau aja. Kebetulan banget, kardus-kardus ini lumayan berat.""Sama sekali tidak merepotkan, Kes." Bagas langsung mendekat dan bersiap untuk mengangkat salah satu kardus dari lantai teras.Kesya tersenyum lega. "Makasih
Kesya sebenarnya tidak berniat untuk pergi ke bengkel milik Damar. Sama sekali tidak. Sayangnya, pagi itu motornya kembali berulah dan mengeluarkan suara aneh. Suara ketukan kecil yang awalnya ia abaikan, lama-kelamaan berubah menjadi bunyi berisik yang cukup mengganggu saat ia melewati jalan di depan rumah.Kesya menghela napas panjang. “Jangan sekarang, dong."Ia terpaksa mematikan mesin dan turun dari motor. Selama beberapa detik, Kesya hanya berdiri diam sambil menatap kendaraannya dengan hati dongkol. Pilihan yang tersedia baginya saat ini hanya dua: membawa motor itu ke bengkel Damar sekarang juga, atau keras kepala menunggu sampai kerusakannya semakin parah.Kesya kembali menggerutu dengan wajah cemberut. “Kenapa harus bengkelnya dia, sih?”Begitu sampai di bengkel, suasana tampak sedikit ramai. Damar sedang sibuk melayani seorang pelanggan. Pria itu hanya melirik Kesya sekilas, lalu sebuah senyuman jahil langsung terbit di wajahnya.“Katanya nggak mau datang ke sini lagi?” sin







