LOGINKesya sangat berharap dia tidak perlu lagi bertatap muka dengan montir paling menyebalkan se-antero desa itu. Namun sialnya, doa tulusnya di pagi hari menguap begitu saja saat dia baru berkendara beberapa ratus meter dari rumah saudaranya.
Motor matik yang kemarin sore dibilang sudah 'sembuh' oleh Damar, tiba-tiba kembali mengeluarkan suara batuk yang parah. “Serius? Jangan bercanda, deh!” Kesya terpaksa menepi ke bahu jalan berdebu, mematikan mesin dengan gusar. Dia menatap stang motornya dengan tatapan ingin menangis sekaligus mengamuk. “Jangan bilang kalau aku harus kembali ke bengkel perjaka desa itu lagi!” Setelah menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk men-starter berulang kali, mesin motor itu akhirnya menyala. Kesya mengembuskan napas lega. “Akhirnya! Please, jangan aneh-aneh lagi!” Harapan tinggallah harapan. Baru berjalan beberapa puluh meter, mesin motornya mendadak mati total. Kali ini benar-benar mogok. Setengah jam kemudian, dengan peluh membasahi dahi dan napas yang terengah-engah karena terpaksa harus menuntun motor di bawah sengatan matahari pagi, Kesya kembali terdampar. Motornya terparkir pasrah di depan bengkel Damar. Di bawah rindangnya pohon kersen, si pemilik bengkel sedang duduk santai di atas kursi kayu berkaki tiga. Tangannya memegang secangkir kopi hitam. Begitu melihat siluet Kesya yang kelelahan, sudut bibir laki-laki itu langsung tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang sangat menyebalkan. “Katanya kemarin nggak akan sudi kembali ke bengkel sialan ini?” sindir Damar, sengaja meniru kalimat pamungkas Kesya kemarin sore. Kesya mati-matian menahan diri agar tidak melempar sandal jepitnya ke wajah datar pria itu. “Bukan aku ya, yang mau kembali ke sini. Motorku tuh yang mogok total dan mau ke sini!” Damar terkekeh pelan, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. “Berarti motor kamu punya selera yang bagus. Dia suka sama aku.” “Jangan geer, ya!” sembur Kesya dengan wajah memerah, entah karena kepanasan atau karena jengkel. Damar berdiri, melangkah mendekat dengan langkah santai, lalu tanpa permisi menyambar kunci motor dari genggaman jemari Kesya yang berkeringat. Kulit mereka sempat bersentuhan sedetik, memicu getaran aneh yang membuat Kesya refleks menarik tangannya. “Masih bunyi berisik seperti kemarin?” tanya Damar, beralih berjongkok di samping motor. “Iya. Malah sekarang mati total.” Kesya bersungut-sungut. “Makanya, coba kalau kemarin sore diperbaiki sampai tuntas!” “Kan kemarin sudah aku bilang untuk balik lagi hari ini,” sahut Damar sambil mulai membuka kap mesin dengan obeng. “Kamunya saja yang tidak sabaran.” “Ya lagian kenapa nggak dituntaskan sekalian kemarin sih? Sengaja, ya, biar aku bolak-balik?” “Kemarin kan aku sudah bilang, aku mau pulang karena bengkel sudah jamnya tutup,” jawab Damar tanpa menoleh sedikit pun. Kesya melipat tangan di depan dada, menatap punggung tegap Damar dengan pandangan menusuk. “Kamu memang selalu begitu, ya? Egois dan seenaknya sendiri sama pelanggan.” Damar menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu mendongak untuk menatap Kesya dengan sebelah alis terangkat. “Aku ini pemilik tunggal bengkel ini, Mbak Kota. Kalau pelangganku tipe yang hobi marah-marah tanpa alasan yang jelas, aku bahkan punya hak untuk menutup bengkel ini sekarang juga.” “Memangnya cuma kamu satu-satunya yang punya bengkel di desa terpencil ini? Baguslah, setelah ini aku bisa pindah ke bengkel lain yang pelayanannya jauh lebih ramah!” tantang Kesya tidak mau kalah. Damar kembali memfokuskan tatapannya pada mesin bawah. “Silahkan saja.” Kesya seketika terbungkam. Dia tidak menyangka bahwa Damar akan merespon ancamannya sesantai itu. Ada rasa gengsi yang mendadak muncul. Tapi sebelum Kesya sempat membalas, Damar kembali bersuara dengan nada menggoda. “Tapi, nanti kalau bengkel lain justru bikin motormu tambah rusak, jangan balik lagi ke sini sambil menangis dan marah-marah, ya. Aku nggak menerima jasa menghapus air mata pelanggan.” Kesya mendengus keras, membuang muka ke arah jalanan. “Siapa juga yang mau kembali ke sini? Dih, najis!” Damar tidak menyahut lagi, fokus mengotak-atik bagian dalam mesin selama beberapa menit. Tangannya yang dipenuhi dengan noda hitam oli, bergerak dengan sangat terampil dan cekatan. “Ketemu masalahnya,” ucap Damar tiba-tiba sambil menegakkan punggung dan menyeka dahinya. “Ini bukan kerusakan di bagian karburator seperti yang kemarin.” “Terus apa?” “Ada salah satu kabel soket pengapian yang kendor karena getaran, dan baut pengikatnya agak longgar.” Damar mengambil kain lap. “Bisa diperbaiki sekarang.” “Berapa biayanya?” tanya Kesya, sudah bersiap untuk mengambil dompet di dalam tasnya. “Gratis.” Gerakan tangan Kesya terhenti. Dia langsung bengong. “Gratis? Serius?” “Iya.” “Kenapa? Tumben kamu baik. Mencurigakan banget,” tanya Kesya curiga. Damar mengangkat wajahnya, menatap Kesya dengan ekspresi yang mendadak melunak. “Karena kemarin sore, aku yang kurang teliti memeriksa bagian kabel pengapiannya. Anggap saja ini garansi dan tanggung jawab dariku.” Kesya terpaku di tempatnya berdiri. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dia melihat sisi lain dari sang perjaka desa. Di balik sikapnya yang menyebalkan, kaku, dan seenaknya sendiri, ternyata Damar adalah tipe pria yang berani mengakui kesalahannya secara jantan. “Makasih,” gumam Kesya pelan, hampir tidak terdengar. Damar kembali berbalik untuk merapikan peralatan kerjanya. “Tapi jangan senang dulu.” “Kenapa lagi?” “Setelah masalah kabel ini selesai, bulan depan kamu tetap wajib melakukan servis rutin di sini. Jangan ditunda sampai setahun lagi.” Kesya langsung menghela napas panjang, memutar bola matanya. “Tuh, kan. Ujung-ujungnya ceramah lagi.” “Ini bukan ceramah, ini namanya nasihat dari ahlinya.” “Apa bedanya coba?” “Tentu saja beda. Kalau aku yang bicara, semua kalimat yang keluar statusnya otomatis jadi nasihat berharga,” sahut Damar dengan tingkat percaya diri level dewa. Mendengar kenarsisan pria itu, tawa kecil Kesya spontan pecah tanpa bisa dia tahan. Itu adalah tawa pertama yang keluar dari bibir ranumnya sejak menginjakkan kaki di desa ini. Damar sempat melirik sekilas dari balik bahunya. Gerakan tangannya menyeka kunci pas mendadak melambat saat melihat lengkungan senyum di wajah Kesya. Sial! Entah kenapa, ketika perempuan kota itu tertawa, wajah ketusnya langsung sirna, digantikan dengan pesona manis yang sanggup membuat debaran aneh di dada Damar berdegup dua kali lebih cepat. Damar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, berdeham pelan untuk menutupi kegugupannya sendiri. “Sudah selesai. Silakan dicoba.” Kesya mendekat, mencoba untuk menyalakan mesin. Suara motornya kini terdengar sangat halus, jauh lebih baik dari sebelumnya. “Wah, cepat juga ya.” “Aku kan sudah bilang, aku ini montir ahli di desa ini,” ucap Damar, kembali memasang wajah datarnya yang menyebalkan. “Narsis.” “Bukan narsis kalau yang diucapkan adalah sebuah fakta.” Kesya menaiki jok motornya. Sebelum memakai helm, dia kembali menatap Damar. “Kalau besok motor ini mendadak rusak atau mogok lagi gimana?” Damar tersenyum tipis, jenis senyuman yang kali ini terlihat jauh lebih hangat. “Ya datang saja lagi ke sini.” “Kalau nggak rusak?” “Ya jangan datang. Untuk apa kamu ke sini kalau motornya sehat?” Kesya mengangguk puas sambil mengancingkan tali helmnya. “Nah, dari kemarin-kemarin kek, jawabnya yang normal dan masuk akal begitu.” Kesya menjalankan motornya dengan perlahan. Tapi baru saja motornya bergerak, suara berat Damar memanggil namanya. “Kesya.” Kesya refleks mengerem, menoleh dengan kening berkerut. “Kamu tahu namaku dari mana?” “Ada tulisannya di gantungan kunci motormu,” sahut Damar. “Kamu tinggal di rumah milik Pak Hadi yang di dekat perbatasan desa, kan?” “Iya. Kenapa memangnya?” Damar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya yang bernoda. “Kalau malam hari, jangan sekali-kali lewat jalan pintas yang berada di belakang area persawahan itu.” Kesya menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa? Angker, ya?” “Jalannya rusak parah, gak ada lampu penerangan jalan sama sekali. Motor matikmu bisa terperosok ke dalam parit kalau kamu nekat lewat sana.” “Oh… oke.” Damar berdeham lagi, menambahkan dengan cepat, “Jangan salah paham dulu. Aku memberi tahu ini bukan karena aku sedang khawatir atau peduli sama kamu, ya.” Kesya menatap Damar selama beberapa detik, lalu sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajah cantiknya. “Lagian… aku juga nggak pernah bilang kalau kamu sedang mengkhawatirkan aku, Mas Damar.” Damar seketika terbungkam, lidahnya mendadak kelu karena serangan balik yang tidak terduga. Kesya tersenyum puas melihat wajah sang perjaka desa yang mendadak salah tingkah. “Geer sendiri ya?” Tanpa menunggu balasan lagi, Kesya langsung menarik gas dalam-dalam, meninggalkan pelataran bengkel dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia. Damar berdiri mematung di pinggir jalan berdebu, menatap punggung Kesya yang perlahan menghilang di belokan jalan desa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lambat, sebuah senyuman lebar perlahan terukir di wajahnya yang tampan. Perempuan kota itu benar-benar pintar membalikkan kata-katanya. Dan anehnya… Damar sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu. Malah, dia mulai menantikan perdebatan mereka selanjutnya.Ada satu hukum tidak tertulis yang baru Kesya sadari setelah tinggal seminggu di desa ini. Ibu-ibu di sini memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa, sekaligus tingkat keberanian yang tinggi untuk menanyakan hal-hal paling pribadi tanpa filter. Bagi Kesya yang terbiasa dengan batasan privasi yang ketat di kota besar, culture shock seperti itu membuatnya terkejut.Pagi itu, Kesya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membantu Bu Lastri membuat kue basah di dapur. Aroma pandan, santan, dan ketan kukus menguar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang hangat. Namun, keheningan itu segera pecah ketika beberapa wanita paruh baya yang merupakan tetangga dekat berdatangan dengan dalih ingin membantu, atau sekadar menumpang mengobrol.Awalnya, obrolan mengalir santai seputar harga bahan makanan yang merangkak naik menjelang musim panen, gosip tentang hasil panen yang kurang memuaskan, hingga resep jajanan pasar tradisional. Kesya hanya menyimak sesekali sambil mengaduk adonan di baskom bes
Sudah hampir seminggu Kesya tinggal di desa ini. Awalnya, dia mengira bahwa hari-harinya akan membosankan dan monoton. Bayangan tentang desa yang sepi, tertinggal, dan tanpa hiburan sempat membuatnya enggan untuk menapakkan kaki di sini. Namun, dugaannya ternyata salah besar. Desa ini justru memiliki ritme hidupnya sendiri.Setiap pagi, selalu ada saja hal menarik yang berhasil mencuri perhatian Kesya. Dimulai dari keriuhan ibu-ibu yang berbelanja sayur keliling sambil menuntun anak, bapak-bapak yang berkumpul di warung kopi sambil mengobrol santai, hingga gerombolan anak sekolah yang bersepeda bersama sambil berceloteh riang. Tidak ketinggalan, suara raungan mesin motor dari bengkel Damar yang hampir setiap hari terdengar hingga ke ujung jalan.Lama-kelamaan, Kesya mulai mengenali beberapa tetangga di sekitar rumah tempatnya menginap. Salah satunya adalah Rani. Berbeda jauh dengan Damar yang selalu punya seribu satu cara untuk menggodanya hingga naik darah, Rani adalah sosok yang jau
Kesya mulai menyadari satu hal sejak menapakkan kaki di tempat ini. Entah desa terpencil ini yang teramat kecil, atau takdir sedang mempermainkannya dengan membuat Damar terlalu sering muncul di tempat yang sama dengannya.Pagi itu, udara desa masih berkabut tipis ketika Kesya memutuskan untuk pergi ke pasar. Suasana pasar sangat ramai dan penuh sesak. Saat Kesya sedang membungkuk untuk memilih beberapa sayuran di sebuah lapak, sebuah suara berat yang sangat dia kenali tiba-tiba terdengar tepat di atas kepalanya.“Yang itu jangan diambil.”Kesya refleks mendongak dan mendengus jengkel. Damar sudah berdiri tegak di samping si penjual sayur. Pria itu masih mengenakan kaus oblong andalannya, sedang menunjuk sekantong cabe merah yang ada di genggaman tangan Kesya.“Kenapa memangnya?” tanya Kesya, menatap cabe itu dengan kening berkerut.“Itu cabe stok lama,” jawab Damar.Kesya memandangi cabe-cabe itu dengan bingung. “Kelihatannya masih bagus dan segar kok.”"Itu cuma kelihatannya saja da
Kesya sangat berharap dia tidak perlu lagi bertatap muka dengan montir paling menyebalkan se-antero desa itu. Namun sialnya, doa tulusnya di pagi hari menguap begitu saja saat dia baru berkendara beberapa ratus meter dari rumah saudaranya.Motor matik yang kemarin sore dibilang sudah 'sembuh' oleh Damar, tiba-tiba kembali mengeluarkan suara batuk yang parah.“Serius? Jangan bercanda, deh!” Kesya terpaksa menepi ke bahu jalan berdebu, mematikan mesin dengan gusar.Dia menatap stang motornya dengan tatapan ingin menangis sekaligus mengamuk. “Jangan bilang kalau aku harus kembali ke bengkel perjaka desa itu lagi!”Setelah menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk men-starter berulang kali, mesin motor itu akhirnya menyala. Kesya mengembuskan napas lega. “Akhirnya! Please, jangan aneh-aneh lagi!”Harapan tinggallah harapan. Baru berjalan beberapa puluh meter, mesin motornya mendadak mati total. Kali ini benar-benar mogok.Setengah jam kemudian, dengan peluh membasahi dahi dan napas yang
Kesya menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, ketika motor matik yang dikendarainya kembali mengeluarkan suara batuk yang aneh. Bunyi derit kasar dari bagian mesin bawah membuatnya cemas.“Aduh, jangan mogok sekarang, dong. Please…” gumamnya.Baru tiga hari Kesya menapakkan kaki di desa terpencil ini, tapi rasanya dia sudah ingin segera mengepak koper dan pulang kembali ke kota. Meskipun udara di sini jauh lebih sejuk dan hamparan sawah hijaunya sangat memanjakan mata, kontras dengan polusi kota yang menyesakkan, tapi jika bicara soal fasilitas dan kenyamanan? Kesya tetap seratus persen akan memilih kehidupan kotanya yang serba tersedia.Apalagi sejak pagi buta, motor kesayangannya mulai bertingkah. Mesinnya beberapa kali tersendat, seperti kehilangan tenaga, sebelum kemudian berjalan normal kembali. Kesya sempat mengira bahwa masalahnya hanya karena bensin eceran yang dibelinya kemarin. Tapi ketika dia melewati jalanan menurun yang sepi di dekat area persawahan, suara mes







