共有

2. Dia Lagi, Dia Lagi

作者: Alya Feliz
last update 公開日: 2026-09-08 13:35:08

Kesya sangat berharap dia tidak perlu lagi bertatap muka dengan montir paling menyebalkan se-antero desa itu. Namun sialnya, doa tulusnya di pagi hari menguap begitu saja saat dia baru berkendara beberapa ratus meter dari rumah saudaranya.

Motor matik yang kemarin sore dibilang sudah 'sembuh' oleh Damar, tiba-tiba kembali mengeluarkan suara batuk yang parah.

“Serius? Jangan bercanda, deh!” Kesya terpaksa menepi ke bahu jalan berdebu, mematikan mesin dengan gusar.

Dia menatap stang motornya dengan tatapan ingin menangis sekaligus mengamuk. “Jangan bilang kalau aku harus kembali ke bengkel perjaka desa itu lagi!”

Setelah menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk men-starter berulang kali, mesin motor itu akhirnya menyala. Kesya mengembuskan napas lega. “Akhirnya! Please, jangan aneh-aneh lagi!”

Harapan tinggallah harapan. Baru berjalan beberapa puluh meter, mesin motornya mendadak mati total. Kali ini benar-benar mogok.

Setengah jam kemudian, dengan peluh membasahi dahi dan napas yang terengah-engah karena terpaksa harus menuntun motor di bawah sengatan matahari pagi, Kesya kembali terdampar. Motornya terparkir pasrah di depan bengkel Damar.

Di bawah rindangnya pohon kersen, si pemilik bengkel sedang duduk santai di atas kursi kayu berkaki tiga. Tangannya memegang secangkir kopi hitam. Begitu melihat siluet Kesya yang kelelahan, sudut bibir laki-laki itu langsung tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang sangat menyebalkan.

“Katanya kemarin nggak akan sudi kembali ke bengkel sialan ini?” sindir Damar, sengaja meniru kalimat pamungkas Kesya kemarin sore.

Kesya mati-matian menahan diri agar tidak melempar sandal jepitnya ke wajah datar pria itu. “Bukan aku ya, yang mau kembali ke sini. Motorku tuh yang mogok total dan mau ke sini!”

Damar terkekeh pelan, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. “Berarti motor kamu punya selera yang bagus. Dia suka sama aku.”

“Jangan geer, ya!” sembur Kesya dengan wajah memerah, entah karena kepanasan atau karena jengkel.

Damar berdiri, melangkah mendekat dengan langkah santai, lalu tanpa permisi menyambar kunci motor dari genggaman jemari Kesya yang berkeringat. Kulit mereka sempat bersentuhan sedetik, memicu getaran aneh yang membuat Kesya refleks menarik tangannya.

“Masih bunyi berisik seperti kemarin?” tanya Damar, beralih berjongkok di samping motor.

“Iya. Malah sekarang mati total.” Kesya bersungut-sungut. “Makanya, coba kalau kemarin sore diperbaiki sampai tuntas!”

“Kan kemarin sudah aku bilang untuk balik lagi hari ini,” sahut Damar sambil mulai membuka kap mesin dengan obeng. “Kamunya saja yang tidak sabaran.”

“Ya lagian kenapa nggak dituntaskan sekalian kemarin sih? Sengaja, ya, biar aku bolak-balik?”

“Kemarin kan aku sudah bilang, aku mau pulang karena bengkel sudah jamnya tutup,” jawab Damar tanpa menoleh sedikit pun.

Kesya melipat tangan di depan dada, menatap punggung tegap Damar dengan pandangan menusuk. “Kamu memang selalu begitu, ya? Egois dan seenaknya sendiri sama pelanggan.”

Damar menghentikan gerakan tangannya sebentar, lalu mendongak untuk menatap Kesya dengan sebelah alis terangkat. “Aku ini pemilik tunggal bengkel ini, Mbak Kota. Kalau pelangganku tipe yang hobi marah-marah tanpa alasan yang jelas, aku bahkan punya hak untuk menutup bengkel ini sekarang juga.”

“Memangnya cuma kamu satu-satunya yang punya bengkel di desa terpencil ini? Baguslah, setelah ini aku bisa pindah ke bengkel lain yang pelayanannya jauh lebih ramah!” tantang Kesya tidak mau kalah.

Damar kembali memfokuskan tatapannya pada mesin bawah. “Silahkan saja.”

Kesya seketika terbungkam. Dia tidak menyangka bahwa Damar akan merespon ancamannya sesantai itu. Ada rasa gengsi yang mendadak muncul. Tapi sebelum Kesya sempat membalas, Damar kembali bersuara dengan nada menggoda.

“Tapi, nanti kalau bengkel lain justru bikin motormu tambah rusak, jangan balik lagi ke sini sambil menangis dan marah-marah, ya. Aku nggak menerima jasa menghapus air mata pelanggan.”

Kesya mendengus keras, membuang muka ke arah jalanan. “Siapa juga yang mau kembali ke sini? Dih, najis!”

Damar tidak menyahut lagi, fokus mengotak-atik bagian dalam mesin selama beberapa menit. Tangannya yang dipenuhi dengan noda hitam oli, bergerak dengan sangat terampil dan cekatan.

“Ketemu masalahnya,” ucap Damar tiba-tiba sambil menegakkan punggung dan menyeka dahinya. “Ini bukan kerusakan di bagian karburator seperti yang kemarin.”

“Terus apa?”

“Ada salah satu kabel soket pengapian yang kendor karena getaran, dan baut pengikatnya agak longgar.” Damar mengambil kain lap. “Bisa diperbaiki sekarang.”

“Berapa biayanya?” tanya Kesya, sudah bersiap untuk mengambil dompet di dalam tasnya.

“Gratis.”

Gerakan tangan Kesya terhenti. Dia langsung bengong. “Gratis? Serius?”

“Iya.”

“Kenapa? Tumben kamu baik. Mencurigakan banget,” tanya Kesya curiga.

Damar mengangkat wajahnya, menatap Kesya dengan ekspresi yang mendadak melunak. “Karena kemarin sore, aku yang kurang teliti memeriksa bagian kabel pengapiannya. Anggap saja ini garansi dan tanggung jawab dariku.”

Kesya terpaku di tempatnya berdiri. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dia melihat sisi lain dari sang perjaka desa. Di balik sikapnya yang menyebalkan, kaku, dan seenaknya sendiri, ternyata Damar adalah tipe pria yang berani mengakui kesalahannya secara jantan.

“Makasih,” gumam Kesya pelan, hampir tidak terdengar.

Damar kembali berbalik untuk merapikan peralatan kerjanya. “Tapi jangan senang dulu.”

“Kenapa lagi?”

“Setelah masalah kabel ini selesai, bulan depan kamu tetap wajib melakukan servis rutin di sini. Jangan ditunda sampai setahun lagi.”

Kesya langsung menghela napas panjang, memutar bola matanya. “Tuh, kan. Ujung-ujungnya ceramah lagi.”

“Ini bukan ceramah, ini namanya nasihat dari ahlinya.”

“Apa bedanya coba?”

“Tentu saja beda. Kalau aku yang bicara, semua kalimat yang keluar statusnya otomatis jadi nasihat berharga,” sahut Damar dengan tingkat percaya diri level dewa.

Mendengar kenarsisan pria itu, tawa kecil Kesya spontan pecah tanpa bisa dia tahan. Itu adalah tawa pertama yang keluar dari bibir ranumnya sejak menginjakkan kaki di desa ini.

Damar sempat melirik sekilas dari balik bahunya. Gerakan tangannya menyeka kunci pas mendadak melambat saat melihat lengkungan senyum di wajah Kesya. Sial! Entah kenapa, ketika perempuan kota itu tertawa, wajah ketusnya langsung sirna, digantikan dengan pesona manis yang sanggup membuat debaran aneh di dada Damar berdegup dua kali lebih cepat.

Damar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, berdeham pelan untuk menutupi kegugupannya sendiri. “Sudah selesai. Silakan dicoba.”

Kesya mendekat, mencoba untuk menyalakan mesin. Suara motornya kini terdengar sangat halus, jauh lebih baik dari sebelumnya. “Wah, cepat juga ya.”

“Aku kan sudah bilang, aku ini montir ahli di desa ini,” ucap Damar, kembali memasang wajah datarnya yang menyebalkan.

“Narsis.”

“Bukan narsis kalau yang diucapkan adalah sebuah fakta.”

Kesya menaiki jok motornya. Sebelum memakai helm, dia kembali menatap Damar. “Kalau besok motor ini mendadak rusak atau mogok lagi gimana?”

Damar tersenyum tipis, jenis senyuman yang kali ini terlihat jauh lebih hangat. “Ya datang saja lagi ke sini.”

“Kalau nggak rusak?”

“Ya jangan datang. Untuk apa kamu ke sini kalau motornya sehat?”

Kesya mengangguk puas sambil mengancingkan tali helmnya. “Nah, dari kemarin-kemarin kek, jawabnya yang normal dan masuk akal begitu.”

Kesya menjalankan motornya dengan perlahan. Tapi baru saja motornya bergerak, suara berat Damar memanggil namanya.

“Kesya.”

Kesya refleks mengerem, menoleh dengan kening berkerut. “Kamu tahu namaku dari mana?”

“Ada tulisannya di gantungan kunci motormu,” sahut Damar. “Kamu tinggal di rumah milik Pak Hadi yang di dekat perbatasan desa, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

Damar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya yang bernoda. “Kalau malam hari, jangan sekali-kali lewat jalan pintas yang berada di belakang area persawahan itu.”

Kesya menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa? Angker, ya?”

“Jalannya rusak parah, gak ada lampu penerangan jalan sama sekali. Motor matikmu bisa terperosok ke dalam parit kalau kamu nekat lewat sana.”

“Oh… oke.”

Damar berdeham lagi, menambahkan dengan cepat, “Jangan salah paham dulu. Aku memberi tahu ini bukan karena aku sedang khawatir atau peduli sama kamu, ya.”

Kesya menatap Damar selama beberapa detik, lalu sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajah cantiknya. “Lagian… aku juga nggak pernah bilang kalau kamu sedang mengkhawatirkan aku, Mas Damar.”

Damar seketika terbungkam, lidahnya mendadak kelu karena serangan balik yang tidak terduga.

Kesya tersenyum puas melihat wajah sang perjaka desa yang mendadak salah tingkah. “Geer sendiri ya?”

Tanpa menunggu balasan lagi, Kesya langsung menarik gas dalam-dalam, meninggalkan pelataran bengkel dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia.

Damar berdiri mematung di pinggir jalan berdebu, menatap punggung Kesya yang perlahan menghilang di belokan jalan desa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lambat, sebuah senyuman lebar perlahan terukir di wajahnya yang tampan.

Perempuan kota itu benar-benar pintar membalikkan kata-katanya. Dan anehnya… Damar sama sekali tidak merasa keberatan dengan hal itu. Malah, dia mulai menantikan perdebatan mereka selanjutnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   44. Dilema

    Matahari baru saja naik sepenggalah, membasuh Desa Karangmojo dengan hawa sejuk yang perlahan mengusir embun pagi. Namun, bagi Kesya, atmosfer di dalam rumah kayu milik Pak Hadi terasa menghimpit. Sejak subuh, jantungnya terus berdegup kencang. Dia sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, menunggu ketukan pintu yang akan menandai akhir dari pelariannya. Bu Sekar, ibunya, berjanji akan tiba pagi-pagi sekali dengan sopir pribadi untuk menyeretnya kembali ke gemerlap Jakarta.Namun, hingga jarum jam dinding berkarat di ruang tamu menunjuk angka sembilan, tanda-tanda kedatangan mobil mewah ibunya belum juga kelihatan. Kesya mengembuskan napas berat, menatap ponselnya yang bisu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ibunya tiga puluh menit yang lalu, berisi makian singkat karena sang sopir tersesat di persimpangan jalur lintas luar kota. Bu Sekar rupanya lupa total jalan menuju ke rumah Pak Hadi, karena belasan tahun wanita sosialita itu enggan menginjakkan kaki di rumah saudara jauh yan

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   43. Panggilan dari Bu Sekar

    Keheningan rumah kayu milik Pak Hadi sore itu, terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja terjadi di pelataran warung. Kesya duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Tatapannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.Di sini, di rumah Pak Hadi, Kesya akhirnya bisa menarik napas tanpa perlu berpura-pura kuat. Dia sengaja menolak halus saat Bu Lastri mengajaknya singgah ke rumah keluarga Wiryo tadi. Kesya butuh jarak. Dia tidak ingin terus-menerus bertumpu pada pundak Damar, seolah-olah dia adalah gadis kota ringkih yang tidak punya arah.Pikiran Kesya mulai mengurai benang kusut yang membawanya terdampar di desa ini. Alasan utamanya melarikan diri bukanlah sekadar lelah dengan kebisingan Jakarta, melainkan untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri. Dia melarikan diri dari cengkeraman Raka yang hampir menghancurkan harga dirinya sebagai manusia.Lalu, ada Damar.Pria desa yang di awal pertemuannya begit

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   42. Masa Lalu yang Mengusik

    Deru mesin motor gede 250cc milik Damar membelah keheningan sore Desa Karangmojo. Suaranya yang menggelegar membuat ibu-ibu yang tadinya menahan napas, langsung menoleh serentak. Motor hitam legam itu berhenti dengan decitan ban yang tajam, tepat beberapa meter di belakang mobil Bu Lurah.Damar turun. Jaket jins pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Wajahnya mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik: Tyas yang sedang bergelayut manja di lengan Dani."Mas Dani! Lihat tuh, ibunya Mas Damar sama perempuan kota itu tiba-tiba nyerang aku! Aku difitnah, Mas!" pekik Tyas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sok ringkih. Dia mempererat pelukannya pada lengan Dani, dadanya dibusungkan dengan percaya diri.Dalam otak dangkal Tyas, kedatangan Damar dan posisi Dani di sampingnya adalah sebuah trofi. [Lihat, kan? Dua cowok paling hits di wilayah ini sekarang lagi berdiri demi aku] pikirnya jemawa. Tyas melirik Kesya, mele

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   41. Hukum Tabur Tuai

    Kesya berdiri dengan dagu terangkat, menatap tajam ke arah kerumunan ibu-ibu yang kini mendadak ciut. Aura mandiri dan tegas memancar kuat dari tubuh mungilnya, mengunci perhatian semua orang di pelataran warung sayur tersebut."Kalau kalian mau memfitnah saya, silakan. Saya bisa terima dan saya punya seribu satu cara buat membersihkan nama saya sendiri," ujar Kesya. Suaranya lantang tanpa ragu, memecah keheningan yang mencekam. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Bu Lastri sebelum kembali menatap beringas ke arah Bu RT dan Bu Ndari. "Tapi kalau kalian semua sudah berani bawa-bawa Bu Lastri, menghina beliau di depan umum, saya nggak akan pernah tinggal diam!"Kesya maju satu langkah, menatap lurus ke arah Bu RT dengan pandangan yang sangat menantang, menampilkan ciri khas generasi muda yang tidak lagi bisa dibungkam oleh senioritas palsu kaum kolot yang tidak sopan."Selama saya tinggal di desa ini, Bu Lastri yang memperlakukan saya dengan tulus seperti anak kandungnya sendir

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   40. Murka Bu Lastri

    Bu Lastri menarik napas dalam-dalam. Dadanya yang bergemuruh perlahan terangkat. Sepasang mata tuanya yang biasanya memancarkan keteduhan dan rasa tidak tegaan, kini menatap lurus ke arah kerumunan ibu-ibu di warung sayur dengan tatapan yang sangat dingin, begitu asing hingga membuat Bu Parno yang sedang memegang kangkung mendadak merinding.Perempuan berhati lembut itu jika sudah sampai pada batas kesabarannya, marahnya jauh lebih menakutkan daripada raungan motor gede milik Damar."Saya benar-benar tidak menyangka..." Suara Bu Lastri mengalun pelan, namun nadanya yang bergetar menahan amarah membuat riuh tawa ibu-ibu itu seketika senyap. "Setiap dua minggu sekali, kita semua duduk bersama di musala untuk pengajian rutin. Hari Minggu pun, panjenengan semua tidak pernah absen ikut pengajian akbar di kecamatan. Tapi hari ini... saya baru tahu, ternyata jilbab panjang dan dahi yang rajin sujud itu tidak menjamin lisan panjenengan bersih dari dosa ghibah!"Bu Ndari mendengus hendak menye

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   39. Lidah Berbisa dan Fitnah

    Watak bebal Tyas rupanya sudah melekat kuat di darahnya. Sebagai kembang desa lulusan SMP yang dunianya hanya seputar bedak dan bagaimana cara memikat hati para perjaka, ancaman hukum dari Kesya tidak benar-benar masuk ke logikanya. Baginya, polisi hanya bertugas mengurus maling ayam atau kecelakaan di jalan raya. Mana ada orang dipenjara hanya karena omongan warung kelontong?Begitu bubar dari halaman rumah Pak Wiryo, Tyas langsung menjalankan taktik andalannya: playing victim. Sepanjang perjalanan menuju ke dusun sebelah, dia sengaja berjalan sambil menangis terisak-isak dan sesekali mengusap matanya yang sembap, untuk memancing simpati setiap warga yang berpapasan dengannya."Ya Allah! Tyas... kamu kenapa kok nangis sesenggukan begitu?" tanya Bu Parno, salah satu gembong gosip dusun, saat melihat Tyas singgah di warung sayur sore itu.Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat penuh drama. "Tyas... Tyas cuma berniat baik mengingatkan Pak RT, biar des

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status