LOGIN
Kesya menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, ketika motor matik yang dikendarainya kembali mengeluarkan suara batuk yang aneh. Bunyi derit kasar dari bagian mesin bawah membuatnya cemas.
“Aduh, jangan mogok sekarang, dong. Please…” gumamnya. Baru tiga hari Kesya menapakkan kaki di desa terpencil ini, tapi rasanya dia sudah ingin segera mengepak koper dan pulang kembali ke kota. Meskipun udara di sini jauh lebih sejuk dan hamparan sawah hijaunya sangat memanjakan mata, kontras dengan polusi kota yang menyesakkan, tapi jika bicara soal fasilitas dan kenyamanan? Kesya tetap seratus persen akan memilih kehidupan kotanya yang serba tersedia. Apalagi sejak pagi buta, motor kesayangannya mulai bertingkah. Mesinnya beberapa kali tersendat, seperti kehilangan tenaga, sebelum kemudian berjalan normal kembali. Kesya sempat mengira bahwa masalahnya hanya karena bensin eceran yang dibelinya kemarin. Tapi ketika dia melewati jalanan menurun yang sepi di dekat area persawahan, suara mesin itu kembali tersendat-sendat, lalu mati total. Akhirnya, Kesya menyerah. Untungnya, beberapa meter di depannya, di pinggir jalan yang berdebu, ada sebuah bangunan semi-permanen dengan papan kayu sederhana bertuliskan: BENGKEL DAMAR Kesya terpaksa menuntun motornya dengan sisa tenaga yang ada, lalu memarkirkannya di depan pelataran bengkel yang dipenuhi dengan ban-ban bekas. Mendengar suara standar motor yang diturunkan, seorang laki-laki yang tadinya sedang membungkuk serius memperbaiki sebuah motor sport tua, langsung menegakkan tubuh. Pria itu menoleh ke arah Kesya. Laki-laki itu berusia sekitar akhir dua puluhan. Kaus oblong hitamnya yang pudar menyisakan beberapa noda oli, begitu pula dengan kedua telapak tangannya yang kekar. Pria itu berdiri tegap, mengusap peluh di dahinya dengan kain lap kumal yang tersampir di bahu. Tatapan matanya tajam, namun terkesan acuh tak acuh. “Kenapa?” tanya pria itu singkat. Suara baritonnya terdengar berat. Kesya menunjuk motor matiknya dengan sisa-sisa napas yang memburu, karena lelah setelah menuntun benda itu. “Motor aku tiba-tiba mati. Kamu bisa ngecek nggak?” Laki-laki yang tak lain adalah Damar itu melirik motor Kesya sekilas dari atas ke bawah. “Bisa.” “Bakalan lama nggak?” desak Kesya, tidak sabar ingin segera pergi dari tempat terasing itu. “Gak tahu.” Kesya langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Kok nggak tahu sih? Kamu kan montir. Harusnya tahu dong." “Kalau sudah dibongkar dan tahu kerusakannya di mana, baru aku bisa bilang waktunya,” sahut Damar santai sambil melangkah mendekati motor Kesya. “Ya, makanya diperiksa dulu sekarang. Bengkel kamu kan lagi sepi.” Kesya mulai tidak sabar. Damar mengangguk, wajahnya datar. “Makanya, Mbak jangan banyak tanya dulu. Biar aku bisa kerja.” Kesya seketika terdiam. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Baru juga pertama kali bertemu, laki-laki beraroma oli ini sudah sukses membuat tensi darahnya naik ke ubun-ubun. “Terserah lah!” kata Kesya geram. Damar berjongkok, tangannya membuka kap samping dan memeriksa bagian busi serta karburator. Kesya berdiri di samping motor sambil melipat tangan di dada, memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan pandangan mengawasi. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Damar mendongak dan menatap Kesya. “Kapan terakhir kali motor ini diservis?” “Belum lama, kok,” jawab Kesya cepat. “Belum lama itu kapan?” cecar Damar. Kesya mengernyitkan dahi, mencoba untuk mengingat-ingat. “Hmm, kapan ya? Sekitar… setahun yang lalu, mungkin?” Damar langsung menghentikan gerakan tangannya dan menatap Kesya dengan pandangan tidak habis pikir. “Setahun yang lalu?” “Iya. Memangnya kenapa? Gitu-gitu pernah aku servis kok.” “Setahun itu namanya bukan belum lama, Mbak,” sindir Damar, kembali mengencangkan sebuah baut dengan kunci pas. “Itu namanya penelantaran barang.” “Menurut aku, setahun itu masih terhitung baru ya! Masih mending aku ingat buat servis motor,” bela Kesya, wajahnya mulai memerah karena kesal. “Sayangnya, motormu punya pendapat yang berbeda,” sahut Damar datar tanpa menoleh. Kesya memutar bola matanya jengah, menahan diri agar tidak menendang ban motor di dekatnya. “Sekarang intinya saja deh, Mas. Bisa diperbaiki sekarang atau nggak?" “Bisa.” “Bagus kalau begitu.” “Yang gak bagus itu cara Mbak merawat kendaraan. Kasihan motornya,” tambah Damar lagi, dengan nada menceramahi. Kesya menatap tajam punggung lebar Damar. “Mas, aku datang ke bengkel ini murni buat membayar jasa memperbaiki motor, bukan buat mendengarkan ceramah pranikah atau kultum sore, ya!” Sudut bibir Damar berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang terkesan mengejek, namun terlihat menyebalkan sekaligus tampan. “Kalau begitu, lain kali jangan memberikan aku bahan untuk ceramah.” Kesya menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Dia benar-benar menyesal telah menghentikan motornya di bengkel terkutuk ini. Sekitar dua puluh menit kemudian, Damar akhirnya menutup kembali bagian mesin dan berdiri tegak, menyeka tangannya yang hitam dengan kain lap. “Sudah selesai. Cuma masalah busi kotor dan pengapian yang tersumbat.” “Berapa totalnya?” tanya Kesya ketus sambil mengambil dompetnya. Damar menyebutkan sebuah nominal yang untungnya cukup murah bagi kantong Kesya. Dia segera menyerahkan beberapa lembar uang tanpa banyak bicara dan langsung menyambar stang motornya, bersiap untuk tancap gas. Namun, baru saja Kesya hendak menyalakan mesin, Damar tiba-tiba berucap, “Besok balik lagi ke sini.” Kesya menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Hah? Ngapain? Katanya tadi udah selesai?" “Mesin bagian dalamnya masih ada yang harus diperiksa lebih detail. Kalau dipaksakan jalan jauh terus, bisa turun mesin.” “Lha terus kenapa nggak sekalian diperiksa aja tadi?” protes Kesya. “Ya karena bengkelku sudah mau tutup.” Kesya spontan melirik jam digital di pergelangan tangannya. “Mas, ini tuh baru jam empat sore!” “Makanya itu. Karena sudah jam empat, waktunya aku pulang dan istirahat,” sahut Damar dengan nada santai. Kesya menatap montir itu dengan pandangan syok. “Bengkel macam apa di dunia ini yang tutup jam empat sore waktu masih ada pelanggan? Benar-benar seenaknya sendiri!” Damar mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. “Yang punya bengkel kan aku. Jadi terserah aku mau tutup jam berapa.” Kesya mendengus keras, tangannya langsung memutar kunci kontak dan menyalakan mesin motor yang kini terdengar jauh lebih halus. Tanpa pamit, dia langsung menarik gas dalam-dalam. Tapi baru beberapa meter motornya melaju meninggalkan pelataran bengkel, suara teriakan Damar kembali menggema dari arah belakang. “Mbak Kota! Besok jangan lupa balik lagi, ya!” Kesya refleks mengerem motornya sebentar, menoleh ke belakang dengan wajah sinis. Damar masih berdiri di depan bengkel dengan melipat tangan di depan dada, menatapnya dengan senyum lebar yang tampak begitu menyebalkan. “Kalau motorku nggak rusak lagi, aku nggak akan sudi kembali ke bengkel sialan ini!” teriak Kesya sekencang mungkin sebelum kembali memacu motornya membelah jalanan desa. Di seberang sana, tawa kecil Damar pecah melihat kepulan debu yang ditinggalkan oleh motor Kesya di tikungan jalan. Dia memang tidak tahu siapa nama perempuan kota yang penuh gengsi itu. Tapi satu hal yang kini sudah Damar pastikan di dalam hatinya. Kehadiran perempuan cerewet itu pasti akan membuat hari-harinya di desa yang membosankan ini menjadi jauh lebih berwarna.Matahari baru saja naik sepenggalah, membasuh Desa Karangmojo dengan hawa sejuk yang perlahan mengusir embun pagi. Namun, bagi Kesya, atmosfer di dalam rumah kayu milik Pak Hadi terasa menghimpit. Sejak subuh, jantungnya terus berdegup kencang. Dia sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, menunggu ketukan pintu yang akan menandai akhir dari pelariannya. Bu Sekar, ibunya, berjanji akan tiba pagi-pagi sekali dengan sopir pribadi untuk menyeretnya kembali ke gemerlap Jakarta.Namun, hingga jarum jam dinding berkarat di ruang tamu menunjuk angka sembilan, tanda-tanda kedatangan mobil mewah ibunya belum juga kelihatan. Kesya mengembuskan napas berat, menatap ponselnya yang bisu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ibunya tiga puluh menit yang lalu, berisi makian singkat karena sang sopir tersesat di persimpangan jalur lintas luar kota. Bu Sekar rupanya lupa total jalan menuju ke rumah Pak Hadi, karena belasan tahun wanita sosialita itu enggan menginjakkan kaki di rumah saudara jauh yan
Keheningan rumah kayu milik Pak Hadi sore itu, terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja terjadi di pelataran warung. Kesya duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Tatapannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.Di sini, di rumah Pak Hadi, Kesya akhirnya bisa menarik napas tanpa perlu berpura-pura kuat. Dia sengaja menolak halus saat Bu Lastri mengajaknya singgah ke rumah keluarga Wiryo tadi. Kesya butuh jarak. Dia tidak ingin terus-menerus bertumpu pada pundak Damar, seolah-olah dia adalah gadis kota ringkih yang tidak punya arah.Pikiran Kesya mulai mengurai benang kusut yang membawanya terdampar di desa ini. Alasan utamanya melarikan diri bukanlah sekadar lelah dengan kebisingan Jakarta, melainkan untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri. Dia melarikan diri dari cengkeraman Raka yang hampir menghancurkan harga dirinya sebagai manusia.Lalu, ada Damar.Pria desa yang di awal pertemuannya begit
Deru mesin motor gede 250cc milik Damar membelah keheningan sore Desa Karangmojo. Suaranya yang menggelegar membuat ibu-ibu yang tadinya menahan napas, langsung menoleh serentak. Motor hitam legam itu berhenti dengan decitan ban yang tajam, tepat beberapa meter di belakang mobil Bu Lurah.Damar turun. Jaket jins pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Wajahnya mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik: Tyas yang sedang bergelayut manja di lengan Dani."Mas Dani! Lihat tuh, ibunya Mas Damar sama perempuan kota itu tiba-tiba nyerang aku! Aku difitnah, Mas!" pekik Tyas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sok ringkih. Dia mempererat pelukannya pada lengan Dani, dadanya dibusungkan dengan percaya diri.Dalam otak dangkal Tyas, kedatangan Damar dan posisi Dani di sampingnya adalah sebuah trofi. [Lihat, kan? Dua cowok paling hits di wilayah ini sekarang lagi berdiri demi aku] pikirnya jemawa. Tyas melirik Kesya, mele
Kesya berdiri dengan dagu terangkat, menatap tajam ke arah kerumunan ibu-ibu yang kini mendadak ciut. Aura mandiri dan tegas memancar kuat dari tubuh mungilnya, mengunci perhatian semua orang di pelataran warung sayur tersebut."Kalau kalian mau memfitnah saya, silakan. Saya bisa terima dan saya punya seribu satu cara buat membersihkan nama saya sendiri," ujar Kesya. Suaranya lantang tanpa ragu, memecah keheningan yang mencekam. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Bu Lastri sebelum kembali menatap beringas ke arah Bu RT dan Bu Ndari. "Tapi kalau kalian semua sudah berani bawa-bawa Bu Lastri, menghina beliau di depan umum, saya nggak akan pernah tinggal diam!"Kesya maju satu langkah, menatap lurus ke arah Bu RT dengan pandangan yang sangat menantang, menampilkan ciri khas generasi muda yang tidak lagi bisa dibungkam oleh senioritas palsu kaum kolot yang tidak sopan."Selama saya tinggal di desa ini, Bu Lastri yang memperlakukan saya dengan tulus seperti anak kandungnya sendir
Bu Lastri menarik napas dalam-dalam. Dadanya yang bergemuruh perlahan terangkat. Sepasang mata tuanya yang biasanya memancarkan keteduhan dan rasa tidak tegaan, kini menatap lurus ke arah kerumunan ibu-ibu di warung sayur dengan tatapan yang sangat dingin, begitu asing hingga membuat Bu Parno yang sedang memegang kangkung mendadak merinding.Perempuan berhati lembut itu jika sudah sampai pada batas kesabarannya, marahnya jauh lebih menakutkan daripada raungan motor gede milik Damar."Saya benar-benar tidak menyangka..." Suara Bu Lastri mengalun pelan, namun nadanya yang bergetar menahan amarah membuat riuh tawa ibu-ibu itu seketika senyap. "Setiap dua minggu sekali, kita semua duduk bersama di musala untuk pengajian rutin. Hari Minggu pun, panjenengan semua tidak pernah absen ikut pengajian akbar di kecamatan. Tapi hari ini... saya baru tahu, ternyata jilbab panjang dan dahi yang rajin sujud itu tidak menjamin lisan panjenengan bersih dari dosa ghibah!"Bu Ndari mendengus hendak menye
Watak bebal Tyas rupanya sudah melekat kuat di darahnya. Sebagai kembang desa lulusan SMP yang dunianya hanya seputar bedak dan bagaimana cara memikat hati para perjaka, ancaman hukum dari Kesya tidak benar-benar masuk ke logikanya. Baginya, polisi hanya bertugas mengurus maling ayam atau kecelakaan di jalan raya. Mana ada orang dipenjara hanya karena omongan warung kelontong?Begitu bubar dari halaman rumah Pak Wiryo, Tyas langsung menjalankan taktik andalannya: playing victim. Sepanjang perjalanan menuju ke dusun sebelah, dia sengaja berjalan sambil menangis terisak-isak dan sesekali mengusap matanya yang sembap, untuk memancing simpati setiap warga yang berpapasan dengannya."Ya Allah! Tyas... kamu kenapa kok nangis sesenggukan begitu?" tanya Bu Parno, salah satu gembong gosip dusun, saat melihat Tyas singgah di warung sayur sore itu.Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat penuh drama. "Tyas... Tyas cuma berniat baik mengingatkan Pak RT, biar des







