Home / Romansa / Perjaka Desa yang Menyebalkan / 1. Bengkel yang Menyebalkan

Share

Perjaka Desa yang Menyebalkan
Perjaka Desa yang Menyebalkan
Author: Alya Feliz

1. Bengkel yang Menyebalkan

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-09-08 13:34:17

Kesya menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, ketika motor matik yang dikendarainya kembali mengeluarkan suara batuk yang aneh. Bunyi derit kasar dari bagian mesin bawah membuatnya cemas.

“Aduh, jangan mogok sekarang, dong. Please…” gumamnya.

Baru tiga hari Kesya menapakkan kaki di desa terpencil ini, tapi rasanya dia sudah ingin segera mengepak koper dan pulang kembali ke kota. Meskipun udara di sini jauh lebih sejuk dan hamparan sawah hijaunya sangat memanjakan mata, kontras dengan polusi kota yang menyesakkan, tapi jika bicara soal fasilitas dan kenyamanan? Kesya tetap seratus persen akan memilih kehidupan kotanya yang serba tersedia.

Apalagi sejak pagi buta, motor kesayangannya mulai bertingkah. Mesinnya beberapa kali tersendat, seperti kehilangan tenaga, sebelum kemudian berjalan normal kembali. Kesya sempat mengira bahwa masalahnya hanya karena bensin eceran yang dibelinya kemarin. Tapi ketika dia melewati jalanan menurun yang sepi di dekat area persawahan, suara mesin itu kembali tersendat-sendat, lalu mati total.

Akhirnya, Kesya menyerah. Untungnya, beberapa meter di depannya, di pinggir jalan yang berdebu, ada sebuah bangunan semi-permanen dengan papan kayu sederhana bertuliskan:

BENGKEL DAMAR

Kesya terpaksa menuntun motornya dengan sisa tenaga yang ada, lalu memarkirkannya di depan pelataran bengkel yang dipenuhi dengan ban-ban bekas.

Mendengar suara standar motor yang diturunkan, seorang laki-laki yang tadinya sedang membungkuk serius memperbaiki sebuah motor sport tua, langsung menegakkan tubuh. Pria itu menoleh ke arah Kesya.

Laki-laki itu berusia sekitar akhir dua puluhan. Kaus oblong hitamnya yang pudar menyisakan beberapa noda oli, begitu pula dengan kedua telapak tangannya yang kekar. Pria itu berdiri tegap, mengusap peluh di dahinya dengan kain lap kumal yang tersampir di bahu. Tatapan matanya tajam, namun terkesan acuh tak acuh.

“Kenapa?” tanya pria itu singkat. Suara baritonnya terdengar berat.

Kesya menunjuk motor matiknya dengan sisa-sisa napas yang memburu, karena lelah setelah menuntun benda itu. “Motor aku tiba-tiba mati. Kamu bisa ngecek nggak?”

Laki-laki yang tak lain adalah Damar itu melirik motor Kesya sekilas dari atas ke bawah. “Bisa.”

“Bakalan lama nggak?” desak Kesya, tidak sabar ingin segera pergi dari tempat terasing itu.

“Gak tahu.”

Kesya langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Kok nggak tahu sih? Kamu kan montir. Harusnya tahu dong."

“Kalau sudah dibongkar dan tahu kerusakannya di mana, baru aku bisa bilang waktunya,” sahut Damar santai sambil melangkah mendekati motor Kesya.

“Ya, makanya diperiksa dulu sekarang. Bengkel kamu kan lagi sepi.” Kesya mulai tidak sabar.

Damar mengangguk, wajahnya datar. “Makanya, Mbak jangan banyak tanya dulu. Biar aku bisa kerja.”

Kesya seketika terdiam. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. Baru juga pertama kali bertemu, laki-laki beraroma oli ini sudah sukses membuat tensi darahnya naik ke ubun-ubun.

“Terserah lah!” kata Kesya geram.

Damar berjongkok, tangannya membuka kap samping dan memeriksa bagian busi serta karburator. Kesya berdiri di samping motor sambil melipat tangan di dada, memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan pandangan mengawasi.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Damar mendongak dan menatap Kesya. “Kapan terakhir kali motor ini diservis?”

“Belum lama, kok,” jawab Kesya cepat.

“Belum lama itu kapan?” cecar Damar.

Kesya mengernyitkan dahi, mencoba untuk mengingat-ingat. “Hmm, kapan ya? Sekitar… setahun yang lalu, mungkin?”

Damar langsung menghentikan gerakan tangannya dan menatap Kesya dengan pandangan tidak habis pikir. “Setahun yang lalu?”

“Iya. Memangnya kenapa? Gitu-gitu pernah aku servis kok.”

“Setahun itu namanya bukan belum lama, Mbak,” sindir Damar, kembali mengencangkan sebuah baut dengan kunci pas. “Itu namanya penelantaran barang.”

“Menurut aku, setahun itu masih terhitung baru ya! Masih mending aku ingat buat servis motor,” bela Kesya, wajahnya mulai memerah karena kesal.

“Sayangnya, motormu punya pendapat yang berbeda,” sahut Damar datar tanpa menoleh.

Kesya memutar bola matanya jengah, menahan diri agar tidak menendang ban motor di dekatnya. “Sekarang intinya saja deh, Mas. Bisa diperbaiki sekarang atau nggak?"

“Bisa.”

“Bagus kalau begitu.”

“Yang gak bagus itu cara Mbak merawat kendaraan. Kasihan motornya,” tambah Damar lagi, dengan nada menceramahi.

Kesya menatap tajam punggung lebar Damar. “Mas, aku datang ke bengkel ini murni buat membayar jasa memperbaiki motor, bukan buat mendengarkan ceramah pranikah atau kultum sore, ya!”

Sudut bibir Damar berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang terkesan mengejek, namun terlihat menyebalkan sekaligus tampan. “Kalau begitu, lain kali jangan memberikan aku bahan untuk ceramah.”

Kesya menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Dia benar-benar menyesal telah menghentikan motornya di bengkel terkutuk ini.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Damar akhirnya menutup kembali bagian mesin dan berdiri tegak, menyeka tangannya yang hitam dengan kain lap. “Sudah selesai. Cuma masalah busi kotor dan pengapian yang tersumbat.”

“Berapa totalnya?” tanya Kesya ketus sambil mengambil dompetnya.

Damar menyebutkan sebuah nominal yang untungnya cukup murah bagi kantong Kesya. Dia segera menyerahkan beberapa lembar uang tanpa banyak bicara dan langsung menyambar stang motornya, bersiap untuk tancap gas.

Namun, baru saja Kesya hendak menyalakan mesin, Damar tiba-tiba berucap, “Besok balik lagi ke sini.”

Kesya menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Hah? Ngapain? Katanya tadi udah selesai?"

“Mesin bagian dalamnya masih ada yang harus diperiksa lebih detail. Kalau dipaksakan jalan jauh terus, bisa turun mesin.”

“Lha terus kenapa nggak sekalian diperiksa aja tadi?” protes Kesya.

“Ya karena bengkelku sudah mau tutup.”

Kesya spontan melirik jam digital di pergelangan tangannya. “Mas, ini tuh baru jam empat sore!”

“Makanya itu. Karena sudah jam empat, waktunya aku pulang dan istirahat,” sahut Damar dengan nada santai.

Kesya menatap montir itu dengan pandangan syok. “Bengkel macam apa di dunia ini yang tutup jam empat sore waktu masih ada pelanggan? Benar-benar seenaknya sendiri!”

Damar mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. “Yang punya bengkel kan aku. Jadi terserah aku mau tutup jam berapa.”

Kesya mendengus keras, tangannya langsung memutar kunci kontak dan menyalakan mesin motor yang kini terdengar jauh lebih halus. Tanpa pamit, dia langsung menarik gas dalam-dalam.

Tapi baru beberapa meter motornya melaju meninggalkan pelataran bengkel, suara teriakan Damar kembali menggema dari arah belakang.

“Mbak Kota! Besok jangan lupa balik lagi, ya!”

Kesya refleks mengerem motornya sebentar, menoleh ke belakang dengan wajah sinis. Damar masih berdiri di depan bengkel dengan melipat tangan di depan dada, menatapnya dengan senyum lebar yang tampak begitu menyebalkan.

“Kalau motorku nggak rusak lagi, aku nggak akan sudi kembali ke bengkel sialan ini!” teriak Kesya sekencang mungkin sebelum kembali memacu motornya membelah jalanan desa.

Di seberang sana, tawa kecil Damar pecah melihat kepulan debu yang ditinggalkan oleh motor Kesya di tikungan jalan. Dia memang tidak tahu siapa nama perempuan kota yang penuh gengsi itu. Tapi satu hal yang kini sudah Damar pastikan di dalam hatinya.

Kehadiran perempuan cerewet itu pasti akan membuat hari-harinya di desa yang membosankan ini menjadi jauh lebih berwarna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   5. Pertanyaan yang Tidak Ada Habisnya

    Ada satu hukum tidak tertulis yang baru Kesya sadari setelah tinggal seminggu di desa ini. Ibu-ibu di sini memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa, sekaligus tingkat keberanian yang tinggi untuk menanyakan hal-hal paling pribadi tanpa filter. Bagi Kesya yang terbiasa dengan batasan privasi yang ketat di kota besar, culture shock seperti itu membuatnya terkejut.Pagi itu, Kesya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membantu Bu Lastri membuat kue basah di dapur. Aroma pandan, santan, dan ketan kukus menguar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang hangat. Namun, keheningan itu segera pecah ketika beberapa wanita paruh baya yang merupakan tetangga dekat berdatangan dengan dalih ingin membantu, atau sekadar menumpang mengobrol.Awalnya, obrolan mengalir santai seputar harga bahan makanan yang merangkak naik menjelang musim panen, gosip tentang hasil panen yang kurang memuaskan, hingga resep jajanan pasar tradisional. Kesya hanya menyimak sesekali sambil mengaduk adonan di baskom bes

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   4. Desa Ini Ternyata Tidak Sesederhana Itu

    Sudah hampir seminggu Kesya tinggal di desa ini. Awalnya, dia mengira bahwa hari-harinya akan membosankan dan monoton. Bayangan tentang desa yang sepi, tertinggal, dan tanpa hiburan sempat membuatnya enggan untuk menapakkan kaki di sini. Namun, dugaannya ternyata salah besar. Desa ini justru memiliki ritme hidupnya sendiri.Setiap pagi, selalu ada saja hal menarik yang berhasil mencuri perhatian Kesya. Dimulai dari keriuhan ibu-ibu yang berbelanja sayur keliling sambil menuntun anak, bapak-bapak yang berkumpul di warung kopi sambil mengobrol santai, hingga gerombolan anak sekolah yang bersepeda bersama sambil berceloteh riang. Tidak ketinggalan, suara raungan mesin motor dari bengkel Damar yang hampir setiap hari terdengar hingga ke ujung jalan.Lama-kelamaan, Kesya mulai mengenali beberapa tetangga di sekitar rumah tempatnya menginap. Salah satunya adalah Rani. Berbeda jauh dengan Damar yang selalu punya seribu satu cara untuk menggodanya hingga naik darah, Rani adalah sosok yang jau

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   3. Jangan Sok Tahu Tentang Hidupku

    Kesya mulai menyadari satu hal sejak menapakkan kaki di tempat ini. Entah desa terpencil ini yang teramat kecil, atau takdir sedang mempermainkannya dengan membuat Damar terlalu sering muncul di tempat yang sama dengannya.Pagi itu, udara desa masih berkabut tipis ketika Kesya memutuskan untuk pergi ke pasar. Suasana pasar sangat ramai dan penuh sesak. Saat Kesya sedang membungkuk untuk memilih beberapa sayuran di sebuah lapak, sebuah suara berat yang sangat dia kenali tiba-tiba terdengar tepat di atas kepalanya.“Yang itu jangan diambil.”Kesya refleks mendongak dan mendengus jengkel. Damar sudah berdiri tegak di samping si penjual sayur. Pria itu masih mengenakan kaus oblong andalannya, sedang menunjuk sekantong cabe merah yang ada di genggaman tangan Kesya.“Kenapa memangnya?” tanya Kesya, menatap cabe itu dengan kening berkerut.“Itu cabe stok lama,” jawab Damar.Kesya memandangi cabe-cabe itu dengan bingung. “Kelihatannya masih bagus dan segar kok.”"Itu cuma kelihatannya saja da

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   2. Dia Lagi, Dia Lagi

    Kesya sangat berharap dia tidak perlu lagi bertatap muka dengan montir paling menyebalkan se-antero desa itu. Namun sialnya, doa tulusnya di pagi hari menguap begitu saja saat dia baru berkendara beberapa ratus meter dari rumah saudaranya.Motor matik yang kemarin sore dibilang sudah 'sembuh' oleh Damar, tiba-tiba kembali mengeluarkan suara batuk yang parah.“Serius? Jangan bercanda, deh!” Kesya terpaksa menepi ke bahu jalan berdebu, mematikan mesin dengan gusar.Dia menatap stang motornya dengan tatapan ingin menangis sekaligus mengamuk. “Jangan bilang kalau aku harus kembali ke bengkel perjaka desa itu lagi!”Setelah menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk men-starter berulang kali, mesin motor itu akhirnya menyala. Kesya mengembuskan napas lega. “Akhirnya! Please, jangan aneh-aneh lagi!”Harapan tinggallah harapan. Baru berjalan beberapa puluh meter, mesin motornya mendadak mati total. Kali ini benar-benar mogok.Setengah jam kemudian, dengan peluh membasahi dahi dan napas yang

  • Perjaka Desa yang Menyebalkan   1. Bengkel yang Menyebalkan

    Kesya menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, ketika motor matik yang dikendarainya kembali mengeluarkan suara batuk yang aneh. Bunyi derit kasar dari bagian mesin bawah membuatnya cemas.“Aduh, jangan mogok sekarang, dong. Please…” gumamnya.Baru tiga hari Kesya menapakkan kaki di desa terpencil ini, tapi rasanya dia sudah ingin segera mengepak koper dan pulang kembali ke kota. Meskipun udara di sini jauh lebih sejuk dan hamparan sawah hijaunya sangat memanjakan mata, kontras dengan polusi kota yang menyesakkan, tapi jika bicara soal fasilitas dan kenyamanan? Kesya tetap seratus persen akan memilih kehidupan kotanya yang serba tersedia.Apalagi sejak pagi buta, motor kesayangannya mulai bertingkah. Mesinnya beberapa kali tersendat, seperti kehilangan tenaga, sebelum kemudian berjalan normal kembali. Kesya sempat mengira bahwa masalahnya hanya karena bensin eceran yang dibelinya kemarin. Tapi ketika dia melewati jalanan menurun yang sepi di dekat area persawahan, suara mes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status