Share

PKJ 4

TOK! TOK! TOK!

Della langsung bangun ketika mendengar suara ketukan, hingga berjalan dan membuka pintu.

"Nggak ganggu tidur, 'kan?" tanya Livia yang ternyata berdiri di depan pintu.

"Oh, nggak kok," jawab Della sedikit sungkan, hingga membuka pintu lebar dan mempersilahkan Livia masuk ke kamarnya.

Livia tersenyum lebar, hingga kemudian masuk dan langsung menghampiri Bagas yang berada di ranjang. Livia langsung duduk di tepian ranjang dan langsung mengajak main dan bicara seakan bayi menggemaskan itu paham.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Livia dengan tatapan yang masih tertuju pada Bagas. Sudah beberapa hari Della tinggal di sana dan bekerja di restoran milik Livia.

"Sangat baik, seperti biasa," jawab Della. "Terima kasih, karena Anda sudah banyak membantu saya," ucapnya kemudian.

"Sama-sama," balas Livia. Wanita itu masih terus mengajak main Bagas, seakan sebenarnya tak ingin lepas dari bayi itu.

"Terima kasih juga karena Anda sudah mau merawat Bagas," ucap Della menunjukkan rasa syukurnya.

Livia mengulas senyum ketika mendengar ucapan Della, lantas menoleh pada Della.

"Sebenarnya aku merasa senang ada Bagas di sini. Aku memiliki dua anak, satu menikah dan tinggal di London, satu lagi menikah dan pindah rumah," ujar Livia dengan senyum getir.

"Jadi karena itu Anda ingin saya dan Bagas tinggal?" tanya Della memastikan.

Livia lagi-lagi tersenyum dan kembali fokus memainkan jari Bagas yang sudah menggenggam telunjuknya.

"Ya, karena rumah ini sangat sepi sebelum ada Bagas, setelah ada dia rasanya sangat ramai. Aku suka," jawab Livia.

Della menatap Livia, tengah berpikir apakah wanita paruh baya itu memang menyukai putranya.

"Sebenarnya saya berniat pindah," kata Della hati-hati.

Livia sangat terkejut dengan ucapan Della, langsung menatap janda cantik itu dengan rasa tidak percaya.

"Kenapa? Bukankah kamu bilang mau tinggal di sini dengan Bagas?" tanya Livia.

Della mengulas senyum, menatap pada putranya sebelum beralih menatap Livia.

"Ya, tapi saya merasa sungkan dan tak enak merepotkan Anda yang sudah sangat baik," jawab Della.

"Kamu akan bawa Bagas pergi?" tanya Livia yang sepertinya takkan rela jika Bagas keluar dari rumah itu.

"Jika Anda berkenan dan tidak merasa repot, saya berniat menitipkan Bagas di sini. Saya hanya akan datang setelah pulang kerja dan mengajaknya ketika libur," jawab Della.

Mungkin keputusan Della terdengar egois dan seakan ingin lepas dari tanggung jawab merawat Bagas. Namun, dibalik itu Della mempunyai banyak pertimbangan. Ia melihat betapa keluarga itu menyayangi Bagas, bahkan merawat seperti cucu mereka sendiri. Della ingin yang terbaik untuk Bagas, tapi selama dirinya belum mapan tentu saja tidak akan bisa mewujudkannya. Belum lagi, bagaimana nasib Bagas jika ikut dirinya sedangkan Della juga harus bekerja.

"Kamu serius? Jika ya, tentu saja aku tidak merasa keberatan, tapi malah sangat senang," ucap Livia yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan.

"Anda tidak akan menganggap saya lepas tanggung jawab, 'kan?" tanya Della yang tak ingin Livia merasa dimanfaatkan.

"Tentu saja tidak, aku saja ingin sekali merawatnya dan menjadikannya teman di rumah sebab selama ini aku selalu merasa kesepian," jawab Livia penuh semangat.

Della tersenyum kembali menatap Bagas sebelum mencium pipi putranya itu.

"Maaf sudah merepotkan Anda," ucap Della lagi.

"Tidak apa-apa, merawat Bagas bukanlah hal yang merepotkan. Kamu bekerjalah dengan giat, agar kelak bisa membahagiakannya," timpal Livia.

Della mengangguk, dengan ini dirinya mungkin akan pindah agar tidak semakin merepotkan keluarga Livia dengan adanya dia di sana.

-

-

Dimas yang sore itu hendak melihat keadaan Kanaya, tampak terkejut saat melihat apartemen gadis yang dicintainya itu berantakan seakan baru terkena badai.

"Ada apa ini?" tanya Dimas kebingungan.

Kanaya menangis duduk dengan menekuk kedua lutut, memeluk dan menenggelamkan wajah diantara lutut.

"Wanita sialan!" umpat Kanaya yang seakan sedang meluapkan amarah.

Dimas semakin terkesiap mendengar Kanaya mengumpat, hingga kemudian mencoba mendekat dan duduk di samping gadis itu.

"Ada apa?" tanya Dimas hati-hati.

Dimas sudah mencintai Kanaya sejak lama, meski dirinya tahu kalau gadis itu berada di jalan yang tak benar, tak lantas membuat Dimas menjauh. Ia hanya ingin menyadarkan Kanaya agar bisa kembali ke jalan yang benar, karena itu Dimas masih bertahan di sisi meski tak dianggap.

"Dia memutus hubungan kami," jawab Kanaya setengah menjerit.

Dimas terkesiap, dalam hatinya senang karena akhirnya Kanaya bisa terlepas dari belenggu pria beristri.

"Sudahlah, lupakan pria itu. Sikapnya sudah cukup membuktikan kalau pria itu tidak baik untukmu," ujar Dimas mencoba menasihati.

Kanaya langsung menatap Dimas, ada rasa kesal karena pemuda itu malah memintanya melupakan. Kanaya sudah memberikan segalanya, tapi kenapa harus tersakiti lebih dari satu kali.

"Tidak! Aku tidak akan diam saja!" 

Dimas terkesiap mendengar tolakan Kanaya atas ucapannya.

"Kenapa? Apalagi yang kamu harapkan dari pria brengsek itu?" tanya Dimas yang tak habis pikir.

Kanaya menyeka buliran kristal bening yang luruh, ada dendam dan amarah bercampur di dalam pancaran matanya.

"Semua ini gara-gara seorang hacker, dia membocorkan hubunganku dengannya!" Kanaya tiba-tiba terlihat geram.

"Apa maksudmu?" tanya Dimas kebingungan.

Kanaya langsung menghadap ke arah Dimas, menunjukkan mata sendu agar pemuda itu simpati padanya.

"Dia bilang kalau istrinya membayar seorang hacker untuk menyelidiki hubungan kami, aku akan pastikan mendapat data hacker itu. Dim, kamu mau bantu aku, 'kan!" Kanaya memberi tatapan lembut pada Dimas, mencoba merayu agar pemuda itu luluh padanya.

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dimas kebingungan.

"Aku janji tidak akan melakukan hal yang berbahaya, aku hanya mau memperingatkan orang itu agar tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Kamu mau bantu aku, 'kan?" tanya Kanaya lagi, mencoba membujuk Dimas agar mau menolongnya.

"Tapi, ini tidak benar, Naya! Seharusnya kamu lupakan saja, masih ada aku di sisimu," ujar Dimas menolak.

Kanaya merasa kesal dengan penolakan Dimas, langsung memalingkan wajah ke arah lain.

"Kalau kamu tidak peduli denganku, buat apa kamu di sini? Tanpa kamu pun aku bisa mengatasi ini sendiri! Kamu selalu bilang menyukaiku, tapi nyatanya tidak pernah mau membuktikan ketulusanmu," ucap Kanaya yang seakan sedang memancing rasa bersalah pada diri Dimas.

"Nay, bukan begitu--" Dimas ingin menjelaskan tapi langsung dipotong oleh Kanaya.

"Dim, bantu aku kali ini saja. Setelah ini aku janji akan mengikuti semua ucapanmu, oke!" bujuk Kanaya.

Kanaya menggenggam telapak tangan Dimas, mencoba merayu pemuda itu.

Dimas terlihat berpikir, melihat ke dalam manik mata Kanaya dan mencari tahu apakah gadis itu benar-benar mau berubah serta mengikuti ucapannya.

"Kamu janji setelah aku membantu, kamu akan mengikuti ucapanku?" tanya Dimas memastikan yang langsung mendapat sebuah anggukan dari Kanaya.

"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?" tanya Dimas mengiakan permintaan Kanaya.

Kanaya tersenyum lebar mendengar Dimas mau membantunya, seakan melupakan kesedihan yang sempat singgah beberapa waktu lalu.

"Terima kasih." Kanaya menggenggam erat telapak tangan Dimas.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status