Masuk"Wanita brengsek! Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?" Aldi menghempaskan ponselnya ke dashboard mobil.Percuma ia memaki Mayang. Wanita itu sudah memutus sambungannya."Harusnya aku sudah curiga! Tidak mungkin dia tidak memiliki maksud masuk ke keluargaku! Ah, sial!" Tak henti-hentinya Aldi mengumpat.Ia melarikan mobilnya ke rumah miliknya. Mayang mengatakan jika Alina sudah berada pada Selina. Itu artinya Selina sudha mengetahui semua faktanya. Rahasia yang Aldi simpan selama ini. Begitu juga jati diri Mayang yang sesungguhnya."Sial!" Aldi memukul setirnya dengan kesal. "Aku harus cari alasan!"Dia tahu Selina mudah terpengaruh. Hanya disirami dengan kasih sayang dan dipupuk dengan nyanyian lembut, Selina pasti lebih mempercayai Aldi.Hari ini Aldi akan mengatakan yang sebenarnya jika Alina adalah anak mereka. Tapi Aldi akan menceritakan semuanya dengan versi dirinya. Jangan sampai Selina teringat semua hal buruk yang me
"Harusnya dari awal kamu memang pake pengasuh, Aldi! Jangan nyalahin mama!" Ucap Husna tak terima saat Aldi menyalahkannya. "Kan mama bisa lapor padaku kalau Alina demam. Kenapa mama malah mendiamkannya?" "Udah mama bilang jangan bergantung sama mama! Mama udah tua! Kamu juga nggak becus mengasuh anak! Lagipula kamu itu pelit, Aldi. Kamu kan udah punya uang satu miliar kenapa nyari pembantu aja susah!" "Mama!" Mata Aldi sampai melotot. Untung saja mereka tengah berdebat di kamar Alina jadi tak ada yang mungkin mendengarnya. "Jadi sekarang gimana Alina?" Husna mengalihkan pembicaraan. "Ada Mayang yang menungguinya di rumah sakit." "Nah!" Husna terkekeh. "Mama kan udah bilang biarkan Mayang yang mengurus semuanya tapi kamu malah mengusir dia!" Aldi memalingkan wajahnya karena kesal. Kalau bukan demi Alina saja makanya dia menghubungi wanita itu. Apalagi saat Alina bertemu lagi den
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak percaya dengan penjelasan wanita ini."Namun suhunya normal, bekas suntikannya juga tidak bengkak. Kuncinya rehidrasi saja yang cukup. Mungkin Alina tidak menyusu dengan baik." Fiona berdoa ditebalkan kesabarannya karena berhadapan dengan pria ini.Aldi sempat memikirkan ucapan dokter ini. Benar juga. Bisa jadi karena pengasuhnya sudah diusir jadi Alina tak terlalu diperhatikan. Apalagi Husna yang tak mau mengurus anaknya."Baiklah."Aldi lalu mengajak putrinya pulang. Baru sekarang dia merasa kerepotan sendiri. Tak ada kereta bayi sehingga ia harus menggendong bayi sepanjang perjalanan keliling rumah sakit. Ah, wajah ini sempat memerah karena ditatap ole
Mata Mayang menggelepar. Nafasnya memburu dengan hebat. Leher ini dicengkram kuat oleh pria yang ada di hadapannya.Mayang berusaha menjerit tertahan, ia terus memukuli tangan Aldi yang mencekik lehernya."Lepaskan!""Katakan padaku untuk apa kau lakukan disini, hah? Apa niatmu??!" Bentak Aldi. Pria ini lalu melepaskan tangannya.Mayang terbatuk-batuk dan menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Ia memegang lehernya yang kesakitan."Kamu pasti sengaja datang kemari dengan cara menyamar, kan? Ngaku!""Aku.. aku bisa jelasin, mas.""Arrrghh!"Mayang memejamkan mata saat tangan Aldi melayang hendak menampar wajahnya. Namun suara Husna menghentikan semuanya."Aldi! Ngapain kalian ribut-ribut??" Husna datang lagi dan terperangah melihat cadar Mayang yang telah terlepas."Kamu.." ucap Husna."Benar, ma. Dia Mayang. Wanita yang menyamar menjadi pengasuh anakku. Aku yakin dia pasti memiliki niat ya
"Apa boleh aku bertanya satu hal, mas?""Soal apa itu, sayang?""Waktu itu kamu marah sekali padaku.. kamu bilang aku bersekongkol dengan ayah dan ingin menuntut kami di pengadilan. Apa itu maksudnya?" Selina baru memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut.Aldi lalu membeku. Tangannya yang sedang mengupas apel lalu berhenti sejenak. Sedangkan Selina masih menunggu jawaban."Oh.. itu.. aku cuma salah paham." Jawab Aldi terbata."Salah paham? Mengenai apa?""Bukan apa-apa.""Kamu juga bilang kalau kami sudah menipumu.. apa yang terjadi, mas?" Dan setelah kejadian itu, Selina merasa Aldi berubah. Sikapnya mungkin masih manis tapi dia kembali ke kebiasaan pulang malam lagi. Dan alasannya karena Husna tengah sakit.Akhirnya Aldi benar-benar menurunkan pisau buahnya. Ia terus mencari alasan yang tepat. Jangan sampai Selina curiga atau mungkin bisa merengkuh ingatannya."Aku pikir ayah akan membawamu p
"Apa? Pengasuh untuk Alina?" Dahi Aldi sampai mengkerut-kerut. "Iya. Abisnya lama banget kamu nyari pengasuh untuk anakmu itu! Bisa-bisa mama kena stroke duluan!" "Siapa dia?" Tanya Aldi. Husna berdeham. "Yaya." Aldi terlonjak kaget. "Apa??? Aku nggak setuju! Yaya itu kemarin sempat buat Selina tersedak, ma! Dia itu nggak sabaran!" "Kamu itu yang nggak sabaran, Aldi!" Seru Husna tak mau kalah. "Yaya itu udah lama kerja sama mama. Pekerjaannya bagus, orangnya telaten. Lihat anakmu aja nyaman dengannya!" "Aduh!" Aldi sampai sakit kepala. "Sebelum kamu memecat dia harusnya kamu tanya dulu sama mama. Jadi nggak perlu ngambil keputusan sepihak!" "Mama ini!" Aldi jadi kesal. "Pokoknya kamu nggak usah pusing lagi nyari pengasuh untuk Alina. Dia udah aman bersama Yaya." Sambung Husna lagi. Aldi langsung melengos. "Dimana dia sekarang?"







