MasukCincin sudah tersemat. Selina meraih tangan Rama dan menciuminya dengan takzim. Sekarang pria ini adalah imamnya. Tempat ia bergantung. Tempat ia mematuhkan diri dan berlindung. Rama tersenyum. Ia mengusap kepala Selina yang tertutup hijab. Pria ini menyentuhnya dan melantukan doa. Wanita ini sekarang adalah istrinya. Tempat ia mencurahkan dan memberikan kasih sayang. Keduanya saling melempar senyum. Debaran itu sekarang sudah mereda. Berganti dengan rasa yang tegas melingkupi relung hatinya. Selina mencium tangan Mala dan Taufan secara bergantian. Mala memeluk menantunya dengan erat. Sekarang Selina resmi menjadi menantu kesayangannya. Begitu juga dengan Maryono yang membisikkan sesuatu pada Rama. Pria ini bahkan menangis pelan. "Aku percaya padamu, Rama. Kalau kamu tidak akan menyia-nyiakan Selina dan juga Aulia. Namun jika di lain hari kamu tidak sanggup lagi, tolong kembalikan mereka berdua
Mata Rama bengkak dengan lingkaran hitam. Bukannya tertidur nyenyak semalam, Rama maalh tak bisa tidur.Begini rasanya ingin menikah? Detak jantung Rama berdegup tak karuan. Ia antusias tapi juga cemas.. bagaimana jika pernikahan hari ini berjalan tidak sesuai rencana?Semalaman Rama berdoa untuk kelancaran pernikahannya hari ini. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa acara pernikahannya.Pagi ini, Rama sudah tampan dengan memakai jas pengantin berwarna biru langit. Ia pun berkaca di cermin untuk memastikan penampilannya sebelum pergi ke gedung acara."Sudah siap, Rama?" Tanya Mala yang sudah memakai kebaya berwarna biru tua."Ma. Lihat mataku!" Rama menunjuk matanya."Astaga, nak! Apa yang terjadi?" Mala jadi tertawa. "Sebentar mama panggilan tim MUA. Biar mereka menyamarkan lingkaran hitammu.""Ya. Sekalian buatkan aku kopi." Rama ngantuk sekali dan butuh obat yang namanya tidur. Tapi tak mungkin dia tidur di hari be
Semua mata tertuju pada pria yang duduk dikursi roda tersebut. Rangga datang dengan wajah layunya. Ia tak berani mengangkat wajah ataupun menyapa keluarga yang tengah berkumpul.Lain hal lagi dengan wanita yang tersenyum sumringah itu. Ia menyapa semua orang tanpa rasa malu."Hai semua.. sepertinya kami melewatkan acara malam ini." Ucap Nisa tersenyum manis.Kirana bangun dari duduknya. Oleh karena situasi yang menjadi canggung, wanita ini mengambil alih dengan pura-pura tak mengerti."Hai, Nisa, Rangga. Kejutan sekali.. kamu sudah diperbolehkan pulang?""Tepat sekali saat tante dan mama tadi pulang ada dokter yang berkunjung. Dia bilang mas Rangga bisa pulang malam ini." Nisa yang menjawab pertanyaan itu."Begitu ternyata." Kirana tersenyum. "Kalian sudah makan malam?""Kebetulan belum. Aku dan mas Rangga belum sempat makan malam ini." Jawab Nisa lagi."Mari tante antarkan ke meja makan." Ajak Kirana.
Mala menatap tajam wanita yang tengah tersenyum manis padanya. Dengan wajah polos itu, ia bertingkah seolah tak terjadi masalah.Padahal satu minggu yang lalu, Nisa datang ke rumah dan mencaci maki Rangga. Setelah itu, ia mengancam akan menceraikan suaminya yang tak berguna."Apa kabar, tante?" Sapa Nisa ramah pada Kirana."Oh.. baik." Kirana menerima ciuman di pipi kanan dan kiri dari wanita ini. Sementara untuk mertuanya, Nisa main melewatinya saja."Kapan tante tiba dari Jerman?" Tanyanya."Subuh tadi.""Sedang apa kamu disini, Nisa?" Mala menatap tak suka."Seperti yang mama lihat. Mengurus suamiku.""Suami yang hendak kamu ceraikan?" Alis Mala terangkat satu. "Sejauh mana gugatanmu?"Nisa menggeleng. Wajah itu berubah sedih."Aku sudah impulsif dalam membuat keputusan. Jadi kami memutuskan untuk kembali bersama.""Kembali bersama?" Mala memandang anaknya. "Benar itu, Ran
Keluarga besar dari pihak Taufan dan Mala mulai berdatangan sejak pagi. Rumah besar yang biasa sepi ini sekarang ramai akan canda tawa. Dan sesuai rencana, malam ini akan diadakan pengajian untuk mendoakan kelancaran hari pernikahan Rama."Berarti pindah ke Jerman itu hanya wacana?" Goda Tommy, adik Taufan. Pria ini juga sudah tiba dari luar negeri."Atau kamu mau mengajak istrimu tinggal bersama kami?" Kirana istri dari Tommy juga ikut-ikutan menggoda keponakannya.Taufan berdeham. "Tidak boleh ada yang keluar dari rumah ini. Semua anak-anakku harus menetap di kota ini."Kirana tergelak sambil memandang kakak iparnya. Apalagi Taufan sudah kembali ke mode protektif."Apa kabar Rangga? Masih sakit?" Tanya adik Mala, Tito."Masih." Jawab Mala singkat.Semua sudah mengetahui kisah tragis kakak dan adik ini. Mungkin ada hikmah setelah ini dimana Rangga dan Rama akan menjadi dekat. Apalagi mereka tahu benar jika beberapa tahu
Rangga masih merenung di atas tempat tidurnya. Memandang ke jendela dimana langit sudah berubah menjadi gelap gulita. Malam ini tidak ada Rama di sisi sebrang sana. Adiknya itu sudah terlebih dahulu menyentuh kebebasan.Sementara, Mala nampak lelah walau kata itu tak terucap. Dan dengan rasa tak enak hati, Rangga meminta ibunya itu pulang ke rumah. Mala sudah cukup tua untuk terus-terusan menjaga anaknya. Apalagi anak seperti Rangga yang terus menyusahkan."Kalau ada apa-apa kamu pencet bel saja ya, nak. Nanti ada suster yang akan datang." Mala berpesan sebelum pulang.Rangga mengangguk. Pria ini sudah bisa duduk walau kaki kanannya masih sukar digerakkan.Mala pulang ke rumah untuk mengurus pernak pernik dari pernikahan Rama. Waktu menunjukkan empat hari lagi. Banyak sekali impian Mala untuk menyambut hari bahagia Rama. Namun sayang mungkin semuanya tak sesuai dengan lancarnya rencana.Sesampainya di rumah, Mala langsung melihat kondisi
Husna sekarang bisa lebih bersantai karena ada yang membantu pekerjaannya di rumah. Ah, bukan ada yang membantu. Lebih tepatnya ada wanita yang bisa diperbudak.Astaga, Husna menahan tawanya. Lihatlah wanita ini! Kemarin dia begitu garang ingin memenjarakan Aldi karena fitnahnya tapi sek
"Jam mengajar saya dikurangi, pak?" Aldi menatap jadwal mata kuliah yang berada di tangannya."Iya. Setelah rapat dengan dekan dan dosen, jam mengajar dosen-dosen dengan status tidak tetap akan dikurangi. Digantikan dengan dosen yang baru saja dilantik menjadi pegawai pemerintah." Jelas pria yang m
"Se.. Selina.."Aldi tak mempercayai apa yang dilihatnya. Selina telah membuka mata!!Kedua mata itu terlihat memerah, seperti dipaksa untuk terbuka menatap dunia. Tapi tatapan itu kosong. Selina menatap lurus ke arah suaminya tanpa berkedip.Dan anehnya, walau Selina memandangnya tanpa arti, Aldi
"Kamu menangis, sayang?" Aldi mengusap lembut bekas air mata yang berjatuhan ke pelipis istrinya.Ia pandangi wajah itu dengan kasih sayang. Selina masih belum mau juga membuka matanya.Aldi mendesah pelan. Sekitar 90 menit yang lalu Maryono mendadak memberi tahu jika dia harus pulang ke kampung ka







