LOGINMata Rama bengkak dengan lingkaran hitam. Bukannya tertidur nyenyak semalam, Rama maalh tak bisa tidur.Begini rasanya ingin menikah? Detak jantung Rama berdegup tak karuan. Ia antusias tapi juga cemas.. bagaimana jika pernikahan hari ini berjalan tidak sesuai rencana?Semalaman Rama berdoa untuk kelancaran pernikahannya hari ini. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa acara pernikahannya.Pagi ini, Rama sudah tampan dengan memakai jas pengantin berwarna biru langit. Ia pun berkaca di cermin untuk memastikan penampilannya sebelum pergi ke gedung acara."Sudah siap, Rama?" Tanya Mala yang sudah memakai kebaya berwarna biru tua."Ma. Lihat mataku!" Rama menunjuk matanya."Astaga, nak! Apa yang terjadi?" Mala jadi tertawa. "Sebentar mama panggilan tim MUA. Biar mereka menyamarkan lingkaran hitammu.""Ya. Sekalian buatkan aku kopi." Rama ngantuk sekali dan butuh obat yang namanya tidur. Tapi tak mungkin dia tidur di hari be
Semua mata tertuju pada pria yang duduk dikursi roda tersebut. Rangga datang dengan wajah layunya. Ia tak berani mengangkat wajah ataupun menyapa keluarga yang tengah berkumpul.Lain hal lagi dengan wanita yang tersenyum sumringah itu. Ia menyapa semua orang tanpa rasa malu."Hai semua.. sepertinya kami melewatkan acara malam ini." Ucap Nisa tersenyum manis.Kirana bangun dari duduknya. Oleh karena situasi yang menjadi canggung, wanita ini mengambil alih dengan pura-pura tak mengerti."Hai, Nisa, Rangga. Kejutan sekali.. kamu sudah diperbolehkan pulang?""Tepat sekali saat tante dan mama tadi pulang ada dokter yang berkunjung. Dia bilang mas Rangga bisa pulang malam ini." Nisa yang menjawab pertanyaan itu."Begitu ternyata." Kirana tersenyum. "Kalian sudah makan malam?""Kebetulan belum. Aku dan mas Rangga belum sempat makan malam ini." Jawab Nisa lagi."Mari tante antarkan ke meja makan." Ajak Kirana.
Mala menatap tajam wanita yang tengah tersenyum manis padanya. Dengan wajah polos itu, ia bertingkah seolah tak terjadi masalah.Padahal satu minggu yang lalu, Nisa datang ke rumah dan mencaci maki Rangga. Setelah itu, ia mengancam akan menceraikan suaminya yang tak berguna."Apa kabar, tante?" Sapa Nisa ramah pada Kirana."Oh.. baik." Kirana menerima ciuman di pipi kanan dan kiri dari wanita ini. Sementara untuk mertuanya, Nisa main melewatinya saja."Kapan tante tiba dari Jerman?" Tanyanya."Subuh tadi.""Sedang apa kamu disini, Nisa?" Mala menatap tak suka."Seperti yang mama lihat. Mengurus suamiku.""Suami yang hendak kamu ceraikan?" Alis Mala terangkat satu. "Sejauh mana gugatanmu?"Nisa menggeleng. Wajah itu berubah sedih."Aku sudah impulsif dalam membuat keputusan. Jadi kami memutuskan untuk kembali bersama.""Kembali bersama?" Mala memandang anaknya. "Benar itu, Ran
Keluarga besar dari pihak Taufan dan Mala mulai berdatangan sejak pagi. Rumah besar yang biasa sepi ini sekarang ramai akan canda tawa. Dan sesuai rencana, malam ini akan diadakan pengajian untuk mendoakan kelancaran hari pernikahan Rama."Berarti pindah ke Jerman itu hanya wacana?" Goda Tommy, adik Taufan. Pria ini juga sudah tiba dari luar negeri."Atau kamu mau mengajak istrimu tinggal bersama kami?" Kirana istri dari Tommy juga ikut-ikutan menggoda keponakannya.Taufan berdeham. "Tidak boleh ada yang keluar dari rumah ini. Semua anak-anakku harus menetap di kota ini."Kirana tergelak sambil memandang kakak iparnya. Apalagi Taufan sudah kembali ke mode protektif."Apa kabar Rangga? Masih sakit?" Tanya adik Mala, Tito."Masih." Jawab Mala singkat.Semua sudah mengetahui kisah tragis kakak dan adik ini. Mungkin ada hikmah setelah ini dimana Rangga dan Rama akan menjadi dekat. Apalagi mereka tahu benar jika beberapa tahu
Rangga masih merenung di atas tempat tidurnya. Memandang ke jendela dimana langit sudah berubah menjadi gelap gulita. Malam ini tidak ada Rama di sisi sebrang sana. Adiknya itu sudah terlebih dahulu menyentuh kebebasan.Sementara, Mala nampak lelah walau kata itu tak terucap. Dan dengan rasa tak enak hati, Rangga meminta ibunya itu pulang ke rumah. Mala sudah cukup tua untuk terus-terusan menjaga anaknya. Apalagi anak seperti Rangga yang terus menyusahkan."Kalau ada apa-apa kamu pencet bel saja ya, nak. Nanti ada suster yang akan datang." Mala berpesan sebelum pulang.Rangga mengangguk. Pria ini sudah bisa duduk walau kaki kanannya masih sukar digerakkan.Mala pulang ke rumah untuk mengurus pernak pernik dari pernikahan Rama. Waktu menunjukkan empat hari lagi. Banyak sekali impian Mala untuk menyambut hari bahagia Rama. Namun sayang mungkin semuanya tak sesuai dengan lancarnya rencana.Sesampainya di rumah, Mala langsung melihat kondisi
"Ada kiriman paket untuk anda."Mata Selina membulat. Ia sampai menutup mulutnya dengan tangan. Rasa terkejut ini sangat luar biasa.Terlebih buket bunga matahari raksasa turun dari mobil tersebut dan di hantarkan ke teras rumah milik Selina. Bunga matahari ini memenuhi teras rumahnya."Ada apa, nak?" Maryono ikut terkejut melihat matahari yang tiba-tiba terbit di malam hari.Apalagi tak hanya bunga matahari, sekarang ada beberapa kotak hadiah turun dari mobil pick up dan ikut dihantarkan ke hadapan Selina."Tunggu sebentar!" Selina mencoba mencerna semua ini. "Untuk siapa ini??""Untuk anda, bu Selina." Jawab pria tersebut."Tapi.. siapa yang memberikan bunga dan hadiah sebanyak ini??" Lalu dimana Selina harus menaruhnya?Pria itu mengulum senyum dan memberikan sebuah kartu ucapan berwarna kuning. Selina menerima kartu tersebut dan terperangah. Sedangkan Maryono tertawa pelan."Dia sedang melamarmu sec
"Sudah jam 7.." gumam Selina.Aldi berjanji akan pulang tepat waktu. Malam ini rencananya mereka akan pergi ke baby shop untuk membeli perlengkapan demi menyambut buah hati mereka. Tapi sudah 2 jam berlalu, Aldi belum pulang juga.Selina mengusap ponselnya perlahan. Perlukah ia menghubungi Aldi? Ha
"Perempuan ini.."Mata Rama memicing melihat wanita muda yang baru saja masuk dengan menggunakan brangkar. Evan, teman sejawatnya yang tengah berjaga lalu mengambil alih memeriksa keadaan wanita ini."Siapa nama pasiennya, pak?" Tanya Evan pada pria paruh baya yang mengantar."Mayang Sari."Tak sal
"Selin!"Aldi yang baru saja pulang memanggil nama istrinya ke seluruh penjuru rumah. Biasanya istrinya itu terbaring di tempat tidur, tapi sekarang tak ada.Setelah beberapa kali memanggil, Aldi mendengar jawaban dari ruang belakang. Rupanya Selina sedang berada di ruang cuci. Duduk disana dan ber
"Sayang banget Mayang udah nikah, ya. Padahal kalau belum kan bisa jadi istri kedua kamu.""Astaga, mama. Belum apa-apa mama udah kepikiran aku punya dua istri!" Sahut Aldi sembari menyetir. Keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah."Mama inget siapa Mayang itu. Rupanya santriwati yang semp







