LOGIN"Dokter Rama.."
Mata Rama membulat sempurna, namun ia mendistraksikan pandangannya pada anak perempuan yang wanita berhijab itu pegang. Anak kecil itu tampak menangis hebat dalam pelukannya."Baringkan dia. Apa yang terjadi?"Anak perempuan itu dibaringkan di atas tempar tidur. Rama dengan sigap memeriksa keadaan anak ini menggunakan stetoskop.Selanjutnya, ia mengambil senter dan menyinari ke permukaan kulit yang nampak kemerahan. Tepatnya di area wajah h"Ada Aulia?"Selina terkejut melihat pria yang ada di hadapannya. Hampir saja ia ingin memaki karena berpikir jika Aldi yang datang berkunjung. Rupanya, ada pria lain yang berdiri tegak di depan rumah ini."Maaf saya mengganggu malam-malam." Ujar Rama tersendat. "Kedatangan saya kemari untuk memberikan ini."Rama menyerahkan sebuah paper bag. Selina pun melihat ke dalam isinya. Ternyata sebuah boneka barbie yang sempat di pegang oleh putrinya kemarin."Anggaplah itu sebagai tanda penyesalan saya karena perbuatan perempuan itu. Dia sudah merebut mainan milik Aulia.""Oh.. nggak masalah, dokter. Aulia juga sudah melupakannya. Aku malah nggak enak karena dokter sudah berlebihan menolong kami. Kemarin dokter sudah mengobati luka Aulia. Dan juga boneka ini...." Selina menatap boneka itu sekilas dengan perasaan campur aduk. "Sepertinya lebih bagus diberikan pada kekasih dokter saja. Dia pasti menginginkan ini.""Dia bukan kekasih saya.
"Kamu memalukan, Rama! Harusnya kamu nggak perlu menyakitinya seperti itu!"Taufan sudah tak bisa menahan kemarahannya. Sejak tadi ia mendengar cerita sepihak dari Yasmine. Wanita ini mengadu jika ditinggal begitu saja oleh Rama. Pria itu juga dianggapnya sudah berbuat kasar.Tapi darimana Rama berbuat kasar? Oh, Rama sampai tak habis pikir. Kenapa para wanita suka sekali menciptakan drama?"Oleh karena papa yang ingin sekali melihat aku menikah hingga membuat papa mudah percaya dengan wanita itu! Coba papa lihat bagaimana reaksi Yasmine saat aku menceritakan semuanya? Dia hanya menggigit bibir, kan?!" Rama juga tak terima."Tapi kamu tidak perlu berbuat kasar padanya, nak.." Mala ikut berbicara."Mama ikut percaya ucapan wanita itu?" Rama menggeleng. "Kalau aku berbuat kasar, mungkin dia sudah berdarah-darah! Tapi yang dia lakukan malah mendorong anak kecil hingga terjatuh! Dan gara-gara perbuatannya aku harus membawa anak itu ke klinik
"Aulia!" Selina menjerit begitu juga dengan Aulia yang menangis kesakitan.Tubuhnya di dorong oleh wanita dewasa dengan wajah yang terbentur lantai.Selina mengangkat putri kecilnya. Terlihat noda merah yang keluar dari dalam mulutnya. Ternyata benturan keras membuat gusi anak kecil ini berdarah.Bukannya merasa bersalah, wanita ini melenggang dengan santainya. Selina yang tak terima lekas menahan lengan wanita ini."Hey, mbak!" Tegur Selina."Ada apa?" Yasmine melotot."Kamu sudah mendorong anak saya!""Aku?" Yasmine menunjuk dirinya sendiri. "Bukan aku!""Saya melihatnya. Anda merebut mainan anak saya dan mendorongnya hingga terjatuh!""Aku nggak merebut. Boneka ini milikku, dia yang berusaha merebutnya.""Anda berusaha berbohong? Kalau begitu kita lihat cctv saja untuk membuktikannya!" Ucap Selina yang membuat Yasmine terkesiap."Ada apa ini?" Rama memburu wanita barbie ya
Selina sudah tak bisa bersabar jika berurusan dengan sikap emosional mantan suaminya. Tak hanya keras kepala, Aldi juga egois.Dia mungkin melunak, tapi itulah caranya untuk mengambil hati lawannya. Dan Selina sadar bahwa dia sedang diperdaya oleh pria kurang ajar itu. Selina sudah bertekad untuk tidak jatuh dalam lubang yang sama.Akhirnya, Selina memutuskan untuk pindah ke rumah sewa yang lain. Tempatnya sedikit terpencil, para penghuni komplek ini bahkan bisa dihitung dengan jari.Tapi kedamaian seperti inilah yang dicari oleh Selina. Tanpa gangguan dan rasa ingin tahu dari tetangga yang julid. "Kalau kamu kesulitan dan butuh bantuan, jangan segan panggil ayah." Ujar Maryono. Usia sudah memakan separuh tubuhnya tapi cinta pada anak dan cucunya menguatkan dirinya."Ayah jangan khawatir." Balas Selina tersenyum manis. "Menurut ayah apakah aku kejam memisahkan ayah dan anaknya? Mas Aldi berucap demikian, tapi aku merasa ini yang terbaik.
"Panggil Rama kemari!"Rahang Taufan sudah mengeras karena menahan emosi. Wajah ini merah padam karena malu akibat perbuatan anaknya.Entah anak siapa Rama ini, kenapa dia berbeda sekali dengan dirinya dan juga Rangga! Karena terlalu biasa dimanja oleh Mala membuatnya menjadi pemberontak.Dan salah satu rasa malu yang diberikan oleh Rama adalah malam ini.. disaat Rama main pergi saja meninggalkan wanita yang hendak dijodohkan padanya.Rama dipanggil, pria ini duduk di sofa keluarga tanpa rasa bersalah. Ia disidang oleh Taufan dan juga Rangga."Beginikah sikapmu itu, Rama? Kenapa kamu tidak bisa menghormati tamu papa!""Apa ada yang salah? Bukannya aku sudah menyapa mereka tadi.""Jangan main-main, Rama! Berapa usiamu itu! Mau sampai kapan kami bertingkah kekanak-kanakan!" Seru Taufan kesal."Aku nggak mengerti maksud papa." Ujar Rama ikut kesal juga."Papa dan mama hendak menjodohkanmu dengan Yasmine. T
"Dokter Rama.."Mata Rama membulat sempurna, namun ia mendistraksikan pandangannya pada anak perempuan yang wanita berhijab itu pegang. Anak kecil itu tampak menangis hebat dalam pelukannya."Baringkan dia. Apa yang terjadi?"Anak perempuan itu dibaringkan di atas tempar tidur. Rama dengan sigap memeriksa keadaan anak ini menggunakan stetoskop. Selanjutnya, ia mengambil senter dan menyinari ke permukaan kulit yang nampak kemerahan. Tepatnya di area wajah hingga ke lengan bagian kanan."Tadi aku lagi buat susu dengan dotnya, dok. Tapi Aulia nggak sabar lagi dan merebut dot yang aku taruh di atas meja. Jadi, tumpahan air panasnya mengenai wajah sama lengannya." Jelas Selina terbata.Ia sempat terkejut saat masuk ke ruangan ini. Rupanya dokter yang berjaga adalah dokter yang begitu dikenalnya.Rama memeriksa lagi keadaan Aulia. Memastikan jika kulit anak ini tidak terjadi masalah. Aulia yang tadinya menangis terisak jadi







