LOGIN"Sayang sekali, mas. Aku sudah memiliki calon suami."
Dahi Aldi langsung mengernyit tak percaya saat Selina mengucapkan kalimat itu. Namun saat Aldi mengikuti arah pandangan wanitanya, ia terperangah.Seorang pria berpostur tinggi dengan wajah yang tampan baru saja datang dan masuk ke perkarangan rumah ini.Tangan Aldi mengepal erat. Ia ingat betul siapa pria ini. Pria yang pernah berselisih dengannya."Ada masalah, Selina?" Tanya Rama menatap Aldi dingin.<"Rama, kemarilah!" Ajak Mala pada putranya yang baru saja tiba.Dengan gugup, Rama jalan mendekat ke arah dua wanita yang sedang duduk mesra di sofa ruang keluarga. Pria ini lalu mengambil tempat duduk di hadapan mereka."Lihat ini. Tadi mama pergi ke percetakan. Ternyata undangan kalian hendak di cetak. Jadi mama bawa satu sebagai contoh. Gimana? Kamu suka nggak?" Tanya Mala.Rama mengambil undangan tersebut dan menatapnya. Dr. Rama dan Selina. Nama itu terukir diatas kertas ini dengan menggunakan tinta emas. Seketika hati Rama menciut. Ia takut jika undangan pernikahan ini tak akan pernah sampai ke tangan tamu undangannya."Rama.." panggil Mala lagi.Rama berdeham. "Cantik, ma. Warna biru membuat undangan ini terlihat sederhana tapi juga megah.""Mama juga setuju." Sahut Mala mengulum senyum.Rama lalu mengangkat wajahnya dan menatap Selina."Kenapa Selina menangis, ma?"Mendengar itu, Mala
"Indah sekali, ya?"Senyum mengembang dari wajah Mala sembari menatap Selina. Di hadapan kedua wanita ini terhampar sebuah undangan berwarna biru coral. Begitu cantik dengan warnanya.. dan begitu indah dengan dua nama yang tersemat di atas sana.. Rama dan Selina."Tadi ibu sama papanya Rama pergi ke percetakan untuk melihat undangan pernikahan. Sekalian mau meninjau ulang gedung pernikahan kalian. Syukurlah undangannya sudah selesai, besok undangan ini akan siap dicetak. Jadi lima hari lagi kita bisa menyebarkan undangannya." Sambung Mala.Selina menatap getir undangan hard cover yang ada di sebrang sana. Ia sama sekali tak berniat menyentuh undangan tersebut."Kenapa, Selina? Kamu nggak suka undangannya, ya?" Tanya Mala pada Selina yang hanya diam.Selina terkesiap. "Suka, bu. Undangannya cantik sekali."Mala lalu mengulum senyum. "Seila juga sudah mengirimkan foto gaun pengantinmu kemarin.. sungguh indah sekali, nak. Kamu pasti
"Terima kasih atas bantuannya."Aldi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada pria dihadapannya.Dengan tersenyum, pria berkacamata ini mengambil amplop tersebut dan mengintip sedikit isinya. Ternyata hasilnya memuaskan."Sama-sama, pak. Saya juga sangat senang karena Alina sudah kembali pada bapak." Sahut Novran tersenyum penuh arti."Tapi cukup diingat, pak. Rahasia ini cukup kita berdua yang mengetahuinya." Ujar Aldi mengingatkan."Kalau soal itu anda tenang saja. Saya pandai menyimpan rahasia." Balasnya terkekeh. "Jangan segan untuk meminta bantuan kepada saya. Dengan senang hati, saya akan membantu."Aldi hanya tersenyum tipis. Ia lalu membiarkan Novran berlalu dari rumahnya."Pak Aldi." Panggil Eva dari dalam. "Alina nggak mau makan."Aldi mendengkus. "Buka TVnya, suruh dia menonton kartun. Pasti dia mau makan.""Sudah, pak. Tapi Alina malah menangis.""Kasih yutub aja dari ponsel
"Ma! Lihat siapa yang datang!" Seru Aldi sumringah.Pria ini datang sambil menggendong Aulia yang masih sesegukan menangis. Ia menunjukkan putrinya pada Husna yangs sedang duduk di kursi roda."Aa.. li.. na.." panggil Husna dengan suaranya yang pelo.Aldi menurunkan putrinya dan membantu Aulia mendekat. Tapi anak ini menangis dan meringkuk ketakutan."Ini nenek, sayang.. jangan takut." Ucap Aldi memeluk putrinya.Ia tetap memaksa Aulia agar mendekat pada Husna. Namun yang terjadi Aulia menjerit hebat."Ya sudah kalau tidak mau." Aldi menggendong Aulia dalam pelukannya. "Ini semua salah mamamu yang nggak mau memperkenalkan kamu ke dunia luar makanya kamu jadi penakut." Gerutu Aldi.Pria ini lalu melihat perawat pribadi Husna yang baru muncul dari dapur."Eva!""Iya, pak.." wanita muda ini mendekat."Ini anak saya, namanya Alina. Mulai hari ini selain mengurus mama kamu juga harus mengurus Alina.
"Kamu lihat berita hari ini, mas? Adikmu menjadi terkenal karena skandalnya. Dia dituding menghamili Anggia dan meninggalkannya begitu saja demi menikahi Selina. Astaga!"Nisa tak tahu harus tertawa atau sedih. Ia putuskan untuk menggelengkan kepalanya saja."Sekarang kita tahu kenapa Rama terus menghindari perjodohan. Rupanya karena dia sudah berhubungan dengan Selina."Nisa lantas menoleh ke suaminya yang masih tak bergeming."Mas!" Nisa menyentuh lengan suaminya. "Kok diem aja sih?"Rangga menarik nafas kasar. "Aku nggak konsen, Nisa. Aku lagi sibuk mikirim masa depan perusahaan kita.""Memang ada masalah dengan bisnis kita, sayang?""Nggak ada. Aku keluar sebentar." Rangga bangun dari duduknya."Kamu mau kemana???" Tanya Nisa saat melihat Rangga hendak berlalu."Keluar sebentar.""Hmm.. padahal kamu baru pulang kerja." Nisa yang memprotes tak didengar oleh suaminya.Percuma Rangga
"Aku nggak mengerti maksudmu."Selina mengambil lagi putrinya yang terduduk di kursi tunggu dan memeluknya. Ia memutuskan keluar dari lobi rumah sakit untuk menyegat taksi yang lewat."Tunggu, Selina!" Aldi menahan lengan mantan istrinya.Selina menepis tangan Aldi dan memundurkan tubuhnya. Ia lalu menatap Aldi tajam."Alina akan ikut denganku sambil menunggu gugatan hak asuhku selesai.""Gugatan?" Dahi Selina mengernyit. Aldi sepertinya masih tertidur pulas hingga berbicara sembarangan. "Kamu bicara apa, mas? Aulia akan tetap ada padaku!""Tapi sebagai papa kandungnya aku sudah menggugatmu, Selina. Aku nggak mau putriku diasuh oleh wanita problematik sepertimu.""Aku nggak mengerti cara pikirmu, mas. Kamu yang bermasalah tapi kamu menuduhku problematik!" Selina mendengkus kesal.Aldi tersenyum miring dan mengambil ponselnya. Ia lalu menunjukkan berita terbaru pada Selina."Apa ini?" Selina terperangah
"Aldi! Sedang apa disini??" Maryono memandang tajam."Aku.." Aldi memutar kepalanya sejenak untuk menatap mertua dan petugas yang meladeninya secara bergantian. "Mencari ayah.""Mencariku? Tapi aku diluar.""Aku tadi melihat ayah masuk kemari."Maryono menghela nafas. "Mari keluar. Kasihan suster i
Maryono melihat kedatangan wanita itu sekilas lalu memalingkan wajah. Sudah berapa lama anaknya terbaring di ranjang pesakitan tapi baru sekarang wanita itu datang.Maryono tahu jika wanita itu juga sakit. Ya, sakit katanya. Tapi setidaknya dia bisa memberikan sedikit perhatiannya. Bukan malah meng
"Mas Kamal.."Mayang tak berani mengangkat wajahnya lagi di hadapan pria ini. Ia datang ke rumah untuk mengemasi pakaiannya. Gugatan cerai dari Kamal sudah masuk ke pengadilan agama. Itu artinya Mayang sudah tak memiliki kesempatan lagi.Namun saat sampai di rumah, Mayang terkejut karena melihat du
"Cepat sekali kamu datang.. nggak ngajar?" Tegur Maryono."Ngajar, yah. Tapi hanya satu kelas aja. Ayah ngapain dari sana?" Aldi menunjuk ruangan yang bertuliskan NICU."Oh.. ayah hanya melihat karena penasaran. Rupanya itu ruangan khusus untuk ICU bayi."Dahi Aldi langsung mengernyit."Ayah kenal







