/ Zaman Kuno / Perjalanan Sang Batara / 7.Padepokan Sigaluh(2)

공유

7.Padepokan Sigaluh(2)

작가: Gibran
last update 최신 업데이트: 2025-06-10 15:28:31

Sosok itu mendekati Jaka yang masih terlelap. Sesaat dia diam di depan Jaka dan menatapi pemuda itu dengan tatapan tajam.

"Kamu harus mati anak muda... agar semua yang direncanakan lebih cepat berhasil. Keadaanmu sangat membahayakan..." sosok itu bergumam.

Dari balik bajunya dia keluarkan sebilah keris. Ketika keris itu di tarik dari sarungnya, satu sinar biru redup memancar pertanda keris itu mengandung racun jahat.

Dengan cepat sosok itu hunjamkan keris ke dada Jaka.

Di saat krisis keadaan, tiba-tiba Jaka Geni menggerakkan tangan kirinya menangkis tangan sosok berbaju hitam itu dan dalam satu tarikan nafas tangan kanannya melepas ajian Angin Menyapa Semeru yang ternyata sudah disiapkan dari tadi.

Hantaman itu telak mendarat di perut sosok tadi hingga terpental beberapa meter hingga terhenti oleh pagar.

Dari cadar orang itu merembes darah merah segar. Dalam keadaan terluka cukup parah, sosok itu bangkit berdiri lalu pergi keluar pondok tempat Jaka. Pemuda yang ternyata tak terpengaruh ilmu tidur segera berlari mengejar. Namun dia kehilangan jejak. Dia melihat ke lantai kayu dan terlihat satu keris yang dipakai sosok tadi untuk membunuhnya.

"Pukulan ku cukup telak, meski hanya setengah tenaga dalam ku, dia pasti akan kesakitan beberapa hari. Untungnya aku tahu ilmu tidur itu, jadi dengan tenaga dalam petir, bisa melindungi dari pengaruh sihir dan racun... Aku akan melihat keadaannya besok. Kalau kecurigaan ku benar, mati kau Ki Damar..." tinju Jaka terkepal.

Keris ditangannya bersinar biru redup. Tenaga dalamnya mengalir di keris itu. Amarahnya hampir tak bisa di bendung, mengingat dirinya seolah hanya jadi mainan seseorang.

Keesokan harinya...

Kinasih membuka pintu pondok Jaka. Sambil membawa nampan berisi makanan dia masuk kedalam ruangan itu. Terlihat Jaka tengah bertelanjang dada. Matanya terpejam. Tubuhnya berkeringat. Dia tengah melatih tenaga dalamnya.

Melihat tubuh kekar berotot dan kokoh itu membuat jantung Kinasih berdebar. Dia menggigit bibir mungilnya karena merasa sangat ingin memegang dada bidang Pendekar kita. Namun itu tak berani dia lakukan. Dia hanya berdiri mematung sambil menatap Jaka Geni berlatih.

Jaka Geni membuka matanya. Pandangan matanya beradu dengan mata Kinasih yang masih menatap ke arahnya. Sejurus kemudian Kinasih memalingkan wajahnya dengan rona merah terlihat menghiasi wajahnya hingga terlihat semakin cantik.

Jaka tersenyum.

Di tariknya gadis cantik itu hingga duduk disampingnya. Kinasih hanya diam membisu. Jantungnya sudah berdebar sangat keras. Tangan Jaka masih memegang pergelangan tangannya.

"Sakit kang..." ucap Kinasih sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Jaka.

"Oh.. Maaf adik.." Jaka melepaskan genggamannya. Kinasih mengangguk. Wajahnya masih terlihat memerah.

"Terimakasih adik, sudah membawakan aku makanan..." kata Jaka.

"Sama-sama kang, silahkan sarapan dulu kang, itu Kinasih yang masak..." ucap Kinasih malu-malu.

Jaka tersenyum lalu diambilnya nampan di atas meja.

"Kita makan bersama saja adik," ajak Jaka yang membuat Kinasih semakin berdebar.

"Apa kakang tidak apa-apa?" tanya Kinasih merasa tak yakin dengan ajakan Jaka.

"Apa kamu tidak mau?" Jaka balik bertanya.

Kinasih memainkan rambut panjangnya. Jaka yang tidak begitu paham perasaan apa yang berkecamuk di hati si gadis, langsung menyodorkan piring berisi makanan.

Lalu dengan perasaan tak menentu, Kinasih ikut makan bersama Jaka. Perasaan yang hangat terus menjalar di hatinya. Dia telah jatuh hati kepada pemuda yang baru beberapa hari di kenalnya.

Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai makan, Kinasih pamit. Jaka keluar pondok. Dia berkeliling sambil memperhatikan sekitar. Banyak murid yang berpapasan menyapanya, namun ada juga yang acuh tak acuh. Saat Jaka lewat di depan pondok Ki Damar, dia melihat pintu itu sedikit terbuka. Dengan gerakan tanpa suara, Jaka mendekat lalu mengintip dari celah pintu.

Dia melihat ada beberapa orang di dalam pondok. Dan terlihat Ki Damar tengah berada di atas balai-balai seperti tengah tidur. Saat dua orang itu berbalik badan akan keluar Jaka segera pura-pura berjalan seperti biasa.

Saat berpapasan dengan dua orang murid tadi dia segera bertanya.

"Ada apa dengan Ki Damar?" tanyanya.

Dua orang murid Ki Damar itu saling pandang.

"Guru tengah sakit secara tiba-tiba. Kami mengantarkan makan dan obat yang guru minta..." ucap salah seorang murid. Jaka mengelus janggutnya sambil mengangguk.

"Baiklah, terimakasih saudara..." ucap Jaka lalu ijin kembali berjalan-jalan. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Kena kau Damar..." batin Jaka dengan puas.

Di dekat tempat pelatihan adu tanding murid, Jaka bertemu dengan seorang murid padepokan yang terlihat berbeda dengan murid lain. Dia terlihat orang berkelas jika dilihat dari penampilannya. Murid ini bernama Arya yang dijuluki kawan-kawan seperguruannya dengan julukan Pendekar Rajawali.

Julukan itu melekat padanya sejak dia sering menjuarai adu tanding antar murid di padepokan. Saat berpapasan dengan Jaka, mata Arya terlihat tidak menganggap keberadaan Jaka. Jaka merasa, itu tatapan merendahkan. Arya seperti mempunyai identitas besar.

"Apa kau pemuda yang diselamatkan para guru?" tanya Arya dengan nada angkuh.

Jaka menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. Arya merasa tak suka melihat senyuman itu.

"Benar saudara, saya Jaka Geni, siapakah saudara ini?" tanya Jaka basa-basi.

Arya menjabat tangan Jaka lalu berucap, "Aku Arya Kartajaya, putra Raja Sigaluh."

Sambil berkata, tangannya menyalurkan tenaga dalam. Jaka tersenyum lebar.

"Ternyata ada Pangeran Sigaluh di padepokan ini, saya merasa sangat terhormat!" kata Jaka sambil tersenyum.

Awalnya Arya yakin, Jaka akan berlutut menerima tekanan tenaga dalamnya. Tapi tak di sangka, Jaka malah bisa bertahan bahkan tersenyum lebar kepadanya.

Selesai jabat tangan Jaka ijin untuk kembali berjalan mengitari padepokan. Arya melihat telapak tangan kanannya yang tadi menjabat tangan Jaka, dia terkejut melihat telapak tangannya melepuh!

"Dia orang yang kuat...!" ucapnya lirih. Namun perasaannya berkecamuk. Darahnya mendidih mengingat senyum Jaka yang mempermalukan dirinya.

Siang hari para murid berkumpul di arena adu tanding. Hari ini akan di adakan adu tanding antar murid.

Ki Sapta tidak bisa hadir karena dia tengah turun gunung menyelidiki kasus yang menimpa Jaka. Sedangkan Ki Damar juga tak bisa hadir karena sakit yang menimpanya secara tiba-tiba.

"Damar sakit? Tidak biasanya seorang pendekar kelas tinggi sepertinya mendadak sakit." ucap Resi Sumbing kepada dua wanita yang tak lain adalah Nyai Laras dan Nyai Sari.

"Dia tak mau di obati Resi. Katanya dia hanya tak enak badan. Aku juga tidak menyangka, ini pertama kalinya dia tiba-tiba sakit," kata Nyai Laras. Resi Sumbing mengelus janggut putihnya yang panjang.

"Apakah ada sesuatu menimpa dirinya?" tanya Resi Sumbing.

"Mungkin dia terkena luka tenaga dalam," Jaka tiba-tiba menjawab membuat tiga guru itu sontak kaget dan menatap ke arahnya.

"Bagaimana kau bisa tahu anak muda?" tanya Nyai Sari penasaran. Jaka tersenyum.

"Hanya menduga Nyai, seorang pendekar sepertiku saja tidak pernah sakit kecuali terkena serangan tenaga dalam. Apalagi Ki Damar yang sudah malang melintang di dunia persilatan..?" ucap Jaka membuat Nyai Sari dan Resi Sumbing mengangguk-angguk.

"Benar, tapi siapa yang melukainya?" tanya Nyai Laras mulai tertarik pada Jaka.

"Kalian bisa menanyainya, aku tak bisa menjawab pastinya." jawab Jaka santai.

"Huh, jika benar dia terluka dalam, bukankah lawannya cukup hebat? Siapa di kerajaan Sigaluh ini yang bisa melukainya?" kata Nyai Laras merasa aneh. Jaka tersenyum. 'Aku hebat ternyata hahaha...'

"Sudah lah, nanti kita jenguk dia. Sekarang fokus dulu ke arena adu tanding para murid." lata Resi Sumbing.

Para murid lelaki dan perempuan telah berkumpul. Jumlahnya ada belasan murid kelas atas dan puluhan murid kelas bawah. Mereka terbagi menurut kelas.

Kinasih ada di kelas atas bersama dengan murid perempuan lainnya. Jaka melihat Kinasih memang yang tercantik di antara lara murid lainnya.

Nyai Laras tersenyum melihat Jaka yang terus mengarahkan tatapan matanya pada Kinasih.

"Dia adalah murid ku yang paling berbakat. Apa kau tertarik padanya?" tanya Nyai Laras.

Jaka tersenyum lebar.

"Dia terlihat cantik, tapi ada satu lagi yang sepertinya cukup kuat, siapa dia?" tanya Jaka melihat satu gadis lain yang kecantikannya tak kalah dengan Kinasih.

"Namanya Anggita. Dia murid terkuat ku. Kinasih belum tentu bisa mengalahkannya." ujar Nyai Sari tak mau kalah dengan Nyai Laras. Resi Sumbing tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalian, dari kecil hingga sekarang tidak berubah. Mirip dengan Kinasih dan Anggita. Mereka juga kelak akan menguasai seluruh ilmu seperti kalian." kata Resi Sumbing terlihat senang.

Jaka melihatnya dengan perasaan senang juga. Dia jadi teringat kepada gurunya yg sendiri kesepian di puncak Semeru.

Dari arah para murid melesat satu bayangan putih dan mendarat di tengah arena. Dia tak lain adalah Arya Kartajaya, Pangeran Kerajaan Sigaluh. Resi tersenyum melihat murid kebanggaannya itu telah turun ke arena.

"Dia murid paling berbakat di padepokan ini, sejauh ini hanya ada beberapa murid yang bisa sedikit mengimbanginya. Sayang sekali sifatnya selalu arogan." Resi Sumbing berkata sambil mengelus janggutnya.

"Seorang Pangeran sudah biasa menjadi arogan. Pangeran seperti itu sebenarnya tak layak menjadi seorang Raja." kata Jaka kembali membuat tiga guru terkejut.

"Kau kenal padanya?" tanya Resi penasaran dengan perilaku Jaka yang terasa tak sopan.

"Bukan hanya kenal, dia juga pernah tegur sapa denganku padi tadi. Dan salam kenalnya luar biasa..." jawab Jaka sambil tersenyum. Nyai Sari menanggapi jawaban Jaka.

"Sebenarnya dia anak ketiga dari tujuh bersaudara. Kakak pertamanya seorang perempuan yg sekarang tengah berguru di Padepokan Atas Awan di kadipaten Diyang. Orang-orang Sigaluh menyebutnya Negri di atas awan. Padepokan ini besar hingga punya ratusan murid berbakat dan semua muridnya perempuan. Kamu pasti tahu, seorang pendekar wanita berjuluk Dewi Awan Putih. Dia adalah mahaguru di padepokan atas awan. Dan kakaknya Arya ini, punya gelar hebat di Kerajaan Sigaluh dengan gelar Dewi Mentari."

Jaka terdiam. Otaknya berputar mengingat nama Dewi Awan Putih. Akhirnya dia mengingat satu kejadian, yang membuat gurunya si Eyang Mahameru mundur dari dunia persilatan.

"Aku ingat, wanita tercantik di tanah jawa waktu itu, membuat perjanjian dengan guruku. Hingga guruku terpaksa mundur dan mengasingkan diri." ucap Jaka Geni.

"Benar, kejadian 20 tahun lalu itu, cukup menggemparkan dunia persilatan. Pendekar kelas wahid seperti Mahameru tunduk pada kecantikan seorang wanita, sangat disayangkan..." berkata Resi Sumbing.

"Biarlah itu menjadi kenangan. Aku ingin tahu, siapa kakak kedua Arya Kartajaya ini? Kenapa bukan dia yang jadi putra mahkota?" tanya Jaka.

"Dia telah mundur dari calon mahkota. Karena dia punya kekurangan pada tubuhnya. Sejak kecil, dia buta. Hingga sekarang, dia pergi dan belum kembali ke Sigaluh. Katanya, dia pergi bersama seorang petapa sepertiku. Aku berharap, pemuda itu menjadi pendekar yang baik di masa mendatang." terang Resi Sumbing. Jaka mengangguk-anggukan kepala.

Dari arena, terlihat Arya berdiri angkuh setelah mengalahkan rival lamanya, Kusuma murid unggulan Ki Sapta dan Lindu murid Ki Damar. Arya menang telak. Dengan wajah terlihat bangga, dia menantang siapapun murid padepokan itu untuk melawannya. Dua pertandingan tadi tak membuatnya puas.

"Hei! Pemuda asing bernama Jaka Geni! Meski kamu bukan murid padepokan Sigaluh, apa kamu berani bertukar jurus denganku!?" teriak Arya membuat Jaka tersenyum lalu menoleh ke arah Resi.

Sang Resi mempersilahkan Jaka pergi ke arena. Lalu dengan ilmu meringankan tubuh Kaki Awan yang diajari gurunya dia meloncat dengan enteng. Resi Sumbing dan dua Nyai kagum.

"Anak muda ini sepertinya lebih dari yang ku bayangkan," ucap Resi.

Jaka Geni mendarat di arena dengan tanpa suara. Arya cukup takjub melihat hal itu.

"Ilmu meringankan tubuhnya sudah sekelas ini...? " batin Arya sedikit merasa khawatir.

"Pangeran, orang rendahan ini memohon bimbingan kepada pangeran," ucap Jaka sambil membungkuk hormat.

Di tempat penonton Kinasih dan Anggita menatap Jaka dengan perasaan masing-masing terlihat cemas. Mereka khawatir Jaka mengalami luka serius melawan murid berbakat seperti Arya Kartajaya.

Arya melesat dengan cepat ke arah Jaka. Dalam satu gerakan, Arya menggunakan beberapa jurus. Dengan dipadu kecepatan tinggi terlihat hanya satu jurus. Beberapa mata tak bisa ditipu, namun banyak mata merasa tertipu. Jurus Arya ini bernama Seribu Jarum.

Jaka tak tinggal diam, dia kerahkan satu jurus sakti miliknya bernama Banteng Geni. Dua jurus beradu, dan terdengar keras saat kedua tinju bertemu. Saat jurus itu beradu, ada satu pukulan tak terlihat mengarah pada Jaka. Inilah yang disebut jurus Seribu Jarum. Pukulan utama hanyalah pengalih perhatian saja, namun pukulan aslinya adalah pukulan tak terlihat itu. Jurus ini jarang ada yang bisa menahannya. Hanya sesama murid kelas atas yang tentu bisa memahami cara menahannya.

Meski tak terlihat, Jaka Geni bisa merasakan aura tenaga dalam yang sangat kuat dari pukulan itu. Dia tak mau ambil resiko. Dikerahkannya satu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa kuatnya. Bahkan dari atas langit yang cerah seketika menjadi mendung dan dengan sangat cepat satu cahaya kilat menyambar kebawah! Suara dahsyat terdengar menggelegar di puncak Gunung Sumbing.

Petir itu menghantam tubuh Jaka Geni bersamaan dengan pukulan Jarum Seribu menghantam dada pemuda.

"Celaka!" pekik Arya namun tak sempat menarik tangannya. Alhasil ketika tinjunya menghantam tubuh Jaka yang tersambar petir, justru dia yang terpental jauh. Pukulan Jarum Seribu tidak melukai tubuh Jaka sama sekali. Arya terkejut melihat baju bagusnya sedikit terbakar. Lebih terkejut lagi, saat dia menatap Jaka yang berdiri dengan gagah tanpa terluka sedikitpun.

"Bagaimana bisa... " ucap Arya perlahan.

Para Guru dan Resi dibuat terheran-heran.

"Benar-benar pendekar yang mengerikan... Petir itu benar-benar menyambar tubuhnya..." ucap Nyai Laras yang sangat takjub. Nyai Sari hanya terdiam dengan wajah sedikit pucat.

Resi Sumbing terlihat tenang.

"Itu adalah ajian Gledek milik Mahameru. Kemungkinan yang ini ajian Gledek Membelah Langit. Aku tak percaya anak semuda ini bisa menguasai tiga ajian Gledek gurunya yang sangat sakti. Kalau dia sudah menguasai ajian ini, dua ajian lainnya yaitu Ajian Gledek Sambar Nyawa dan Ajian Gledek Mengguncang Bumi sudah dikuasai sepenuhnya oleh pendekar ini. Itu berarti, dia hampir sekelas gurunya di usia yang masih sangat muda!" kata Resi Sumbing dengan dada bergetar.

"Bahkan, tak ada satu murid pun dari padepokan ini yang menguasai seluruh ilmu dariku. Mahameru, kau sangat beruntung..." batin sang Resi.

Kembali ke arena...

Jaka menatap Arya yang segera bangkit berdiri.

"Sihir macam apa yang kau lakukan Jaka!? Bahkan jika itu batu sekalipun, akan hancur dihantam petir! Bagaimana dirimu tetap utuh setelah tersambar petir!?" tanya Arya diliputi rasa penasaran. Jaka tersenyum.

"Aku tak bisa menjawabnya Pangeran Arya. Kau bisa tanyakan kepada gurumu nanti, sekarang sebaiknya jangan diteruskan. Kalau kau tak mau cacat seumur hidup." kata Jaka Geni tenang. Namun ucapan itu membuat Arya meradang.

"Sombong!!!" Arya kembali melesat dengan tenaga dalam penuh. Dia kerahkan satu jurus rahasia yang dia dalami dari kakak wanitanya sang Dewi Mentari.

Semua orang terkejut Arya menggunakan ajian milik perguruan lain.

"Itu, jurus Mentari Pagi tahap pertama!" ucap Nyai Laras merasa gusar. Resi Sumbing diam tak berucap satu kata pun.***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Perjalanan Sang Batara   315.Pembicaraan Di Tengah Malam

    Lu Che gelisah tak bisa memejamkan mata. Beberapa kali dia pindah posisi tidur namun tetap saja gelisah. Dia menatap langit-langit kamarnya. "Jika kakak Jaka berada di sini, mungkin aku akan tenang." pikir gadis itu. Ingatannya terbayang kembali saat dia dan pemuda itu melakukan hubungan badan. Wajahnya seketika memerah, dan senyum mengembang di bibirnya. "Dia sangat luar biasa..."Sementara itu Chang Yun pun tak bisa tidur karena gelisah. Dia pun memikirkan hal yang sama. Li Mey membuka matanya mendengar Chang Yun yang beberapa kali membuang nafas dengan suara keras. "Kenapa kak?" tanya Li Mey. Chang Yun menoleh.Dia tersenyum tawar. "Tidak apa-apa adik Mey," jawab nya. Li Mey tersenyum lalu membelai rambut Chang Yun dengan lembut. "Aku tahu kakak memikirkan kakak Jaka, dan juga pertolongan Lu Che beberapa hari yang lalu. Lebih baik kakak berunding dengan kak Lu Che agar kalian bisa menyelesaikan masalah hati ini dengan baik. Kalau melihat kakak Jaka Geni yang tampan dan sebaik

  • Perjalanan Sang Batara   314.Kekalahan Pasukan Sui

    Kerajaan Sui gempar saat mendengar berita satu juta lebih prajurit yang di kerah kan untuk menaklukan Kerajaan Silla, Baekje dan Goryeo kalah. Bahkan yang lebih memalukan lagi kekalahan mereka terjadi saat mereka masih berada di Kerajaan Goryeo. Pasukan yang begitu banyak harus bertahan hidup dari serangan pasukan pertahanan Goryeo dan bencana kelaparan.Mendengar kabar itu murka lah Kaisar Yang. Dia menyuruh Menteri Li Yuan memecahkan permasalahan itu. Terutama masalah kelaparan. Karena gudang penyimpan makanan mereka di bakar oleh penyusup. Sehingga mereka kesulitan. Penyusup dari Goryeo yang di perintahkan oleh Panglima Yu Shin, berhasil membakar beberapa gudang makanan prajurit Yang. Karena para prajurit terlalu sibuk memikirkan perang, mereka tidak menyangka bahwa musuh akan membakar gudang penyimpanan. Kelemahan terbesar dalam peperangan besar dan prajurit yang sangat banyak adalah makanan. Saat sumber makanan terhenti, maka dalam hitungan hari semua akan berakhir. Setelah g

  • Perjalanan Sang Batara   313.Sepasang Ular Dewa

    Saat Siluman Ular Putih Xian Hui menerjang, Jaka Geni teringat pada sepasang ular pemberian Nyai Lanjar waktu berada di laut Utara. "Lang dan Ling keluar lah!" teriak Jaka. Tiba-tiba tubuh Jaka Geni bersinar putih kekuningan. Lalu dari mulutnya melesat dia makhluk kecil yang panjang. Saat berada di luar tubuh Jaka, makhluk itu berubah menjadi ular raksasa berwarna putih kekuningan. Ular bernama Lang langsung menerkam Xian Hui dengan taringnya. Mereka bergumul dan saling gigit. Sementara Ling melingkari tubuh Jaka Geni. "Ular sebesar ini berada di dalam tubuhku?" batin Jaka tak percaya. Lang menerjang dengan keras membuat tubuh Xian Hui terpental dan menabrak pohon hingga tumbang. Pertarungan mereka terdengar bergemuruh karena tubuh dua ular yang sama-sama besar. Xian Hui tak percaya akan bertemu ular yang tidak kalah besarnya. Di tambah Lang sangat ganas dan tak mau di ajak berbicara. Beberapa kali Xian Hui mencoba tetap saja dia gagal seolah ular itu tidak mengerti apa yang dia

  • Perjalanan Sang Batara   312.Terdesak

    Sementara itu di kawasan Selatan di daerah Kerajaan Nang Yue, para urusan dari Kaisar Yang Sui mendirikan perkemahan di perbatasan Sui dan Kerajaan Nang Yue. Kerajaan Nang Yue memberontak dari Dinasti Sui. Mereka tidak sudi hanya mengirim upeti namun perdagangan mereka anjlok. Tidak ada keuntungan sama sekali yang masuk ke dalam Kerajaan Nang Yue, yang di pimpin oleh Raja Champa. Li Jian Cheng alias Cheng-cheng kakak dari Li Shimin, menjadi urusan Kaisar. Namun Li Mi,paman Cheng-cheng atau adik dari Menteri Pertahanan Li Yuan ikut serta atas perintah Kaisar untuk mengawasi pekerjaan Cheng-cheng. Cheng merasa dirinya dicurigai karena pasukan Kerajaan yang berada di bawah kendalinya lebih dari lima puluh ribu prajurit. Tujuan dia memang membantu para pasukan yang kalah dalam pertempuran melawan pasukan Champa. Di tambah hawa panas di Kerajaan Nang Yue membuat mereka kekurangan cairan. Sementara air bersih sangat sulit di jumpai di kawasan yang kering kerontang itu. Ribuan prajurit

  • Perjalanan Sang Batara   311.Kekuatan Siluman Ular Putih

    Xian Hui terus mendesak Jaka Geni dengan serangan serangan tenaga dalam. Jaka yang berusaha menghindar akhirnya mau tak mau harus berhadapan secara langsung. Meski dengan tangan kosong, Xian Hui tetap bisa mengimbangi Jaka Geni yang menggunakan golok hijau. "Kamu bukan orang Zhuo Guo! Bagaimana bisa orang asing sepertimu nyasar di tanah ini dan berbuat dosa seenaknya!?" hardik Xian Hui. Jaka Geni nyengir saja tanpa bersalah sedikit pun. "Aku datang dari jauh bukan berniat untuk enak-enak di tempatmu kek! Itu hanyalah kebetulan tanpa di sengaja! Harusnya kamu maklum saja dengan jiwa muda sepertiku ini!" balas Jaka. "Anak muda sialan! Aku belum puas jika belum menghukum dirimu!" teriak Xian Hui semakin gencar menyerang Jaka. Jaka semakin kelabakan. Kekuatan racun es milik Xian Hui sangat sakti. Dia harus menghindari serangan-serangan berbahaya itu sekaligus menangkis nya. "Gawat...!" pikir Jaka. Gerakan Xian Hui semakin menjadi-jadi. Sekejap dia menghilang menjadi asap putih dan

  • Perjalanan Sang Batara   310.Siluman Ular Xian Hui

    Jaka Geni bersama tiga gadis itu makan ikan bakar bersama. Mereka terlihat sangat kelaparan. Terbukti dengan puluhan ekor ikan bakar berukuran sedang habis di lahap dalam sekejap. "Ternyata kamu ahli dalam membuat makanan," puji Lu Che sambil tersenyum. Chang Yun yang merasa cemburu pada wanita itu langsung menyahut. "Kakak Jaka memang ahli dalam memasak, dia juga ahli di semua hal. Hanya saja kamu kurang begitu paham." kata Chang Yun. Panas wajah Lu Che mendengar cemooh gadis itu. Dia segera menyahut ucapan panas Chang Yun. "Oh ya?Aku kira,kamu tahu semua yang Kakak Jaka lakukan. Apakah kamu tahu, apa yang kami lakukan di luar sana?" tanya Lu Che tak kalah panas. Mata Chang Yun melotot. "Kau!" hardik nya marah. Lu Che tertawa kecil melihat Chang Yun kesal. Jaka Geni yang berada di dekat mulut goa menoleh sesaat, namun dia kembali acuh tak acuh. Dia tangah sibuk menutup lubang-lubang kecil di pintu masuk. "Dia paling suka dengan bermain di dalam air, apakah kamu pernah melaku

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status