LOGINSosok itu mendekati Jaka yang masih terlelap. Sesaat dia diam di depan Jaka dan menatapi pemuda itu dengan tatapan tajam.
"Kamu harus mati anak muda... agar semua yang direncanakan lebih cepat berhasil. Keadaanmu sangat membahayakan..." sosok itu bergumam. Dari balik bajunya dia keluarkan sebilah keris. Ketika keris itu di tarik dari sarungnya, satu sinar biru redup memancar pertanda keris itu mengandung racun jahat. Dengan cepat sosok itu hunjamkan keris ke dada Jaka. Di saat krisis keadaan, tiba-tiba Jaka Geni menggerakkan tangan kirinya menangkis tangan sosok berbaju hitam itu dan dalam satu tarikan nafas tangan kanannya melepas ajian Angin Menyapa Semeru yang ternyata sudah disiapkan dari tadi. Hantaman itu telak mendarat di perut sosok tadi hingga terpental beberapa meter hingga terhenti oleh pagar. Dari cadar orang itu merembes darah merah segar. Dalam keadaan terluka cukup parah, sosok itu bangkit berdiri lalu pergi keluar pondok tempat Jaka. Pemuda yang ternyata tak terpengaruh ilmu tidur segera berlari mengejar. Namun dia kehilangan jejak. Dia melihat ke lantai kayu dan terlihat satu keris yang dipakai sosok tadi untuk membunuhnya. "Pukulan ku cukup telak, meski hanya setengah tenaga dalam ku, dia pasti akan kesakitan beberapa hari. Untungnya aku tahu ilmu tidur itu, jadi dengan tenaga dalam petir, bisa melindungi dari pengaruh sihir dan racun... Aku akan melihat keadaannya besok. Kalau kecurigaan ku benar, mati kau Ki Damar..." tinju Jaka terkepal. Keris ditangannya bersinar biru redup. Tenaga dalamnya mengalir di keris itu. Amarahnya hampir tak bisa di bendung, mengingat dirinya seolah hanya jadi mainan seseorang. Keesokan harinya... Kinasih membuka pintu pondok Jaka. Sambil membawa nampan berisi makanan dia masuk kedalam ruangan itu. Terlihat Jaka tengah bertelanjang dada. Matanya terpejam. Tubuhnya berkeringat. Dia tengah melatih tenaga dalamnya. Melihat tubuh kekar berotot dan kokoh itu membuat jantung Kinasih berdebar. Dia menggigit bibir mungilnya karena merasa sangat ingin memegang dada bidang Pendekar kita. Namun itu tak berani dia lakukan. Dia hanya berdiri mematung sambil menatap Jaka Geni berlatih. Jaka Geni membuka matanya. Pandangan matanya beradu dengan mata Kinasih yang masih menatap ke arahnya. Sejurus kemudian Kinasih memalingkan wajahnya dengan rona merah terlihat menghiasi wajahnya hingga terlihat semakin cantik. Jaka tersenyum. Di tariknya gadis cantik itu hingga duduk disampingnya. Kinasih hanya diam membisu. Jantungnya sudah berdebar sangat keras. Tangan Jaka masih memegang pergelangan tangannya. "Sakit kang..." ucap Kinasih sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Jaka. "Oh.. Maaf adik.." Jaka melepaskan genggamannya. Kinasih mengangguk. Wajahnya masih terlihat memerah. "Terimakasih adik, sudah membawakan aku makanan..." kata Jaka. "Sama-sama kang, silahkan sarapan dulu kang, itu Kinasih yang masak..." ucap Kinasih malu-malu. Jaka tersenyum lalu diambilnya nampan di atas meja. "Kita makan bersama saja adik," ajak Jaka yang membuat Kinasih semakin berdebar. "Apa kakang tidak apa-apa?" tanya Kinasih merasa tak yakin dengan ajakan Jaka. "Apa kamu tidak mau?" Jaka balik bertanya. Kinasih memainkan rambut panjangnya. Jaka yang tidak begitu paham perasaan apa yang berkecamuk di hati si gadis, langsung menyodorkan piring berisi makanan. Lalu dengan perasaan tak menentu, Kinasih ikut makan bersama Jaka. Perasaan yang hangat terus menjalar di hatinya. Dia telah jatuh hati kepada pemuda yang baru beberapa hari di kenalnya. Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai makan, Kinasih pamit. Jaka keluar pondok. Dia berkeliling sambil memperhatikan sekitar. Banyak murid yang berpapasan menyapanya, namun ada juga yang acuh tak acuh. Saat Jaka lewat di depan pondok Ki Damar, dia melihat pintu itu sedikit terbuka. Dengan gerakan tanpa suara, Jaka mendekat lalu mengintip dari celah pintu. Dia melihat ada beberapa orang di dalam pondok. Dan terlihat Ki Damar tengah berada di atas balai-balai seperti tengah tidur. Saat dua orang itu berbalik badan akan keluar Jaka segera pura-pura berjalan seperti biasa. Saat berpapasan dengan dua orang murid tadi dia segera bertanya. "Ada apa dengan Ki Damar?" tanyanya. Dua orang murid Ki Damar itu saling pandang. "Guru tengah sakit secara tiba-tiba. Kami mengantarkan makan dan obat yang guru minta..." ucap salah seorang murid. Jaka mengelus janggutnya sambil mengangguk. "Baiklah, terimakasih saudara..." ucap Jaka lalu ijin kembali berjalan-jalan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kena kau Damar..." batin Jaka dengan puas. Di dekat tempat pelatihan adu tanding murid, Jaka bertemu dengan seorang murid padepokan yang terlihat berbeda dengan murid lain. Dia terlihat orang berkelas jika dilihat dari penampilannya. Murid ini bernama Arya yang dijuluki kawan-kawan seperguruannya dengan julukan Pendekar Rajawali. Julukan itu melekat padanya sejak dia sering menjuarai adu tanding antar murid di padepokan. Saat berpapasan dengan Jaka, mata Arya terlihat tidak menganggap keberadaan Jaka. Jaka merasa, itu tatapan merendahkan. Arya seperti mempunyai identitas besar. "Apa kau pemuda yang diselamatkan para guru?" tanya Arya dengan nada angkuh. Jaka menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. Arya merasa tak suka melihat senyuman itu. "Benar saudara, saya Jaka Geni, siapakah saudara ini?" tanya Jaka basa-basi. Arya menjabat tangan Jaka lalu berucap, "Aku Arya Kartajaya, putra Raja Sigaluh." Sambil berkata, tangannya menyalurkan tenaga dalam. Jaka tersenyum lebar. "Ternyata ada Pangeran Sigaluh di padepokan ini, saya merasa sangat terhormat!" kata Jaka sambil tersenyum. Awalnya Arya yakin, Jaka akan berlutut menerima tekanan tenaga dalamnya. Tapi tak di sangka, Jaka malah bisa bertahan bahkan tersenyum lebar kepadanya. Selesai jabat tangan Jaka ijin untuk kembali berjalan mengitari padepokan. Arya melihat telapak tangan kanannya yang tadi menjabat tangan Jaka, dia terkejut melihat telapak tangannya melepuh! "Dia orang yang kuat...!" ucapnya lirih. Namun perasaannya berkecamuk. Darahnya mendidih mengingat senyum Jaka yang mempermalukan dirinya. Siang hari para murid berkumpul di arena adu tanding. Hari ini akan di adakan adu tanding antar murid. Ki Sapta tidak bisa hadir karena dia tengah turun gunung menyelidiki kasus yang menimpa Jaka. Sedangkan Ki Damar juga tak bisa hadir karena sakit yang menimpanya secara tiba-tiba. "Damar sakit? Tidak biasanya seorang pendekar kelas tinggi sepertinya mendadak sakit." ucap Resi Sumbing kepada dua wanita yang tak lain adalah Nyai Laras dan Nyai Sari. "Dia tak mau di obati Resi. Katanya dia hanya tak enak badan. Aku juga tidak menyangka, ini pertama kalinya dia tiba-tiba sakit," kata Nyai Laras. Resi Sumbing mengelus janggut putihnya yang panjang. "Apakah ada sesuatu menimpa dirinya?" tanya Resi Sumbing. "Mungkin dia terkena luka tenaga dalam," Jaka tiba-tiba menjawab membuat tiga guru itu sontak kaget dan menatap ke arahnya. "Bagaimana kau bisa tahu anak muda?" tanya Nyai Sari penasaran. Jaka tersenyum. "Hanya menduga Nyai, seorang pendekar sepertiku saja tidak pernah sakit kecuali terkena serangan tenaga dalam. Apalagi Ki Damar yang sudah malang melintang di dunia persilatan..?" ucap Jaka membuat Nyai Sari dan Resi Sumbing mengangguk-angguk. "Benar, tapi siapa yang melukainya?" tanya Nyai Laras mulai tertarik pada Jaka. "Kalian bisa menanyainya, aku tak bisa menjawab pastinya." jawab Jaka santai. "Huh, jika benar dia terluka dalam, bukankah lawannya cukup hebat? Siapa di kerajaan Sigaluh ini yang bisa melukainya?" kata Nyai Laras merasa aneh. Jaka tersenyum. 'Aku hebat ternyata hahaha...' "Sudah lah, nanti kita jenguk dia. Sekarang fokus dulu ke arena adu tanding para murid." lata Resi Sumbing. Para murid lelaki dan perempuan telah berkumpul. Jumlahnya ada belasan murid kelas atas dan puluhan murid kelas bawah. Mereka terbagi menurut kelas. Kinasih ada di kelas atas bersama dengan murid perempuan lainnya. Jaka melihat Kinasih memang yang tercantik di antara lara murid lainnya. Nyai Laras tersenyum melihat Jaka yang terus mengarahkan tatapan matanya pada Kinasih. "Dia adalah murid ku yang paling berbakat. Apa kau tertarik padanya?" tanya Nyai Laras. Jaka tersenyum lebar. "Dia terlihat cantik, tapi ada satu lagi yang sepertinya cukup kuat, siapa dia?" tanya Jaka melihat satu gadis lain yang kecantikannya tak kalah dengan Kinasih. "Namanya Anggita. Dia murid terkuat ku. Kinasih belum tentu bisa mengalahkannya." ujar Nyai Sari tak mau kalah dengan Nyai Laras. Resi Sumbing tertawa terkekeh-kekeh. "Kalian, dari kecil hingga sekarang tidak berubah. Mirip dengan Kinasih dan Anggita. Mereka juga kelak akan menguasai seluruh ilmu seperti kalian." kata Resi Sumbing terlihat senang. Jaka melihatnya dengan perasaan senang juga. Dia jadi teringat kepada gurunya yg sendiri kesepian di puncak Semeru. Dari arah para murid melesat satu bayangan putih dan mendarat di tengah arena. Dia tak lain adalah Arya Kartajaya, Pangeran Kerajaan Sigaluh. Resi tersenyum melihat murid kebanggaannya itu telah turun ke arena. "Dia murid paling berbakat di padepokan ini, sejauh ini hanya ada beberapa murid yang bisa sedikit mengimbanginya. Sayang sekali sifatnya selalu arogan." Resi Sumbing berkata sambil mengelus janggutnya. "Seorang Pangeran sudah biasa menjadi arogan. Pangeran seperti itu sebenarnya tak layak menjadi seorang Raja." kata Jaka kembali membuat tiga guru terkejut. "Kau kenal padanya?" tanya Resi penasaran dengan perilaku Jaka yang terasa tak sopan. "Bukan hanya kenal, dia juga pernah tegur sapa denganku padi tadi. Dan salam kenalnya luar biasa..." jawab Jaka sambil tersenyum. Nyai Sari menanggapi jawaban Jaka. "Sebenarnya dia anak ketiga dari tujuh bersaudara. Kakak pertamanya seorang perempuan yg sekarang tengah berguru di Padepokan Atas Awan di kadipaten Diyang. Orang-orang Sigaluh menyebutnya Negri di atas awan. Padepokan ini besar hingga punya ratusan murid berbakat dan semua muridnya perempuan. Kamu pasti tahu, seorang pendekar wanita berjuluk Dewi Awan Putih. Dia adalah mahaguru di padepokan atas awan. Dan kakaknya Arya ini, punya gelar hebat di Kerajaan Sigaluh dengan gelar Dewi Mentari." Jaka terdiam. Otaknya berputar mengingat nama Dewi Awan Putih. Akhirnya dia mengingat satu kejadian, yang membuat gurunya si Eyang Mahameru mundur dari dunia persilatan. "Aku ingat, wanita tercantik di tanah jawa waktu itu, membuat perjanjian dengan guruku. Hingga guruku terpaksa mundur dan mengasingkan diri." ucap Jaka Geni. "Benar, kejadian 20 tahun lalu itu, cukup menggemparkan dunia persilatan. Pendekar kelas wahid seperti Mahameru tunduk pada kecantikan seorang wanita, sangat disayangkan..." berkata Resi Sumbing. "Biarlah itu menjadi kenangan. Aku ingin tahu, siapa kakak kedua Arya Kartajaya ini? Kenapa bukan dia yang jadi putra mahkota?" tanya Jaka. "Dia telah mundur dari calon mahkota. Karena dia punya kekurangan pada tubuhnya. Sejak kecil, dia buta. Hingga sekarang, dia pergi dan belum kembali ke Sigaluh. Katanya, dia pergi bersama seorang petapa sepertiku. Aku berharap, pemuda itu menjadi pendekar yang baik di masa mendatang." terang Resi Sumbing. Jaka mengangguk-anggukan kepala. Dari arena, terlihat Arya berdiri angkuh setelah mengalahkan rival lamanya, Kusuma murid unggulan Ki Sapta dan Lindu murid Ki Damar. Arya menang telak. Dengan wajah terlihat bangga, dia menantang siapapun murid padepokan itu untuk melawannya. Dua pertandingan tadi tak membuatnya puas. "Hei! Pemuda asing bernama Jaka Geni! Meski kamu bukan murid padepokan Sigaluh, apa kamu berani bertukar jurus denganku!?" teriak Arya membuat Jaka tersenyum lalu menoleh ke arah Resi. Sang Resi mempersilahkan Jaka pergi ke arena. Lalu dengan ilmu meringankan tubuh Kaki Awan yang diajari gurunya dia meloncat dengan enteng. Resi Sumbing dan dua Nyai kagum. "Anak muda ini sepertinya lebih dari yang ku bayangkan," ucap Resi. Jaka Geni mendarat di arena dengan tanpa suara. Arya cukup takjub melihat hal itu. "Ilmu meringankan tubuhnya sudah sekelas ini...? " batin Arya sedikit merasa khawatir. "Pangeran, orang rendahan ini memohon bimbingan kepada pangeran," ucap Jaka sambil membungkuk hormat. Di tempat penonton Kinasih dan Anggita menatap Jaka dengan perasaan masing-masing terlihat cemas. Mereka khawatir Jaka mengalami luka serius melawan murid berbakat seperti Arya Kartajaya. Arya melesat dengan cepat ke arah Jaka. Dalam satu gerakan, Arya menggunakan beberapa jurus. Dengan dipadu kecepatan tinggi terlihat hanya satu jurus. Beberapa mata tak bisa ditipu, namun banyak mata merasa tertipu. Jurus Arya ini bernama Seribu Jarum. Jaka tak tinggal diam, dia kerahkan satu jurus sakti miliknya bernama Banteng Geni. Dua jurus beradu, dan terdengar keras saat kedua tinju bertemu. Saat jurus itu beradu, ada satu pukulan tak terlihat mengarah pada Jaka. Inilah yang disebut jurus Seribu Jarum. Pukulan utama hanyalah pengalih perhatian saja, namun pukulan aslinya adalah pukulan tak terlihat itu. Jurus ini jarang ada yang bisa menahannya. Hanya sesama murid kelas atas yang tentu bisa memahami cara menahannya. Meski tak terlihat, Jaka Geni bisa merasakan aura tenaga dalam yang sangat kuat dari pukulan itu. Dia tak mau ambil resiko. Dikerahkannya satu kekuatan tenaga dalam yang luar biasa kuatnya. Bahkan dari atas langit yang cerah seketika menjadi mendung dan dengan sangat cepat satu cahaya kilat menyambar kebawah! Suara dahsyat terdengar menggelegar di puncak Gunung Sumbing. Petir itu menghantam tubuh Jaka Geni bersamaan dengan pukulan Jarum Seribu menghantam dada pemuda. "Celaka!" pekik Arya namun tak sempat menarik tangannya. Alhasil ketika tinjunya menghantam tubuh Jaka yang tersambar petir, justru dia yang terpental jauh. Pukulan Jarum Seribu tidak melukai tubuh Jaka sama sekali. Arya terkejut melihat baju bagusnya sedikit terbakar. Lebih terkejut lagi, saat dia menatap Jaka yang berdiri dengan gagah tanpa terluka sedikitpun. "Bagaimana bisa... " ucap Arya perlahan. Para Guru dan Resi dibuat terheran-heran. "Benar-benar pendekar yang mengerikan... Petir itu benar-benar menyambar tubuhnya..." ucap Nyai Laras yang sangat takjub. Nyai Sari hanya terdiam dengan wajah sedikit pucat. Resi Sumbing terlihat tenang. "Itu adalah ajian Gledek milik Mahameru. Kemungkinan yang ini ajian Gledek Membelah Langit. Aku tak percaya anak semuda ini bisa menguasai tiga ajian Gledek gurunya yang sangat sakti. Kalau dia sudah menguasai ajian ini, dua ajian lainnya yaitu Ajian Gledek Sambar Nyawa dan Ajian Gledek Mengguncang Bumi sudah dikuasai sepenuhnya oleh pendekar ini. Itu berarti, dia hampir sekelas gurunya di usia yang masih sangat muda!" kata Resi Sumbing dengan dada bergetar. "Bahkan, tak ada satu murid pun dari padepokan ini yang menguasai seluruh ilmu dariku. Mahameru, kau sangat beruntung..." batin sang Resi. Kembali ke arena... Jaka menatap Arya yang segera bangkit berdiri. "Sihir macam apa yang kau lakukan Jaka!? Bahkan jika itu batu sekalipun, akan hancur dihantam petir! Bagaimana dirimu tetap utuh setelah tersambar petir!?" tanya Arya diliputi rasa penasaran. Jaka tersenyum. "Aku tak bisa menjawabnya Pangeran Arya. Kau bisa tanyakan kepada gurumu nanti, sekarang sebaiknya jangan diteruskan. Kalau kau tak mau cacat seumur hidup." kata Jaka Geni tenang. Namun ucapan itu membuat Arya meradang. "Sombong!!!" Arya kembali melesat dengan tenaga dalam penuh. Dia kerahkan satu jurus rahasia yang dia dalami dari kakak wanitanya sang Dewi Mentari. Semua orang terkejut Arya menggunakan ajian milik perguruan lain. "Itu, jurus Mentari Pagi tahap pertama!" ucap Nyai Laras merasa gusar. Resi Sumbing diam tak berucap satu kata pun.***Ratu Lu Che berteriak kesakitan. Sesaat tadi setelah dia tertusuk pedang Chang Yun, tiba-tiba dia merasa tubuhnya seperti tersengat api yang sangat panas hingga tubuhnya terpental. Itu adalah ledakan kekuatan petir milik Chang Yun. Para pengikut Ratu Lu Che langsung menyerang kearah Chang Yun begitu melihat ketua mereka terluka. Cakar besi yang menggantung di pinggang segera mereka pakai untuk mengeroyok Chang Yun. "Jangan gegabah!" teriak Ratu Lu Che, namun para pengikutnya terlanjur menyerang. Chang Yun tidak gentar menghadapi delapan orang sekaligus. Dengan ajian Gledek Sambar Nyawa yang dia pelajari dari Jaka Geni, dengan lincah Chang Yun menangkis dan menyerang. Shin tak menyangka Chang Yun adalah seorang pendekar berkelas. Bahkan ketua di Serikat Teratai Biru berhasil dia lukai. "Lu Che, kau terlalu ceroboh." ucap Shin dalam hati. Dia lebih serius mengamati Chang Yun bertarung daripada melihat ke arah Jak Geni. Itu karena dia penasaran dengan kekuatan yang baru saja gadis it
Jaka Geni dan Chang Yun berhenti di sebuah kuil tua. Bangunan kuil itu seperti sudah lama sekali tidak di gunakan. Melihat dari patung-patung di sana, terlihat bahwa itu kuil Buddha. "Bagaimana menurut mu Chang Yun, ada kuil ditengah hutan." celetuk Jaka. "Tidak masalah kak, sepertinya ini kuil yang di bangun oleh pejabat sebelumnya, hanya saja melihat keadaan kuil ini seperti sudah puluhan tahun di tinggalkan." sahut Chang Yun. Mereka mendorong pintu kayu besar yang langsung menuju halaman kuil. Halaman itu terlihat cukup luas, banyak rumput tinggi dan sampah daun kering menumpuk. Jaka melangkahkan kaki pertama kali ke halaman tersebut. Chang Yun menyusul. Mereka melangkah dengan waspada. Saat kaki Jaka melangkah ke arah dalam, dia mendengar suara berdesing dari kejauhan. "Chang Yun! merunduk!" teriak Jaka Geni. Gadis itu seketika merunduk. Sebuah pisau melesat di atas kepalanya lalu menancap di tembok. Mereka berdua menoleh ke arah depan mereka. Tak di sangka, Kun Long dan R
Ratu Lu Che berkelebat cepat menuju tempat persembunyian Jaka Geni dan Chang Yun. Saat dia bersama para bawahannya hampir sampai di dekat sungai, mata wanita itu terbelalak melihat beberapa mayat yang terkapar. "Kita terlambat! cepat kejar mereka!" seru Ratu Lu Che kepada para wanita bawahannya. Kun Long yang saat itu berada di seberang sungai menemukan dua mayat yang tergeletak tak jauh dari gubuk di atas pohon. Di periksa nya dua mayat yang tewas dengan lubang di kepala. Dia memperhitungkan jarak dua mayat itu dengan gubuk yang ada di atas pohon. "Jaraknya sudah cukup untuk mengintai, tapi... dalam gelapnya malam, bagaimana dia bisa melempar dengan tepat ke arah dua orang bodoh ini? Apakah dia turun lebih dulu? Akan tetapi jika dia turun, dua orang ini bisa kabur terlebih dulu. Dari keadaan tewas mereka yang saling bertumpu kan itu artinya mereka tewas di tempat tanpa perlawanan." batin Kun Long. Dia angkat golok nya ke atas. Dari ujung golok itu keluar cahaya hijau berkilat.
Tiga orang itu saling tatap saat seorang mata-mata yang mereka kirim datang menghadap. Puluhan pendekar langsung tertuju kepada seorang Pendekar berpakaian putih yang baru saja datang. "Bagaimana? Apa kalian menemukannya?" tanya Ratu Lu Che. "Kami menemukannya, saat ini Huang Li tengah mengawasi mereka." ucap lelaki yang baru saja datang tersebut. Kun Long menyeringai lebar. "Baiklah, apakah kita akan berangkat sekarang?" tanyanya meminta pendapat. Shin si Iblis Putih diam tak menjawab. Dia tak bersuara sedikit pun. "Kita akan serang mereka bersama. Melihat kematian Sio Tong, pendekar asing bernama Jaka Geni itu bukanlah orang biasa. Bahkan sampai membuat Kaisar mengutus Yang Sian Kan putra Yang Jie. Itu pertanda orang asing ini pendekar yang berbahaya." ucap Ratu Lu Che menanggapi ucapan Kun Long. Shin tersenyum sinis. Mata merahnya sedikit menyala. Ratu Lu Che dan Kun Long saling tatap melihat senyuman Shin yang menurut mereka mempunyai makna tersendiri. "Apa kamu punya pend
Pendekar berpakaian putih itu bergetar mendengar ucapan Chang Yun yang mengandung ancaman untuknya. Di tambah pedangnya yang telah buntung membuat keberaniannya runtuh. Chang Yun mendekati orang tersebut. Dalam hatinya dia ingin tertawa saat melihat lelaki itu terkencing kencing melihat dia melangkah semakin dekat. "Siapa kalian!?" tanya Chang Yun menghardik. Wajah orang tersebut pucat seketika mendengar hardikan sangat gadis. "Kami... kami hanyalah pendekar biasa dari kota Yao Chang. Kami di suruh orang Serikat Teratai Biru untuk mencari kalian... kami tidak ada maksud menyerang atau berbuat jahat! kami hanya memata-matai kalian, itu saja!" ucap lelaki itu terbata-bata. Chang Yun menatap tajam ke arah lelaki tersebut. Pedang nya di acungkan ke kening lelaki berpakaian putih itu. Senyum kecil menyeruak di bibir gadis itu. Melihat senyum manis Chang Yun, lelaki itu pun membalas senyuman si gadis. Dan ternyata itu adalah senyuman terakhirnya sebelum mata pedang Chang Yun yang tela
Mata Jaka Geni terbuka. Telinganya yang sudah terlatih mendengar satu gerakan. Dia menoleh ke arah Chang Yun yang masih terlelap. Jaka menutup tubuh Chang Yun yang terbuka. Kemudian dia memakai pakaiannya. "Apakah orang Serikat Teratai Biru lagi? cepat sekali mereka melacak keberadaan ku," batin Jaka Geni. Perlahan Jaka menggeser tubuhnya dan menuju ke arah pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Dengan tanpa suara Jaka membuka pintu tersebut. Kepalanya nongol untuk melihat ke bawah. Matanya berkilat hijau saat dia merapal ilmu Segoro Gaib. Pemuda itu tersenyum. Dia melihat ada beberapa orang mendekam di semak yang ada di seberang sungai. Dan ada lagi dua orang lainnya yang sudah berada tak jauh dari pohon dimana gubuknya berada. "Sepertinya kalian mencari mati datang ke sini, aku akan menuntun kalian mereka menemui pencabut nyawa," ucap Jaka dalam hati. Jaka mengambil dua baru kecil yang dia bawa ke atas. Biasanya Jaka melempar burung di pagi hari dari atas pohon itu. Tapi kali i






