Share

6.Padepokan Sigaluh

Penulis: Gibran
last update Tanggal publikasi: 2025-06-10 15:27:57

Pagi yang cerah terlihat begitu menentramkan. Suara burung berkicau menyambut terbitnya matahari dengan riang. Kehangatan menyeruak disertai uap embun pagi yang menyegarkan.

Dinginnya pegunungan tak mengurangi semangat manusia untuk mencari berkah.

Disebuah padepokan, terlihat puluhan murid tengah berlatih silat. Meski dinginnya pagi menusuk tulang, mereka dengan giat berlatih memperagakan jurus yang di ajarkan. Seorang lelaki paruh baya terlihat mengawasi gerakan setiap murid. Terkadang dia berteriak bila ada gerakan yang salah.

Padepokan kecil itu bernama padepokan Sigaluh. Sebuah padepokan yang berada di puncak gunung Sumbing. Meski padepokan ini kecil dan hanya puluhan murid di sana, namun ketenaran padepokan ini sudah terdengar di seantero jagad persilatan karena banyak pendekar sakti jebolan Padepokan Sigaluh. Bahkan Raja Kerajaan Sigaluh pun dulunya adalah murid padepokan itu.

Padepokan Sigaluh terkenal dengan ilmu kanuragan ajian Jari Langit yang pernah mengguncang dunia persilatan. Konon katanya ajian ini hanya bisa dikuasai oleh murid yang berprestasi. Karena untuk mempelajari ajian ini, sangatlah berat. Bahkan jika latihan ajian Jari Langit gagal, mereka akan menderita cacat fisik seumur hidupnya. Ajian ini tidak boleh asal digunakan karena dampaknya yang mengerikan. Jika serangan Jari Langit menghantam tubuh lawan, maka lawan itu akan lumpuh total dengan luka lubang lima jari dimana pukulan itu menghantam. Sejauh ini, tak ada obat untuk menyembuhkan efek terkena serangan mematikan ini.

Hingga saat ini, hanya beberapa orang pendekar yang bisa menguasai ajian Jari Langit. Salah satunya adalah Raja Sigaluh dan para guru Padepokan Sigaluh.

Tiba-tiba, di tengah keheningan pagi, terdengar suara seorang murid yang berteriak berkali-kali dari arah luar gapura padepokan.

"Tolong! Tolong! Ada orang terluka!" teriaknya keras memecah di pagi hari.

Semua murid menghentikan latihannya. Beserta dengan sang guru, mereka berlari ke arah gapura padepokan.

"Lindu, ada apa!?" tanya guru dengan wajah penasaran.

"Itu Ki Sapta, ada orang terluka parah saat aku sedang mengambil kayu di hutan!" ucap murid bernama Lindu.

"Baiklah, tenangkan dirimu, ayo kita periksa. Jangan semuanya ikut, nanti guru besar marah, biar aku dan beberapa saja. Sana kembali latihan, dan untuk yang akan ikut, bawakan tandu. Kalau bisa kita tolong, kita bawa ke padepokan." ucap Ki Sapta.

Lalu mereka bergegas ke arah hutan tak jauh dari padepokan. Tepatnya di lereng selatan.

Sesampainya di sana, Ki Sapta mendapati seorang pemuda yang tengah bersandar di sebuah batu besar. Wajahnya pucat seperti mayat. Dari bibirnya terlihat bekas darah yg mengering.

Ki Sapta membuka baju pemuda itu. Matanya terbelalak melihat ada lima lubang sebesar jari yang sudah menghitam. Lubang itu tidak asing baginya.

"Ajian Jari Langit...!" seru batinnya.

"Cepat bawa pemuda ini! Dia masih hidup. Kita akan menanyainya nanti jika dia bisa disembuhkan." ucap Ki Sapta.

Para murid segera membawa pemuda itu menggunakan tandu menuju ke padepokan Sigaluh.

Sesampainya di sana, pemuda itu dibaringkan di atas balai-balai.

Ternyata Mahaguru Padepokan yg berjuluk Resi Sumbing telah mendengar berita pemuda itu dan ingin melihat keadaannya. Ketika lelaki tua dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih itu datang semua murid membungkuk hormat, termasuk Ki Sapta.

"Resi, coba anda lihat luka di dada pemuda ini." ucap Ki Sapta lalu membuka baju pemuda itu. Mata sang Resi menatap tajam. Dia mengelus janggutnya.

"Sapta, ambilkan obat di ruangan ku. Semoga dia bisa diselamatkan agar jelas, siapa yang telah melukainya dengan ajian perguruan kita. Dan panggilkan para guru lainnya, kecuali Sari yang tengah bersemedi." perintah Resi Sumbing. Matanya tak lepas dari lima lubang di dada pemuda itu. Dengan cepat, dia memberikan totokan di leher dan dada pemuda itu. Lima lubang itu pun terlihat mengeluarkan sedikit asap tipis.

"Malang sekali nasibmu anak muda. Aku akan berusaha semampuku. Tapi takdir yang akan menentukan." kata Resi setelah sedikit alirkan tenaga dalam ke tubuh pemuda itu.

Tak berapa lama Ki Sapta datang bersama dua guru lainnya yang tak lain Nyai Laras dan Ki Damar. Setelah melihat pemuda yang tergeletak di sana dua orang yang baru datang terkejut.

"Bagaimana bisa Resi!? Bukankah, diluar sana hanya Raja Sigaluh yang mempunyai ajian ini?" tanya Nyai Laras.

"Tenang dulu. Kita hanya bisa menduga, tapi jawaban sebenarnya adalah dari pemuda ini. Kita akan coba sembuhkan dia, dan menanyakannya nanti. Semoga dia terselamatkan." jawab Resi tenang dan berwibawa.

Nyai Laras menoleh ke arah Ki Sapta dan Ki Damar. Dua lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala.

Lalu mereka memulai proses penyembuhan dengan tenaga dalam. Penyembuhan itu untuk mengeluarkan racun ajian Jari Langit yang sudah menjalar di tubuh pemuda itu.

Cukup memakan waktu, hingga beberapa jam kemudian mereka selesai.

"Hebat, anak muda ini bisa bertahan dari ajian ganas itu..." bisik Nyai Laras.

Dari lima lubang kecil di dada pemuda itu mengalir darah hitam mengepulkan asap tipis. Para guru dan Resi terlihat menghembuskan nafas lega. Mereka menyeka keringat yang membasahi wajah.

Pemuda yang mereka selamatkan terlihat lebih segar sekarang. Itu karena racun didalam tubuhnya telah keluar. Lalu Resi Sumbing menutup luka pemuda itu dengan ramuan obat.

"Biarkan dia istirahat. Dua hari lagi dia akan bangun." ucap Resi lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Para guru yang lain juga pergi hingga tinggal lah pemuda itu sendiri.

Dua hari kemudian...

Pemuda itu bangkit dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat. Dia menatap dadanya lalu menatap sekitar ruangan itu.

"Dimana aku... Apakah ini padepokan yang disebutkan orang itu?" katanya perlahan.

Samar dia mendengar suara para murid padepokan yang tengah berlatih. Dia segera bangkit dari duduknya lalu dengan perlahan dia berjalan ke jendela. Dari jauh terlihat para murid yang tengah berlatih silat.

"Benar, ini padepokan Sigaluh... Kenapa orang itu menyelamatkanku?"

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara langkah. Segera dia kembali berbaring di balai-balai.

Seorang gadis belia masuk ke ruangan itu. Gadis itu terlihat sangat cantik. Dia meletakan makanan dan minuman di atas meja. Lalu menghampiri pemuda itu. Gadis itu tersenyum.

"Kamu ganteng juga... Ternyata benar kata saudari seperguruan rumor tentang ketampanan mu..." ucapnya pelan.

Ketika gadis itu membalikan badan, pemuda itu menyambar lengan si gadis.

"Tunggu..!" kata pemuda itu yang membuat gadis cantik itu terkejut dan memerah seketika wajahnya.

"Kau...! Kau sudah siuman!?" pekik gadis itu yang merasa malu karena sebelumnya dia telah berkata sesuatu tentang pemuda itu. Pemuda itu tersenyum ramah.

"Tenanglah adik, aku tak bermaksud yang tidak-tidak..." ucap pemuda sambil melepas pegangan tangannya. Gadis itu duduk dengan wajah masih merona karena malu. Pemuda itu tahu apa yang tengah melanda si gadis.

"Aku sadar saat kau akan melangkah pergi. Secara tak sengaja tanganku meraih tanganmu. Maafkan kelancangan ku ini..." kata pemuda itu lalu mencoba membungkukkan badan. Namun gadis cantik itu mencegahnya.

"Sudahlah kakang, tak perlu sungkan... Aku kesini hanya untuk membawakan sarapan. Dan guruku bilang, bahwa hari ini kau akan siuman. Aku tak mengira kau sadar saat aku yang datang kesini... Sudah dua hari ini, saudariku yang merawat mu." kata gadis itu dan kembali mukanya memerah. Pemuda itu tersenyum melihat kelakuan gadis cantik itu.

"Terimakasih adik...sudah peduli padaku," ucap pemuda itu sambil tersenyum. Gadis itu terlihat senang melihat senyum pemuda. Sepertinya ada benih-benih yang tumbuh di hati si gadis.

"Oh iya, namaku Kinasih... Siapakah namamu kakang?" tanya gadis bernama Kinasih itu.

"Aku Jaka Geni. Biasa di panggil Jaka." balas Jaka.

"Ya sudah, kakang Jaka, aku melapor dulu ke guru tentang keadaan kakang." kata Kinasih lalu berpamitan. Jaka menatapnya hingga gadis itu hilang dari pandangan.

"Cantik sekali Kinasih..." ucapnya pelan. Jantungnya berdetak cukup keras. Dia hirup aroma wangi dari tubuh Kinasih. Masih tercium meski gadis itu telah pergi.

"Padepokan Sigaluh... Ada bidadari didalamnya... Tak menyesal aku hampir mati..." ucapnya lagi.

Namun tiba-tiba ada suara dari balik pintu ruangan.

"Tak menyesal? Hanya setelah melihat kecantikan satu orang padepokan?"

Jaka tersentak kaget. Dia tidak menyadari seorang lelaki paruh baya tengah berdiri di dekat pintu. Lelaki itu tertawa melihat wajah kaget pemuda.

"Tenanglah anak muda, aku Ki Damar salah satu guru disini. Dua hari lalu aku ikut mengobati mu bersama Resi dan guru lainnya." kata Ki Damar lalu melangkah masuk.

Jaka segera bangun lalu bersujud di depan lelaki itu.

"Terimakasih guru! Telah menyelamatkan nyawa tak berguna ini!"

"Bangunlah. Aku tak suka orang bersujud di hadapanku." kata Ki Damar.

Jaka pun segera berdiri dan memperkenalkan diri.

"Setelah kau bebersih diri, datanglah ke ruang Resi Sumbing di aula yang besar di sana. Kami akan mendengarkan apa yang kau alami hingga terluka separah itu." kata Ki Damar.

"Baik ki... Aku akan ke sana nanti."jawab Jaka.

"Kau termasuk beruntung ditolong keajaiban, ajian Jari Langit yang kau terima tak membuat pembuluh darahmu hancur. Dan hebatnya lagi, kau bisa menahan pukulan itu tak sampai menjebol dada mu. Aku penasaran, dari perguruan mana kau ini Jaka?" tanya Ki Damar dengan tatapan penuh selidik. Jaka menangkap tatapan itu dan sedikit merasa aneh.

"Aku dari sebuah kampung kecil di Kerajaan Blambangan ki. Aku berkelana untuk menimba ilmu hingga sampai di Kerajaan Sigaluh ini." jawab Jaka.

"Siapa guru mu nak?" tanya Ki Darma lagi.

"Guruku Eyang Guru Mahameru berjuluk Pendekar Tangan Dewa, apakah Ki Damar mengenalnya?" tanya Jaka.

Sesaat Ki Damar terdiam sambil mengelus jenggot panjangnya. Matanya sedikit menyorot tajam ke arah Jaka.

"Aku kenal gurumu itu, dia seorang pendekar tua yang namanya menggetarkan dunia persilatan tanah jawa ini. Bahkan, guru-guru besar padepokan tanah jawa pernah di buat tak berkutik oleh gurumu. Ajian Gledek milik gurumu benar-benar tak ada tandingan... Aku dengar, ajian itu terbagi beberapa jurus dengan tingkatan yang berbeda...benar-benar tangan Dewa..." kata Ki Damar dengan senyum lebar menghias wajahnya.

"Benar yang Ki Damar katakan, ajian itu terbagi beberapa tingkat. Tingkat tertinggi adalah ajian Gledek Membelah Langit, sayangnya, aku masih terlalu muda untuk menguasainya. Butuh latihan sangat keras Ki, dan tubuhku belum cukup kuat. Namun berkat ajian Gledek itu, aku selamat dari kematian secara langsung dari ajian Jari Langit orang misterius itu..." kata Jaka dengan wajah terlihat marah. Ki Damar menepuk bahu Jaka.

Tepukan itu mengandung tenaga dalam. Jika Jaka tak segera alirkan tenaga dalamnya, dia bisa tersungkur seketika.

"Kami orang padepokan Sigaluh pun merasa penasaran siapa orang yang mempunyai ajian Jari Langit itu. Selain Resi Sumbing, Ki Sapta, Nyai Laras, Nyai Sari, aku dan Raja Sigaluh tak ada yang mempunyai ajian itu. Jika ada pun, orang tersebut sudah mati dihukum oleh Resi puluhan tahun yang lalu karena dosa besar yang dia lakukan. Tubuhnya sudah dilempar ke jurang rajawali dan sudah dipastikan, tak ada orang yang bisa hidup jika jatuh ke dalam jurang sedalam ratusan meter itu." terang Ki Damar.

"Aku tak begitu paham dengan masalah dalam padepokan, Ki Damar tak perlu mengatakannya terlalu jauh, karena aku ini orang luar..." kata Jaka merasa tak enak mendengar permasalahan padepokan diceritakan kepadanya. Ki Damar tersenyum.

"Baiklah, aku akan pergi dulu. Kau bisa minta tolong ke Kinasih jika ada sesuatu. Jangan lupa, datang ke aula itu. Kita bahas permasalahan ini di sana bersama para guru." kata Ki Damar lalu pamit pergi. Jaka membungkuk hormat.~

Jaka keluar dari aula padepokan itu. Dia telah menjelaskan apa yang dia alami kepada Resi dan para guru. Semua guru di padepokan ikut bermusyawarah.

Besar kemungkinan serangan yang di alami oleh Jak adalah perbuatan murid Resi yang pernah dihukum di pubcak Rajawali. Selain itu ada dugaan yang tak disangka, yaitu adalah Raja Sigaluh. Hanya saja para guru tak bisa memutuskan, itu mutlak perbuatan Raja atau murid yang pernah dijatuhi hukuman.

Itu bisa membahayakan padepokan kecil itu jika ternyata bukan Raja pelakunya.

Ki Sapta pun langsung diutus turun gunung untuk mencari kebenaran tersebut. Sementara itu, Jaka menetap di padepokan Sigaluh untuk sementara waktu sambil menyembuhkan luka dalamnya.

Malam hari terlihat sepi. Hanya beberapa murid yang berkeliling menggunakan obor.Satu bayangan hitam melesat di atas atap aula.Jaka yang tengah mengolah tenaga dalam merasakan hawa kehadiran seseorang.

"Penyusup?" batinnya. Dia bangkit dengan perlahan. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam di telapak tangan. Ajian sakti Angin Menyapa Semeru telah siap di keluarkan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tadinya Jaka ingin menyiapkan ajian Gledek Mengguncang Bumi, namun ajian itu terlalu kuat dan penyusup sudah pasti bisa merasakannya.

Perlahan dia keluar dari ruangan tempat dia tinggal. Lalu dengan ilmu meringankan tubuh dia melesat ke arah atap. Dia mengendap dan mengawasi gerak-gerik mencurigakan seseorang di atas atap aula. Terlihat beberapa murid yang berpatroli tidak menyadarinya. Jaka bisa merasakan, jika penyusup ini bisa membantai 4 orang murid yang tengah berkeliling itu dengan sekali gerakan.

Setelah murid-murid itu pergi menjauh, Jaka melihat sosok itu turun dan berlari ke arah pintu ruangan Ki Damar. Jaka menatapnya dengan seksama. Jaka menunggunya beberapa saat lamanya. Namun sosok itu tak kunjung keluar.

"Siapa orang itu...? Aku curiga..." ucapnya pelan. Karena penyusup itu tak kunjung keluar, Jaka memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan menunggu esok hari untuk memastikan.

Jika dugaannya benar, semua yang di alaminya adalah perbuatan Ki Damar. Lalu apa alasan Ki Damar melakukan tindakan misterius seperti itu?

Seolah Jaka adalah umpan untuk sesuatu yang besar. Jaka ingat, orang yang mencelakainya itulah yang menyuruhnya pergi ke padepokan Sigaluh yang berada di puncak Sumbing. Dan dalam keadaan luka dalam parah dia berlari menggunakan ajian Kijang Kencana menuju puncak Sumbing.

Sayangnya dia kehabisan tenaga sebelum sampai hingga akhirnya dia ditemukan seorang murid. Yang bikin Jaka merasa janggal, kenapa orang misterius itu tidak membunuhnya, tapi malah menyuruhnya pergi ke Padepokan Sigaluh?

Jaka masih terus memikirkan hal itu hingga akhirnya dia pun tiba-tiba merasa sangat ngantuk dan tak berapa lama dia mulai tertidur lelap. Sesaat setelah Jaka tertidur, sesosok bayangan menyelinap ke dalam ruangan lalu menghampirinya.

Siapakah sosok misterius yang tiba-tiba datang ke ruangan sang pendekar? Dan apa yang akan dia perbuat terhadap pemuda yang tengah terpengaruh ilmu sihir itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Samsudin Acok
ajian jari gledek namanya di aplikasi novel me ya kan?ini versi 1nya dn ada versi 2ya kn?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perjalanan Sang Batara   350.Raja Naga Long Wang

    Di pegunungan es bagian utara bangsa Mongol, ada sebuah tempat yang paling di sakral kan oleh bangsa utara.Mereka adalah orang-orang suku Bei yang hidup di tengah-tengah es yang dingin. Bagaimana mereka bisa kuat hidup di tempat yang sangat dingin itu? Di atas pemukiman suku Bei itu ada sebuah anak tangga yang sangat tinggi. Ada lebih dari sepuluh ribu anak tangga. Konon hanya orang tertentu yang kuat sampai di atas sana. Menurut kabar,nenek moyang para suku Bei itu pernah sampai di puncak anak tangga.Mereka menceritakan pengalaman mereka di atas sana dengan menulis semua kisahnya di atas sebuah balok es.Di tulisan itu menceritakan pengalaman nenek moyang mereka yang bertemu dengan sosok ular Naga misterius penunggu bukit es tersebut. Mereka mendapat hadiah dari sang ular naga berupa api merah yang tak pernah padam. Api itu mereka taruh di atas obor besar yang ada di tempat upacara adat. Api itulah yang menjaga suku Bei dari hawa dingin yang luar biasa. Mereka memanggil sang Na

  • Perjalanan Sang Batara   349.Kerajaan Jiwa Jaka Geni

    Jaka Geni membuka matanya. Dia terkejut saat mendapati dirinya tengah duduk di sebuah singgasana besar yang di penuhi aliran petir merah. Dia lebih terkejut lagi di bawahnya, tepatnya berada di hadapannya telah duduk saling berhadapan empat orang yang menatap ke arahnya. Di tengah mereka ada sebuah meja panjang berwarna emas yang memanjang hingga hampir mencapai pintu besar di depan sana. Jaka kenal betul dengan tiga orang dari empat orang tersebut. "Lang, Ling, dan kamu Xian Hui, bagaimana aku bisa bertemu kalian di tempat yang aneh ini? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Jaka dengan wajah bingung dan penasaran. "Tuan tidak perlu panik, kita berada Kerajaan Jiwa milik tuan," kata Xian Hui sambil menunduk hormat. Lang pun menghormati dan membenarkan ucapan Xian Hui. Ling diam saja di tempat. "Kerajaan Jiwa?" tanya Jaka Geni yang tak tahu apa-apa tentang Kerajaan jiwa miliknya. "Benar tuan, jika seseorang telah mencapai ranah Surga, dia bisa menciptakan Kerajaan jiwa miliknya se

  • Perjalanan Sang Batara   348.Pendekar Telapak Iblis

    Yang Chu bersama Yo Fan menghadap Putri Nanyang yang duduk di atas singgasana nya. Terlihat kepala gadis itu di ikat menggunakan kain hingga ke mata kirinya sehingga dia lebih mirip dengan mumi. Hanya mata kanan hidung dan bibirnya saja yang terlihat. "Tuan putri memanggil kami?" tanya salah satu ketua Serikat Teratai Biru. "Benar, ada tugas untuk kalian. Tapi jangan biarkan orang-orang tahu bahwa diriku terluka. Terutama paman Yang Jie,dia akan mencari celah saat aku terluka," ucap Putri Nanyang. Yang Chu menatap gadis itu sesaat. "Ada apa dengan Yang Jie tuan putri?" tanya dia penasaran. "Yang Jie mempunyai sifat yang licik. Jika dia tahu aku terluka dia akan bersandiwara untuk memerintahkan pengejaran besar-besaran terhadap Jaka Geni. Aku tidak ingin terjadi huru hara yang di sebabkan olehku, karena ayah bisa murka padaku. Itu sebabnya aku lebih baik mengutus kalian memburu Jaka Geni," kata Putri Nanyang dengan suara bergetar. "Baik Putri, akan kami lakukan. Lagi pula, dia j

  • Perjalanan Sang Batara   347.Kelemahan Iblis Kabut

    Iblis Kabut tersenyum menyeringai melihat Chang Yun yang bersiap menyerangnya. Saat gadis itu mulai bergerak, tiba-tiba dari dalam tanah meledak dengan keras tepat di bawah kaki Chang Yun. Gadis itu terkejut, dan tubuhnya terpental ke udara. Dari asal ledakan meluncur kabut hitam dengan wujud kepala mengerikan dengan mulut menganga. Dari belakang Chang Yun melesat dua tangan kabut raksasa yang mencengkram kedua tangan dan kakinya. Chang Yun tak bisa berkutik. Dia menjerit sekeras mungkin untuk di lepaskan. "Sekuat apa pun petir yang melindungi mu,pasti tak akan selamanya bertahan dari serangan sakti milikku secara bertubi-tubi. Lihatlah, apakah kau mampu menahannya?" ucap sang Iblis. Chang Yun berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman tangan kabut hitam tersebut. Namun tak bisa karena cengkraman itu sangat kuat. Dari arah depan kabut berwujud kepala yang mulutnya menganga menyambar tubuh si gadis dengan keras. Sambaran pertama kabut itu terpental oleh kekuatan peti

  • Perjalanan Sang Batara   346.Kekuatan Pamungkas

    Tinju Chang Yun bergerak cepat menghantam ke arah tinju Li Mi yang juga tengah mengarah kepadanya. Dua tinju itu pun saling beradu dengan keras. Tubuh Li Mi langsung terpental hingga tiga tombak ke belakang.Dia mendarat dengan kaki dan tangan yang mencengkram tanah bebatuan. Sedangkan Chang Yun hanya terdorong ke belakang beberapa langkah saja. Tak butuh waktu lama, sekejap kemudian Chang Yun sudah melesat kembali ke arah Li Mi dengan kekuatan penuh. Jaka Geni yang masih berada dalam wujud Yang Sian Kan tersenyum bangga melihat perkembangan Chang Yun,murid sekaligus kekasihnya itu. "Sepertinya kamu layak mendapat julukan Dewi Petir..." ucap Jaka Geni. Li Mi dengan cepat menangkis setiap serangan ganas Chang Yun. Dengan kekuatan Kabut Iblis dia berkali-kali berhasil menghantam Chang Yun namun serangannya mental setelah tertahan kekuatan petir yang membungkus tubuh gadis itu. "Sungguh menyebalkan!" umpat Li Mi lalu melompat mundur. Lelaki itu merapal sebuah mantera dan mengerahka

  • Perjalanan Sang Batara   345.Malih Wujud

    Jaka Geni kagum dirinya bisa berubah menjadi Tabib Dewa. Itu artinya ilmu Malih Wujud pemberian Nyai Lanjar tidak hanya bisa berubah menjadi ular."Apakah karena kekuatanku yang sudah meningkat? Ini benar-benar menyenangkan hahaha!"Jaka melesat pergi dengan cepat ke arah hitam Luoyang meninggalkan kota besar itu.Dia melesat ke arah dimana dia melihat awan hitam yang menutupi kawasan hutan tersebut.Di perjalanan dia melihat ratusan prajurit kerajaan yang tengah memasuki hutan. Dengan segera Jaka Geni merubah wujudnya menjadi Yang Sian Kan.Para prajurit itu terkejut melihat putra Yang Jie sang Kasim Raja berada di hutan itu. Mereka segera menghormat."Bagaimana pangeran Yang bisa berada di sini?" tanya perwira Bai Chu. Jaka Geni tersenyum. Bai Chu merasa aneh, karena pangeran Yang Sian Kan tidak pernah sama sekali tersenyum pada pasukan pria. Dia hanya tersenyum kepada wanita."Kalian semua kembalilah. Musuh di depan sana bukanlah lawan prajurit lemah seperti kalian. Biar aku yang me

  • Perjalanan Sang Batara   112. Amarah Panglima Karna

    Pertarungan masih terjadi antara Iblis Cantik dan Raden Mandala. Beberapa kali serangan Iblis Cantik mendarat di tubuh pemuda berkumis tipis mengenakan blangkon itu. Sedangkan Gondo Sula malah sudah mendapat korban untuk pedang Barong Ireng miliknya. Dua orang meregang nyawa dalam

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Perjalanan Sang Batara   104. Kesaktian Keris Batu Raden

    Mata Gondo Sula tercekat melihat tubuh keris yang berwarna hijau tua itu. Dari dalam sarung keris tersebut muncul aura yang sangat aneh dan membuat sesak pernafasan. Seketika suasana tempat tersebut menjadi lebih dingin dan mencekam. Iblis Cantik mengangkat keris itu tinggi-tinggi.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Perjalanan Sang Batara   105. Jurus Iblis Meminta Darah

    Matahari telah menyinari bumi. Menerangi semua tempat yang semalam gelap tanpa cahaya. Gondo Sula dan Ki Brojo Mukti duduk di atas tumpukan ratusan mayat. Nafas mereka turun naik setelah bertarung hampir separuh malam. Semua musuh telah tewas di lembah itu. Hanya tersisa satu orang dari

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Perjalanan Sang Batara   96. Surga Dalam Keraton

    Jaka Geni duduk di sebuah kursi kayu yang besar. Di hadapannya sebuah meja panjang dan lebar telah diisi dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan. Raja Rama dan Putri Maharani datang dan duduk bersebrangan dengan Jaka. Sedangkan Pangeran Arya duduk bersebelahan den

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status