Home / Zaman Kuno / Perjalanan Sang Batara / 6.Padepokan Sigaluh

Share

6.Padepokan Sigaluh

Author: Gibran
last update Huling Na-update: 2025-06-10 15:27:57

Pagi yang cerah terlihat begitu menentramkan. Suara burung berkicau menyambut terbitnya matahari dengan riang. Kehangatan menyeruak disertai uap embun pagi yang menyegarkan.

Dinginnya pegunungan tak mengurangi semangat manusia untuk mencari berkah.

Disebuah padepokan, terlihat puluhan murid tengah berlatih silat. Meski dinginnya pagi menusuk tulang, mereka dengan giat berlatih memperagakan jurus yang di ajarkan. Seorang lelaki paruh baya terlihat mengawasi gerakan setiap murid. Terkadang dia berteriak bila ada gerakan yang salah.

Padepokan kecil itu bernama padepokan Sigaluh. Sebuah padepokan yang berada di puncak gunung Sumbing. Meski padepokan ini kecil dan hanya puluhan murid di sana, namun ketenaran padepokan ini sudah terdengar di seantero jagad persilatan karena banyak pendekar sakti jebolan Padepokan Sigaluh. Bahkan Raja Kerajaan Sigaluh pun dulunya adalah murid padepokan itu.

Padepokan Sigaluh terkenal dengan ilmu kanuragan ajian Jari Langit yang pernah mengguncang dunia persilatan. Konon katanya ajian ini hanya bisa dikuasai oleh murid yang berprestasi. Karena untuk mempelajari ajian ini, sangatlah berat. Bahkan jika latihan ajian Jari Langit gagal, mereka akan menderita cacat fisik seumur hidupnya. Ajian ini tidak boleh asal digunakan karena dampaknya yang mengerikan. Jika serangan Jari Langit menghantam tubuh lawan, maka lawan itu akan lumpuh total dengan luka lubang lima jari dimana pukulan itu menghantam. Sejauh ini, tak ada obat untuk menyembuhkan efek terkena serangan mematikan ini.

Hingga saat ini, hanya beberapa orang pendekar yang bisa menguasai ajian Jari Langit. Salah satunya adalah Raja Sigaluh dan para guru Padepokan Sigaluh.

Tiba-tiba, di tengah keheningan pagi, terdengar suara seorang murid yang berteriak berkali-kali dari arah luar gapura padepokan.

"Tolong! Tolong! Ada orang terluka!" teriaknya keras memecah di pagi hari.

Semua murid menghentikan latihannya. Beserta dengan sang guru, mereka berlari ke arah gapura padepokan.

"Lindu, ada apa!?" tanya guru dengan wajah penasaran.

"Itu Ki Sapta, ada orang terluka parah saat aku sedang mengambil kayu di hutan!" ucap murid bernama Lindu.

"Baiklah, tenangkan dirimu, ayo kita periksa. Jangan semuanya ikut, nanti guru besar marah, biar aku dan beberapa saja. Sana kembali latihan, dan untuk yang akan ikut, bawakan tandu. Kalau bisa kita tolong, kita bawa ke padepokan." ucap Ki Sapta.

Lalu mereka bergegas ke arah hutan tak jauh dari padepokan. Tepatnya di lereng selatan.

Sesampainya di sana, Ki Sapta mendapati seorang pemuda yang tengah bersandar di sebuah batu besar. Wajahnya pucat seperti mayat. Dari bibirnya terlihat bekas darah yg mengering.

Ki Sapta membuka baju pemuda itu. Matanya terbelalak melihat ada lima lubang sebesar jari yang sudah menghitam. Lubang itu tidak asing baginya.

"Ajian Jari Langit...!" seru batinnya.

"Cepat bawa pemuda ini! Dia masih hidup. Kita akan menanyainya nanti jika dia bisa disembuhkan." ucap Ki Sapta.

Para murid segera membawa pemuda itu menggunakan tandu menuju ke padepokan Sigaluh.

Sesampainya di sana, pemuda itu dibaringkan di atas balai-balai.

Ternyata Mahaguru Padepokan yg berjuluk Resi Sumbing telah mendengar berita pemuda itu dan ingin melihat keadaannya. Ketika lelaki tua dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih itu datang semua murid membungkuk hormat, termasuk Ki Sapta.

"Resi, coba anda lihat luka di dada pemuda ini." ucap Ki Sapta lalu membuka baju pemuda itu. Mata sang Resi menatap tajam. Dia mengelus janggutnya.

"Sapta, ambilkan obat di ruangan ku. Semoga dia bisa diselamatkan agar jelas, siapa yang telah melukainya dengan ajian perguruan kita. Dan panggilkan para guru lainnya, kecuali Sari yang tengah bersemedi." perintah Resi Sumbing. Matanya tak lepas dari lima lubang di dada pemuda itu. Dengan cepat, dia memberikan totokan di leher dan dada pemuda itu. Lima lubang itu pun terlihat mengeluarkan sedikit asap tipis.

"Malang sekali nasibmu anak muda. Aku akan berusaha semampuku. Tapi takdir yang akan menentukan." kata Resi setelah sedikit alirkan tenaga dalam ke tubuh pemuda itu.

Tak berapa lama Ki Sapta datang bersama dua guru lainnya yang tak lain Nyai Laras dan Ki Damar. Setelah melihat pemuda yang tergeletak di sana dua orang yang baru datang terkejut.

"Bagaimana bisa Resi!? Bukankah, diluar sana hanya Raja Sigaluh yang mempunyai ajian ini?" tanya Nyai Laras.

"Tenang dulu. Kita hanya bisa menduga, tapi jawaban sebenarnya adalah dari pemuda ini. Kita akan coba sembuhkan dia, dan menanyakannya nanti. Semoga dia terselamatkan." jawab Resi tenang dan berwibawa.

Nyai Laras menoleh ke arah Ki Sapta dan Ki Damar. Dua lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala.

Lalu mereka memulai proses penyembuhan dengan tenaga dalam. Penyembuhan itu untuk mengeluarkan racun ajian Jari Langit yang sudah menjalar di tubuh pemuda itu.

Cukup memakan waktu, hingga beberapa jam kemudian mereka selesai.

"Hebat, anak muda ini bisa bertahan dari ajian ganas itu..." bisik Nyai Laras.

Dari lima lubang kecil di dada pemuda itu mengalir darah hitam mengepulkan asap tipis. Para guru dan Resi terlihat menghembuskan nafas lega. Mereka menyeka keringat yang membasahi wajah.

Pemuda yang mereka selamatkan terlihat lebih segar sekarang. Itu karena racun didalam tubuhnya telah keluar. Lalu Resi Sumbing menutup luka pemuda itu dengan ramuan obat.

"Biarkan dia istirahat. Dua hari lagi dia akan bangun." ucap Resi lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Para guru yang lain juga pergi hingga tinggal lah pemuda itu sendiri.

Dua hari kemudian...

Pemuda itu bangkit dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat. Dia menatap dadanya lalu menatap sekitar ruangan itu.

"Dimana aku... Apakah ini padepokan yang disebutkan orang itu?" katanya perlahan.

Samar dia mendengar suara para murid padepokan yang tengah berlatih. Dia segera bangkit dari duduknya lalu dengan perlahan dia berjalan ke jendela. Dari jauh terlihat para murid yang tengah berlatih silat.

"Benar, ini padepokan Sigaluh... Kenapa orang itu menyelamatkanku?"

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara langkah. Segera dia kembali berbaring di balai-balai.

Seorang gadis belia masuk ke ruangan itu. Gadis itu terlihat sangat cantik. Dia meletakan makanan dan minuman di atas meja. Lalu menghampiri pemuda itu. Gadis itu tersenyum.

"Kamu ganteng juga... Ternyata benar kata saudari seperguruan rumor tentang ketampanan mu..." ucapnya pelan.

Ketika gadis itu membalikan badan, pemuda itu menyambar lengan si gadis.

"Tunggu..!" kata pemuda itu yang membuat gadis cantik itu terkejut dan memerah seketika wajahnya.

"Kau...! Kau sudah siuman!?" pekik gadis itu yang merasa malu karena sebelumnya dia telah berkata sesuatu tentang pemuda itu. Pemuda itu tersenyum ramah.

"Tenanglah adik, aku tak bermaksud yang tidak-tidak..." ucap pemuda sambil melepas pegangan tangannya. Gadis itu duduk dengan wajah masih merona karena malu. Pemuda itu tahu apa yang tengah melanda si gadis.

"Aku sadar saat kau akan melangkah pergi. Secara tak sengaja tanganku meraih tanganmu. Maafkan kelancangan ku ini..." kata pemuda itu lalu mencoba membungkukkan badan. Namun gadis cantik itu mencegahnya.

"Sudahlah kakang, tak perlu sungkan... Aku kesini hanya untuk membawakan sarapan. Dan guruku bilang, bahwa hari ini kau akan siuman. Aku tak mengira kau sadar saat aku yang datang kesini... Sudah dua hari ini, saudariku yang merawat mu." kata gadis itu dan kembali mukanya memerah. Pemuda itu tersenyum melihat kelakuan gadis cantik itu.

"Terimakasih adik...sudah peduli padaku," ucap pemuda itu sambil tersenyum. Gadis itu terlihat senang melihat senyum pemuda. Sepertinya ada benih-benih yang tumbuh di hati si gadis.

"Oh iya, namaku Kinasih... Siapakah namamu kakang?" tanya gadis bernama Kinasih itu.

"Aku Jaka Geni. Biasa di panggil Jaka." balas Jaka.

"Ya sudah, kakang Jaka, aku melapor dulu ke guru tentang keadaan kakang." kata Kinasih lalu berpamitan. Jaka menatapnya hingga gadis itu hilang dari pandangan.

"Cantik sekali Kinasih..." ucapnya pelan. Jantungnya berdetak cukup keras. Dia hirup aroma wangi dari tubuh Kinasih. Masih tercium meski gadis itu telah pergi.

"Padepokan Sigaluh... Ada bidadari didalamnya... Tak menyesal aku hampir mati..." ucapnya lagi.

Namun tiba-tiba ada suara dari balik pintu ruangan.

"Tak menyesal? Hanya setelah melihat kecantikan satu orang padepokan?"

Jaka tersentak kaget. Dia tidak menyadari seorang lelaki paruh baya tengah berdiri di dekat pintu. Lelaki itu tertawa melihat wajah kaget pemuda.

"Tenanglah anak muda, aku Ki Damar salah satu guru disini. Dua hari lalu aku ikut mengobati mu bersama Resi dan guru lainnya." kata Ki Damar lalu melangkah masuk.

Jaka segera bangun lalu bersujud di depan lelaki itu.

"Terimakasih guru! Telah menyelamatkan nyawa tak berguna ini!"

"Bangunlah. Aku tak suka orang bersujud di hadapanku." kata Ki Damar.

Jaka pun segera berdiri dan memperkenalkan diri.

"Setelah kau bebersih diri, datanglah ke ruang Resi Sumbing di aula yang besar di sana. Kami akan mendengarkan apa yang kau alami hingga terluka separah itu." kata Ki Damar.

"Baik ki... Aku akan ke sana nanti."jawab Jaka.

"Kau termasuk beruntung ditolong keajaiban, ajian Jari Langit yang kau terima tak membuat pembuluh darahmu hancur. Dan hebatnya lagi, kau bisa menahan pukulan itu tak sampai menjebol dada mu. Aku penasaran, dari perguruan mana kau ini Jaka?" tanya Ki Damar dengan tatapan penuh selidik. Jaka menangkap tatapan itu dan sedikit merasa aneh.

"Aku dari sebuah kampung kecil di Kerajaan Blambangan ki. Aku berkelana untuk menimba ilmu hingga sampai di Kerajaan Sigaluh ini." jawab Jaka.

"Siapa guru mu nak?" tanya Ki Darma lagi.

"Guruku Eyang Guru Mahameru berjuluk Pendekar Tangan Dewa, apakah Ki Damar mengenalnya?" tanya Jaka.

Sesaat Ki Damar terdiam sambil mengelus jenggot panjangnya. Matanya sedikit menyorot tajam ke arah Jaka.

"Aku kenal gurumu itu, dia seorang pendekar tua yang namanya menggetarkan dunia persilatan tanah jawa ini. Bahkan, guru-guru besar padepokan tanah jawa pernah di buat tak berkutik oleh gurumu. Ajian Gledek milik gurumu benar-benar tak ada tandingan... Aku dengar, ajian itu terbagi beberapa jurus dengan tingkatan yang berbeda...benar-benar tangan Dewa..." kata Ki Damar dengan senyum lebar menghias wajahnya.

"Benar yang Ki Damar katakan, ajian itu terbagi beberapa tingkat. Tingkat tertinggi adalah ajian Gledek Membelah Langit, sayangnya, aku masih terlalu muda untuk menguasainya. Butuh latihan sangat keras Ki, dan tubuhku belum cukup kuat. Namun berkat ajian Gledek itu, aku selamat dari kematian secara langsung dari ajian Jari Langit orang misterius itu..." kata Jaka dengan wajah terlihat marah. Ki Damar menepuk bahu Jaka.

Tepukan itu mengandung tenaga dalam. Jika Jaka tak segera alirkan tenaga dalamnya, dia bisa tersungkur seketika.

"Kami orang padepokan Sigaluh pun merasa penasaran siapa orang yang mempunyai ajian Jari Langit itu. Selain Resi Sumbing, Ki Sapta, Nyai Laras, Nyai Sari, aku dan Raja Sigaluh tak ada yang mempunyai ajian itu. Jika ada pun, orang tersebut sudah mati dihukum oleh Resi puluhan tahun yang lalu karena dosa besar yang dia lakukan. Tubuhnya sudah dilempar ke jurang rajawali dan sudah dipastikan, tak ada orang yang bisa hidup jika jatuh ke dalam jurang sedalam ratusan meter itu." terang Ki Damar.

"Aku tak begitu paham dengan masalah dalam padepokan, Ki Damar tak perlu mengatakannya terlalu jauh, karena aku ini orang luar..." kata Jaka merasa tak enak mendengar permasalahan padepokan diceritakan kepadanya. Ki Damar tersenyum.

"Baiklah, aku akan pergi dulu. Kau bisa minta tolong ke Kinasih jika ada sesuatu. Jangan lupa, datang ke aula itu. Kita bahas permasalahan ini di sana bersama para guru." kata Ki Damar lalu pamit pergi. Jaka membungkuk hormat.~

Jaka keluar dari aula padepokan itu. Dia telah menjelaskan apa yang dia alami kepada Resi dan para guru. Semua guru di padepokan ikut bermusyawarah.

Besar kemungkinan serangan yang di alami oleh Jak adalah perbuatan murid Resi yang pernah dihukum di pubcak Rajawali. Selain itu ada dugaan yang tak disangka, yaitu adalah Raja Sigaluh. Hanya saja para guru tak bisa memutuskan, itu mutlak perbuatan Raja atau murid yang pernah dijatuhi hukuman.

Itu bisa membahayakan padepokan kecil itu jika ternyata bukan Raja pelakunya.

Ki Sapta pun langsung diutus turun gunung untuk mencari kebenaran tersebut. Sementara itu, Jaka menetap di padepokan Sigaluh untuk sementara waktu sambil menyembuhkan luka dalamnya.

Malam hari terlihat sepi. Hanya beberapa murid yang berkeliling menggunakan obor.Satu bayangan hitam melesat di atas atap aula.Jaka yang tengah mengolah tenaga dalam merasakan hawa kehadiran seseorang.

"Penyusup?" batinnya. Dia bangkit dengan perlahan. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam di telapak tangan. Ajian sakti Angin Menyapa Semeru telah siap di keluarkan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tadinya Jaka ingin menyiapkan ajian Gledek Mengguncang Bumi, namun ajian itu terlalu kuat dan penyusup sudah pasti bisa merasakannya.

Perlahan dia keluar dari ruangan tempat dia tinggal. Lalu dengan ilmu meringankan tubuh dia melesat ke arah atap. Dia mengendap dan mengawasi gerak-gerik mencurigakan seseorang di atas atap aula. Terlihat beberapa murid yang berpatroli tidak menyadarinya. Jaka bisa merasakan, jika penyusup ini bisa membantai 4 orang murid yang tengah berkeliling itu dengan sekali gerakan.

Setelah murid-murid itu pergi menjauh, Jaka melihat sosok itu turun dan berlari ke arah pintu ruangan Ki Damar. Jaka menatapnya dengan seksama. Jaka menunggunya beberapa saat lamanya. Namun sosok itu tak kunjung keluar.

"Siapa orang itu...? Aku curiga..." ucapnya pelan. Karena penyusup itu tak kunjung keluar, Jaka memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan menunggu esok hari untuk memastikan.

Jika dugaannya benar, semua yang di alaminya adalah perbuatan Ki Damar. Lalu apa alasan Ki Damar melakukan tindakan misterius seperti itu?

Seolah Jaka adalah umpan untuk sesuatu yang besar. Jaka ingat, orang yang mencelakainya itulah yang menyuruhnya pergi ke padepokan Sigaluh yang berada di puncak Sumbing. Dan dalam keadaan luka dalam parah dia berlari menggunakan ajian Kijang Kencana menuju puncak Sumbing.

Sayangnya dia kehabisan tenaga sebelum sampai hingga akhirnya dia ditemukan seorang murid. Yang bikin Jaka merasa janggal, kenapa orang misterius itu tidak membunuhnya, tapi malah menyuruhnya pergi ke Padepokan Sigaluh?

Jaka masih terus memikirkan hal itu hingga akhirnya dia pun tiba-tiba merasa sangat ngantuk dan tak berapa lama dia mulai tertidur lelap. Sesaat setelah Jaka tertidur, sesosok bayangan menyelinap ke dalam ruangan lalu menghampirinya.

Siapakah sosok misterius yang tiba-tiba datang ke ruangan sang pendekar? Dan apa yang akan dia perbuat terhadap pemuda yang tengah terpengaruh ilmu sihir itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Samsudin Acok
ajian jari gledek namanya di aplikasi novel me ya kan?ini versi 1nya dn ada versi 2ya kn?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Perjalanan Sang Batara   315.Pembicaraan Di Tengah Malam

    Lu Che gelisah tak bisa memejamkan mata. Beberapa kali dia pindah posisi tidur namun tetap saja gelisah. Dia menatap langit-langit kamarnya. "Jika kakak Jaka berada di sini, mungkin aku akan tenang." pikir gadis itu. Ingatannya terbayang kembali saat dia dan pemuda itu melakukan hubungan badan. Wajahnya seketika memerah, dan senyum mengembang di bibirnya. "Dia sangat luar biasa..."Sementara itu Chang Yun pun tak bisa tidur karena gelisah. Dia pun memikirkan hal yang sama. Li Mey membuka matanya mendengar Chang Yun yang beberapa kali membuang nafas dengan suara keras. "Kenapa kak?" tanya Li Mey. Chang Yun menoleh.Dia tersenyum tawar. "Tidak apa-apa adik Mey," jawab nya. Li Mey tersenyum lalu membelai rambut Chang Yun dengan lembut. "Aku tahu kakak memikirkan kakak Jaka, dan juga pertolongan Lu Che beberapa hari yang lalu. Lebih baik kakak berunding dengan kak Lu Che agar kalian bisa menyelesaikan masalah hati ini dengan baik. Kalau melihat kakak Jaka Geni yang tampan dan sebaik

  • Perjalanan Sang Batara   314.Kekalahan Pasukan Sui

    Kerajaan Sui gempar saat mendengar berita satu juta lebih prajurit yang di kerah kan untuk menaklukan Kerajaan Silla, Baekje dan Goryeo kalah. Bahkan yang lebih memalukan lagi kekalahan mereka terjadi saat mereka masih berada di Kerajaan Goryeo. Pasukan yang begitu banyak harus bertahan hidup dari serangan pasukan pertahanan Goryeo dan bencana kelaparan.Mendengar kabar itu murka lah Kaisar Yang. Dia menyuruh Menteri Li Yuan memecahkan permasalahan itu. Terutama masalah kelaparan. Karena gudang penyimpan makanan mereka di bakar oleh penyusup. Sehingga mereka kesulitan. Penyusup dari Goryeo yang di perintahkan oleh Panglima Yu Shin, berhasil membakar beberapa gudang makanan prajurit Yang. Karena para prajurit terlalu sibuk memikirkan perang, mereka tidak menyangka bahwa musuh akan membakar gudang penyimpanan. Kelemahan terbesar dalam peperangan besar dan prajurit yang sangat banyak adalah makanan. Saat sumber makanan terhenti, maka dalam hitungan hari semua akan berakhir. Setelah g

  • Perjalanan Sang Batara   313.Sepasang Ular Dewa

    Saat Siluman Ular Putih Xian Hui menerjang, Jaka Geni teringat pada sepasang ular pemberian Nyai Lanjar waktu berada di laut Utara. "Lang dan Ling keluar lah!" teriak Jaka. Tiba-tiba tubuh Jaka Geni bersinar putih kekuningan. Lalu dari mulutnya melesat dia makhluk kecil yang panjang. Saat berada di luar tubuh Jaka, makhluk itu berubah menjadi ular raksasa berwarna putih kekuningan. Ular bernama Lang langsung menerkam Xian Hui dengan taringnya. Mereka bergumul dan saling gigit. Sementara Ling melingkari tubuh Jaka Geni. "Ular sebesar ini berada di dalam tubuhku?" batin Jaka tak percaya. Lang menerjang dengan keras membuat tubuh Xian Hui terpental dan menabrak pohon hingga tumbang. Pertarungan mereka terdengar bergemuruh karena tubuh dua ular yang sama-sama besar. Xian Hui tak percaya akan bertemu ular yang tidak kalah besarnya. Di tambah Lang sangat ganas dan tak mau di ajak berbicara. Beberapa kali Xian Hui mencoba tetap saja dia gagal seolah ular itu tidak mengerti apa yang dia

  • Perjalanan Sang Batara   312.Terdesak

    Sementara itu di kawasan Selatan di daerah Kerajaan Nang Yue, para urusan dari Kaisar Yang Sui mendirikan perkemahan di perbatasan Sui dan Kerajaan Nang Yue. Kerajaan Nang Yue memberontak dari Dinasti Sui. Mereka tidak sudi hanya mengirim upeti namun perdagangan mereka anjlok. Tidak ada keuntungan sama sekali yang masuk ke dalam Kerajaan Nang Yue, yang di pimpin oleh Raja Champa. Li Jian Cheng alias Cheng-cheng kakak dari Li Shimin, menjadi urusan Kaisar. Namun Li Mi,paman Cheng-cheng atau adik dari Menteri Pertahanan Li Yuan ikut serta atas perintah Kaisar untuk mengawasi pekerjaan Cheng-cheng. Cheng merasa dirinya dicurigai karena pasukan Kerajaan yang berada di bawah kendalinya lebih dari lima puluh ribu prajurit. Tujuan dia memang membantu para pasukan yang kalah dalam pertempuran melawan pasukan Champa. Di tambah hawa panas di Kerajaan Nang Yue membuat mereka kekurangan cairan. Sementara air bersih sangat sulit di jumpai di kawasan yang kering kerontang itu. Ribuan prajurit

  • Perjalanan Sang Batara   311.Kekuatan Siluman Ular Putih

    Xian Hui terus mendesak Jaka Geni dengan serangan serangan tenaga dalam. Jaka yang berusaha menghindar akhirnya mau tak mau harus berhadapan secara langsung. Meski dengan tangan kosong, Xian Hui tetap bisa mengimbangi Jaka Geni yang menggunakan golok hijau. "Kamu bukan orang Zhuo Guo! Bagaimana bisa orang asing sepertimu nyasar di tanah ini dan berbuat dosa seenaknya!?" hardik Xian Hui. Jaka Geni nyengir saja tanpa bersalah sedikit pun. "Aku datang dari jauh bukan berniat untuk enak-enak di tempatmu kek! Itu hanyalah kebetulan tanpa di sengaja! Harusnya kamu maklum saja dengan jiwa muda sepertiku ini!" balas Jaka. "Anak muda sialan! Aku belum puas jika belum menghukum dirimu!" teriak Xian Hui semakin gencar menyerang Jaka. Jaka semakin kelabakan. Kekuatan racun es milik Xian Hui sangat sakti. Dia harus menghindari serangan-serangan berbahaya itu sekaligus menangkis nya. "Gawat...!" pikir Jaka. Gerakan Xian Hui semakin menjadi-jadi. Sekejap dia menghilang menjadi asap putih dan

  • Perjalanan Sang Batara   310.Siluman Ular Xian Hui

    Jaka Geni bersama tiga gadis itu makan ikan bakar bersama. Mereka terlihat sangat kelaparan. Terbukti dengan puluhan ekor ikan bakar berukuran sedang habis di lahap dalam sekejap. "Ternyata kamu ahli dalam membuat makanan," puji Lu Che sambil tersenyum. Chang Yun yang merasa cemburu pada wanita itu langsung menyahut. "Kakak Jaka memang ahli dalam memasak, dia juga ahli di semua hal. Hanya saja kamu kurang begitu paham." kata Chang Yun. Panas wajah Lu Che mendengar cemooh gadis itu. Dia segera menyahut ucapan panas Chang Yun. "Oh ya?Aku kira,kamu tahu semua yang Kakak Jaka lakukan. Apakah kamu tahu, apa yang kami lakukan di luar sana?" tanya Lu Che tak kalah panas. Mata Chang Yun melotot. "Kau!" hardik nya marah. Lu Che tertawa kecil melihat Chang Yun kesal. Jaka Geni yang berada di dekat mulut goa menoleh sesaat, namun dia kembali acuh tak acuh. Dia tangah sibuk menutup lubang-lubang kecil di pintu masuk. "Dia paling suka dengan bermain di dalam air, apakah kamu pernah melaku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status