Shakira mendadak membeku hingga membuat tenggorokannya tercekat. Tapi ia cepat menenangkan ekspresi wajahnya yang terkejut.
“Aku nggak tahu maksudmu, Luis,” katanya datar.
“Rasanya aneh. Aku nggak merasa ngundang kamu ke kamarku, tapi kenapa surat PHK atas namamu ada di kamarku?”
Shakira menatapnya, lalu menarik napas panjang. “Aku emang pernah ke kamarmu malam itu. Tapi kamu lagi mabuk. Bahkan nggak sadar aku ada di situ.”
Luis mengerutkan kening. Kilasan samar mulai muncul, tapi tetap kabur. “Untuk apa kamu datang?”
Shakira mengangkat bahu, berusaha acuh. “Kamu marah karena kamarmu masih kotor. Lalu aku datang … untuk mengembalikan apa yang tertinggal. Itu aja.”
Luis memandangi Shakira dalam-dalam, mencoba membaca kebohongan di balik ketenangannya. Tapi Shakira sudah ahli menyembunyikan emosi. Dia hanya menatap balik, tenang dan tanpa celah.
“Permisi.” Shakira berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Luis dalam keraguan yang tak terjawab.
Ketika Shakira sudah keluar dari gedung, nafasnya mulai memburu. Tangannya sedikit gemetar lalu berpegangan pada mobil salah satu pengunjung. Setelah menguasai dirinya, ia berjalan cepat menuju halte. Putrinya pasti sedang menunggunya karena terlambat hampir satu jam.
Ia tahu, permainan ini baru dimulai. Tapi untuk sekarang, ia harus fokus pada satu hal. Bahwa Shakira harus bertahan bersama putrinya.
Dia tidak boleh menyusahkan Ayah dan Bundanya atau mencoreng nama baik mereka sedikit pun.
Setelah pulang dari bekerja, Shakira menemui putrinya di salah satu indekos tetangga. Perempuan paruh baya yang selama ini banyak membantunya mengasuh Beliza.
Mereka berbicara banyak hal hari itu lalu Shakira mengatakan niatannya.
“Jadi, kamu mau pindah ke Jakarta, Ra?” suara Ibu Ningsih terdengar lirih, seolah masih berharap kabar itu tidak nyata.
Shakira mengangguk, “Demi kehidupan lebih baik, Bu. Ikut salah satu kakak sepupuku.” Bohongnya.
Ibu Ningsih menatap Beliza yang tengah asyik memainkan tali tasnya. “Aku bakal kangen kalian. Aku bakal kesepian lagi.”
Shakira tersenyum, lalu memeluk Ibu Ningsih erat. “Terima kasih, Bu, udah bantu jaga Beliza selama ini. Aku makasih banget.”
“Jaga dirimu, Nak. Jakarta keras.”
Shakira hanya tersenyum, lalu mereka kembali berbicara tentang banyak hal sebelum hari itu tiba.
Keesokan harinya, Shakira mengirim email pengunduran diri pada manajer hotel tempatnya bekerja. Tidak banyak penjelasan, hanya kalimat singkat penuh hormat. Ia tahu keputusannya tidak bisa ditunda lagi.
Dan ketika hari itu tiba, Shakira dengan menggendong Beliza sambil membawa koper berisi pakaian, menuju bandara sore itu.
Di dekat gerbang keberangkatan David sudah menunggu, mengenakan kemeja putih rapi dan membawa koper kabin.
“Mari saya bawakan kopernya, Nona Shakira,” ucap David tanpa basa-basi.
Selama penerbangan, pikirannya dipenuhi kilasan-kilasan masa lalu, masa ketika ia berada di Jakarta. Mengenal cinta pertama yang sangat monyet lalu dipermainkan, dicintai, dikhianati, dan akhirnya dibuang.
Dan kini, ia kembali bukan sebagai perempuan lemah seperti dulu.
Begitu menjejakkan kaki di ibu kota, jantung Shakira berdebar lebih cepat. Udara panas, bising jalanan, dan suasana asing yang entah kenapa justru terasa begitu familiar. Kota ini masih menyimpan bahagia dan luka untuknya.
David kemudian mengantarnya ke sebuah apartemen modern di kawasan Thamrin. Lift meluncur mulus hingga lantai 21 lalu menuju unit luas dengan dinding kaca yang menampilkan panorama kota.
“Saya sudah siapkan semuanya, Nona Shakira. Termasuk kamar untuk Beliza. Dan ini kartunya,” kata David sambil menyerahkan sebuah amplop kecil berisi kartu ATM berwarna hitam elegan.
“Dua milyar, sesuai yang dijanjikan, Pak Luis,” lanjutnya.
Shakira mengambilnya tanpa banyak reaksi, meski dalam hati ia tahu uang itu adalah harga dari hidup baru dan permainan lama yang akan ia masuki kembali.
“Makasih. Sampaikan terima kasihku untuk Luis,” ucapnya pelan.
“Pak Luis juga berpesan, anda akan mendapatkan pekerjaan di kantor Hartadi Group sebagai staf sales and marketing.”
David mengelurkan name tag atas nama Shakira dengan logo Hartadi Group di bagian atas.
Shakira tertegun sejenak kemudian menerimanya. “Terima kasih banyak.”
David kembali mengangguk dan berpamitan, meninggalkan Shakira dan Beliza di dalam apartemen baru yang akan mengantarkannya menapaki kehidupan yang baru.
Begitu pintu tertutup, Shakira berdiri sejenak di tengah ruang tamu yang luas. Harum wangi lavender dari pengharum otomatis cukup menenangkan. Lantai marmer berkilau memantulkan cahaya lampu kristal yang indah.
Beliza berjalan sambil tersenyum senang melihat interior apartemen ini. Melihat itu, Shakira ikut bahagia. Tangannya menyentuh permukaan meja makan yang halus. Berbeda jauh dari dapur sempit indekos yang dulu mereka tempati.
Namun dibalik senyum yang ia tunjukkan pada Beliza, pikirannya berputar. Ia tahu dua miliar dan apartemen mewah ini hanyalah bagian dari permainan Luis. Dan suatu hari akan menagih harga yang jauh lebih mahal.
Malam itu, Shakira memilih untuk tidak memikirkan resikonya. Ia ingin membiarkan dirinya dan Beliza merasakan arti kata rumah.
Lalu ponselnya berdering. Tanpa ragu, Shakira mengangkatnya.
Luis Hartadi.
Tidak ada sapaan basa-basi, hanya suara berat pria itu yang berbicara.
"Apa apartemennya sesuai harapanmu?"
Shakira mengangguk sambil menatap Beliza yang tampak senang di apartemen yang nyaman itu. Ini adalah bagian yang sangat ia senangi.
“Sangat nyaman. Justru terlalu mewah untuk orang buangan kayak aku.”
Terdengar tawa kecil dari seberang. Bukan tawa yang hangat tapi lebih seperti tawa dari seseorang yang sedang memegang kendali atas hidup Shakira.
“Sekarang, kamu bukan buangan, Shakira. Kamu adalah …”
“Sekarang, kamu bukan buangan, Shakira. Kamu adalah aset berhargaku. Senjataku untuk jatuhin Ben Danardjanto.”Kalimat itu membuat Shakira terdiam. Kata-kata Luis meluncur begitu dingin, seolah-olah semua kebaikan yang ia terima hanyalah bagian dari permainan besar yang disusun oleh pria itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, Shakira tahu ia memang tidak punya banyak pilihan selain mengikuti arus.Terlebih dia ingin melihat putri semata wayangnya hidup secara layak dan mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan balita mungil dan lucu itu. Shakira rela melakukan apapun untuk menebus rasa bersalahnya.“Oke,” lanjut Luis tenang, “Besok, kita ketemu. Ada hal yang perlu kita bicarain. Jangan tanya kita ketemu dimana, karena semua udah kuatur. Aku nggak mau ada risiko sekecil apa pun.”“Ya, Luis.”“Apa kartu tanda pegawai sebagai karyawan sales and marketing Hartadi Group udah kamu terima?”Shakira menatap name tag yang tergeletak di meja apartemennya, lalu kembali melayangkan pertanyaan.“Boleh
Shakira mendadak membeku hingga membuat tenggorokannya tercekat. Tapi ia cepat menenangkan ekspresi wajahnya yang terkejut.“Aku nggak tahu maksudmu, Luis,” katanya datar.“Rasanya aneh. Aku nggak merasa ngundang kamu ke kamarku, tapi kenapa surat PHK atas namamu ada di kamarku?”Shakira menatapnya, lalu menarik napas panjang. “Aku emang pernah ke kamarmu malam itu. Tapi kamu lagi mabuk. Bahkan nggak sadar aku ada di situ.”Luis mengerutkan kening. Kilasan samar mulai muncul, tapi tetap kabur. “Untuk apa kamu datang?”Shakira mengangkat bahu, berusaha acuh. “Kamu marah karena kamarmu masih kotor. Lalu aku datang … untuk mengembalikan apa yang tertinggal. Itu aja.”Luis memandangi Shakira dalam-dalam, mencoba membaca kebohongan di balik ketenangannya. Tapi Shakira sudah ahli menyembunyikan emosi. Dia hanya menatap balik, tenang dan tanpa celah.“Permisi.” Shakira berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Luis dalam keraguan yang tak terjawab.Ketika Shakira sudah keluar dari gedung, n
Mana mungkin Luis sudi meminta maaf karena dia pernah membuat Shakira dipecat dua bulan silam?Dia adalah pewaris utama Hartadi Group. Dia tidak terbiasa menyembah orang yang berstatus di bawahnya. Dan hidupnya terbiasa dilayani, bukan melayani.Terlalu banyak wanita yang memujanya. Bahkan satu malam panas mereka saja Luis tidak mengingatnya.Beberapa pasang mata pegawai hotel yang melihat Shakira masuk ke dalam mobil mewah Luis sempat menjadi bisik-bisik sesaat.Di dalam mobil mewah dan nyaman itu, Shakira seperti ditarik kembali ke masa lalunya sebelum seperti ini. Hidup nyaman, bergelimang harta, ayah dan bunda yang begitu mencintainya, dan seorang om yang begitu siap melindungi layaknya bodyguard pribadi.Dia dimanja dan diperlakukan layaknya putri.Dia melamun lalu sesaat kemudian pantulan wajah Luis dari kaca jendela, membuat kelebat kejadian dua bulan lalu menari dalam benaknya. Malam panas mereka. Shakira memandangi pantulan wajah Luis sambil membayangkan kala itu. Bagaimana
Setelah Luis memecatnya, Shakira bersedia bekerja apapun asalkan halal. Buah hatinya membutuhkan makan dan tempat berlindung yang layak.Tanpa membuang waktu, David dan Luis menuju hotel tersebut dengan penyamaran rapi. David mengenakan kemeja santai dan blazer ringan, cukup profesional tapi tidak mencolok. Ia duduk di lobi, menanti sosok yang kini menjadi kunci rencana besar Luis.David tertegun ketika melihat Shakira, bahwa dia adalah perempuan yang pernah terlibat cekcok dengan Luis dua bulan di hotel tempat tuannya menginap.Shakira melintas sambil mendorong troli linen bersih. Rambutnya dikuncir seadanya, wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, namun sorot matanya masih sama. Tajam, penuh harga diri.David bangkit lalu menghampiri. “Nona Shakira.”Shakira menatap David sambil mengingat siapa dirinya.“Bisakah anda ikut saya?” kata David, suaranya tenang.“Maaf anda siapa?”“Saya asisten pribadi Pak Luis Hartadi.”Mendengar nama Luis, Shakira segera mendorong troli beg
“Aku mau orang ini dikeluarkan dari tim pelayanan. Hari ini juga!”Shakira berusaha menjelaskan, tapi kalimatnya tenggelam dalam amarah Luis dan sang atasan.Beberapa jam kemudian, keputusan bulat akhirnya diumumkan. Shakira menerimanya dengan hati memanas. Bahwa ia diminta menandatangani surat pemutusan kerja. Parahnya, hari itu juga dia harus angkat kaki dari hotel tempatnya mencari sesuap nasi.Merengek? Itu bukan gaya Shakira.Menjilat? Apalagi.Namun ia langsung teringat akan nasib putrinya, Beliza, yang tidak tahu bahwa dunia ibunya baru saja runtuh lagi untuk kesekian kali. Putrinya yang masih berusia satu tahun itu.Dia tidak langsung pulang, melainkan berdiri di teras samping hotel. Membiarkan angin Bali bertiup lembut, tapi hati Shakira seperti diporak-porandakan badai. Tangannya menggenggam surat pemecatan itu erat-erat. Tapi tidak menangis, karena kini, air mata pun terasa terlalu mahal.Ia pernah dicintai kemudian ditinggalkan. Menjadi istri pura-pura kemudian dicampakkan
Tanpa peringatan, pria itu mencium Shakira dengan brutal hingga Shakira terkejut.Reflek tangan Shakira berusaha mendorong dan memukul dada Luis, namun lelaki itu justru menyentaknya hingga berbaring di atas ranjang. “Jangan! Kumohon!” Tapi Luis melanjutkan aksinya. Pria itu mencengkeram kuat kedua tangan Shakira lalu melancarkan apa yang seharusnya didapatkan malam ini. Tidak menyadari siapa sosok yang saat ini tengah ada di ranjang bersamanya.Ia justru tertawa keras dan terus melancarkan aksinya. Sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi membuatnya makin hilang kendali.. Tapi Luis tidak sadar, siapa yang sedang ia sentuh tanpa rasa bersalah. Shakira yang awalnya terus memberontak dan menangis, berubah merutuki dirinya sendiri ketika efek obat itu bekerja menguasai logika. Dia tidak banyak melawan ketika Luis memimpin permainan. Bahkan menyentuhnya hingga titik terdalam.Seharusnya Shakira menuruti instingnya yang sudah memperingatkan dirinya agar tidak datang ke kamar Luis Har