Share

Satu Atap Bertiga

Penulis: Juniarth
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-30 11:00:17

Shakira menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka map hitam itu. Matanya membeku seketika dengan tangan sedikit bergetar.

Di dalamnya, tersusun rapi beberapa lembar dokumen legal dan di bagian atas jelas tertulis kalimat : SURAT PERMOHONAN GUGATAN CERAI.

Shakira mendongak menatap Luis dengan wajah terkejut. “Ini…” suaranya tercekat, “Dokumen perceraian?”

Luis menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengamati setiap reaksi Shakira dengan tenang, nyaris seperti predator yang baru saja menjebak mangsanya. “Ya. Itu adalah jalan keluar untukmu. Sekaligus jalan buntu untuk Ben Danardjanto. Dan bagian dari jebakan yang udah aku siapin.”

Shakira berpikir cepat dan bisa meraba kemana arah permainan Luis. Lalu ia kembali menatapnya.

“Tunggu apa lagi? Bukannya perceraian ini yang kamu mau?”

“Kenapa aku harus menandatanganinya sekarang?” tanya Shakira, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.

Luis tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat. “Karena ini salah satu cara yang bisa bikin Ben jatuh. Kalau orang-orang tahu dia selingkuh, sementara statusmu bukan lagi istrinya, otomatis semua tuduhan bakal mengarah ke dia. Karier, reputasi, dan bisnisnya bakal goyah. Lalu aku tinggal masukin isu negatif lainnya lalu dia bakal hancur total.”

David maju setengah langkah lalu mengulurkan bolpoin, “Anda hanya perlu menandatangani surat ini, Bu Shakira. Sisanya biar saya yang urus. Tidak akan ada yang mencurigai apa pun. Nama Anda akan tetap bersih.”

Shakira menatap dokumen itu lagi. Dia memang sudah lama menginginkan perpisahan dengan Ben. Dia merasa terbelenggu dengan statusnya yang masih menjadi istri Ben. Sedangkan lelaki itu telah memilih menikahi kekasihnya diam-diam.

Meski secuil cinta itu masih ada untuk Ben, tapi hatinya berteriak. Pikirannya dipenuhi wajah Beliza yang masih kecil, yang tidak tahu apa-apa tentang perang kotor orang dewasa.

Tanpa banyak berdebat, Shakira mengambil bolpoin itu lalu menandatanginya. Kelegaan itu muncul meski tak banyak.

Shakira menutup dokumen itu dan menyerahkannya pada David. Lalu ia menatap Luis.

“Aku udah lama pengen pisah dari Ben. Tapi kalau kamu mempermudahnya, aku berterima kasih, Luis.”

“Pak Luis,” Luis mengingatkan, “Kita lagi di kantor dan kamu harus mulai belajar hormat ke aku.”

Shakira menatap sejenak kedua mata Luis yang tajam namun penuh pesona itu. Lalu bayangan malam panas mereka yang tidak akan pernah Luis ingat, kembali menari-nari di dalam otak Shakira.

“Terima kasih banyak, Pak Luis.”

Kemudian Luis mencondongkan tubuh, menatap Shakira tajam. “Kamu selalu punya pilihan, Ra. Tapi percayalah, ini satu-satunya jalan biar kamu bisa bertahan. Biar anakmu juga tetap bisa hidup nyaman dan aman.”

Shakira tahu sejak menerima apartemen itu, sejak menerima pekerjaan ini, hidupnya sudah berada di genggaman Luis Hartadi.

“Ben pasti akan nyari saya lagi ketika surat permohonan cerai itu didaftarkan.”

“Sopirmu punya keahlian sebagai bodyguard, Ra. Kamu nggak usah khawatir.”

Shakira kembali menaikkan pandangannya karena terkejut dengan ucapan Luis. Dia pikir sopir yang mengantarnya hanyalah seorang sopir biasa.

Luis menyandarkan punggungnya di kursi dengan David tetap setia berdiri di sebelahnya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Shakira setelah menandatangani dokumen perceraian itu.

“Siapapun yang bekerja untukku, harus totalitas karena aku pun ngasih imbalan yang nggak main-main. Paham?”

Shakira menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

“Iya, Pak Luis. Saya paham.”

Kemudian Luis memberi kode melalui tangannya pada David, agar menaruh sesuatu di atas meja.

“Rekam, Vid. Kita mulai.”

David kemudian mengeluarkan sebuah ponsel khusus dan menekan aplikasi rekaman di meja. Membuat Shakira bertanya-tanya.

“Masalah permohonan ceraimu dan keselamatanmu, nggak perlu khawatir,” Suara Luis rendah, tapi mengandung tekanan yang sulit diabaikan. “Sekarang, aku mau kita masuk ke rencana pertama.”

Shakira akhirnya paham jika percakapannya dengan Luis ternyata direkam sebagai bukti untuk menjatuhkan Ben.

“Gosip perselingkuhan Ben … sama perempuan bernama Ifana. Apa itu benar?”

Shakira spontan menegang dan mengingat apa yang terjadi beberapa bulan lalu sebelum dia meninggalkan rumah Ben.

Kepalanya lantas mengangguk, “Itu benar.”

Alis Luis terangkat sedikit. “Wow, ceritain, Ra.”

Shakira menghela napas panjang, seolah harus menggali kembali luka lama yang berusaha ia kubur.

“Ifana, perempuan yang udaha lama dicintai Ben, bahkan sebelum saya datang ke dalam hidupnya. Mereka sempat dekat, tapi kemudian putus waktu Ifana milih pergi ke luar negeri untuk lanjutin studinya.”

Luis mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengetukkan jarinya ke meja.

“Dua tahun kemudian, Ifana kembali,” lanjut Shakira lirih. “Dan hal pertama yang dia lakuin adalah nyari Ben. Dia datang, minta balikan. Dan Ben…” Shakira menelan ludah, menahan getir, “Dia akhirnya milih Ifana.”

Kepala Luis mengangguk paham, “Kenapa kamu nggak diceraikan aja waktu itu? Apa karena ada anak?”

Shakira tidak langsung menjawab, dia berpikir sejenak sebelum kembali menjawab, “Dia pengen semua terlihat natural.”

“Maksudnya?” Tanya Luis dengan mata menyipit.

Pandangan Shakira menerawang dengan menatap ponsel yang merekam percakapan mereka, “Dia … udah nyiapin skenario perpisahan kalau kami udah nggak satu prinsip.”

Luis mengangkat kedua alisnya, “Aku pikir karena anak.”

Kepala Shakira menggeleng pelan. Karena ada hal lain yang lebih dalam yang tidak akan dia ungkap pada Luis.

“Lanjutin, Ra.”

Shakira kembali menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya.

“Dia bakal bikin keadaan seolah-olah kami nggak bisa bersama lebih jauh lagi. Saya disuruh hapus foto-fotonya di media sosial saya pelan-pelan.”

“Dan yang bikin saya terkejut, mereka udah nikah dua minggu sebelum akhirnya saya mutusin kabur dari rumah.”

Suasana di ruangan Luis hening sejenak. Luis sedikit terkejut saat menatap Shakira bercerita.

“Tapi sepandai apapun tupai melompat, akhirnya hubungan Ben sama Ifana tercium media. Dia udah wanti-wanti saya buat bilang kalau Ifana itu sepupu saya yang tinggal di rumah Ben.”

Pandangan Shakira kembali menerawang ke masa lalu.

“Malam harinya, dia pulang sambil bawa Ifana ke rumah. Bilangnya, mulai malam itu Ifana bakal tinggal di rumah itu.”

Luis sedikit melebarkan kedua matanya, “Satu atap bertiga?”

Shakira mengangguk, “Dia sempat nyuruh saya ngadepin wartawan untuk nepis kabar negatif itu besok paginya. Tapi … saya mutusin kabur saat masih pagi buta. Saya nggak mau ngikutin permainannya.”

“Tapi sekarang justru masuk dalam permainanku?”

Shakira terdiam dan mengangguk, “Karena anda yang maksa dan saya nggak ada pilihan, Pak Luis.”

Tawa Luis terdengar mengejek namun Shakira kebal dengan itu semua.

“Ben Danardjanto bukan cuma pengecut, tapi juga pria yang hidup di dua dunia. Nyimpan kamu sebagai bayangan, tapi hatinya buat wanita lain. Dan hebatnya, sampai sekarang Ben rapi banget nutupin gossip perselingkuhannya. Kayaknya dia nunggu kamu untuk ditumbalin, Ra.”

Kepala Shakira mengangguk, “Saya tahu, dia pasti nyari saya, Pak Luis. Demi kepentingannya.”

“Kamu nggak pernah labrak Ifana?”

Kepala Shakira menggeleng.

“Yang bikin aku heran, kenapa kamu seolah nggak ada perlawanan ke pelakor yang ngambil kebahagiaan rumah tangga kalian? Memangnya, pernikahan kalian itu kayak apa?”

Juniarth

:-0

| 10
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Terlalu Hangat Untuk Dilawan

    Ruis berlari kecil mendekati pagar kayu, kagum melihat hamparan salju di bawah sana. Shakira menyusul, berdiri di samping putranya. Kemudian Luis datang dari belakang. Dan tanpa peringatan, ia meraih tangan Shakira dengan tegas. Jemarinya menyelip di antara jemari Shakira, menggenggamnya erat hingga hampir tak menyisakan celah. “Tolong lepas, Den Mas,” bisiknya, berusaha menarik tangannya secara halus. Luis justru menguatkan genggaman itu. “Kita kelihatan kayak orang asing,” katanya pelan tanpa menatapnya. “Aku nggak suka.” “Lepas” Shakira berbisik, suaranya masih terkendali. “Orang-orang lihat.” “Justru itu. Aku suamimu. Aku nggak mau ada jarak. Apalagi di depan orang.” Shakira mencoba kembali menarik tangannya, tapi Luis tidak memberi ruang. Ia tidak akan mengalah kali ini. “Ini bukan soal orang lain. Ini soal aku, Den Mas.” “Dan aku bagian dari hidupmu,” sahut Luis cepat. Angin dingin berembus, membuat rambut Shakira sedikit berantakan. Ruis yang tidak menyadari keteganga

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Kesabarannya Mulai Menipis

    Malam itu, setelah Ruis selesai mandi dan tertidur sebentar, Luis justru menerima pesan singkat dari Armand.Undangan makan malam santai di sebuah lounge resort.Awalnya ia tampak ragu.Lalu, entah dorongan apa, Luis berkata santai.“Armand sama teman-temannya lagi ngumpul. Cuma makan malam ringan. Nggak ada minuman keras, Armand bilang banyak yang bawa keluarga.”Shakira yang sedang menyisir rambut Ruis menoleh sekilas.“Aku sama Ruis di kamar aja.”“Harga diriku bisa jatuh kalau kamu sama Ruis nggak ikut, Ra.”“Tapi ---”Luis kemudian menoleh pada anaknya, “Ruis, ayo makan malam sama Ayah dan Bunda. Sama teman-teman hebat Ayah. Mau?”Protes Shakira seakan langsung dibungkam oleh Luis melalui anaknya.“Ayo, Ayah.”Shakira terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.“Oke.”Lounge resort malam itu hangat, diterangi lampu kekuningan dan perapian besar di tengah ruangan. Musik instrumental lembut mengalun, menciptakan suasana santai namun tetap elegan.Rombongan Armand sudah lebih dulu

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Kamu Cemburu?

    Udara pagi yang menggigit tidak menyurutkan semangat Ruis.Anak itu meluncur di lintasan pemula bersama Luis dan instruktur private dengan tawa riang yang memecah sunyi putih pegunungan.Sedang Shakira masih berdiri di atas memperhatikan Luis dan instruktur itu mengajari Ruis.Lalu matanya tertuju pada sepasang ski di kakinya yang terasa ringan, tapi pikirannya justru berat.Saat Luis sudah selesai mengajari Ruis, ia menghampiri Shakira lalu mengajaknya bermain ski bersama. Ada instruktur private yang akan menjaga mereka selama berselancar di atas salju.Shakira ingin menolak tapi Luis sudah menariknya lebih dulu.Ia mencoba fokus pada ritme tubuhnya, tekuk lutut, jaga keseimbangan, arahkan beban. Namun bayangan semalam terus menyusup tanpa permisi.Tatapan Luis di bawah cahaya api.Bisikan yang membuat napasnya goyah.Cara ia sendiri yang mendekat.Shakira menggeleng kecil, mencoba menepis ingatan itu.Fokus Shakira terpecah belah.Ketika berbelok di tikungan kecil, lamunan itu membua

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Kamu Separuh Nyawaku (18+)

    Mata Shakira yang semula buram perlahan menemukan fokus dalam pelukan Luis.Langit-langit kamar villa itu terasa asing beberapa detik, sebelum potongan-potongan ingatan semalam menghantamnya tanpa ampun.Tubuhnya terasa lelah dibarengi kesadaran yang datang bertubi-tubi. Terlalu nyata bahkan hampir tak bisa dipercaya.Ditambah pelukan Luis yang makin mengencang membuat gesekan kulit keduanya terasa nyata. Bahwa di bawah selimut yang sama mereka tanpa busana.“Pagi, Sayang. Salju masih turun tipis,” bisik Luis lembut.Suaranya rendah dan hangat, seolah malam tadi adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang memang seharusnya terjadi.Shakira tidak langsung menjawab karena masih berkutat dengan kebingungannya. Matanya menatap dada Luis diikuti aroma maskulin yang tadi malam terasa memabukkan, kini justru membuatnya tidak nyaman.Kemudian Shakira perlahan melepaskan diri dari pelukan itu. Gerakannya hati-hati. Tidak kasar. Namun jelas.Luis membiarkannya duduk, lalu ikut bangkit dan bersandar

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Selamat Pagi, Sayang (18+)

    Dengan sisa kewarasannya, Shakira berusaha melawan reaksi tubuhnya yang tidak biasa bahkan tak terkontrol itu.Dia menarik diri dari sandaran nyaman di dada Luis dan memijat sendiri pelipisnya. Tapi tangan Luis kembali menyentuh kedua lengannya.“Kenapa, Ra?”"Lepas, Den Mas," suaranya tidak terdengar tajam seperti biasanya.Tangannya berusaha menepis tangan Luis yang ada di lengannya tapi kini justru berpindah ke pinggang Shakira. Membuat sensasi terbakar yang membuatnya gelisah."Kenapa harus dilepas?" Luis berbisik dari belakang lalu membalik tubuh Shakira agar menghadapnya."Wajahmu kenapa merah, Ra? Apa perapian ini terlalu panas?"Pertanyaan Luis terdengar seperti suami yang perhatian namun sebenarnya mengandung jebakan.Shakira menggeleng, mencoba mencari udara segar, namun matanya justru bertemu dengan tatapan Luis yang penuh dengan keinginan terpendam.Hati Shakira ingin menolak, ingin marah, tapi egonya yang setinggi langit seolah sedang dikikis habis oleh reaksi kimia yang s

  • Perjanjian Panas untuk Istri Rahasia CEO   Bersandar Padaku

    Suasana terminal keberangkatan internasional siang itu terasa sangat sibuk, namun di satu sudut, atmosfer kekeluargaan terasa begitu kental.Keluarga besar Hartadi dan keluarga Paralio berkumpul untuk melepas keberangkatan Luis, Shakira, dan Ruis.Lewis, yang berdiri tak jauh dari kembarannya, menatap Luis dengan pandangan menelisik. Ia tahu ada ambisi besar dibalik sorot mata Luis, namun ia hanya bisa memberikan tepukan di bahu."Jaga mereka, Mas. Jangan buat mereka merasa sendirian di negeri orang," bisik Lewis singkat, yang hanya dibalas anggukan mantap oleh Luis.Puncak dari momen perpisahan itu terjadi saat Pak Paralio melangkah maju. Ayah Shakira itu menatap Luis dan menjabat tangan menantunya dengan sangat erat."Luis, aku titip dua hartaku yang paling berharga. Jaga putriku, jaga cucuku. Pastikan mereka nggak kurang satu apa pun, dan bahagia di sana."Beliau terdiam sejenak, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya."Bawa mereka kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat, sel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status