Mag-log inAda sesuatu yang ganjil di balik pernyataan ibunya. Moreau tak merasa pernah merefleksikan apa pun kepada wanita itu, tetapi pengetahuan di benak Barbara seperti telah melampaui batas—yang mengambil tindakan diam – diam sekadar memantau pelbagai kemungkinan hal.
“Sejak kapan dan bagaimana bisa kau tahu saldo rekeningku?” tanya Moreau untuk memastikan ibunya benar – benar akan memuat pengakuan. Tidak peduli jika pada akhirnya Barbara berdecih sinis sebelum wanita itu memulai. “Sejak“Kuku yang bagus, Daddy. Dari mana kau mendapatkannya?” Meski Moreau cukup keberatan melihat keberadaan Abihirt. Dia tetap tak bisa menolak satu pemandangan menggemaskan di hadapannya. Lore dapat dipastikan telah melakukan sesuatu sebelum pria itu bisa melarikan diri; sekadar memesan minum atau meminta dia duduk lebih lama di sini. Mereka berhadapan. Cara Abihirt mengamati kuku tangan sendiri tidak dapat dimungkiri. Ada rasa kesal, tetapi juga semacam suatu kebanggaan ketika pria itu berkata, “Dari little princess, dia mengaku tidak ingin tidur jika belum melakukan ini.” Sebelah alis Moreau terangkat tinggi. Bertanya – tanya tindakan apa saja yang sudah dilakukan anak – anak saat dia tidak di rumah? Mereka senang bermain. Moreau tahu. Menyimak itu sebagai proses di mana Abihirt menjadi kewalahan dan harus menunggu saat – saat paling tepat sekadar berada di sini. “Sekarang anak – anak sudah tidur?” tanyanya sambil menyelidik. Abihirt sempat memberi gestur tak acuh sebelum
“Dia mengambil sepedaku.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar di antara teriakan anak – anak yang berusaha mengejar Juan. Harus Moreau akui bahwa ini adalah pemandangan—nyaris tidak pernah dia dapatkan; Lore dan Arias begitu menggemaskan saat sedang tersulut keinginan mengejar posisi Juan di depan. Ntah bagaimana pria itu melihat keberadaan sepeda Abihirt dan memutuskan untuk menaikinya tanpa izin.Sambil tersenyum, Moreau menyentuh lengan pria yang masih menjulang tinggi di sampingnya. Mereka sama – sama terbangun dengan keadaan—persis terakhir kali sebelum tertidur; bertelanjang, berantakan, dan akhirnya dia harus mengambil tindakan cepat, sebelum terlambat. Sebelum Abihirt kembali meminta sesuatu yang sudah pria itu dapatkan.Dan di sini. Berada di depan pintu rumah dan menyaksikan pemandangan menenangkan di pagi hari, Moreau tak ingin Abihirt melakukan sesuatu, selain tetap bersamanya.“Juan hanya memakai sebentar. Lagi pula, dia menemani Lore dan Arias bermain. Meminjamkan se
Tubuh mereka sama – sama gemetar. Ini bukan kali pertama Abihirt mengeluarkan bagian dalam diri pria itu ke dalam tubuhnya. Ada sedikit ketakutan bahwa dia mungkin akan hamil, tetapi bagaimana Moreau bisa menolak kehadiran bayi lucu lagi ketika dia melahirkan nanti? Sebuah pertanyaan yang tanpa sadar membuat dia tersenyum konyol. Seharusnya tidak berpikir sejauh ini, karena bagaimanapun ... kesiapan harus selalu berada di kedua belah pihak. Namun, Moreau juga tidak akan memungkiri pertanyaan anak – anak beberapa waktu lalu. Sekarang cukup penasaran dengan pemikiran Abihirt. “Kau tidak takut aku hamil?” Dia tak bisa menahan diri lebih lama dan bertanya. Ada jeda beberapa saat, seolah Abihirt butuh waktu berpikir, meski akhirnya pria itu bertanya, “Hamil?” Moreau mendengkus. Sepertinya Abihirt terlalu fokus dengan kesibukan di kantor, sehingga apa pun yang menjadi kemungkinan di antara mereka nyaris tidak terpikirkan. “Yang kutahu, kau tidak melakukannya
Abihirt masih menunggu. Betapa tidak sabar pria itu, yang langsung menyusupkan jari – jari tangan sekadar menjambak rambutnya, tetapi cukup pelan; memberi Moreau petunjuk supaya melakukan sesuatu—secara tidak langsung telah mereka sepakati.Kenyataan bahwa dia pelan – pelan menyingkirkan jarak antara bibir dan permukaan perut Abihirt, membuat pria itu menggeram singkat, yang tertahan di udara ketika Moreau menjulurkan lidah sekadar menjilat tubuh seksi di hadapannya, meski tindakan yang dia lakukan menjadi kecupan – kecupan ringan.Sesekali Moreau akan menengadah hanya untuk mendapati bagaimana Abihirt menikmati setiap tindakan yang dia lakukan. Tangannya tak diam. Mulai membuka resleting celana kain di sana. Abihirt mungkin sedikit terkejut, tetapi pria itu mengerti sisanya. Prospek yang membuat Moreau sedikit ragu, meski dia benar – benar mengambil keputusan penuh tekad sekadar menggenggam bagian dari tubuh Abihirt; mengurut pria itu, sampai kejantanan di sana membengkak mantap.Ab
Hari pertama bekerja setelah menghilang selama beberapa waktu benar – benar terasa berat. Moreau baru saja menginjakkan kaki di kamarnya; merasa sangat tak ingin melakukan apa pun selain tidur. Ingatan tentang bagaimana sang manajer klub memberi peringatan masih terus bercabang di benaknya.Moreau yakin akan sulit andai dia ingin meminta izin untuk hal – hal penting tertentu. Mungkin dia perlu berusaha selama satu bulan penuh sekadar meyakinkan pria cerewet yang hanya bisa berkata pedas di balik meja kerja.Sekarang saatnya memejam. Dia sudah merasa akan segera terlelap ketika sayup – sayup ... suara dari arah jendela kamar kembali menarik apa pun tentang rasa lelah di sini, untuk mencuak ke permukaan.Kelopak mata Moreau segera terbuka. Siapa yang terduga diam – diam berusaha menyelinap? Tingkat waspada segera membentuk gumpalan tebal. Dia tak bisa terpaku lebih lama. Langsung menapakkan kaki di atas lantai, kemudian berjalan tentatif.Hal pertama yang dilakukan ada
“Tidak apa – apa, Amiga. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Kau butuh waktu. Aku yakin Mr. Lincoln akan mengerti. Dia mungkin sibuk. Mengapa tidak kau saja yang menanyakan kabarnya lebih dulu?”Itu sama sekali tidak pernah Moreau bayangkan. Dia bereaksi dengan cepat. Antara bingung atau merasa konyol. Hanya sesaat kekehan ringan Juan dan respons meringis miliknya yang mengambil tempat.“Aku gengsi. Bagaimana kalau dia tidak mau membalas pesanku?” dia akhirnya bicara, bertanya – tanya mungkinkah sebaiknya mengalah?“Gengsi ... astaga. Bagaimana hubungan kalian bisa membaik dengan cepat, kalau kau saja masih mementingkan ego-mu. Kurasa, semua wanita memang seperti ini. Mengedepankan gengsi lebih dulu, daripada mencoba sesuatu yang lebih baik.”Moreau tidak pernah ingat akan ada sekecil hal tentang Juan yang memperhatikan lawan jenis. Dia jelas merasa ini sesuatu yang ganjil; segera menatap pria itu dengan tatapan menyelidik. Ekspresi teman baiknya memberi petunjuk singkat d
Moreau merasa sangat malu. Ironi. Dia tak punya cukup tenaga untuk memberontak. Kepalanya terasa pening karena alkohol dan sekarang semacam terombang – ambing di lautan berombak dahsyat, diliputi sengatan aroma tubuh ayah sambungnya yang memabukkan. “Moreau sudah bilang tak ingin kau ganggu,
“Lain kali aku tak ingin melihatmu pergi dan mabuk.” Lagi. Suara serak dan dalam Abihirt terdengar sarat peringatan yang tidak Moreau mengerti, mengapa harus ada larangan ketika mereka sama – sama impas. Dia harap bisa bereaksi lebih sabar atau apa pun itu terhadap segala sesuatu yang sedang
Froy mendengkus setengah enggan. Hampir tidak menaruh kesimpulan jika ternyata Abihirt bisa menebak tujuan lain dari keberadaannya di sini. Paling tidak, ada sedikit keuntungan di mana dia merasa tak perlu mencari cara lain untuk membuka peluang. “Baiklah, Paman. Aku akan melupakan tuduhank
Moreau tidak memiliki banyak kesiapan ketika tiba – tiba dia harus mendapati ibunya membuka pintu kamar, kemudian langkah wanita itu terdengar kasar mendekati kaki ranjang. Makan malam baru selesai dan dia akui bahwa memang tuntutan untuk tidak terlibat merupakan kebutuhan terpenting pada saat –







