Share

Bab 100. Dipaksa

Penulis: Just Mommy
last update Tanggal publikasi: 2026-08-23 08:17:04

Pria itu kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri jalanan berkerikil menuju rumahnya. Pikiran Ryan berputar cepat, menebak-nebak siapa dalang di balik tindakan nekat kedua pria misterius itu.

Namun, sebanyak apa pun ia berspekulasi, Ryan sama sekali tidak mendapatkan petunjuk. Yang jelas, di matanya, Elena adalah gadis desa yang polos dan sederhana.

Tidak mungkin gadis itu terlibat dengan orang-orang berbahaya seperti itu.

'Mungkin cuma pereman sewaan yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 155

    Kejadian hampir terbongkarnya perawat misterius hari itu membuat paranoia di kepala Helena semakin tinggi. Kecurigaannya bahwa Elena menyusup masuk ke rumah sakit untuk menemui putranya semakin menggebu-gebu. Pagi harinya, suasana di lantai lima ICU VIP berubah total menjadi bak benteng pertahanan yang ketat. "Nyonya Besar memperketat penjagaan hingga sepuluh kali lipat," bisik dokter Brian saat menemui Elena dan Leon secara tersembunyi di ruang konsultasi. Wajah dokter senior itu tampak sangat serius. "Maksud dokter?" tanya Elena cemas, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. "Nyonya Helena menempatkan empat pengawal pribadi tepat di depan pintu kamar Pak Julian," terang dokter Brian. "Dan yang lebih parah, Nyonya Besar memberi instruksi yang tidak bisa diganggu gugat.” “Setiap tenaga medis, baik dokter, perawat senior, maupun petugas sanitasi, yang hendak melangkah masuk ke kamar Pak Julian .... ... wajib melepaskan masker dan menurunkan pelindung wajah di depan

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 154

    "Dasar tidak tahu diri!"Helena melangkah lebar dengan napas memburu. Tanpa memberi kesempatan bagi sosok bertubuh mungil itu untuk bergeming.Tangan Helena berhias cincin berlian melayang, mencengkeram bahu sang perawat. Menyentaknya kasar hingga tubuh Elena terputar balik menghadapnya."S-saya, saya bisa jelaskan, Nyonya!" jawab Elena dari balik maskernya. Suaranya gemetar parah, matanya terbelalak ketakutan seraya berusaha tetap menunduk."Jelaskan apa, hah?" bentak Helena. Dia masih belum menyadari bahwa itu adalah Elena."Mataku tidak buta! Kamu menempelkan wajahmu di dada putraku dan memeluknya! Apa yang kamu lakukan pada Julian?""Saya tidak bermaksud melanggar batas, Nyonya!" sahut Elena cepat, otaknya berputar keras mencari celah di tengah kepanikan yang nyaris melumpuhkannya. "S-saya sedang memeriksa kondisi jantung Pak Julian!""Memeriksa jantung?" cemooh Amanda yang berdiri di samping Helena dengan senyum merendahkan. "Pakai cara memeluk begitu? Jangan membodohi kami!""

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 153

    Usai terlepas dari kejaran obsesif Ryan di kampus, Elena bergerak secepat kilat. Tanpa membuang waktu untuk beristirahat, ia berganti pakaian seragam perawat di ruangan biasanya. Ia melangkah mantap menyusuri koridor steril lantai ICU VIP.Ia memasuki ruangan Julian. Suasana tenang nan remang langsung menyambutnya. Elena meletakkan nampan sanitasi di atas meja kaca, lalu melangkah mendekati ranjang. "Julian, aku datang lagi," bisik Elena lembut sambil menggenggam jemari kekasihnya. Di sana, Julian terbaring kaku. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura dominasi itu kini tampak begitu pucat dan ringkih.Saat mengusap garis rahang pria itu, bayangan wajah Ryan yang menyeringai di kampus tadi mendadak melintas di benaknya. Tiba-tiba ide liar yang lahir dari rasa putus asa, terbersit di kepala Elena.Dokter Brian pernah mengatakan bahwa terkadang, emosi yang kuat atau dorongan pemicu dari luar bisa menembus alam bawah sadar seorang pasien koma.Emosi apa yang paling membakar seora

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 152

    Tatapan Ryan tampak liar, penuh ambisi, seolah telah menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk melacak keberadaan Elena di kota besar ini."Akhirnya aku menemukanmu, Elena," desis Ryan dengan senyum menyeringai saat mengikis jarak.Ia berhenti tepat dua langkah di depan gadis yang tampak membeku ketakutan itu."Apa yang kamu lakukan di sini?"Suara Elena agak bergetar, separuh tertahan oleh gelombang kepanikan yang mendadak melumpuhkan dadanya. Pikirannya melayang liar dan berkecamuk. Seluruh fokus hidupnya saat ini tersita sepenuhnya untuk Julian. Merawat pria itu, menunggu keajaiban dari komanya, dan menjaga penyamarannya agar tidak terbongkar oleh keluarga Wardana. Kehadiran Ryan di tengah pusaran masalah ini adalah hal terakhir yang ia butuhkan.Bahkan bayangan kejadian masa lalu langsung membuatnya gelisah. Elena ingat betul betapa cemburunya Julian pada Ryan. Kecelakaan tragis yang menimpa Julian hingga terbaring koma saat ini pun tak lepas dari respon yang kurang bijak dar

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 151

    Masker terlepas.Wajah gadis itu terpampang jelas di bawah lampu terang ruangan.Helena membeku seketika. Matanya terbelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena syok luar biasa.Perawat di depannya sama sekali bukan Elena Thorne! Wajah wanita muda itu penuh jerawat di dahi dan pipinya, sangat berbeda jauh dari paras mulus milik Elena."K-kamu, siapa kamu?" gagap Helena kehilangan kata-kata."S-saya Indah, Nyonya!" tangis perawat itu pecah lantaran ketakutan dan kesakitan akibat cengkeraman pengawal. "Saya perawat jaga shift pagi yang ditugaskan resmi oleh Dokter Brian!"Beberapa jam sebelumnya, di ruang kerja Dokter Brian, Leon berdiri bersama Dokter Brian dan Elena yang tampak khawatir."Nyonya Besar sudah sangat curiga sejak kemarin sore," ujar Leon pada Elena dan Brian. "Beliau pasti akan menunggu di kamar Pak Julian pagi ini untuk menjebak Nona Elena.""Lalu bagaima

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 150

    Jarak mereka kini hanya terpaut kurang dari tiga meter di koridor yang sepi itu. Elena menghentikan langkahnya seketika. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Ia langsung menundukkan kepala dan berpaling membalikkan badan untuk melangkah pergi.Namun, mata tajam Helena yang penuh kecurigaan mendadak mengunci sosok perawat berpostur tubuh kecil yang berdiri kaku di depannya itu. Langkahnya terhenti."Tunggu!" tegur wanita paruh baya itu dengan suara dingin dan bernada dominan yang menggema di seluruh koridor.Langkah kaki Elena terhenti. Tubuhnya membeku, tak sanggup menggerakkan kaki meski nalurinya berteriak untuk berlari.Helena menyipitkan matanya. Ia memperhatikan gaya berjalan, bentuk tubuh, dan sepasang mata di balik masker yang sangat familiar itu. Kebencian dan kecurigaan yang mendalam mendadak meletup di dada sang Nyonya Besar."Kamu, perawat yang baru saja dari kamar Julian, kan?" tanya Helena sambil melangkah mendekat dengan tatapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status