Share

Bab 187

Penulis: Just Mommy
last update Tanggal publikasi: 2026-10-11 07:28:00

Veronica mengepalkan jemarinya yang terikat erat pada sandaran kursi. Dadanya bergemuruh oleh gelombang kecewa, cemburu, dan sakit hati yang membakar seluruh jiwanya.

Selama pernikahan mereka dulu, Julian tidak pernah sekalipun menatapnya dengan binar liar dan gairah yang begitu membara. P

ria berkuasa itu selalu bersikap dingin, kaku, dan berjarak, seolah Veronica hanyalah patung pajangan di dalam rumahnya.

Kini, di balik dinding kaca yang temb
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 187

    Veronica mengepalkan jemarinya yang terikat erat pada sandaran kursi. Dadanya bergemuruh oleh gelombang kecewa, cemburu, dan sakit hati yang membakar seluruh jiwanya. Selama pernikahan mereka dulu, Julian tidak pernah sekalipun menatapnya dengan binar liar dan gairah yang begitu membara. P ria berkuasa itu selalu bersikap dingin, kaku, dan berjarak, seolah Veronica hanyalah patung pajangan di dalam rumahnya. Kini, di balik dinding kaca yang tembus pandang dari sisinya, Veronica dipaksa menyaksikan bagaimana Julian memperlakukan Elena. Pria yang dulu begitu angkuh dan tak tersentuh itu kini rela menanggalkan seluruh harga dirinya demi wanita lain. ‘Brengsek kau, Julian!’ maki Veronica dalam hati. Air mata amarah menetes menembus pelapis tipis yang memaksa kelopak matanya tetap terbuka. "Kamu sengaja melakukan ini padaku!" Ia tahu pasti ini adalah pembalasan dendam psikologi

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 186

    Di dalam kamar hotel yang sunyi, Veronica terduduk cemas. Sejak siang tadi ia dipindahkan secara paksa ke dalam ruangan mewah ini tanpa penjelasan apa pun. Kebingungan dan rasa cemas kian menggerogoti benaknya.Pintu kamar mendadak terdorong kasar. Dua pria bertubuh kekar dengan setelan hitam melangkah masuk tanpa suara."Kalian siapa? Mau apa kalian?!" teriak Veronica panik, seraya mundur berupaya menghindar.Tanpa membalas sepatah kata pun, kedua pria itu mencengkeram lengan Veronica dengan kuat. Mereka menyeretnya dan mendudukkannya di sebuah kursi khusus yang tepat menghadap ke arah dinding kaca buram.Dengan cepat, jemari kekar mereka melilitkan tali tebal, mengikat tangan dan kaki Veronica ke kursi tersebut hingga ia tak sanggup bergerak sedikit pun. Sebuah lakban besar ditempelkan paksa di mulutnya, membungkam jeritan protes wanita itu.Veronica meringis tertahan di balik sumbatan. Matanya terbelalak penuh ketakutan.Pria itu kemudian menekan tombol kontrol di dinding. Seket

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 185

    "Aku ingin dia menyaksikan dari dekat bagaimana kejayaannya hancur saat aku memulai hidup baru.""Semua instruksi akan segera dilaksanakan secara rapi, Tuan," tegas Leon membungkuk dalam."Ingat, Leon," peringat Julian melayangkan pandangan tajam pada asisten pribadinya. "Sembunyikan semua rencana ini dari Elena. Jangan sampai ada satu patah kata pun tentang eksekusi Veronica yang sampai ke telinganya.""Saya mengerti, Tuan. Nona Elena tidak akan tahu apa pun mengenai hal ini," janji Leon mantap.Pria itu mengangguk puas atas loyalitas asistennya. Tepat di saat itu, kenop pintu kamar mandi bergerak terputar.Begitu Elena melangkah keluar dari kamar mandi, aura mematikan yang menyelimuti Julian menguap seketika. Sorot matanya yang sedingin es berganti menjadi tatapan hangat yang penuh kelembutan saat menatap gadis kesayangannya."Sudah selesai, Sayang?" tanya Julian dengan nada manis, mengikis j

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 184

    Elena mengerucutkan bibirnya gemas mendengar logika tajam kekasihnya. Namun di dalam hati, ia sangat paham kekhawatiran yang dirasakan calon suaminya itu."Baiklah, aku setuju bekerja di Wardana Group," ujar gadis itu, akhirnya mengalah. "Tapi dengan satu syarat."Julian menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut serius di wajah cantik kekasihnya. "Syarat apa, Piccola?""Aku akan melamar melalui jalur mandiri dari bawah," tegas Elena dengan mata berbinar penuh tekad. "Kamu sama sekali tidak boleh membantuku atau memberi instruksi khusus pada HRD!""Lalu?" tanya Julian menyimak."Selain itu, tidak boleh ada satu orang pun di kantor yang tahu kalau aku adalah istri pemilik Wardana Group," lanjut Elena bersungguh-sungguh. "Semua orang harus menganggapku sebagai karyawan biasa."Mata Julian seketika membulat. Terkejut mendengar permintaan yang sangat tidak masuk akal baginya. "Kenapa begitu? Apa kamu malu punya suami seperti aku?!"Elena buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengge

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 183

    Elena menghela napas panjang, menatap mata kekasihnya yang kini menatapnya hangat. Rasa cemas di dadanya perlahan terurai, meski kelebatan ingatan saat Amanda terkulai di lantai masih membuat jantungnya berdebar kencang."Jujur, aku takut melihatmu sekejam itu," bisik gadis itu jujur. Ia mengusap rahang kekasihnya. "Kekejamanmu tadi benar-benar membuat bulu kudukku berdiri."Julian tersenyum tipis. Menggenggam erat jemari mungil kekasihnya lalu mengecup punggung tangannya lembut. "Kekejaman itu hanya berlaku untuk musuh-musuhku, Piccola. Kamu tidak usah khawatir."Ia menarik Elena lebih dekat, menyandarkan keningnya di dada gadis itu. "Aku tidak akan pernah menyakiti atau melakukan hal mengerikan itu pada wanita yang sangat kucintai."Mendengar bisikan tulus itu, seketika hati Elena meleleh. Gadis itu tersenyum manis, membalas dekapan Julian dengan manja dan menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih."B

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 182

    Kepanikan Amanda memuncak hingga batas maksimal. Ia tahu betul reputasi kejam Julian Wardana yang tidak pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya."T-tidak, Julian, tolong jangan!" pekik Amanda dengan air mata ketakutan yang mulai menetes.Leon melangkah mendekat seraya membuka sebuah kotak perak di atas meja. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah suntikan medis berukuran sedang yang sudah terisi penuh oleh cairan bening beracun.Cairan itu adalah zat kimia kotor yang sama dengan yang disuntikkan Amanda pada Julian. Namun dengan dosis tiga kali lipat lebih tinggi dan mematikan."Julian! Kamu gila!" histeris Amanda, matanya membulat melihat jarum suntik yang berkilat dingin di tangan Leon. "Kamu mau membunuhku?!"Julian menyunggingkan senyum miring yang sangat kejam. "Membunuhmu? Coba kamu pikirkan sendiri apa yang sudah kamu lakukan padaku kemarin. Bagaimana pikiran kotormu saat memasukkan cairan itu ke tubuhku, hm?""Aku mohon, Julian! Ampuni aku!" ratap Amanda bersimpuh mesk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status