LOGINElena terkejut mendengarnya. Suara kekehan bas yang begitu familiar terdengar. Membawa godaan yang sanggup membuat pening kepalanya dalam sekejap."Kamu gila ya?" tegurnya, setengah berbisik lantaran takut suaranya menembus dinding kamar sebelah tempat neneknya tertidur. "Jangan konyol! Mana ada orang mandi sambil menelepon!""Siapa bilang tidak ada? Aku baru saja menawarkannya padamu," goda Julian santai. Nada suaranya yang seksi dan santai terdengar jelas saat jemarinya mulai melonggarkan ikatan dasi."Tidak mau! Aku mau tidur!" tolak Elena tegas."Siapa bilang kamu boleh tidur sekarang, Piccola?" tanya pria itu.Tiba-tiba, bunyi getar pendek menandakan peralihan sambungan. Layar telepon yang tadinya hanya menampilkan nama Julian Wardana kini berubah menjadi permintaan Video Call.Elena membelalakkan matanya lebih lebar lagi. "Julian! Kenapa kamu mengubah ke video call?”"Terima, Sayang," perintah pria itu lembut namun tak menerima penolakan dari seberang sana."Tidak mau! Aku mal
Keheningan panjang membentang di antara mereka. Julian menatap pintu mobil yang terbuka lebar, sementara napasnya memburu melawan ego yang mendesak untuk tetap melajukan kendaraan ke sana. Pria itu memejamkan mata. Meredam seluruh sisa amarah yang tadi membakar dadanya. Bayangan wajah rentan nenek kekasihnya dan rasa takut Elena membuatnya melunak secara drastis. "Baiklah," putus pria itu akhirnya. Suaranya terdengar pasrah dan jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Aku mengalah." "Benarkah?" tanya Elena di seberang sana. Nada suaranya berubah menjadi kelegaan yang luar biasa. "Kamu tidak jadi datang ke sini, kan?" "Iya, aku tidak jadi datang," jawab pria itu lirih. "Aku tidak ingin membuatmu kabur, dan aku pasti tidak mau membuat nenekmu syok." "Terima kasih, Sayang," ucap gadis itu tulus. "Kamu mengerti kan kenapa aku melarangmu?" "Aku mengerti, Piccola," sa
Leon terbelalak kaget. "S-sekarang, Tuan? Ini sudah jam sembilan malam, perjalanan ke desa terpencil itu memakan waktu beberapa jam dan jalanan di sana sangat minim penerangan—""Aku tidak bertanya berapa jam perjalanannya, Leon!" potong Julian dengan suara berat yang menekan. "Siapkan mobil dalam tiga menit, atau aku sendiri yang memegang kemudi!"Leon menelan saliva. Menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup menghentikan keputusasaan dan kecemburuan seorang Julian Wardana malam ini."Baik, Tuan Wardana. Mobil akan siap di depan dalam tiga menit," sahut Leon pasrah sebelum bergegas keluar ruangan untuk menjalankan perintah gila bosnya.Julian kembali melirik ponselnya yang tetap bisu, menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin."Kamu benar-benar membuatku gila, Elena," desis pria itu penuh dendam dan rasa posesif yang membakar. "Mari kita lihat, apakah kamu masih bisa mengabaika
Leon berdiri mematung di tengah ruangan. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya melihat rahang Julian yang mengeras ketat. "P-Pria di video itu, siapa, Tuan?" tanyanya sangat pelan, hampir tak terdengar. "Bukan urusanmu!" bentak bosnya tanpa menoleh sedikit pun. Mata pria itu tetap mengunci layar ponselnya yang terus memutar rekaman video bisu tersebut. Leon menelan saliva dengan susah payah. Ia mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Pengalamannya bertahun-tahun menjadi asisten pribadi Julian membuatnya tahu kapan harus bicara dan kapan harus bungkam jika tidak ingin dipecat saat itu juga. "Leon," panggil pria itu, suaranya kini terdengar seperti bisikan dari neraka. "Saya, Tuan Wardana?" sahut Leon cepat, merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. "Batalkan semua agenda malam ini. Panggil seluruh manajer divisi untuk rapat darurat sepuluh menit lagi," perintah J
Getaran samar dari ponsel di atas meja memecah kesunyian ruang kerja megah itu. Julian, yang baru saja membenamkan diri dalam tumpukan dokumen investasi, melirik layar. Sebuah notifikasi laporan berkala masuk dari tim pengawalnya di desa. Pria itu membuka pesan gambar tersebut. Ia mengira akan melihat foto Elena yang sedang berjalan tenang di pedesaan. Namun, begitu gambar terbuka sempurna, sepasang mata tajamnya mendadak terbelalak. Di layar ponselnya, tampak Elena berdiri cukup dekat dengan seorang pria muda bertubuh tinggi. Wanitanya itu sedang menyunggingkan senyum lebar yang sangat jarang ia lihat selama beberapa hari terakhir. Binar kebahagiaan di wajah Elena terpancar jelas. Namun ditujukan pada pria lain. Seketika itu juga, raut tenang di wajah Julian sirna. Berganti dengan murka yang mendidih. Dada pria itu bergemuruh. Mengikis seluruh kedamaian yang baru saja ia rasakan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemari Julian bergerak cepat menekan tombol panggil
Ponsel di genggaman Elena bergetar. Gadis itu membaca pesan dari Julian dengan senyum mengembang. Ia langsung mengetikkan balasan panjang untuk menceritakan pengalamannya. Elena: Sudah. Aku baru saja naik taksi. Elena: Aku beruntung hari ini! Pak sopirnya sedang ulang tahun, lalu dia memberiku diskon besar! Julian yang membaca pesan itu di ruang kerjanya tersenyum geli melihat kepolosan gadis itu. Wanitanya memang sangat mudah percaya pada kebaikan orang lain. Namun di sisi lain, ia merasa kesal pada anak buahnya yang ceroboh. Bagaimana bisa anak buahnya memberikan harga serendah itu hingga terkesan sangat tidak masuk akal? "Bodoh sekali," gumamnya. "Untung saja Elena sangat polos dan tidak menyadari hal mencurigakan itu," lanjutnya sambil terkekeh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengetikkan balasan. Julian: Wah, kamu beruntung sek







