LOGINLOKASI: BENGKEL RAHASIA "SCRAP YARD" – DISTRIK 13[TIME UNTIL REBOOT: 47:12:05]Angka merah di layar laptop Vee terus menghitung mundur, detiknya seirama dengan tetesan oli dari pipa bocor di langit-langit bunker."Hentikan waktu itu, Vee," perintah Rick. Dia duduk di tepi ranjang medis, menatap wajah pucat Elara. "Kau hacker terbaik di galaksi. Retas jamnya.""Aku tidak bisa meretas waktu server, Kak," jawab Vee tanpa menoleh dari layarnya. Jari-jarinya bergerak begitu cepat hingga terlihat kabur. "Dan berhenti berpikir kau adalah Tuhan hanya karena kau baru saja menghapus tiga satpam kroco."Vee memutar kursinya, menatap Rick dengan mata biru yang tajam—tatapan yang 100% mewarisi ketegasan Rania."Dengar. Tombol 'Delete'-mu itu hanya bekerja pada objek di dalam server. Tapi yang datang berikutnya... The Debugger... dia berasal dari luar sistem. Kau tidak bisa menghapusnya, sama seperti karakter game tidak bisa menghapus pemain yang memegang stik konsol.""Lalu kita harus apa? Menyer
LOKASI: RERUNTUHAN LABORATORIUM "ORIGIN" – PASCA-PEMBERSIHAN Keheningan yang menyusul setelah Rick menghapus para Sentinels terasa lebih memekakkan telinga daripada ledakan badai tadi. Salju turun dengan malas, menutupi lantai logam yang kini hangus dan pixelated. Rick masih berdiri memunggungi orang tuanya. Elara yang pingsan berada di dalam gendongannya—tubuh gadis itu terasa ringan, namun beban emosional yang dibawa Rick terasa seperti memikul seluruh planet Aethelgard. "Rick..." suara Darrius pecah. Kaisar itu mencoba melangkah maju. Tangannya yang masih memerah dan berasap akibat menahan laser tadi terulur, gemetar. "Bicaralah pada Ayah, Nak. Jangan menatap salju itu. Tatap Ayah." Rick tidak berbalik. "Untuk apa, Yah? Supaya Ayah bisa memastikan kalau 'Program' ini masih berjalan sesuai perintah?" "Hentikan omong kosong itu!" Darrius menggeram, tapi suaranya lebih terdengar seperti rintihan. "Kau bukan barisan kode bagiku! Kau adalah anak yang kupukuli bokongnya saat kau m
LOKASI: PUNCAK FROSTBITE – GERBANG SEKTOR ZEROAngin kutub meraung, membawa serpihan es yang mampu menggores zirah baja. Di tengah badai putih yang membutakan, Rick bergerak seperti bayangan—cepat, senyap, dan penuh determinasi. Sensor panas di matanya menangkap siluet kecil yang meringkuk di balik reruntuhan pilar es.Elara.Gadis itu nyaris membeku. Rambut merahnya tertutup salju, dan napasnya pendek. Saat Rick mendarat, Elara mencoba menghunus belatinya, namun tangannya terlalu kaku untuk menggenggam hulu senjata.Tanpa sepatah kata, Rick melepas jubah pelindungnya dan membungkus tubuh Elara. Dia menarik gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan panas. Rick menyalurkan Mana api secara konstan, menciptakan gelembung hangat di tengah badai yang mematikan."Kau... kenapa kau ke sini?" bisik Elara, suaranya parau. "Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu aku membawamu ke tempat terlarang ini.""Biarkan dia mencoba," jawab Rick datar. Tatapannya menatap lurus ke arah dinding gunun
LOKASI: DAPUR ISTANA UTAMA (ZONA BAHAYA KULINER)Jika rakyat Aethelgard melihat ini, mereka mungkin akan mengira dunia sedang mengalami glitch massal.Kaisar Darrius, sang penghancur planet, berdiri di depan kompor induksi nuklir dengan celemek merah muda bertuliskan "Kiss the Cook"—hadiah ulang tahun dari Rania yang dia pakai dengan rasa bangga luar biasa. Dia sedang mengaduk kuali raksasa berisi cairan kental berwarna pelangi yang sesekali mengeluarkan percikan api."Sup Naga membutuhkan api yang stabil, Darrius. Bukan api neraka," suara Rania terdengar dari ambang pintu. Dia sudah berganti pakaian dengan jubah rumah sutra yang longgar namun tetap terlihat elegan.Darrius menoleh, matanya berbinar. "Cintaku! Aku hanya memberikan sedikit 'sentuhan' energi fusi agar kaldunya lebih bertekstur. Rick butuh nutrisi ekstra setelah dihajar virus tadi."Rania mendekat, mengintip ke dalam kuali. "Kau memasukkan ekor Naga Api dan... kristal energi?""Dan sedikit bumbu cinta," Darrius menyering
LOKASI: RERUNTUHAN GAZEBO (PASCA PERTARUNGAN)Debu belum sepenuhnya turun, tapi keheningan yang nyaman sudah menyelimuti area itu. Tidak ada lagi monster, tidak ada lagi Arthur K.Hanya ada Darrius yang sedang berlutut di tanah.Bukan karena kalah. Sang Kaisar Galaksi itu berlutut untuk memakaikan kembali sandal kelinci pink ke kaki Rania."Kau ceroboh, Sayang," omel Darrius pelan. Suaranya yang biasanya menggelegar kini berubah menjadi gerutuan lembut seorang suami yang khawatir. "Keluar rumah tanpa kaus kaki. Lantai di sini dingin. Bagaimana kalau kau masuk angin? Bagaimana kalau kakimu lecet?"Rania, yang duduk di atas reruntuhan pilar marmer seolah itu adalah singgasana emas, hanya tersenyum tipis. Dia membiarkan pria yang baru saja membelah langit itu memperlakukan kakinya seperti barang pecah belah paling mahal di alam semesta."Darrius, aku bisa memanipulasi suhu tubuhku sendiri. Aku tidak akan flu hanya karena angin malam," jawab Rania, jemarinya yang lentik bermain-main di ra
Kawah itu masih berasap. Darrius berdiri di sana, ujung jubahnya tidak kotor sedikit pun, memegang sandal rumah berbulu kelinci pink (milik Rania yang terbawa secara tidak sengaja) yang kini berdenyut dengan aura ungu mematikan.Di balkon VIP, Arthur K. tidak lari. Dia justru bertepuk tangan pelan."Menakjubkan," suara Arthur terdengar jernih, menembus debu. "Variabel 'Ayah' memiliki output damage setara Supernova. Tapi..."Arthur menjentikkan jari."...kau hanyalah NPC (Non-Playable Character) yang terlalu kuat. Kau tidak punya akses Admin."Udara di sekitar Darrius mendadak padat. Ratusan rantai kode biner berwarna merah darah muncul dari tanah, melilit tubuh Kaisar itu. Rantai itu bukan fisik, itu adalah perintah Coding: [CMD: FREEZE_ASSET].Darrius menggeram. Ototnya menegang, mencoba merobek rantai itu, tapi rantai itu menembus kulitnya, menyerang langsung ke jiwanya."Kau pikir kau bisa menahanku dengan tali jemuran ini?!" raung Darrius. Langit bergemuruh merespons amarahnya."A







