MasukAroma yang pekat dan menyengat membungkus Zhou Lingge erat-erat, membuatnya terjerat dalam kantuk yang tak bisa dia lawan.
Ada sepasang tangan panas yang perlahan membelai tubuhnya dengan lembut. Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menghantamnya tanpa ampun! Dia tidak bisa menahan jeritan kesakitan. Ditengah rasa sakit yang menyiksa, akhirnya matanya terbuka. Sepasang mata merah darah yang mengerikan menatapnya tajam, menusuk kedalam jiwanya. "Ah..." Matanya dipenuhi ketakutan yang mencekam. Dia berjuang keras, tubuhnya gemetar ketakutan. Bukankah dia sudah mati? Bukankah dia sudah terbebas dan turun ke neraka? Mengapa...? Mengapa dia masih bisa melihatnya? Tiba-tiba kedua tangannya dikunci erat. Dia secara naluriah meronta, berusaha melawan. "Jangan sentuh aku... Lepaskan aku!" "Jadilah anak baik, ya?" Dia langsung menundukkan kepala dan menggigit bibirnya, menahan semua kata-kata yang tersisa. *** Rasa sakit yang luar biasa membuat Zhou Lingge hampir kehilangan kesadaran. Dia tidak mati. Seorang yang telah mati tidak akan bisa merasakan sakit. Dimana dia berada sekarang? Pria yang menindihnya seperti seekor binatang buas yang buas dan ganas. Semakin dia berjuang dan melawan, semakin marahlah pria itu. Tatapan pria itu dipenuhi kegelapan yang menyeramkan, matanya seperti serigala kelaparan yang hendak mengulitinya hidup-hidup, mencabik-cabik dagingnya, lalu melahapnya tanpa sisa! Serangan pria itu begitu ganas, membuatnya tak mampu bertahan... Pandangannya menjadi gelap, dan akhirnya dia jatuh pingsan. Saat Zhou Lingge kembali membuka matanya, langit di luar telah terang benderang. Namun, pria yang tadi menindihnya telah lama menghilang entah ke mana. Dia berusaha menopang tubuhnya yang hampir hancur, menarik selimut sutra untuk menutupi dirinya, lalu tertunduk diam dalam kebingungan. Saat matanya menyapu ruangan di sekelilingnya, pupilnya bergetar tanpa sadar. Ini... Adalah aula samping Istana Fengluan? Bagaimana dia bisa berada disini? Mendadak, kesadaran yang mengerikan muncul di benaknya. Dengan napas yang terengah-engah, dia mengangkat selimut dengan kasar, terkejut saat melihat keempat anggota tubuhnya masih utuh. Dia terpana, menatap lengannya yang sempurna Seolah-olah semua kejadian mengerikan ketika anggota tubuhnya dipotong, ketika dia dikurung dalam guci porselen, hidup tak seperti manusia, mati tak seperti hantu hanyalah sebuah mimpi buruk belaka! Tangannya gemetar saat dia menyentuh wajahnya. Yang dia rasakan adalah kulit yang lembut dan halus. Dengan tubuh yang masih lemas, dia segera mangambil jubah tipis, mengenakannya dengan terburu-buru, lalu terhuyang-huyang berjalan ke meja rias. Saat dia meraih cermin perunggu dan melihat bayangan dirinya di dalamnya_ Dia terengah-engah, matanya penuh air mata. Kulitnya seputih salju, rambut hitamnya halus seperti sayap burung, alisnya tipis melengkung bak bukit di musim semi, dan sepasang matanya bersinar seperti batu amber yang berkilauan. Bibirnya Semerah kelopak bunga persik... Bukan wajahnya yang dulu! Tidak ada bekas luka, tidak ada wajah yang rusak dan menakutkan. Ini adalah wajahnya yang masih muda, seperti saat dia berusia enam belas tahun. Air mata Zhou Lingge mengalir tanpa henti, bagaikan butiran mutiara yang jatuh satu persatu. Dia kembali! Dia telah terlahir kembali dua puluh tahun yang lalu! Tiba-tiba, pintu aula berderit dari luar. Zhou Lingge, dengan wajah penuh air mata, mengangkat kepalanya. Dan dalam sekejap_ Sosok yang telah terukir dalam jiwanya, dengan tanpa peringatan, muncul di hadapannya. Tubuhnya bergetar tanpa sadar. Giginya menggigit bibir bawahnya begitu erat hingga pecah, dan rasa darah yang asin langsung memenuhi mulutnya. Zhou Shiya! Kakak perempuannya yang baik! Permaisuri agung dari Dinasti Jin saat ini! Zhou Shiya masuk dengan mata merah, diiringi oleh banyak pelayan. Saat dia melihat Zhou Lingge yang tubuhnya penuh bekas merah kebiruan, dengan lekuk tubuhnya yang indah dan menggoda, matanya dipenuhi amarah dan kecemburuan yang ia tahan dengan sekuat tenaga. Namun, dalam sekejap, dia berpura-pura menanggis dengan suara serak. "Adik kandungku yang malang... "Kamu... Kamu baik-baik saja?" Tubuh Zhou Lingge bergetar hebat, ia berusaha sekuat tenaga menahan gelombang kebencian yang meluap didadanya. Melihat wajah berpura-pura baik hati milikZhou Shiya lagi, dia ingin sekali menerjang ke depan dan merobek topeng kemunafikannya tanpa peduli apa pun. Tapi dia tahu, dia tak bisa. Saat ini, dia tidak punya kekuatan untuk melawan Zhou Shiya. Di mata Zhou Shiya, dia hanyalah seekor semut yang bisa diinjak kapan saja. Jika Zhou Shiya ingin menghabisinya, itu semudah membalik telapak tangan. Melihat Zhou Lingge tak menggubrisnya, Zhou Shiya terus berpura-pura menangis, suaranya serak penuh kepedihan. "Benar-benar diluar dugaan, ternyata Kaisar langsung menginginkanmu tadi malam." "Ge'er, semua ini salahku yang tak berdaya, aku tak bisa menghentikan Kaisar. Tapi dia adalah Kaisar... Bukan hanya didalam Istana ini, bahkan diseluruh negri ini, siapa yang bisa menolak atau menentangnya?" "Aku mungkin Permaisuri, tapi aku juga seorang bawahan. Ge'er jangan salahkan kakakmu, bolehkah?" Zhou Lingge tidak bisa menahan diri untuk menyeringai sinis. Setelah terlahir kembali, melihat kembali wajah berpura-pura dari Zhou Shiya, barulah dia menyadari betapa bodohnya dirinya di kehidupan sebelumnya. Dulu, Zhou Shiya berkata bahwa dia kesepian selama kehamilan dan sangat merindukan keluarganya. Jadi, dia memohon kepada Ayah mereka untuk mengizinkan Zhou Lingge masuk ke Istana menemaninya. Tapi siapa sangka, pada malam pertamanya di Istana, Zhou Shiya justru mengundang Kaisar untuk makan malam bersama mereka. Saat itu, dia sudah merasa ada yang tidak beres dan berusaha pergi. Tapi Zhou Shiya malah menggenggam tangannya erat-erat, tidak membiarkannya pergi. "Kaisar adalah suamiku, kita adalah keluarga, tidak perlu selaku itu." "Jika kamu bisa membuat Kaisar senang, mungkin kita bisa meminta perintah Kerajaan untuk menikahkanmu dengan Han Mubai." Saat itu, Zhou Lingge begitu polos dan bodoh hingga mempercayai kata-kata Zhou Shiya. Dia mengira kakak perempuannya benar-benar menyayanginya, benar-benar ingin melihatnya dan Han Mubai bisa bersama seumur hidup. Namun akhirnya... Setelah meminum anggur yang diberikan oeleh Zhou Shiya, kesadarannya menghilang sepenuhnya. Dan ketika dia terbangun, dia telah menjadi milik Kaisar! Keesokan harinya, Zhou Shiya menangis seperti sekarang, memohon maaf padanya, mengungkapkan ketidakberdayaan dan penderitaannya. Dia mengatakan bahwa Zhou Lingge merebut suaminya? Bukankah dia sendiri yang menyerahkan dirinya ke ranjang sang Kaisar? Zhou Shiya yang telah membiusnya, membuatnya menjadi wanita Kaisar. Semua ini adalah rencana yang telah dia susun langkah demi langkah! Buah lahir itu dia sendiri yang tanam. Kenapa dia masih menyalahkan dirinya karena telah merebut hati suaminya? Zhou Shiya menangis lama, suaranya hampir habis. Namun, kali ini, dia tidak mendapatkan reaksi apa pun dari Zhou Lingge. Alisnya mengernyit dalam. Seandainya ini terjadi di masa lalu, gadis bodoh itu pasti akan panik dan kebingungan. Namun, kini dia seperti mayat hidup yang tenang tanpa emosi. Ada apa dengannya? Dia sudah merendahkan dirinya untuk menjelaskan, seharusnya gadis itu berterimakasih dan membalsnya dengan rasa hormat! "Ge'er, apa kamu benar-benar marah padaku?" Zhou Lingge menarik napas dalam-dalam. Jika Zhou Shiya ingin bermain sandiwara, maka dia akan menemani sampai akhir. Kali ini, dia tidak akan membiarkan dirinya tertipu, diperdaya, disiksa hingga hidup lebih buruk dari kematian! Semua penderitaan yang telah dia alami, harus dibalas ribuan kali lipat! Orang baik tidak hidup lama, sementara orang jahat bertahan selama ribuan tahun. Hidup sekali lagi, dia tidak ingin menjadi orang baik yang lemah dan terus-menerus diinjak! Jika mereka menganggapnya wanita penggoda yang membawa kehacuran bagi negeri, maka dia akan membiarkan mereka melihat, seperti apa sesungguhnya wanita penggoda itu! Zhou Lingge menggigit bibirnya, matanya memerah saat menatap Zhou Shiya. "Kakak, aku tidak menyalahkanmu. Mungkin ini memang takdir." Zhou Shiya tertegun, seolah tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Takdir? Gadis bodoh ini benar-benar menerima nasip begitu saja? Bukankah dia selalu bersikeras hanya ingin menikah dengan Han Mubai? Sekarang setelah kehormatannya dihancurkan oeleh Kaisar, dia benar-benar menerima begitu saja? Sebelum Zhou Shiya bisa bereaksi lebih ajuh, Zhou Lingge melanjutkan. "Sebenarnya, aku merasa Kaisar cukup baik. Dia tampan dan memiliki kedudukan tertinggi. Tadi malam, dia juga begitu lembut padaku. Bisa menjadi wanitanya adalah berkah yang kudapat dari kehidupan sebelumnya." Darah hampir menyembur keluar dari tenggorokan Zhou Shiya! "Kamu... Kamu benar-benar berkata jujur? Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Han?" Zhou Lingge mengernyit dan langsung memotong kata-kata Zhou Shiya. "Apa yang kakak katakan? Aku dan Tuan Muda Han selalu menjaga batas, tidak pernah memiliki hubungan pribadi apa pun." Han Mubai adalah cucu sulung dari Han Taifu, penasihat tiga generasi Kaisar. Dia memiliki status tinggi, wajah tampan, dan bakat luar biasa. Di ibu kota, dia adalah pria idaman banyak wanita. Dengan statusnya yang terhormat, bagaimana mungkin Han Taifu akan mengizinkannya menikahi seorang putri selir? Hahh... Di kehidupan sebelumnya, dia tidak mengenal diri sendiri, berkhayal bisa menikah dengan Han Mubai dan hidup bahagia selamanya. Namun, kenyataannya_dia menghancurkan dirinya sendiri, tetapi juga menghancurkan hidup Han Mubai!Istana Qiluo. Selir Jiang duduk anggun di hadapan meja rias, menyisir rambutnya perlahan dengan penuh kehati-hatian. Ia menarik helaian rambut hitamnya dan menunduk, tenggelam dalam pikiran. Sepasang mata cantiknya tampak menghitam di sekeliling, wajahnya juga terlihat sangat pucat dan lelah. Pelayan kepercayaannya, dengan raut wajah penuh sukacita, membungkuk memuji, "Yang Mulia pasti sangat kelelahan tadi malam. Paduka Kaisar memang tak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan lembut. Lihat wajah pucat ini, pasti semalam tak tidur, bukan?" Ia sangat gembira. Meski wajah tuannya tampak lelah dan mata menghitam, semua ini adalah bukti nyata bahwa betapa besar kasih sayang Kaisar semalam. Beberapa hari lalu, ia juga melihat Selir Jia tampak seperti ini. Kini, kasih sayang yang dulu hanya milik Selir Jia telah beralih ke Selir Jiang. Seluruh Istana Qiluo pun diliputi semangat dan suka cita. Mata Selir Jiang berkedip, ingin berkata sesuatu, tapi tertahan. Karena kenyata
Selir Shu berhasil menghentikan Selir Jia dari menamani tidur Kaisar selama tiga malam berturut-turut. Kabar ini tersebar ke seluruh istana, membuat para Selir bereaksi berbeda—ada yang senang, ada yang kecewa, dan banyak pula yang hatinya campur aduk. Namun kebanyakan dari mereka justru merasa lega. Kaisar memilih pergi ke istana Selir Shu, itu jauh lebih baik dari pada terus-menerus mengunjungi Istana Yuancheng. Ini membuktikan bahwa kasih sayang Kaisar ke pada Selir Jia hanya sebatas angin lalu. Ia hanya tertarik sesaat saja. Setelah rasa segar itu hilang, Selir Jia pun sama saja seperti mereka. Sementara itu, Qiao'er tampak gelisah, berjalan mondar-mandir di depan Zhou Lingge, cemas tak karuan. "Yang Mulia Selir, ini bagaimana? Mengapa Kaisar kembali ke istana Selir Shu?" "Apakah beliau sudah bosan pada Yang Mulia?" Zhou Lingge enggan menjelaskan panjang lebar. Ia pun tidak bermaksud memberitahu bahwa ia sendiri yang menolak disayang dan bahkan sempat membuat Qin Fei
"Biarkan Selir Shu dan Selir Li membantumu mengelola urusan Istana, berbagi tanggung jawab agar semuanya lebih seimbang," ucap Qin Feiling datar. Usai berkata demikian, ia langsung memeluk Zhou Lingge dan pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zhou Shiya. Punggungnya tampak begitu dingin dan tak berperasaan. Tubuh Zhou Shiya gemetar. Ia berusaha keras menjaga dirinya tetap tegar, tapi akhirnya tak mampu membendung gejolak emosi—dunia dimatanya gelap seketika, dan iapun jatuh pingsan. Istana Fengluan mendadak jadi kacau balau. Sementara itu, Selir Shu dan Selir Li justru diuntungkan oleh kejadian ini. Sebuah keberuntungan tak terduga menghampiri mereka. Semala ini, Zhou Shiya menggenggam erat kekuasaan istana. Tak disangka, hanya dengan satu langkah dari seorang selir kecil seperti selir Jia Pin, keseimbangan itu langsung hancur berkeping-keping. Selir Shu memegang sapu tangan sambil menggigit bibir, matanya menatap nanar ke arah kepergian Qin Feiling dan Zhou Lingge. Mes
"Logikamu tidak masuk akal, ini hanya jelas-jelas kebohongan terang-terangan. Yang Mulia, Anda dengar sendiri.... hamba sungguh-sungguh telah di fitnah. Huhu.... hamba benar-benar sedih. Ini semua salah Anda yang terlalu memanjakan hamba, hingga mereka semua ingin mencelakai hamba. Bahkan kakak kandung hambapun... diapun mulai membenci hamba. Kehidupan hamba ke depan, bagaimana harus hamba jalani... huhu." Saat berbicara, Zhou Lingge kembali mencengkeram lengan baju Qin Feiling sambil menangis tersedu. Seperti kata pepatah, air mata seorang perempuan cantik bukanlah aib, justru mengahdirkan pesona yang menyayat hati dan menggugah jiwa. Setiap tetes air matanya yang bening bagaikan bintang-bintang di langit, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba dan ingin melindunginya. Qin Feiling mengulurkan telapak tangannya yang lebar dan hangat, menepuk-nepuk lembut punggungnya, membantu menenangkan napas dan perasaannya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan membelamu. Pengawal!
Para Selir yang hadir langsung tersentak dan buru-buru bersujud. "Yang Mulia." Kenapa Kaisar bisa datang ke sini pada saat seperti ini? Apakah beliau baru selesai menghadap? Beliau masih mengenakan jubah naga. Biasanya Kaisar tak pernah datang ke Istana Fengluan pada waktu seperti ini. Qin Feiling melangkah masuk ke dalam. Begitu masuk, ia langsung melihat Zhou Lingge yang tengah berlari sambil menangis hendak menabrakkan diri ke pilar. Wajahnya langsung berubah dingin, ia melangkah cepat dan menyambar pinggang Zhou Lingge, memeluknya erat ke dalam pelukannya. "Selir Jia, apa yang kau lakukan?" Mata Zhou Lingge merah, air mata bening mengalir di ujung matanya saat ia memandang Qin Feiling dengan tatapan penuh kepedihan dan keputusasaan. "Hamba difitnah dan tak bisa membela diri. Hanya kematian yang bisa membuktikan bahwa hamba tidak bersalah." Wajah Qin Feiling gelap sekelam tinta. Ia mengangkat pandangannya menatap para selir yang sedang berlutut, lalu akhirnya tata
"Benar juga, kalau kali ini dibiarkan, bukankah dia akan semakin sombong karena merasa dimanjakan? Akan bertindak semena-mena dan tak mengindahkan siapa pun!" Selir Jiang menahan rasa cemburunya dan ikut bersuara. Selir Li dengan hati-hati mengingatkan, "Yang Mulia sedang sangat menyayanginya. Kemarin, entah bagaimana, Selir Liu menyinggung perasaannya. Tak hanya pelayannya di pukuli sampai wajahnya rusak, bahkan dia sendiri di turunkan pangkatnya. Sekarang, dia adalah kesayangan di hati Kaisar, mana mungkin bisa diganggu sembarangan." Siapa sangkar kata-kata itu justru membuat amarah Selir Shu semakin berkobar. "Selir Liu memang tidak tahu tempat. Dia pantas di hukum. Kaisar bukan sedang melindungi Selir Jia! Hari ini Selir Jia terlambat memberi salam, ini kesalahan yang tidak bisa diabaikan. Bagaimanapun juga, tak ada yang boleh lolos dari hukuman." "Meskipun Kaisar hadir sekalipun, tak seharusnya dia terang-terangan melindunginya seperti ini!" "Selir Shu benar juga," guma







