登入Di ujung meja oval, Sena duduk dengan aura yang sangat pekat. Guratan amarah di wajahnya tidak bisa lagi disembunyikan."Duduk di samping Papa, Rosa," perintah Sena dingin begitu melihat anak perempuannya masuk.Rosa mengangguk pelan, berjalan dengan kepala sedikit menunduk dan mengambil kursi kosong di sebelah kanan sang komisaris. Di bawah meja, ia meremas jemarinya sendiri, memaksakan diri untuk tetap terlihat gugup di hadapan para petinggi perusahaan.Begitu pintu rapat ditutup rapat oleh sekretaris, Sena langsung menggebrak meja, membuat beberapa direktur paruh baya di sana otomatis menegakkan punggung mereka."Saya tidak mau mendengar analisis makro atau alasan teknis apa pun dari kalian!" suara Sena menggelegar, memotong atmosfer ruangan. "Hardi! Berapa sisa kapasitas buyback kita hari ini?!"Hardi, Direktur Keuangan, menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. "Jika kita menggunakan seluruh dana taktis yang tersisa di kuartal ini, kita hanya bisa menahan penurunan sa
Saat itu, Rey sedang duduk di sebuah kafe kecil yang tenang di lantai dasar sebuah gedung yang berseberangan dengan kantor papanya. Di hadapannya, Aisha sedang memangku laptop dengan jemari yang menari konstan di atas keyboard.Rey membaca pesan dari Rosa, lalu memperlihatkan layarnya pada Aisha. "Papa menggunakan taktik lama. Cuti medis."Aisha terkekeh sinis, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang menampilkan hitungan mundur pembukaan bursa saham Jakarta. Tinggal dua menit lagi menuju pukul 09.00 WIB."Komisaris Sena lupa, bahwa di era digital, informasi tidak bisa dikurung di dalam ruang kerjanya yang berbau cendana itu," ujar Aisha tenang. "Sistem kita sudah mendeteksi ada tiga perantara dari pihak Raharja Group yang mencoba menghubungi sekuritas internal untuk menjaga stabilitas harga pagi ini. Mereka mau melakukan buyback diam-diam kalau ada gejolak.""Biarkan mereka mencoba," Rey menyandarkan punggungnya, menyesap kopi hitamnya dengan santai. "Bagaimana dengan peluru k
"Rosa? Kamu pulang, Nak?" Rima langsung menghambur dan memeluk Rosa, putri bungsunya."Iya, Ma. Papa yang memintaku pulang," sahut Rosa pelan. Ia membalas pelukan mamanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, mencoba mencari kehangatan di tengah rasa lelah yang mendera.Namun, pelukan itu terlepas begitu cepat ketika Rima mendengus kesal. Raut wajah wanita paruh baya itu langsung berubah masam begitu topik pembicaraan beralih."Gara-gara kakakmu itu! Padahal Mama mau menjodohkannya dengan Gaby Santoso. Kamu tahu, kan, Santoso Group?"Rosa mengangguk pasrah. Siapa yang tidak tahu konglomerat pemilik jaringan bisnis raksasa itu?"Kalau Rey bisa menikah dengan Gaby, tentu semua orang akan menghormati kita," cecar Rima dengan mata berbinar penuh ambisi. Ia kemudian menggenggam kedua tangan Rosa, meremasnya erat seolah sedang menaruh beban berat di pundak putrinya. "Nanti kalau Rey menemuimu atau meneleponmu, bujuk dia supaya mau menikah dengan Gaby!"Rosa terpaku. Kalimat mamanya ter
"Datanglah jam tujuh pagi, tepat seperti yang Papa minta. Pasang wajah sedih, bingung, dan kecewa seolah-olah kamu berada di pihak Papa," ujar Rey, matanya berkilat penuh taktik. "Tapi, buka telingamu lebar-lebar. Besok pagi, Artech Holding akan mulai menekan saham Raharja Group dari bawah. Fokuslah pada bagaimana Papa merespons penurunan harga saham itu. Kakak ingin tahu siapa saja sekutu lama Papa yang masih berani menyuntikkan dana segar dalam kondisi darurat.""Dan kalau Papa mulai melibatkan keluarga Santoso?" sergah Rosa cepat.Rey terdiam sejenak. Bayangan tentang Gaby Santoso dan pengaruh raksasa keluarganya melintas di kepala. "Kalau Papa menghubungi mereka, itu artinya Papa sudah di ujung tanduk. Beritahu Kakak sekecil apapun pergerakan mereka."Rosa mengangguk mantap. Keberanian Rey seolah menular ke dalam nadinya. "Oke. Aku akan jadi mata dan telingamu di dalam istana Papa."Sementara itu, di sebuah sudut apartemen mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.Suasana di da
Rosa menggantung kalimatnya. Ia menoleh sedikit, memberikan jeda dramatis seolah membiarkan suasana pasar yang bising mendadak sunyi di antara mereka. Saat kembali menatap mata Lila, ia menyunggingkan seringai tipis yang mengerikan, sebuah janji yang tidak terselubung."...bisa jadi, aku sendiri yang akan memastikan itu terjadi. Aku yang akan mengambil Satria darimu."Rosa tidak menunggu jawaban. Ia melempar sebuah senyum kemenangan yang tenang, senyum yang seolah menyiramkan air es ke punggung Lila, membuat wanita itu pucat pasi hingga tak mampu bergeming. Tanpa sepatah kata lagi, Rosa memutar tubuhnya, langkah kakinya anggun dan mantap, meninggalkan Lila dan Satria yang terpaku mematung di tengah hiruk-pikuk pasar yang kini terasa jauh dan asing."Aku sudah bosan menasihatimu, Lila. Terserahlah mau jadi apa kamu sekarang," ucap Satria dingin. Ia melepaskan pegangan tangannya dari lengan Lila dengan kasar, seolah enggan bersentuhan lebih lama lagi. "Bikin malu saja!"Tanpa menoleh
Setelah layar ponselnya menggelap, Rey bersedekap dada. Ia menatap lekat-lekat ke arah Rosa yang sejak tadi menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang terlanjur terbit di bibirnya."Dengar sendiri, kan?" goda Rey, sengaja mencondongkan tubuhnya kedepan demi melihat wajah memerah adiknya. "Si playboy itu ternyata bisa panik juga kalau menyangkut kamu.""Kak Rey, apaan sih..." cicit Rosa, suaranya pelan karena menahan malu. Ia pura-pura sibuk merapikan piring sarapannya yang sudah bersih untuk mengalihkan perhatian. "Tapi, Kakak beneran nggak mau kasih tahu dia?"Rey terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak. Biar dia pusing sedikit. Laki-laki seperti Kevin kalau jalannya terlalu dipermudah, nanti dia gampang bosan. Dia harus tahu rasanya mengejar dan memperjuangkan kamu setengah mati."Tatapan Rey kemudian melunak.“Aku melepaskan jabatan itu bukan karena terpaksa, tapi karena aku tahu apa yang berharga dalam hidupku. Sama seperti kamu yang berhak bahagia de
Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses
Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar
Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lag
“Aku sedang belajar,” bisik Rosa sambil menunduk, membiarkan rambut menutupi wajahnya yang kuyu. “Belajar melupakan. Tapi ternyata, aku murid yang bodoh. Aku gagal lagi.”Kepalanya terasa seberat batu, perlahan terkulai menuju meja bar yang dingin. Namun, sebelum keningnya menyentuh permukaan kayu,







