Share

Dunia Terlalu Kejam

Penulis: YuRa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 20:31:51

Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.

“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”

Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses apakah pria sedingin Kevin baru saja melontarkan pujian.

“Cocok?”

Sadar bahwa kalimatnya barusan terlalu jujur, Kevin buru-buru menambahkan dengan nada datar, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca.

“Maksudku, lebih baik daripada mengenakan gaun yang tampak seperti rongsokan itu. Setidaknya sekarang kau terlihat bersih.”

Rosa menahan senyum. Ia tahu Kevin hanya sedang menutupi kegagapannya. Namun, bagi Rosa, pengakuan singkat itu adalah obat, di mata Kevin, ia tidak lagi merasa "tidak menggairahkan".

Sepiring roti panggang diletakkan Kevin di atas meja. Aroma mentega yang gurih mengisi udara, seolah mengusir sisa-sisa kesedihan malam tadi. Rosa menatap roti itu seolah itu adalah kemewahan terbesar.

"Terima kasih," bisiknya.

Satu gigitan kecil itu perlahan mencairkan rasa beku di ulu hatinya. Kevin duduk di seberangnya, menyesap kopi hitam. Matanya tertuju pada cangkir, namun ia tetap terjaga pada setiap gerak-gerik Rosa.

"Makan yang banyak. Kau butuh energi untuk menjalani hari ini," ujar Kevin lebih lembut.

Rosa terhenti sejenak. Menatap Kevin yang tenang, ia merasakan debaran berbeda di balik kemeja putih yang ia kenakan, bukan lagi ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih hangat dan berbahaya.

"Kenapa kau melakukan semua ini, Kak?" tanya Rosa berani. "Menyelamatkanku, membawaku ke sini, bahkan membuatkan sarapan?"

Kevin meletakkan cangkir kopinya. Keheningan panjang terjepit di antara mereka.

"Karena aku benci melihat sesuatu yang indah dirusak oleh orang bodoh," jawabnya singkat.

Tatapannya tertahan pada kerah kemejanya di leher Rosa.

"Dan karena aku ingin kau ingat bahwa kau punya tempat untuk pulang, meski itu bukan rumahmu sendiri."

Dada Rosa bergetar. Kalimat itu terasa seperti pengakuan tersirat. Namun, sebelum ia sempat membalas, ponselnya di atas meja bergetar keras, memecah suasana.

Nama "Bima" berkedip-kedip di layar, memecah kedamaian pagi itu seperti suara pecah kaca yang kasar.

Wajah Rosa seketika memucat. Nafsu makannya lenyap seketika, digantikan oleh rasa mual yang kembali merayap. Ia menatap ponsel itu dengan tangan yang mulai gemetar lagi.

Kevin melirik layar ponsel tersebut, lalu beralih menatap Rosa. Rahangnya kembali mengeras, dan matanya menggelap.

"Jangan diangkat," desisnya rendah, memberikan aura proteksi yang seketika memenuhi ruangan. "Biar dia tahu rasanya bicara pada angin.”

Rosa menunduk, jemarinya bertaut erat hingga memutih. Keheningan pagi itu mendadak terasa mencekam saat ia memberanikan diri berbisik.

“Kevin, tadi malam tidak terjadi apa-apa, kan?”

Kevin menghentikan gerakan cangkirnya. Ia menoleh perlahan, menatap Rosa yang tampak tenggelam di balik kemejanya. Ada kilat nakal yang melintas di matanya, sisi langka yang hanya muncul saat ia merasa nyaman.

“Maksudmu?” Kevin sengaja memasang wajah datar.

Wajah Rosa memanas hingga ke telinga. “I-itu... maksudku...”

Kevin mencondongkan tubuh ke arah meja, memangkas jarak hingga Rosa bisa mencium aroma parfum maskulinnya.

“Hubungan badan?”

Rosa refleks menutup wajah dengan kedua telapak tangan, mengangguk cepat seolah dunianya baru saja runtuh.

Sebuah tawa rendah dan pendek lolos dari bibir Kevin, suara yang jarang terdengar namun sangat merdu di telinga Rosa.

“Tenang saja,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali melembut.

“Imanku masih cukup kuat semalam. Padahal kau memintaku dengan sangat sungguh-sungguh, tapi aku tidak tega. Kau sedang mabuk, Rosa. Aku bukan pemulung yang memungut kesempatan dalam kehancuran orang lain.”

Rosa menurunkan tangannya perlahan, menatap Kevin dengan wajah merah padam.

“Kamu jahat sekali, sengaja membuatku malu.”

Kevin hanya mengangkat bahu dengan santai, namun sorot matanya tidak lagi bercanda. Tatapannya mendalam, penuh dengan sesuatu yang ia kunci rapat-rapat.

“Dengarkan aku, Rosa,” ucapnya, suaranya turun satu oktaf, tenang namun berwibawa. “Aku bukan tipe pria yang akan mengambil keuntungan dari kelemahan seseorang. Apalagi kamu.”

“Kenapa aku?” tanya Rosa, suaranya bergetar.

“Karena kau adalah perempuan yang masih berusaha memegang harga diri meski duniamu baru saja dihantam badai,” Kevin menatapnya tajam.

“Dan karena aku tidak sanggup melihatmu semakin rusak hanya karena ingin membalas dendam pada satu orang brengsek.”

Rosa tercekat. Ada dentuman halus di dadanya yang mulai berirama tak beraturan.

“Jadi, kalau aku sadar, kalau aku benar-benar meminta, kau juga tidak akan melakukannya?”

Kevin terdiam lama. Ia memalingkan wajah sejenak, menarik napas panjang seolah sedang mengendalikan badai di dalam dirinya sendiri.

“Jika kau sadar, aku akan memastikan satu hal, kau melakukannya bukan untuk membuktikan apapun pada Bima. Tapi karena kau memang menginginkannya. Karena itu pilihanmu sebagai wanita, bukan karena lukamu yang sedang bicara.”

Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa begitu intim. Rosa menelan ludah, matanya berkaca-kaca karena merasa begitu dihargai.

Kevin berdiri, meraih kunci mobilnya.

Kesunyian menyelimuti mereka di dalam lift. Rosa menunduk, menatap pantulan dirinya yang tenggelam dalam kemeja putih Kevin. Di basemen, Kevin membukakan pintu mobil, sebuah gestur tulus tanpa penonton, sangat berbeda dari akting "pria sempurna" milik Bima.

Di tengah perjalanan, Kevin memecah keheningan.

“Rosa.”

Rosa menoleh, tertangkap basah sedang mengagumi profil wajah pria itu.

“Kalau kamu terluka atau butuh tempat menghilang, datanglah padaku,” ucap Kevin rendah. “Jangan biarkan dirimu hancur di tempat yang salah lagi.”

Rosa tercekat. Ia meremas ujung kemeja putih Kevin yang masih ia kenakan.

Mobil Kevin berhenti dengan halus di depan bangunan kos berpagar hitam itu. Cahaya matahari pagi yang mulai terik menyinari debu-debu yang beterbangan di luar, menciptakan kontras tajam dengan kesejukan AC di dalam mobil.

Rosa tidak langsung turun. Ia menggenggam sabuk pengaman, hatinya diliputi rasa tak menentu. Rasanya seperti akan keluar dari zona perlindungan menuju medan perang yang sebenarnya.

“Terima kasih, Kevin,” bisik Rosa. “Untuk semuanya. Untuk tidak membiarkanku hancur semalam.”

Kevin mematikan mesin, membiarkan keheningan intim mengunci mereka. Ia menatap Rosa dalam-dalam.

“Ingat kata-kataku, Rosa. Dunia ini terlalu kejam untuk kau hadapi sendirian. Jika semua pintu tertutup, pintuku selalu terbuka.”

Rosa menelan ludah, dadanya sesak oleh debaran asing. Ia memberikan senyum tipis sebelum akhirnya membuka pintu.

Begitu kakinya menyentuh aspal, udara panas Jakarta langsung menyergap. Rosa berdiri sejenak, membiarkan kemeja putih Kevin berkibar tertiup angin, tampak mencolok di depan kos yang sederhana itu. Ia memberikan anggukan terakhir ke arah kaca mobil yang gelap, lalu berbalik masuk meninggalkan perlindungan Kevin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lamaran

    Ancaman itu menguap begitu saja bersamaan dengan berbaliknya tubuh Olivia, menjauh dari Kevin. Kevin sama sekali tidak terusik. Matanya tetap terkunci pada satu titik di atas sana, pada sosok Rosa yang tengah berpose anggun di bawah sorotan lampu kilat kamera.Sesi foto bersama itu akhirnya usai. Satu per satu orang bergeser turun dari panggung, dan Rosa segera melangkah mendekati tempat Kevin menantinya. Senyum tipis yang tadi ia pamerkan di hadapan kamera perlahan memudar, menyisakan kekhawatiran yang kembali mencuat di manik matanya."Mereka marah besar, ya?" bisik Rosa hati-hati, begitu ia berdiri tepat di hadapan Kevin. Jemarinya meremas pelan ujung gaunnya, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.Kevin menggeleng pelan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Rosa yang gelisah itu, menggenggamnya erat untuk memberikan kehangatan sekaligus rasa aman."Biarkan saja," jawab Kevin tenang, suaranya terdengar begitu mantap. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, bersamaku. Tidak ada yang perlu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Calon Istri

    Tak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lampu Hijau

    "Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Rencana Lamaran

    Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Berniat Baik

    Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Orang Lain

    Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Salah Paham

    Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya."Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sed

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Parfum Siapa?

    Ira baru saja selesai merapikan mejanya ketika pintu kamarnya diketuk. Begitu dibuka, ia terkejut melihat Rosa berdiri di depan pintu dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja kebesaran pria.“Rosa?!” serunya kaget. “Astaga, kamu dari mana? Kok bajumu, itu siapa yang punya?”Rosa menundu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Terima Kasih

    Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status