Teilen

Menemui Rosa

last update Veröffentlichungsdatum: 21.06.2026 19:36:54

Kabut tipis mulai turun menyelimuti pelataran vila keluarga yang terletak di daerah pegunungan yang sejuk. Sunyi, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja diguncang badai oleh ulah sang CEO.

"Kak Rey? Ke sini sama siapa?" tanya Rosa, terkejut saat membuka pintu jati besar vila dan mendapati sosok kakaknya berdiri di sana tanpa ada mobil mewah atau pengawal yang biasanya mengiringi.

Rey tersenyum tipis, senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan di kantor. "Sendirian. Gimana kabarmu, Dek?"

"A
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Perempuan Lain

    Kabut tipis sisa semalam masih bergelayut di halaman vila keluarga yang asri itu saat Bu Indah berjalan menuju area teras belakang. Langkah wanita paruh baya itu terhenti saat melihat sesosok pria tinggi tegap sedang duduk tenang sambil menikmati udara pagi."Lho, Mas Rey ada di sini?" tanya Bu Indah, matanya membelalak kaget. Sudah cukup lama Rey tidak mengunjungi vila keluarga ini. Rey menoleh, lalu menyunggingkan senyum ramah yang jarang ia perlihatkan di depan rekan bisnisnya."Iya, Bu. Kemarin sore datangnya.""Sendirian, Mas?" Bu Indah melangkah mendekat, memastikan pendengarannya tidak salah. Biasanya, jika keluarga besar datang, vila ini pasti langsung ramai."Iya, Bu. Sendirian," jawab Rey runtut, lalu balik bertanya dengan nada perhatian. "Ibu bagaimana kabarnya? Sehat?""Alhamdulillah sehat, Mas. Mas Rey sendiri bagaimana? Kelihatan capek sekali," ujar Bu Indah, memperhatikan gurat lelah yang samar di wajah anak majikannya itu. "Sudah sarapan belum, Mas?"Rey terkekeh pel

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aset Komoditas

    Rey menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lirik cairan teh yang mulai mendingin di cangkirnya. Nama “Santoso" bukan nama yang bisa diremehkan. Di dunia korporat, Santoso Group adalah raksasa lama yang terkenal konservatif namun memiliki likuiditas yang luar biasa kuat."Gaby Santoso?" gumam Rey memastikan.Rosa mengangguk cepat. "Siapa lagi? Anak tunggal mereka yang digadang-gadang bakal memimpin seluruh lini bisnis Santoso. Mama pasti mikir, kalau Kakak nikah sama dia, posisi Raharja Group di bursa efek bakal makin tak tergoyahkan. Benar-benar pernikahan bisnis yang sempurna di atas kertas."Rey mendengus sinis. "Mama selalu mengukur segalanya dengan angka dan status. Dia lupa kalau pernikahan tanpa dasar yang kuat itu rapuh. Contohnya kamu dan Bima."Rosa melempar bantal sofa kecil tepat ke arah dada Rey, yang langsung ditangkap oleh kakaknya sambil tertawa kecil. "Hei! Jangan bawa-bawa masa laluku yang zonk itu ya! Tapi serius, Kak. Kalau Papa dan Mama menggunakan kekuatan S

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Menemui Rosa

    Kabut tipis mulai turun menyelimuti pelataran vila keluarga yang terletak di daerah pegunungan yang sejuk. Sunyi, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja diguncang badai oleh ulah sang CEO."Kak Rey? Ke sini sama siapa?" tanya Rosa, terkejut saat membuka pintu jati besar vila dan mendapati sosok kakaknya berdiri di sana tanpa ada mobil mewah atau pengawal yang biasanya mengiringi.Rey tersenyum tipis, senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan di kantor. "Sendirian. Gimana kabarmu, Dek?""Alhamdulillah, seperti yang Kakak lihat!" Rosa merentangkan kedua tangannya dengan senyum lebar, mencoba meyakinkan kakaknya bahwa ia baik-baik saja.Rosa mempersilakan Rey masuk, menyuguhkan secangkir teh hangat untuk mengusir udara dingin. Namun, atmosfer hangat itu mendadak berubah serius saat Rey menatap cangkirnya dan bergumam lirih."Rosa, aku sudah keluar dari perusahaan dan dari rumah.""Hah?! Kenapa, Kak?" Rosa hampir menjatuhkan cangkirnya. Matanya membelalak tidak percaya. Di matanya,

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Merencanakan Secara Matang

    Sena tidak langsung mendongak. Ia menyelesaikan satu tanda tangan terakhirnya dengan tenang, sebelum akhirnya menutup pulpen Montblanc-nya dengan bunyi klik yang elegan. Barulah pria paruh baya itu mengangkat pandangannya, menatap tajam ke arah bawahannya."Ada apa, Setiawan? Kamu ini Kepala HRD, kenapa masuk ke ruangan saya seperti dikejar hantu?" tanya Sena, suaranya berat dan sarat akan otoritas yang mengintimidasi.Setiawan menelan ludah dengan susah payah, melangkah mendekati meja Sena dengan lutut yang terasa lemas. "Maaf, Pak Sena. Maaf saya lancang langsung menghadap Anda. Tapi ada sesuatu yang sangat darurat yang harus saya laporkan segera."Sena menaikkan satu alisnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kebesaran, menyatukan ujung-ujung jarinya dengan sikap meremehkan. "Darurat? Masalah serikat buruh? Atau ada kepala divisi yang ketahuan menggelapkan dana?""Bukan, Pak..."Dengan tangan yang gemetar hebat, Setiawan meletakkan kedua amplop putih bersih itu di atas m

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mengundurkan Diri

    Sejak subuh buta, Rey sudah bergerak dalam senyap. Beberapa setel pakaian terbaiknya dan berkas-berkas penting yang ia butuhkan sudah tertata rapi di dalam koper yang kini tersimpan di bagasi mobil. Keputusannya sudah bulat. Ia akan keluar dari rumah terkutuk ini dan menetap di apartemen pribadi yang selama ini ia beli diam-diam dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebuah tempat yang tidak tersentuh oleh pengaruh kekuasaan ayahnya.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Rey turun ke ruang makan. Ia sengaja bersikap biasa saja, bersiap menghadapi sarapan terakhir bersama kedua orang tuanya.Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan itu pecah saat Sena meletakkan cangkir kopinya, menatap sang putra mahkota dengan pandangan menuntut."Kamu sudah memikirkan ucapan Papa semalam, kan, Rey? Masalah jodoh, jangan naif. Dengan posisimu sekarang, perempuan mana pun pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah!"Rima

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Bibit, Bebet, Bobot

    "Kevin, kamu nggak bisa memutuskan semuanya secara sepihak! Mau ditaruh dimana muka Mama?!"Suara Wike meninggi, memecah keheningan ruang keluarga malam itu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Kevin. Di sebelahnya, Indra, sang suami, hanya bisa memijat pelipisnya perlahan, sementara Lita, si anak sulung, melipat tangan di dada sambil menyimak ketegangan yang terjadi.Kevin mengepalkan tangan di dalam saku celananya, berusaha menahan emosi. "Ma, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku sudah mencoba jalani, mencoba untuk mencintai Olivia, tapi tetap nggak bisa. Tolong pahami itu.""Omong kosong dengan cinta!" Wike mengibaskan tangannya di udara, meremehkan. "Cinta itu bisa datang belakangan setelah menikah, Kevin! Yang penting itu bibit, bebet, bobotnya!""Sudahlah, Ma. Jangan memaksa Kevin. Pernikahan itu dia yang menjalani, biarkan dia memilih jodohnya sendiri." Indra akhirnya membuka suara, mencoba menjadi penengah sebelum tensi ruan

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aliansi Strategis

    Aisha baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Rima dengan sopan, namun suara dehaman berat dari ujung meja seketika membekukan kata-kata di tenggorokannya.Sena, yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil membaca berkas di tabletnya, kini meletakkan gawai tersebut ke atas meja kaca. P

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Perempuan Yang Selevel

    Rey tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan bersimpati namun sebenarnya penuh racun. "Aku yakin, mamamu tidak akan pernah menyukai perempuan seperti Rosa.""Aku tidak peduli, Rey!" potong Kevin cepat, suaranya meninggi, menolak fakta yang baru saja diucapkan Rey."Aku tidak butuh persetujua

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Meminta Restu

    "Kevin! Kamu keterlaluan!" Wike berdiri dari kursinya hingga benda itu bergeser kasar dan menimbulkan suara berdecit yang nyaring. Wajahnya merah padam, menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. "Jaga bicaramu! Ada Oliv di sini!"Sementara itu, Olivia hanya bisa terpaku. Air mata yang sejak tad

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Bersihkan Tanganmu

    Mendengar deklarasi nekat Kevin, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Rey mendadak tertelan kembali. Ia menatap Kevin lekat-lekat. Tidak ada keraguan di mata sahabatnya itu. Yang ada hanya kilat tekad yang begitu pekat, jenis tatapan dari seorang pria yang siap membakar dunianya sendiri asalkan

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status