Compartir

Belajar Melupakan

Autor: YuRa
last update Fecha de publicación: 2026-04-25 20:19:49

“Aku sedang belajar,” bisik Rosa sambil menunduk, membiarkan rambut menutupi wajahnya yang kuyu. “Belajar melupakan. Tapi ternyata, aku murid yang bodoh. Aku gagal lagi.”

Kepalanya terasa seberat batu, perlahan terkulai menuju meja bar yang dingin. Namun, sebelum keningnya menyentuh permukaan kayu, tangan kokoh Kevin meraih lengannya dan menariknya tegak. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun penuh otoritas.

“Tempat ini bukan untukmu, Rosa,” ucap Kevin rendah.

Matanya tertuju pada ponsel Rosa yang layarnya masih menampilkan durasi rekaman yang berdetak. Rosa ingin berteriak bahwa ia sudah tidak punya tempat lagi di dunia ini. Namun, kekuatan di lengan Kevin seolah menyentaknya kembali. Di tengah pekat aroma alkohol dan rokok, wangi maskulin pria itu menjadi satu-satunya udara yang membuatnya tetap berpijak.

“Cukup. Kamu tidak bisa membiarkan dirimu hancur lebih jauh.” Kevin memotong dengan suara rendah yang bergetar.

Rosa menatapnya sayu.

“Kalau aku sudah hancur, apalagi yang tersisa?”

Kevin tak menjawab. Genggamannya menguat, ia tak akan membiarkan Rosa runtuh di lantai bar yang kotor ini.

“Berhenti minum. Kamu sudah melewati batas,” perintah Kevin pelan.

Rosa tersenyum getir.

“Batas? Aku bahkan tidak pernah dianggap cukup oleh laki-laki yang seharusnya mencintaiku.” Ia tertawa hambar, suara yang lebih mirip rintihan.

“Aku ke apartemennya tadi, ingin memberi kejutan. Menjadi calon istri yang sempurna.”

Napas Rosa tercekat. “Tapi kejutan itu justru untukku. Dia di ranjang bersama wanita lain. Dan kau tahu apa yang dikatakannya?”

Rahang Kevin mengeras, urat lehernya menegang. Ia tetap bungkam, membiarkan Rosa mengeluarkan racun di hatinya.

“Dia bilang aku sok suci. Tidak menggairahkan.” Rosa menekankan setiap kata dengan kepahitan pekat.

Air matanya jatuh ke meja bar yang dingin. Ia mendongak, menantang mata Kevin.

“Rasanya harga diriku dicabut paksa. Aku merasa kosong. Tidak layak dicintai oleh siapapun.”

Bahu Rosa bergetar hebat saat ia kembali menunduk.

“Aku membencinya, tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena masih berharap ini hanya mimpi buruk.”

Kevin menghela napas berat, seolah ikut memikul beban itu. Ia duduk di kursi sebelah Rosa, menyodorkan serbet kertas dengan gerakan lembut.

“Jangan biarkan kata-kata seorang pengecut mendefinisikan dirimu,” ucap Kevin tegas.

Suaranya sanggup menembus kabut alkohol di kepala Rosa. Rosa menatap serbet di tangan Kevin, lalu beralih ke matanya.

“Kenapa harus malam ini? Kenapa kau harus melihatku sehancur ini?”

Kevin menahan tatapan itu, tak membiarkan Rosa berpaling.

“Mungkin untuk menjagamu biar tidak semakin hancur,” jawab Kevin.

Seketika, hiruk-pikuk bar seolah senyap. Sesuatu yang beku di dada Rosa mulai retak, bukan karena luka, tapi karena kehangatan yang baru saja disuntikkan Kevin ke sana.

Kevin berdiri dan membantu Rosa bangkit. Saat tubuh Rosa goyah, Kevin sigap merangkul bahunya, menopang seluruh berat wanita itu dengan kokoh.

“Berdirilah. Kita pulang,” ucap Kevin, membawa Rosa keluar menuju udara malam yang dingin namun jujur.

Rosa menggeleng.

“Aku tidak mau pulang. Ada Kak Rey, Mama, Papa. Aku tidak punya jawaban untuk mereka.”

Kevin terdiam, rahangnya melunak. Ia sadar, rumah bukan lagi tempat aman bagi seseorang yang baru saja kehilangan dunianya.

“Kalau begitu, ikut aku.”

Kevin menuntun Rosa keluar. Udara Jakarta menyergap, menusuk kulit. Kevin melingkarkan lengan di bahu Rosa, memapahnya seolah wanita itu adalah kristal yang nyaris retak seribu.

Di dalam mobil, keheningan menyergap, hanya menyisakan isak tangis Rosa yang menyayat. Mobil itu tidak melambat di persimpangan menuju rumahnya. Saat kendaraan justru berbelok ke arah asing, Rosa tersentak.

“Kevin, ini bukan jalan pulang,” suaranya serak. “Kamu mau bawa aku ke mana?”

Kevin tetap menatap aspal basah di depannya.

“Ke apartemenku,” jawabnya datar, penuh otoritas.

Rosa terperangah. Jantungnya berdegup kencang saat jemarinya meremas kain gaun yang kusut.

“Kenapa?”

“Kamu tidak bisa menghadapi orang tuamu dengan keadaan seperti ini.”

Kevin mematikan mesin di basemen gedung mewah yang sepi. Seketika, kesunyian yang mencekam menyelimuti mereka.

Kevin menuntun Rosa keluar dari mobil. Langkah Rosa terasa seberat timah. Setiap kali ia goyah, tangan Kevin sigap menahan lengannya, sentuhan singkat yang hangat di tengah dinginnya gedung.

Di dalam lift, Rosa menghindari pantulan dirinya di cermin, wanita hancur dengan riasan luntur. Ia lebih memilih menatap Kevin yang berdiri tegak dan tak terbaca, seolah pria itu adalah benteng tempatnya berlindung.

Ting.

Pintu terbuka menuju unit apartemen yang luas dan maskulin. Dominasi warna gelap dan suasana tenang di sana terasa sangat kontras dengan kekacauan hidup Rosa.

“Masuklah,” perintah Kevin rendah.

Begitu Rosa melangkah masuk, suara pintu yang terkunci otomatis di belakangnya terdengar seperti titik final. Ia berdiri di tengah ruangan, merasa kecil dan asing.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang,” bisik Rosa.

Ia menenggelamkan diri di sofa, meremas bantal erat-erat seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh lebih dalam.

Kevin meletakkan segelas air di meja. Suasana tampak sunyi.

“Aku ingin itu jadi hadiah, Kevin,” suara Rosa pecah. “Untuk malam pertama kami nanti. Aku percaya cinta itu tentang menunggu.”

Tawa hambar lolos dari bibirnya.

“Tapi Bima tidak mau menunggu. Dia memilih kepuasan instan pada perempuan lain, sementara aku menyimpan segalanya untuk seorang pencuri.”

Kevin tetap bungkam, namun rahangnya mengeras.

“Lucu, kan? Aku menjaga diri, tapi kesucianku justru dihina. Aku dianggap tidak menggairahkan karena punya harga diri.” Isak Rosa kembali pecah.

Kevin duduk di sampingnya. Kehadirannya terasa seperti tembok beton yang melindungi Rosa dari badai.

“Kamu tidak bodoh, Rosa,” suara Kevin berat dan tajam. “Yang rendah adalah laki-laki yang tidak mampu menghargai berlian karena terlalu terbiasa dengan kerikil.”

Rosa menoleh, matanya yang bengkak mencari jawaban. Di balik luka itu, api hitam mulai menyulut batinnya. Ia ingin menghancurkan dirinya yang lama.

“Kalau begitu,” bisik Rosa, “Ajari aku, Kevin. Ajari aku cara membuat laki-laki berlutut. Ajari aku cara memuaskan mereka.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lamaran

    Ancaman itu menguap begitu saja bersamaan dengan berbaliknya tubuh Olivia, menjauh dari Kevin. Kevin sama sekali tidak terusik. Matanya tetap terkunci pada satu titik di atas sana, pada sosok Rosa yang tengah berpose anggun di bawah sorotan lampu kilat kamera.Sesi foto bersama itu akhirnya usai. Satu per satu orang bergeser turun dari panggung, dan Rosa segera melangkah mendekati tempat Kevin menantinya. Senyum tipis yang tadi ia pamerkan di hadapan kamera perlahan memudar, menyisakan kekhawatiran yang kembali mencuat di manik matanya."Mereka marah besar, ya?" bisik Rosa hati-hati, begitu ia berdiri tepat di hadapan Kevin. Jemarinya meremas pelan ujung gaunnya, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.Kevin menggeleng pelan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Rosa yang gelisah itu, menggenggamnya erat untuk memberikan kehangatan sekaligus rasa aman."Biarkan saja," jawab Kevin tenang, suaranya terdengar begitu mantap. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, bersamaku. Tidak ada yang perlu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Calon Istri

    Tak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lampu Hijau

    "Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Rencana Lamaran

    Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Berniat Baik

    Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Orang Lain

    Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Terima Kasih

    Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aku Hancur

    Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lag

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Pengkhianatan

    Rosa mematung di ambang pintu. Bau parfum asing di kamar itu mencekik paru-parunya. Di tangannya, ponsel masih menyala, merekam pengkhianatan yang terpampang nyata.Bima terlonjak. Wajah tampannya berubah pucat, lalu panik. Di sampingnya, wanita itu menarik selimut dengan kalap.“R-Rosa?!” suara Bi

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status