Share

Terima Kasih

Author: YuRa
last update publish date: 2026-04-25 20:28:39

Cahaya matahari pagi mulai menyelinap malas melalui celah tirai, menari di atas permukaan sofa abu-abu. Rosa mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan menyapu kulitnya.

Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, Rosa tersentak kecil. Ia baru menyadari kepalanya masih bersandar di bahu kokoh Kevin. Pria itu tampak tertidur ringan dalam posisi tegak, kepalanya sedikit miring dengan napas yang tenang dan teratur.

Rosa membeku. Kilasan kejadian semalam, tangisannya yang memalukan, permintaannya yang nekat, dan cara Kevin menjaganya kembali menghujam ingatannya. Wajahnya seketika memanas.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mencoba mengangkat kepalanya, berusaha agar tidak mengusik ketenangan pria itu.

Namun, Kevin bergeming. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyingkap tatapan tajam yang seketika bertemu dengan mata Rosa. Hanya beberapa detik, namun waktu seolah berhenti berputar.

“Maaf…” Rosa buru-buru berbisik, segera menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. “Aku tidak bermaksud tertidur di bahumu seperti ini.”

Kevin mengusap wajahnya sejenak, mencoba mengusir sisa kantuk. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak, memberikan kesan intim yang tak terduga.

“Tidak perlu minta maaf, Rosa. Kamu butuh istirahat,” ucapnya pelan. “Lagipula, aku sudah berjanji tidak akan ke mana-mana, bukan?”

Rosa terdiam, menggigit bibir bawahnya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan terlindungi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, rasa canggung segera mengambil alih saat ia menyadari penampilannya yang berantakan. Ia berdiri dengan kikuk, mencoba merapikan rambut dan gaunnya yang kusut.

“Terima kasih, Kevin. Untuk semuanya semalam,” ucap Rosa, suaranya tulus meski ia tak berani menatap mata Kevin.

Kevin menatapnya selama beberapa saat, seolah sedang membaca sisa-sisa luka di wajah itu, lalu mengangguk singkat.

“Kapanpun kau butuh, Rosa. Kapan pun.”

Keheningan kembali menyergap ruangan itu. Namun, kali ini keheningan tersebut tidak lagi terasa pahit. Ada getaran baru di udara sebuah jarak yang telah terkikis habis oleh rahasia dan air mata semalam. Meski mereka tidak mengucapkannya, keduanya tahu bahwa setelah malam ini, mereka tidak akan pernah kembali menjadi dua orang yang sama lagi.

Kevin berdiri dari sofa, menatap Rosa yang tampak begitu kontras di tengah ruang tamunya yang tertata.

"Apa orang rumah tidak mencarimu?" tanya Kevin.

Nada suaranya datar, namun ada kerutan tipis di dahinya yang menunjukkan kekhawatiran.

Rosa menghela napas, berusaha mengumpulkan kembali serpihan kesadarannya.

"Tadi malam aku sudah mengirim pesan, bilang kalau aku menginap di tempat Ira."

Satu alis Kevin terangkat, tajam dan skeptis.

"Kau sudah bicara pada Ira? Kalau Rey meneleponnya dan dia tidak tahu apa-apa, tamat riwayatmu."

Rosa menunduk, jemarinya saling bertaut dengan gelisah.

"Sudah. Aku akan kesana sekarang untuk ganti baju kerja. Ada beberapa pakaianku yang tertinggal di kosnya."

Kevin menyandarkan bahunya di pilar ruangan, menatap Rosa tanpa berkedip.

"Kenapa tidak minta Ira saja yang datang ke sini membawakan bajumu?"

"Jangan," Rosa menggeleng cepat, panik membayangkan Ira melihatnya di apartemen pria ini dalam kondisi berantakan. "Aku tidak mau merepotkan dia lebih jauh."

Kevin mendesah pelan, suara napas yang berat namun tidak kasar. Ia berdiri dengan gerakan tegas yang membuat ruangan itu seolah kembali berada di bawah kendalinya.

"Mandi dulu sana," perintahnya pelan namun tak terbantahkan. "Pakai bajuku untuk sementara. Setelah itu, aku antar kau ke tempat Ira."

Mata Rosa membulat, menatap Kevin dengan tidak percaya.

"P-pakai bajumu?"

Kevin menoleh sekilas saat hendak melangkah ke kamar. Ada kilatan geli yang sangat tipis di sudut matanya, sebuah sisi manusiawi yang jarang ia tunjukkan.

"Kecuali kau ingin masuk kantor dengan gaun yang tampak seperti baru saja melewati medan perang itu."

Rosa menunduk, meraba kain gaunnya yang memang sudah sangat menyedihkan. Pipinya memanas, sebuah rona merah yang kali ini bukan karena amarah.

"Baiklah..."

Beberapa saat kemudian, Kevin kembali dengan kemeja putih katun yang masih beraroma detergen segar dan celana training bersih.

"Kamar mandi di sebelah sana. Handuk sudah kusiapkan di dalam."

Rosa menerima tumpukan kain itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tekstur kemeja itu terasa lembut di jemarinya, membawa aroma maskulin Kevin yang menenangkan.

"Terima kasih, Kevin."

Kevin hanya mengangguk singkat, membiarkan Rosa berlalu. Namun, begitu pintu kamar mandi tertutup, langkah Kevin terhenti. Ia berdiri di tengah kesunyian apartemennya, menatap pintu kayu itu selama beberapa detik.

Ada denyut asing di dadanya, sebuah rasa canggung yang bercampur dengan keinginan posesif untuk memastikan bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata yang jatuh dari mata gadis itu.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, keheningan apartemen terasa menekan. Kevin menghela napas panjang, membiarkan bahunya merosot sejenak. Ia menyandarkan dahi pada dinding dingin, bergumam pada bayangannya sendiri.

“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Kevin?”

Suara derit pintu kamar mandi memecah lamunan. Rosa melangkah keluar dalam balutan uap tipis. Rambutnya basah, menyisakan tetesan air yang jatuh perlahan di lekuk lehernya.

Kemeja putih Kevin tampak menenggelamkan tubuh mungil Rosa. Bahu kemeja yang jatuh dan lengan yang menutupi separuh jemarinya membuat Rosa terlihat begitu rapuh. Ia menunduk, memeluk tubuhnya sendiri.

Aroma sabun mandi yang bercampur wangi maskulin dari serat kain kemeja itu merasuk, memberikan rasa aman yang tak terlukiskan.

Kevin yang sedari tadi berpura-pura sibuk dengan ponselnya, mendongak. Napasnya tertahan. Kemeja putih yang kontras dengan kulit pucat Rosa membangkitkan insting yang lebih kuat dari sebelumnya.

“Kebesaran, ya?” Rosa bertanya gugup sambil meremas ujung kemeja. “Aku kelihatan aneh, kan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lamaran

    Ancaman itu menguap begitu saja bersamaan dengan berbaliknya tubuh Olivia, menjauh dari Kevin. Kevin sama sekali tidak terusik. Matanya tetap terkunci pada satu titik di atas sana, pada sosok Rosa yang tengah berpose anggun di bawah sorotan lampu kilat kamera.Sesi foto bersama itu akhirnya usai. Satu per satu orang bergeser turun dari panggung, dan Rosa segera melangkah mendekati tempat Kevin menantinya. Senyum tipis yang tadi ia pamerkan di hadapan kamera perlahan memudar, menyisakan kekhawatiran yang kembali mencuat di manik matanya."Mereka marah besar, ya?" bisik Rosa hati-hati, begitu ia berdiri tepat di hadapan Kevin. Jemarinya meremas pelan ujung gaunnya, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.Kevin menggeleng pelan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Rosa yang gelisah itu, menggenggamnya erat untuk memberikan kehangatan sekaligus rasa aman."Biarkan saja," jawab Kevin tenang, suaranya terdengar begitu mantap. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, bersamaku. Tidak ada yang perlu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Calon Istri

    Tak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lampu Hijau

    "Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Rencana Lamaran

    Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Berniat Baik

    Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Orang Lain

    Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Salah Paham

    Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya."Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sed

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Parfum Siapa?

    Ira baru saja selesai merapikan mejanya ketika pintu kamarnya diketuk. Begitu dibuka, ia terkejut melihat Rosa berdiri di depan pintu dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja kebesaran pria.“Rosa?!” serunya kaget. “Astaga, kamu dari mana? Kok bajumu, itu siapa yang punya?”Rosa menundu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Dunia Terlalu Kejam

    Kevin segera mengalihkan tatapan, tangannya mendadak sibuk merapikan letak remote TV yang sebenarnya sudah rapi. Ia berdeham, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik.“Tidak juga,” ucap Kevin rendah. “Cocok malah.”Rosa tertegun. Matanya membulat menatap Kevin, seolah sedang memproses

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status