Share

Aku Hancur

Author: YuRa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-25 20:23:12

Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.

“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.

Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lagi menjadi wanita yang ditinggalkan, ia ingin menjadi wanita yang mampu membuat pria berlutut.

Kevin menegakkan tubuh, wajahnya menegang seolah baru mendengar sebuah kutukan.

“Rosa…” suaranya rendah, sarat peringatan. “Kamu tidak sadar apa yang kamu pertaruhkan.”

“Aku tahu!” Rosa menyela dengan suara pecah. Ia menatap Kevin penuh permohonan. “Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak seburuk yang Bima katakan. Aku butuh merasa hidup!”

Kevin menghela napas keras. Ia berdiri mendadak, berjalan menjauh dengan jemari gemetar yang menyisir rambut. Punggung lebarnya menegang, menahan gejolak yang nyaris meledak.

“Hamili aku, biar aku tidak jadi menikah dengan Bima.”

Kevin tetap membelakangi Rosa. “Itu bukan solusi,” ucapnya dingin.

“Bima memang hina, tapi jangan hancurkan dirimu hanya untuk membantahnya.”

Rosa bangkit dengan susah payah. Meski limbung, ia menyeret langkah hingga hanya tersisa jarak dua langkah di antara mereka.

“Lalu aku harus apa? Diam saja saat kata-kata ‘tidak menggairahkan’ itu menghantuiku setiap kali bercermin? Aku tidak sanggup, Kevin!”

Hening mencekam. Kevin membatu, terjepit di antara amarah dan sesuatu yang lebih gelap yang ia tekan dalam-dalam.

Tiba-tiba, Kevin berbalik. Matanya menyala, menatap Rosa dengan intensitas yang menyesakkan.

“CUKUP, ROSA!”

Bentakan Kevin menggelegar. Ia melangkah maju hingga Rosa bisa merasakan panas tubuhnya.

“Jangan pernah minta hal itu dariku lagi,” desisnya dengan rahang mengeras.

“Kenapa?” tantang Rosa getir.

“Karena aku terlalu kotor untuk disentuh?”

“BUKAN ITU!”

Kevin memejamkan mata, berusaha mengontrol napas. Ia menunduk, mengunci tatapan Rosa.

“Kamu tidak kotor. Justru karena itu aku marah!”

Kevin mencengkeram bahu Rosa, meredam getaran tubuh gadis itu.

“Kamu mau menyerahkan hal berharga yang kamu jaga bertahun-tahun hanya untuk membuktikan sesuatu pada pengecut? Kamu ingin merendahkan diri demi laki-laki yang bahkan tidak pantas bernapas di dekatmu?”

Tangis Rosa pecah.

“Aku hanya ingin merasa diinginkan, Kevin...”

Sorot mata Kevin melunak, namun suaranya tetap setegas baja.

“Diinginkan tidak selalu tentang tubuh, Rosa. Kamu berharga karena jiwamu tidak bisa dibeli. Jangan biarkan sampah seperti Bima menentukan nilaimu.”

Rosa terdiam. Kata-kata itu menghujam jantungnya, kali ini seperti obat yang pahit namun menyembuhkan.

Kevin mengusap wajahnya kasar, bergelut dengan nalurinya sendiri.

“Aku tidak akan merusakmu lebih jauh, Rosa,” suaranya berat dan jujur.

“Bencilah aku malam ini, tapi aku tidak akan melakukannya dengan cara serendah itu.”

Rosa luruh ke sofa, kehilangan seluruh kekuatannya. Isaknya pecah memenuhi ruangan. Kevin berdiri kaku dengan napas memburu. Pertahanannya runtuh. Kevin menghela napas panjang, lalu perlahan berjongkok di depan Rosa, menyamakan tingginya dengan kerapuhan gadis itu.

“Rosa,” suaranya melunak, nyaris berbisik. “Maafkan aku. Aku tidak seharusnya membentakmu.”

Rosa menurunkan tangannya, menyingkap wajah yang bengkak dan hancur. Ia menatap Kevin dengan keputusasaan yang murni.

“Aku hancur, Kevin. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan,” rintih Rosa.

Kevin menggeleng, mengunci pandangan Rosa.

“Kamu salah. Di mataku, kamu tetap Rosa yang sama, gadis keras kepala yang terlalu berharga untuk disia-siakan pria tanpa nurani.”

“Tapi aku merasa kotor. Semua prinsipku terasa sia-sia,” air mata Rosa kembali jatuh.

Kevin meraih pergelangan tangan Rosa dengan hati-hati, seperti memegang porselen langka. Ia menurunkan tangan itu agar Rosa menatapnya.

“Dengarkan aku,” ucapnya hangat namun tegas. “Kamu tidak kotor. Pengkhianatan itu adalah noda di tangan Bima, bukan di jiwamu. Jangan biarkan kesalahan orang lain menjadi beban yang kamu pikul sendiri.”

Rosa tercekat. Kehangatan tangan Kevin perlahan menenangkan detak jantungnya yang liar.

“Kenapa? Kenapa kamu repot-repot melakukan ini untukku?”

Kevin tersenyum tipis dengan binar yang belum pernah ia tunjukkan.

“Karena kamu itu adiknya Rey, teman baikku,” jawabnya lirih.

“Aku ingin kamu tahu, masih ada seseorang yang percaya padamu saat kamu kehilangan kepercayaan pada dirimu sendiri.”

Di bawah cahaya temaram, kesedihan Rosa tidak lagi terasa dingin. Ada harapan kecil yang mulai berdenyut di dalam genggaman Kevin.

Tangis Rosa meluruh menjadi isak kecil. Di dalam dekapan Kevin, dunia yang kejam seolah menghilang, digantikan ritme detak jantung Kevin yang stabil dan menenangkan.

“Apakah kamu selalu terlihat kuat?” bisik Rosa serak. “Seolah tidak ada yang bisa menjatuhkanmu.”

Kevin terdiam sesaat.

“Jangan berpikir aku sekuat itu, Rosa. Aku hanya lebih ahli dalam menyembunyikan kehancuran daripada kamu.”

Rosa mendongak, menatap garis rahang Kevin yang tegas.

“Bagaimana caranya? Berdiri tegak saat duniamu runtuh?”

“Dengan menerima bahwa luka adalah bagian dari dirimu, bukan identitasmu,” jawab Kevin lembut.

“Kamu bisa memilih, terkubur di bawah reruntuhan, atau membangun sesuatu yang baru di atasnya.”

Kata-kata itu meresap, menambal lubang hampa yang ditinggalkan Bima.

“Aku ingin sekuat itu,” bisik Rosa.

“Kamu akan bisa. Aku melihat

kekuatan itu di matamu, bahkan saat kamu menangis.”

Keheningan yang intim menyelimuti mereka, seolah malam ini adalah awal yang baru. Namun, saat Kevin bergerak berdiri untuk menawarkan kamar istirahat, ketakutan kembali menyerang Rosa. Ia tak sanggup membayangkan kegelapan kamarnya sendiri.

Jari-jari Rosa menggenggam pergelangan tangan Kevin dengan erat.

“Jangan tinggalkan aku sendiri malam ini,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.

Sebuah permohonan murni dari jiwa yang baru saja selamat dari kehancuran. Kevin menatap genggaman tangan Rosa, lalu kembali duduk. Ia membiarkan tubuhnya menjadi sandaran bagi gadis itu.

“Aku tidak akan pergi,” bisik Kevin, serupa sumpah. “Aku akan disini sampai pagi, sampai kamu cukup kuat menghadapi dunia lagi.”

Rosa menarik napas lega. Ia merebahkan kepala di bahu Kevin dan menutup mata. Di bawah perlindungan pria yang semula ia anggap dingin, Rosa akhirnya terlelap tanpa rasa takut. Dekapan Kevin terasa seperti perisai yang tak tertembus.

Sementara itu, Kevin tetap terjaga. Ia menatap jejak air mata di pipi Rosa, peta luka yang sangat ingin ia hapus. Sebuah gejolak aneh menetap di dadanya, sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. Malam itu, ia berjanji tidak akan membiarkan Rosa jatuh lagi tanpa ada tangan yang menangkapnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Menemui Kevin

    Kevin baru saja ingin memulai harinya saat pintu apartemennya diketuk. Begitu daun pintu terbuka, ia terpaku. Di hadapannya berdiri Rosa dengan penampilan yang jauh dari kesan "putri konglomerat" yang biasanya melekat padanya."Rosa? Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Kevin, suaranya sarat akan keterkejutan."Kamu nggak suka aku ke sini?" Rosa menyahut lirih, suaranya serak. Ia membuang muka, menghindari tatapan Kevin. "Ya sudah, aku pulang saja."Baru satu langkah Rosa berbalik, Kevin dengan sigap menyambar pergelangan tangannya. Sentuhan itu membuat Rosa berhenti. Kevin bisa melihat bahu gadis itu yang gemetar dan matanya yang sembab, jejak tangis yang coba disembunyikan."Ayo, masuk," ujar Kevin, nadanya melunak, berubah menjadi lebih protektif.Tanpa menunggu jawaban, Kevin menuntun Rosa masuk dan mendudukkannya di sofa. Ia membiarkan keheningan apartemennya menyelimuti Rosa sementara ia beranjak ke dapur. Tak lama kemudian, Kevin kembali dengan kepulan uap dari secangkir ko

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Wejangan Orang Tua

    Malam itu, ruang keluarga yang luas terasa sesempit sel penjara bagi Rosa. Ia duduk membatu di sofa, terkepung oleh tatapan tajam orang tuanya, sementara Rey duduk di sudut ruangan dengan pandangan yang menyiratkan rasa iba yang dalam. Rey ingin membela, namun lidahnya seolah kelu di hadapan otoritas orang tua mereka."Rosa, catat ini baik-baik. Tanggal pernikahan sudah dikunci. Semua vendor sudah dibayar dan siap bergerak. Besok atau lusa, kamu dan Bima tinggal mencocokkan jadwal untuk fitting baju pengantin," ujar Rima, sang mama, dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun.Sena, papa Rosa, menyesap kopinya perlahan sebelum meletakkan cangkir itu dengan denting yang memekakkan telinga di atas meja kaca. Ia menatap wajah putrinya yang pucat dan tampak tak berdaya."Jangan sekali-kali berpikir untuk mundur atau mengatakan tidak setuju," suara Papa terdengar rendah namun mengancam. "Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang. Investasi, relasi, dan nama besar keluarga ada di

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang penuh ketakutan, sebelum membukakan pintu mobil untuk Rosa.Di belakang mereka, Sarah berdiri mematung dengan kepalan tangan yang mengeras. Matanya menyalang tajam menatap punggung Rosa. “Awas kamu, Rosa. Nikmati kemenangan kecilmu sekarang. Aku akan membuatmu menangis bersimpuh di kakiku, dan saat itu terjadi, Bima sudah akan sepenuhnya menjadi milikku,” maki Sarah dalam hati.Di dalam mobil, suasana yang biasanya tenang kini pecah oleh suara Rosa. Ia tampak jauh lebih ceria dari biasanya, namun keceriaan itu justru membuat Bima semakin berkeringat dingin."Siapa nama perempuan tadi? Gigih sekali dia mengejarmu," tanya Rosa sambil memperbaiki posisi duduknya."Eh, kalau tidak salah namany

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Sales Asuransi

    Rosa menerima kembali ponselnya, jemarinya terasa dingin seperti es. Di layar yang kini gelap itu, ia seolah masih bisa melihat pantulan wajahnya sendiri yang hancur. Video itu adalah luka yang sengaja ia simpan agar ia tidak pernah punya alasan untuk memaafkan Bima, meski sedetikpun."Kalau aku menunjukkan ini, Papa dan Mama tidak akan pernah percaya padaku," bisik Rosa, suaranya bergetar namun penuh dengan determinasi yang baru. "Mereka terlalu memuja Bima. Bagi mereka, Bima adalah menantu impian. Tapi bagiku, dia adalah mimpi buruk."Ira menggeser kursinya lebih dekat, memegang bahu Rosa dengan erat. "Lalu sekarang apa? Dengan adanya Sarah di kantor ini, dan video ini di tanganmu, apa yang mau kamu lakukan?"Rosa menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa mual yang kembali menyerang. Matanya tertuju pada pintu ruangan Pak Ferdi, tempat Sarah baru saja keluar dengan senyum penuh kemenangan tadi."Aku akan menunggu saat yang tepat, Ra. Aku nggak mau hanya membatalkan pertunangan.

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Namanya Sarah

    Suasana kantor pagi itu dibungkus oleh keheningan yang produktif. Di balik bilik kerjanya, Rosa menatap tumpukan berkas dengan perasaan puas yang sunyi. Ia tahu, bekerja di perusahaan papanya di bawah pengawasan Rey akan jauh lebih mudah, namun ia lebih memilih membangun jalannya sendiri, tanpa hak istimewa, tanpa label "anak pemilik."Namun, keheningan itu terbelah oleh irama langkah kaki yang tegas dan berwibawa di atas lantai granit.Rosa mengangkat wajah, matanya menangkap sosok perempuan muda berpenampilan sangat elegan yang sedang berjalan berdampingan dengan Ardi, asisten pribadi Pak Ferdi. Mereka bergerak menuju ruang pimpinan, melintasi meja Rosa tanpa menoleh sedikit pun. Rosa mematung. Matanya terpaku pada profil wajah perempuan itu.“Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi di mana?” batin Rosa bergejolak. Ia memeras ingatannya, mencoba mencari potongan puzzle yang hilang. Ketukan sepatu itu perlahan memudar, tenggelam bersama tertutupnya pintu ruangan Pak Ferdi. Rosa masi

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Luka Dalam

    Suasana sarapan itu pun bergeser, menjadi jauh lebih santai. Rey mulai melontarkan candaan-candaan ringan yang biasanya hanya dimengerti oleh mereka berdua, Kevin sesekali menimpali dengan tawa renyah, dan Rosa mulai bisa tersenyum lepas. Rosa kemudian beranjak dari kursinya, mendorong pelan kursi kayu itu hingga terdengar bunyi gesekan halus di lantai.“Mau ke mana?” tanya Rey, kepalanya menoleh dengan binar mata yang setengah penasaran, setengah menggoda.“Mau mandi,” sahut Rosa sambil menyunggingkan senyum tipis. Ia berusaha terlihat biasa saja, meski sebenarnya ia ingin segera lari ke kamar untuk menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan akibat godaan Kevin tadi.Rey mengangguk pelan, lalu pura-pura menghela napas panjang yang dramatis. “Baguslah. Sudah setinggi ini mataharinya, kau baru terpikir untuk mandi,” sindirnya jahil.Rosa menatap kakaknya dengan wajah pura-pura sebal, lalu menjulurkan lidah singkat sebelum berbalik menuju kamarnya. Langkah kakinya terasa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status