LOGIN“Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”
Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.
Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu
Harold melambaikan tangannya, seakan ingin menunjukkan keramahan. “Lihat, bukankah pemandangan ini menenangkan? Tak ada kebisingan kota, tak ada mata-mata media. Hanya kita ... dan hutan pinus.”Daven menatap ke luar kaca sejenak, lalu kembali menoleh pada pria itu dengan senyum tipis. “Tenang memang. Tapi terkadang ketenangan justru menyembunyikan badai.”Harold tertawa. “Silakan duduk, Tuan Daven. Saya yakin perjalanan Anda ke SunCity pasti melelahkan.”Daven memilih mengabaikan ucapan Harold barusan. Ia mengambil duduk di tempat yang sekiranya leluasa untuk bergerak. Arsen duduk di sisi kiri Daven sementara Andy berdiri tak jauh dari Daven. Ia tetap bersikap waspada dan siaga. Mengamati pergerakan setiap orang yang ada di ruangan ini. Sementara empat pengawal Harold berdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua kegiatan di ruangan ini tanpa berkedip.“Baiklah,” Harold membuka percakapan, menyandarkan tubu
“Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”Ucapan Arsen barusan membuat Daven menoleh. Saat itu juga, mereka saling menatap seolah tanpa kata, mereka menyepakati satu hal—ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini. Namun mereka tak bisa bertindak gegabah. Jangan sampai justru membuat mereka tak bisa berkutik atau paling parah, mereka dibuat tak berdaya.“Terima kasih,” sahut Daven berusaha terdengar senatural mungkin. Lewat ekor matanya, Daven bisa memastikan jika mereka diawasi.Mobil akhirnya berhenti setelah menempuh pe
“Weekend yang gagal dihabiskan bersama keluarga,” keluh Arsen begitu masuk ke dalam mobil. Tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah Daven untuk mempersiapkan diri ke SunCity. Dan kali ini, kemungkinan mereka menetap di sana untuk waktu yang agak lama.“Kita jemput Tuan Daven di rumah keluarga Callister, Andy,” perintah Arsen pada sopir pribadi Daven yang seharusnya ... sama sepertinya—menikmati waktu libur. “Kau sudah mempersiapkan diri? kemungkinan kita menetap di SunCity agak lama.”“Sudah, Tuan Arsen.”Arsen mengangguk dan duduk dengan nyaman. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman keluarga Callister memakan waktu empat puluh lima sampai satu jam lamanya. Akan Arsen manfaatkan waktu yang ada untuk memeriksa sekali lagi, berkas yang harus dipersiapkan untuk pertemuan dengan Harold di SunCity.Tak butuh waktu lama, mobil SUV mewah milik Daven memasuki area lobby. Dua orang pelayan di rumah Daven seg
“Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu pada Althea di masa lalu.“Kau yakin?” tanya Kate dengan mata memicing curiga. “Jangan tutupi sesuatu sepenting ini, Daven.”“Aku bisa pastikan itu, Mom,” kata Daven dengan raut tenang. Ia semakin erat menggenggam tangan ibunya seolah mengatakan dengan penuh ketegasan. “Seharusnya kau bisa menduga jika wartawan pasti menyangkut pautkan hal yang belum tentu kebenarannya.”Kate menghela panjang. Raut penasarannya mulai luntur ta
“Untuk sementara waktu, aku pulang ke rumah ibuku. Jadi, jika ada berkas yang tertinggal di apartemenku, kau bisa mengambilnya segera.”“Baik, Tuan Daven,” kata Arsen dengan patuh. “Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga Anda.”Arsen mengantarkan Daven sampai ke mobil. Untuk kali ini, Daven memintanya pulang. Hal yang sangat berarti bagi Arsen—bisa meluangkan waktu akhir pekan tanpa banyak mengurus pekerjaan. Sungguh, beberapa bula belakangan ia seperti bekerja di bawah kejaran serigala kelaparan. Belum lagi drama yang terjadi di sekitar mereka. Sangat melelahkan dan menguras banyak waktu dan energi.“Kau juga, selamat menikmati akhir pekanmu,” kata Daven sebelum masuk ke dalam mobil. Arsen terlihat membungkuk hormat dan saat Daven sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang, mobil pun bergerak perlahan meninggalkan lobby kantor.Sore harinya, setelah menyelesaikan urusan kantor,
“Bagaimana, Thomas? Sudah sejauh mana persiapan yang diperlukan? Apa kau masih membutuhkan berkas penting?” suara Daven terdengar rendah namun tegas.Di hadapannya, Thomas Harrison—pengacaranya—menutup map cokelat dan meletakkannya di atas meja. “Semuanya sudah cukup, Tuan Daven. Berkas pengajuan gugatan cerai juga sudah resmi diajukan ke pengadilan. Sidang pertama akan dijadwalkan minggu depan. Pihak Vanessa Blake sudah menerima pemberitahuan resmi.”Daven mengangguk sekali. “Bagus. Saya ingin semua berlangsung secepat mungkin. Tanpa celah dan tanpa drama tambahan.”Thomas menatapnya lekat. “Sayangnya, drama yang terjadi sudah terlanjur besar. Banyak spekulasi yang muncul mengenai gugatan ini. Media juga terus mengendus setiap langkah Anda, mencari informasi agar bisa dibocorkan ke masyarakat umum. Dan saya rasa, Vanessa jelas akan menggunakan semua cara untuk memperlambat proses ini.”“Ak






