LOGIN“Ehm ... aku rasa semuanya cukup.” Althea memeriksa sekali lagi barang belanjaannya. Merek kopi yang Daven suka juga sudah ia dapatkan. Jadi ia rasa, kegiatan belanjanya siang ini sudah cukup.
Althea menepikan mobilnya perlahan di halaman rumah. Cahaya mentari yang hangat menyapa wajahnya ketika ia membuka pintu dan mengeluarkan kantong belanja dari bagasi. Ia menyusuri jalan setapak menuju pintu belakang dapur, menolak bantuan Lena yang buru-buru menghampiri.
"Nyony
My Wife :Jadwalku selama sebulan ini sudah kuberitahu Arsen. Kenapa kau tak memberitahuku mengenai jadwalmu? Aku ingin bicara padamu. Apa sulit sekali bicara dengan suami sendiri? Apa kesibukanmu setara dengan presiden?Daven hanya menatap layar ponselnya tanpa minat. Hanya satu hal yang ia lakukan—mengganti nama kontak istrinya. Vanessa. Cukup seperti itu saja. Lagi pula ia tak yakin nama kontaknya di ponsel Vanessa tertera dengan panggilan sayang atau ... sejenisnya. Buktinya saat Daven menelepon malam itu, justru disalahpahami sebagai David.Siapa David?Apa kontak nama Daven hanya tertera ‘Daven’?Kalau mengingat hal itu, Daven tersenyum miris. Kentara sekali jika Daven yang berjuang sendirian di rumah tangga yang ia jalani bersama Vanessa. Tapi ia belum bisa memutuskan, arah yang akan dia ambil setelah semua ini terjadi. Selama seminggu belakangan, wanita itu tak henti mencoba menghubunginya.Tapi Daven tak merespons. Untuk apa? Membela diri? Tidak. Daven tak membutuhkan hal itu
Berulang kali Althea menghela panjang, berulang kali juga ia memastikan penampilannya sempurna. Dress yang ia gunakan, senada dengan polo shirt yang Chase dan Josh kenakan. Di meja ruang tamu juga sudah Althea persiapkan buah tangan yang akan ia bawa ke rumah Chase. Meski pria itu mengatakan tak perlu membawa apa pun, Althea tak mungkin bisa datang begitu saja.“Kau sudah siap?” tanya Chase dengan senyum lebar. Matanya memerhatikan Althea dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Penampilan wanita itu terlihat sempurna meski ... “Apa kau merasa gugup?”Althea mendengkus sebal. “Kau bertanya hal itu?”“Kenapa harus gugup?” Chase tertawa. Ia pun mendekat dan menggenggam tangan Althea erat. “Kau tak perlu merasa gelisah atau gugup. Ibuku sangat menantikan hari ini. Bertemu dan memasak bersamamu.”Althea menatap Chase dengan lekat. “Kuharap memang seperti itu.”“Paman Chase!” pekik Josh penuh semangat. “Aku dan Sunny sudah siap.”Chase tertawa. “Bahkan Josh sudah tak sabar untuk segera ke r
“Tuan Daven,” panggil Arsen pelan, mencoba tak mengganggu suasana tenang yang sengaja diciptakan oleh Daven pagi itu. Pria itu duduk di sudut kafe bergaya minimalis industrial, tak jauh dari sekolah Josh. Kopi hitam dalam cangkir porselen tampak masih mengepulkan uap hangatnya. Aroma robusta memenuhi udara, tapi ekspresi Daven tetap datar—seperti biasa.Arsen menyerahkan tablet kerja dengan dua tangan. “Nyonya Vanessa mengirimkan jadwal barunya, Tuan.”Daven hanya melirik sekilas, lalu tatapannya kembali pada cangkir kopinya. Tidak ada yang layak diperhatikan dari jadwal itu. Biasanya ia selalu memerhatikan tiap detailnya termasuk jika ada waktu luang yang bisa dipergunakan untuk sekadar bertemu, pasti Daven akan mengusahakannya. Meski terkadang, ia harus membatalkan janji temu atau sekadar makan malam romantis dengan istrinya karena urusan pekerjaan. Lagi pula bukan hanya Daven yang sering membatalkan janji, Vanessa juga sering melakukan hal yang sama.Dan karena itu juga, Daven berp
“Sayangnya, saya tak bisa mengatakan jadwal Tuan Daven, Nyonya Vanessa,” kata Arsen dengan nada lelah. Sejak tadi, ponselnya terus saja berdering. Bahkan ia sampai mengaktifkan mode silent, saking seringnya istri sang bos menghubungi. Bukan hal aneh jika Vanessa menelepon atau menghujani ponsel Arsen dengan banyak pesan.Hanya saja kali ini, lebih banyak dari biasanya. Dan apa yang Vanessa lakukan cukup mengganggu. Saat Arsen melirik Daven sekadar untuk meminta pertimbangan, pria itu justru asyik membicarakan proyeknya dengan Walikota SunCity. Seolah membiarkan Arsen untuk mencari solusi atas gangguan Vanessa.“Kenapa kau tak bisa memberitahuku?” bentak Vanessa di ujung sana. “Apa harus aku memperingatimu, Arsen? Kau hanya asisten Daven! Berikan ponsel ini padanya. Aku mau bicara.”“Mohon maaf, Nyonya Vanessa,” kata Arsen dengan helaan panjang. “Tuan Daven sedang meeting, tak bisa diganggu. Silakan menghubungi di waktu luang Tuan Daven.”“Bagaimana aku bisa tahu kapan Daven tak sibuk
Althea mendorong pintu keluar di ujung lorong lantai lima—sebuah pintu besi dengan pegangan dingin yang mengarah langsung ke atap taman rahasia di gedung sekretariat. Tempat yang belum lama Althea tahu, yang kali disebut Chase sebagai tempat favoritnya melepas lelah. Begitu pintu terbuka, semilir angin langsung menyambut wajah Althea. Menyapu helaian rambut yang lepas dari ikatannya yang rapi. Udara di atas terasa lebih segar, dan langit—meski tak sepenuhnya biru—memberi kesan teduh yang semakin membuat nyaman menghabiskan waktu di tempat ini. Pandangan Althea menyisir taman kecil yang ditumbuhi aneka bunga yang bermekaran tak kenal musim. Ditata sedemikian rupa agar tak tumpang tindih warna bunga yang bermekaran. Sepertinya Chase belum tiba, tak ada sosok pria itu di taman ini. “Mungkin dia masih sibuk,” gumamnya pelan, sambil menahan beberapa anak rambut agar tak terus tertiup angin. Ia melangkah menuju gazebo di tengah taman, bangku kayu berkanopi dengan pandangan langsung ke ko
“Bagaimana bisa pria itu ada di sekolah Josh?” gumam Althea dengan helaan napas berat, sembari menekan jemari ke pelipisnya. Ada sesak yang tertahan di dada—sesuatu yang sejak pagi tadi terus ia tolak untuk dihadapi. Ia berhasil tiba di sekolah dengan selamat. Meski pikirannya terombang-ambing, rasa panik tak pernah sepenuhnya reda, bahkan setelah ia melangkah ke dalam gedung sekolah dengan senyum penuh kepura-puraan. Hari ini—ia sangat berharap bisa dilalui dengan baik. Mengajar seperti biasa, mengulang pelajaran tentang bentuk-bentuk geometri dengan penjabaran yang bisa dipahami muridnya, memperhatikan satu per satu murid kesayangannya yang bersorak antusias, dan tetap berusaha menjadi guru yang disukai. “Baiklah, ayo berkonsentrasi dulu, Althea. Semuanya akan baik-baik saja.” Beruntungnya, separuh hari yang ia lewati di kelas bersama para muridnya terlewati. Althea perlu bersyukur ia bisa mengajar dengan profesional. Namun saat ia kembali ke ruang guru, duduk di mejanya, menata







