공유

[171]

작가: Major_Canis
last update 게시일: 2026-06-24 11:00:55

Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.

“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.

“Kita akan segera sam

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [173]

    “Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [172]

    Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [171]

    Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [170]

    “Kali ini ulah apalagi yang akan kau lakukan, Vanessa.”Kate menyalakan TV dan tanpa perlu mengganti channel, berita mengenai persidangan akhir putranya dan Vanessa muncul sebagai headline utama. Banyak wartawan menunggu bagaimana hasil sidang yang digadang-gadang, akan menjadi topik pemberitaan yang tak akan habis dibahas untuk beberapa waktu ke depan.Tersiar kabar kalau Vanessa menuntut banyak hal dari Daven, selaku mantan suami. Mendengar tuntutan Vanessa saja, Kate sangat kesal dan marah. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki pemikiran yang luar biasa menjengkelkan seperti itu?Ia memilih duduk sendirian di kursi empuk ruang tamu. Cangkir teh hangat mengepul di tangannya. Pandangannya terarah pada televisi besar di hadapannya. Siaran langsung sidang perceraian Daven dan Vanessa mengisi ruangan dengan suara reporter yang bersemangat memberitakan setiap detail.Rangkuman selama sidang perceraian itu berlangsung, kembali diulas dengan singka

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [169]

    “Tuan, ini berkas tambahan dari bagian keuangan,” kata Arsen yang perlahan menaruh tumpukan berkas baru di meja kerja Daven.Daven hanya melirik tanpa minat tapi kemudian fokus pada layar kerjanya. “Jam berapa kita meeting dengan bagian keuangan?”“Satu jam lagi.”Daven memberi tanggapan dengan anggukan.“Apa Anda ingin mendengarkan laporan mengenai hasil sidang perceraian yang sebentar lagi diputuskan?”Pria bermata biru itu menatap tajam asistennya. Membuat Arsen diserang gugup yang membuatnya mengambil langkah, “Ah, tidak perlu rupanya. Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan saya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, mohon segera hubungi saya.”Arsen menyeringai tipis dan segera melesat pergi meninggalkan Daven. Padahal niat Arsen baik, jadi Daven tak perlu mendengarkan laporan panjang dari tim pengacara. Tapi sepertinya CEO Callister Grup tak ingin diganggu dengan berita apa pun. Ja

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [168]

    “Apa kegiatanmu hari ini?” suara Chase terdengar renyah di seberang. Nada bicaranya santai, seolah tak ada kegiatan yang dia lakukan sejak pagi.Althea tertawa kecil, menaruh sepotong buah melon ke mulutnya. “Tidak banyak. Semua barang-barangku dan juga Josh sudah rapi di dalam koper. Jadi nanti saat waktunya pulang ke SunCity, kita tinggal berangkat saja.”“Bagus.” Terdengar helaan napas lega dari Chase. “Aku sempat khawatir kau kerepotan mengemas barang-barang. Syukurlah.”“Aku ini terbiasa mengurus semuanya sendiri, tahu,” sahut Althea, pura-pura merajuk. “Lagi pula Josh juga ikut membantu, meskipun lebih banyak berlarian daripada membereskan.”Chase tertawa lepas. “Bukankah Josh memang tak bisa diam? Aneh rasanya jika melihat anak itu diam, kan?”“Kau benar.” Althea benar-benar menikmati waktunya yang sendiri ini. “Apa kau tidak sibuk?&rd

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [8] b

    “Mau sampai kapan kau memanggilku seperti itu?” Kate tertawa. “Ayolah, tak sampai sebulan lagi kau menjadi menantuku, kan?”Di ujung sana, Vanessa ikut tertawa. “Baiklah, Mom. Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?”“Tidak ada,” sahut K

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [8] a

    “Apa hari ini kau akan pulang terlambat?”Menyingkirkan rasa rendah diri, Althea tetap menemani Daven sarapan. Tanpa banyak bicara, hanya memastikan Daven sarapan dengan baik. Bahkan ia mengantarkan pria itu menuju mobil yang sudah dipersiapkan sopir ke kantor.“Ke

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [5]

    “Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perj

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [4]

    “Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status