MasukIa sangat menanti kabar itu.
“Tuan Daven,” suara itu berbarengan dengan ketukan di pintu ruangannya.
“Masuklah.”
Sosok Rio yang beberapa bulan lalu menemuinya, kembali memasuki ruang kerja dengan tatapan canggung.
“Duduklah, nyamankan dirimu,” perintah Daven.
“Terima kasih, Tuan Daven.”
Pria itu duduk dengan tenang, mengeluarkan berkas hasil kerjanya dari tas dengan penuh hati-hati. “Silakan, Tuan
“Duduklah di sini, Althea,” kata Felicia sambil melambai semangat. Ia tak menyangka Althea datang berkunjung ke ruang rawat ibunya. Meski ...“Terima kasih.” Althea tersenyum tipis. “Tapi ... Anda baik-baik saja, kan? Apa ada keluhan tersendiri?” Pertanyaan itu Althea tujukan pada Kate yang menjawab dengan gelengan.“Aku baik-baik saja. mungkin tadi hanya merasa pusing sebentar?”“Kau terlalu memaksakan diri, Mom. Perawat yang mendampingimu mengatakan hal itu,” cebik Felicia.“Tak masalah,” tukas Kate. “Aku melakukan ini untuk Josh. Tapi bagaimana keadaannya? Sudah ada perkembangan lebih jauh?”“Sementara ini belum. Tapi masa kritis Josh sudah berlalu hanya tinggal dipindahkan ke ruang rawat jika sudah memungkinkan,” papar Althea.“Syukurlah,” Kate menghela lega. “Aku senang mendengarnya.” Ia berusaha untuk bangun dari reba
Seorang perawat muncul tergesa dari balik pintu, wajahnya cemas. “Ada pihak keluarga Nyonya Kate Callister?”Daven dan Felicia segera berdiri serempak. “Ya, kami,” jawab Felicia cepat, sorot matanya bingung. “Beliau ibu saya.”Perawat menunduk sedikit, suaranya serius. “Nyonya Kate dalam kondisi cukup mengkhawatirkan. Tekanan darah tingginya melonjak drastis setelah mendonorkan darah. Beliau pingsan, dan saat ini sedang mendapat perawatan khusus.”“Apa?!” Daven hampir tak percaya, wajahnya pucat. “Mommy? Dia pingsan?”Felicia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Tuhan … Mommy.”Althea membeku di tempat. Ia memandang Daven dan Felicia, hatinya ikut terhimpit rasa bersalah. “Apa ... karena mendonorkan darah untuk Josh? Jadi keadaan Nyonya Kate memburuk?”“Bisa dibilang begitu tapi tepat tepatnya, Nyonya Cal
Dokter itu menatap mereka satu per satu, wajahnya serius. “Operasi penyelamatan Josh berhasil. Donor darah yang datang tepat waktu sangat membantu. Untuk saat ini, kondisinya sudah jauh lebih stabil, tapi—” ia menekankan kata terakhir, membuat semua orang menahan napas, “kami masih membutuhkan tambahan donor agar kondisi Josh tetap bisa dipertahankan.”Althea langsung menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali turun begitu saja. Tapi kali ini, rasanya kelegaan besar datang di hati. Seolah beban berat di tubuhnya terangkat begitu saja. Dan bukan hanya Althea yang merasakan hal itu, Felicia, Daven, dan Chase juga merasakan hal yang sama.Helaan lega terdengar bersamaan dan hal itu membuat dokter yang menangani Josh juga ikut tersenyum lega. Pertaruhannya di meja operasi bersama pasien serta tim dokter lainnya, benar-benar menegangkan.“Oh, Tuhan … terima kasih … terima kasih …” isak Althea. &l
Daven hanya bisa menatap punggung ibunya yang pergi menjauh bersama seorang perawat. Sepertinya mereka sangat terburu-buru melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa ada hal buruk yang terjadi selama Daven tak ada di sini? Kenapa Althea tak mengatakan apa pun pada Chase? Apa lagi-lagi wanita itu menanggung banyak hal seorang diri?“Jadi ... Felicia,” Kali ini Daven menatap adiknya dengan sorot tegas. Yang membuat Felicia hanya bisa menelan ludah gugup karena Daven tak akan dengan mudah membuatnya memberi banyak alasan.“Katakan padaku, apa yang terjadi?”Felicia menunduk, bibirnya bergetar. “Daven ... dokter baru saja memberi kabar yang—“ Ia semakin menunduk. “Kau tahu, buruk sekali. Josh kehilangan banyak darah. Dia membutuhkan banyak kantung darah.”“Kalau begitu, aku bersedia memberikan darahku. Sebanyak yang dokter inginkan,” sela Daven dengan cepat. “Di mana dokternya? Aku harus menemuinya
“Felicia? Di mana Josh? Tidak. Bagaimana keadaan Josh?”Felicia tertegun sejenak. Ia tak menyangka jika orang yang ingin dihubungi, ternyata sudah ada di depan matanya. Meski wanita itu tampak pucat, wajahnya penuh gelisah, dan saat kate memeluk Felicia, tubuhnya gemetar hebat.“Mommy,” bisik Felicia tak percaya. “Bagaimana ... kau bisa ada di sini?”Bukannya menjawab tapi Kate malah tersedu di putrinya. “Aku tidak bisa membayangkan, Felicia. Josh… cucuku… bagaimana bisa dia terlibat dalam kecelakaan mengerikan itu? Ya Tuhan!” tangisnya semakin kencang. Ia tak peduli bagaimana penampilannya sekarang. “Aku benar-benar tak bisa memercayai hal ini. Padahal kemarin aku baru saja bertemu Josh, Felicia.”Felicia berusaha menenangkan ibunya. Ia memberi usapan lembut di punggung Kate sembari berkata. “Aku yakin tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Josh. Aku dan Althea
Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke
“Buka kopernya,” perintah Kate sekali lagi.Yang disambut tawa riang dari Felicia dan Kalina. Mereka sangat menikmati di mana bisa menyudutkan dan merendahkan Althea. Bagi mereka, menjadi kepuasan tersendiri melihat wanita itu tak berdaya. Apalagi sampai wanita itu tak bisa ber
Karena foto itu juga, mengingatkan Althea akan satu-satunya foto yang ia simpan di dalam dompetnya selama ini—foto dirinya bersama Nenek Evelyn dan Daven saat di taman kecil belakang rumah. Senyum mereka di dalam foto itu tampak tulus dan hangat. Momen singkat yang begitu berarti baginya. "
“Berapa lama aku tertidur?” Althea tak tahu apa yang terjadi—apa bisa disebut ketiduran atau pingsan. Karena saat ia membuka mata, ia berada di lantai dan terbaring lemah. Sebagian tubuhnya merasa ngilu dan nyeri. Ujung kakinya juga terasa dingin karena ia terkulai begitu saja t
“Perlukah aku mengucapkan selamat tinggal?” kata Althea sembari tertawa miris. Saat ia turun dari mobil, sekali lagi ia simpan memori mengenai rumah yang satu tahun ini ia tinggali. Walau tak banyak kenangan indah, tapi Althea pernah menjadi bagian di sini. Satu-satunya yang bisa Alth