로그인Azam malangkah tegap menuju lantai dua kamarnya. Pria itu tersenyum devil membayangkan penampilan Alena yang mengenakan lingerie yang telah ia kirimkan beberapa jam lalu.
Pria itu rupanya telah memiliki rencana untuk bersenang-senang dengan wanita yang sangat dicintai oleh adik tirinya itu. Azam bahkan sudah tak sabar membayangkan bagaimana reaksi Jonatan.Saat adik tirinya itu melihat wanita yang ia cintai kini telah resmi menjadi kakak iparnya. Membayangkan wajah Jonatan yang patah hati dan hancur adalah pemandangan terindah bagi Azam. Sementara di dalam kamar, Alena sedari tadi hanya duduk terdiam. Sorot mata tajamnya terus tertuju pada lingerie tipis berwarna hitam yang ada di pangkuannya dengan hati yang begitu dongkol. Wanita itu benar-benar tak sudi menuruti keinginan Azam untuk memakai pakaian itu. Alena meremas lingerie itu dengan tatapan penuh kekesalan. "Jangan harap aku mau memakai pakaian sampah ini!" geram Alena seraya melempar lingerie ditangannya. Azam membuka pintu kamarnya dan bertepatan dengan itu. Lingerie yang dilemparkan Alena pun mendarat tepat di bawah kaki Azam. Saat pria itu membuka pintu kamarnya. Tatapan Azam langsung terpusat pada seonggok baju di bawah kakinya. Pria itu mengambil lingerie itu, kemudian menatap tajam Alena yang tengah duduk dipinggir ranjang. Alena tersentak kaget ketika mendapati sosok Azam yang kini berdiri tepat dihadapannya. Seketika amarah dalam diri Alena yang semula membuncah kini seketika mereda. Berganti dengan tatapan takut, kala melihat wajah Azam yang kini, terlihat bak iblis menakutkan."Kau belum memakainya?!" Azam melangkah mendekati Alena dengan tatapan tajamnya. "A-aku, aku tidak mau," ujar Alena mencoba memberanikan diri menolak keinginan Azam. Mendengar kata-kata penolakan dari Alena, Azam pun semakin kesal. Bisa-bisanya ada orang yang berani menentang keinginannya. "Kau benarani menentang ku!" Azam berucap seraya mencengkeram dagu Alena membuat wanita itu meringis kesakitan. "A-aku aku tidak mau, kita baru bertemu dan aku belum—" ujar Alena mencoba memberi alasan namun, langsung dipotong oleh Azam. "Persetan dengan alasanmu! Yang jelas kita sudah menikah dan aku berhak melakukan apapun pada mu!" Azam begitu emosi, pria itu benar-benar tak menyangka jika Alena memiliki nyali untuk menolak keinginannya. "Pakai sekarang! Atau kau akan menerima akibatnya," tegas Azam seraya menghempaskan tubuh Alena dan melempar lingerie kewajah Alena. "Aku tidak mau! Walau kau membunuhku, aku tetap tidak sudi memakainya." Alena mencoba melawan seakan tak ada rasa takut dalam dirinya. Tentu saja, harga dirinya mengalahkan rasa takutnya. "Heh, kau pikir aku akan membunuhmu? Hahaha kau lihat ini!" Azam kembali mendekat pada Alena. Pria itu merogoh saku celananya kemudian memperlihatkan vidio Jonatan yang tengah berkuliah. Dalam Vidio tersebut, terlihat ada anak buah Azam yang diam-diam tengah mengarahkan pistolnya ke arah Jonatan. Alena seketika melotot kaget melihat video tersebut. Sungguh wanita itu tak menyangka jika Azam mengenal Jonatan."Kenapa? Kau pasti bertanya mengapa aku bisa tahu tentang kekasihmu ini hem," ujar Azam tertawa tipis menatap wajah Alena yang terlihat pucat. "Jangan ganggu dia!" Alena berucap sambil terisak sesak. Sungguh Alena tak mengerti dengan jalan pikiran pria dihadapannya ini. Siapa sebenarnya Azam, bahkan pria ini tahu tantang Jonatan."Heh, kau tahu anak buahku selalu mengikuti kekasihmu itu, oh iya apa kau ingin bulan madu ke London? Ya mungkin aku akan mengijinkan mu bertemu dengannya sebentar," ucap Azam dengan nada mengejek. "Jangan! Aku mohon." Alena semakin terisak sesak. Rupanya pria itu tak main-main, bahkan ia tahu dimana Jonatan menempuh pendidikannya. "Bagus kalau begitu, jadi tunggu apa lagi? Cepat pakai!" Bentak Azam seketika membuat Alena tersentak. Alena kini hanya bisa pasrah, wanita berparas cantik itu hanya bisa menuruti perintah Azam kali ini. Dengan langkah pelan Alena masuk kedalam kamar mandi. Sementara Azam, pria itu tersenyum penuh kemenangan melihat Alena yang akhirnya menuruti keinginannya. Azam sudah menduga jika dengan cara inilah dirinya bisa mengendalikan Alena. Di kamar mandi, Alena kini sudah mengganti pakaiannya. Wanita itu terus menatap pantulan dirinya di depan cermin.Tangannya terus ia silahkan kebagian dada dan bawah tubuhnya. Alena benar-benar tak sanggup jika harus keluar dengan menggunakan pakaian itu. Tapi ia lebih tak sanggup lagi jika Azam benar-benar menyakiti Jonatan. "Apa kau akan tidur di kamar mandi! Kau sudah membuang waktu ku Alena!" Azam berteriak tak sabar. Kesabarannya sungguh diuji kali ini, bagaimana tidak. Alena sudah berada di kamar mandi selama 25 menit. Sungguh seumur hidupnya Azam belum pernah dibuat menunggu. Alena tak menjawab, wanita itu perlahan membuka pintu kamar mandi. Dengan langkah ragu-ragu akhirnya Alena keluar dari kamar mandi. Alena tertunduk, tangannya masih setia menyilang menutupi dua area sensitifnya. Sementara Azam, pria itu menelan silvanya melihat penampilan Alena. Tiba-tiba terbersit ide dalam pikirannya. Pria itu tersenyum seraya mendekat kearah Alena yang setia berdiri di depan kamar mandi. Azam meraih ponselnya, mengklik aplikasi berlogo vidio kemudian mengarahkan kamera ke arah Alena. "Kau sangat cantik istriku, malam ini akan menjadi malam panjang kita hem," ujar Azam begitu fulgar seraya mengambil vidio Alena. "Hentikan!" Alena mendongak menatap Azam dengan tatapan penuh air mata. "Jangan memerintahku!" bentak Azam geram melihat kelakuan Alena yang terus menentangnya. "Tolong jangan lakukan ini." Alena memohon dengan tubuh yang kini terduduk tak berdaya. Sungguh, Alena tak sanggup jika harus dipermalukan seperti ini. Alena tidak menyangka jika dirinya akan diperlakukan sedemikian hina oleh pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu."Sebenarnya apa maksudmu menikahi ku? Apa salahku?" ucapnya lagi seraya terisak. "Apa maksudku?" Azam berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Alena. "Heh, kau memang tidak memiliki kesalahan pada ku tapi, Nyonya Reina ibunda dari kekasihmu memiliki kesalahan yang tidak bisa aku maafkan. Dan aku ingin membuat putra kesayangannya itu menderita, dan kau lah alat untuk membuat anak manja itu hancur!" tutur Azam dengan senyum liciknya. Mendengar alasan Azam, Alena menghentikan tangisnya. Wanita itu menatap penuh tanda tanya pada pria dihadapannya itu. "Kau masih belum mengerti? Baiklah akan ku ceritakan sebuah cerita padamu." Azam kembali bangkit dan melangkah menuju sofa. Pria itu mendudukan dirinya di atas sofa seraya meraih rokok di kantong jasnya. Azam meraih pemantik kemudian dengan santai menyalakan rokok ditangannya. "Kau tahu, Tuan Abraham Dirgantara dia adalah Ayahku. Keluarga kami adalah keluarga yang bahagia namun, semenjak kehadiran sekertarisnya yang bernama Reina. Hubungan Ayah dan Ibu menjadi rusak." Azam bercerita dengan tenang seraya menyesap rokok ditangannya."Kau tahu, Ayah bahkan menceraikan Ibuku saat aku berusia 13 tahun. Ayah lebih memilih Reina janda beranak satu itu! Setiap malam Ibuku terus menangis Ia akhirnya memilih bunuh diri karena tak tahan melihat laki-laki yang sangat dicintai mencintai wanita lain!" ujar Azam kini mulai meninggi. Emosinya seketika membuncah kala mengingat kembali kenangan pahit saat sang ibu disakiti oleh ayahnya. Bayang-bayang tangisan sang ibu terus membayangi pikirannya. Apalagi saat ia mengingat sang ibu yang memilih bunuh diri. Karena tak tahan ditinggalkan oleh orang yang ia cintai. "Tapi itu tidak ada hubungannya dengan ku dan Kak Jonatan, baik aku dan Kak Jonatan tidak tahu menahu tentang ini semua kau tidak adil!" Alena menggeleng heran mendengar alasan Azam, seketika Alena pun turut emosi.Wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran Azam. Alena benar-benar tak mengerti mengapa Azam menyangkut pautkan dirinya dan Jonatan untuk hal yang tidak mereka ketahui."Aku tidak perduli! Yang aku inginkan adalah melihat Reina hancur! Aku ingin melihat wanita itu menangisi kehancuran putranya, seperti aku yang menyaksikan kehancuran Ibuku dulu." Tanpa aba-aba Azam langsung menarik dan menggendong tubuh Alena layaknya karung beras. "Lepaskan!" teriak Alena sambil terus memberontak memukul punggung Azam. "Akhh!" Alena memekik ketika tubuhnya dihempaskan di atas ranjang. "Aku ingin melihat raut wajah Jonatan ketika melihat wanita yang begitu dicintai berada dibawah kendaliku!" ucap Azam mengungkung tubuh Alena. "Tidak! Jangan lakukan ini!" Alena berteriak histeris ketika Azam mulai merobek pakaian yang ia kenakan.Sembilan bulan telah berlalu sejak kasus D-G Holdings ditutup. Rumah keluarga Dirgantara yang dulu dingin dan penuh rahasia, kini berubah menjadi rumah yang paling hangat di kompleks itu. Aroma kayu manis dan baju bayi yang baru dicuci selalu memenuhi ruangan. Alena hamil 8 bulan. Perutnya sudah sangat besar, karena di dalamnya ada dua kehidupan. Hasil USG terakhir dari Dr. Anya menunjukkan sepasang bayi kembar, satu laki-laki dan satu perempuan, yang sudah mereka beri nama: *Azlan Gavino Dirgantara* dan *Aluna Gavina Dirgantara*. Dan Azam... Azam berubah menjadi manusia paling posesif di dunia. "Mas, aku cuma mau ambil air putih di dapur," keluh Alena pagi itu, berusaha turun dari sofa. Azam yang sedang rapat online langsung mematikan laptopnya. "Duduk. Biar Mas ambil. Kamu jangan banyak gerak. Dokter Anya bilang kamu harus banyak istirahat, ingat? Apalagi Lano sama Luna kita ini beratnya hampir 3 kilo masing-masing." Alena mencubit pelan lengan suaminya. "Mas, aku cuma ha
Pintu ruang bawah tanah yang berat itu tertutup dengan bunyi berdebum. Debu berjatuhan dari langit-langit rendah.Bram masih mengarahkan pistol hitam itu kepada Azam. Tangannya tidak gemetar sedikit pun. Matanya dingin. Nara berdiri di sampingnya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja ketahuan mengkhianati sepupunya sendiri."Di mana ayahku?" tanya Azam, suaranya parau. Ia berdiri di depan Alena, menjadi tameng.Nara tersenyum miring, senyum yang tidak pernah Alena lihat sebelumnya."Di tempat yang tidak akan pernah kau temukan, Azam. Ayahmu itu pintar. Lebih pintar dari kau dan Mark digabung.""Dia masih hidup?" tanya Azam lagi, butuh kepastian."Masih. Sangat hidup. Dan sedang menonton kita semua dari jauh," jawab Nara.Alena yang dari tadi diam akhirnya bersuara, suaranya pecah. "Kenapa kau melakukan semua ini, Ra? Kita tumbuh bersama. Aku menganggapmu kakakku sendiri. Setelah Mama Papa meninggal, cuma kamu yang aku punya."Nara menatap Alena lama.
Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun. Cat dindingnya mengelupas, halaman depannya dipenuhi ilalang setinggi lutut, dan jendela-jendelanya pecah di beberapa sisi.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar. Ini adalah rumah masa kecilnya. Tempat ia belajar sepeda, tempat ibunya mengajarinya membuat kue, tempat ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur. Tapi sekarang rumah itu terasa asing dan menakutkan."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah di rumah ini, Mas," bisik Alena, suaranya hampir hilang tertiup angin malam. "Ayah tidak pernah cerita.""Karena mungkin sengaja disembunyikan darimu," jawab Azam pelan, sambil merangkul bahu istrinya. "Kunci dari Bram ini pasti petunjuknya."Mark yang membawa senter besar berjalan di depan, menyingkirkan papan-papan kayu yang menutupi pintu masuk.Aroma lembab dan kayu lapuk langsung menyergap begitu pintu utama berhasil dibuka.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci kecil berkarat yang diberikan
Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah.""Karena mungkin sengaja disembunyikan," jawab Azam.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci yang diberikan Bram.Di balik lemari tua, mereka menemukan pintu kecil yang tertutup papan.Kunci itu cocok.Pintu terbuka dengan suara berderit.Tangga sempit membawa mereka ke ruangan gelap di bawah rumah.Mark menyalakan senter.Dinding ruangan dipenuhi kotak arsip.Di tengah ruangan terdapat meja besi.Di atasnya ada sebuah tape recorder tua.Azam menekan tombol putar.Suara Rendra terdengar."Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku sudah tidak ada."Alena menahan napas."Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Bahkan orang-orang terdekatku mungkin sudah berada di bawah kendali mereka."Rekaman berlanjut."D-G Holdings bukan hanya perusahaan pencucian uang. Perusahaan itu dibentuk untuk menyimpan bukti transaksi ilegal
Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.
Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.
"Azam! Azam!" teriak Jonatan dengan penuh emosi memanggil nama Azam seraya melangkah kedalam rumah Azam. Sebelumnya pria itu tidak diperbolehkan masuk oleh satpam. Namun, Nyonya Reina yang ngotot dan mengancam pada sang satpam dengan membawa nama Tuan Abraham. Membuat satpam tersebut dengan terpaks
Azam menatap lekat wajah Alena yang tengah tertidur. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dan kini, dirinya sudah bersiap pergi menemui Zen sang asisten. Beberapa saat lalu Azam kemabli memalukan penyatuan bersama Alena.Azam benar-benar tak memiliki hati, ia benar-benar menganggap Alena seba
Nyonya Reina tersentak tak percaya dengan kata-kata Azam, yang terdengar seakan tanpa dosa. Lagi pula mana mungkin wanita paruh baya itu mau memberi restu pada hubungan yang akan membuat hati putranya hancur. Terlebih lagi, saat melihat mereka berdua terlihat mesra seakan Alena dengan suka rela men
Malam yang panjang kini telah berganti dengan pagi yang begitu cerah. Alena membuka perlahan kelopak matanya. Sinar matahari rupanya sudah mulai muncul menembus celah jendela kamar Azam. "Eummm ...." leguh Alena mencoba mengumpulkan kesadarannya. Namun, matanya seketika melotot saat mendapati soso







