LOGINSembilan bulan telah berlalu sejak kasus D-G Holdings ditutup.Rumah keluarga Dirgantara yang dulu dingin dan penuh rahasia, kini berubah menjadi rumah yang paling hangat di kompleks itu. Aroma kayu manis dan baju bayi yang baru dicuci selalu memenuhi ruangan.Alena hamil 8 bulan. Perutnya sudah sangat besar, karena di dalamnya ada dua kehidupan. Hasil USG terakhir dari Dr. Anya menunjukkan sepasang bayi kembar, satu laki-laki dan satu perempuan, yang sudah mereka beri nama: *Azlan Gavino Dirgantara* dan *Aluna Gavina Dirgantara*.Dan Azam... Azam berubah menjadi manusia paling posesif di dunia."Mas, aku cuma mau ambil air putih di dapur," keluh Alena pagi itu, berusaha turun dari sofa.Azam yang sedang rapat online langsung mematikan laptopnya. "Duduk. Biar Mas ambil. Kamu jangan banyak gerak. Dokter Anya bilang kamu harus banyak istirahat, ingat? Apalagi Lano sama Luna kita ini beratnya hampir 3 kilo masing-masing."Alena mencubit pelan lengan suaminya. "Mas, aku cuma haus... bukan
Pintu ruang bawah tanah yang berat itu tertutup dengan bunyi berdebum. Debu berjatuhan dari langit-langit rendah.Bram masih mengarahkan pistol hitam itu kepada Azam. Tangannya tidak gemetar sedikit pun. Matanya dingin. Nara berdiri di sampingnya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja ketahuan mengkhianati sepupunya sendiri."Di mana ayahku?" tanya Azam, suaranya parau. Ia berdiri di depan Alena, menjadi tameng.Nara tersenyum miring, senyum yang tidak pernah Alena lihat sebelumnya."Di tempat yang tidak akan pernah kau temukan, Azam. Ayahmu itu pintar. Lebih pintar dari kau dan Mark digabung.""Dia masih hidup?" tanya Azam lagi, butuh kepastian."Masih. Sangat hidup. Dan sedang menonton kita semua dari jauh," jawab Nara.Alena yang dari tadi diam akhirnya bersuara, suaranya pecah. "Kenapa kau melakukan semua ini, Ra? Kita tumbuh bersama. Aku menganggapmu kakakku sendiri. Setelah Mama Papa meninggal, cuma kamu yang aku punya."Nara menatap Alena lama.
Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun. Cat dindingnya mengelupas, halaman depannya dipenuhi ilalang setinggi lutut, dan jendela-jendelanya pecah di beberapa sisi.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar. Ini adalah rumah masa kecilnya. Tempat ia belajar sepeda, tempat ibunya mengajarinya membuat kue, tempat ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur. Tapi sekarang rumah itu terasa asing dan menakutkan."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah di rumah ini, Mas," bisik Alena, suaranya hampir hilang tertiup angin malam. "Ayah tidak pernah cerita.""Karena mungkin sengaja disembunyikan darimu," jawab Azam pelan, sambil merangkul bahu istrinya. "Kunci dari Bram ini pasti petunjuknya."Mark yang membawa senter besar berjalan di depan, menyingkirkan papan-papan kayu yang menutupi pintu masuk.Aroma lembab dan kayu lapuk langsung menyergap begitu pintu utama berhasil dibuka.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci kecil berkarat yang diberikan
Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah.""Karena mungkin sengaja disembunyikan," jawab Azam.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci yang diberikan Bram.Di balik lemari tua, mereka menemukan pintu kecil yang tertutup papan.Kunci itu cocok.Pintu terbuka dengan suara berderit.Tangga sempit membawa mereka ke ruangan gelap di bawah rumah.Mark menyalakan senter.Dinding ruangan dipenuhi kotak arsip.Di tengah ruangan terdapat meja besi.Di atasnya ada sebuah tape recorder tua.Azam menekan tombol putar.Suara Rendra terdengar."Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku sudah tidak ada."Alena menahan napas."Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Bahkan orang-orang terdekatku mungkin sudah berada di bawah kendali mereka."Rekaman berlanjut."D-G Holdings bukan hanya perusahaan pencucian uang. Perusahaan itu dibentuk untuk menyimpan bukti transaksi ilegal
Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.
Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.
Azam benar-benar sudah kehilangan kendali. Teriakan serta jeritan Alena tak ia dengarkan sama sekali. Pria itu seakan menulikan telinganya, yang ada di otaknya hanyalah kebencian dan dendam. Dalam sekali tarik lingerie tipis itupun telah lepas dari tubuh Alena. Azam melempar lingerie yang sudah ta
Azam malangkah tegap menuju lantai dua kamarnya. Pria itu tersenyum devil membayangkan penampilan Alena yang mengenakan lingerie yang telah ia kirimkan beberapa jam lalu. Pria itu rupanya telah memiliki rencana untuk bersenang-senang dengan wanita yang sangat dicintai oleh adik tirinya itu. Azam b
"Bagaimana para saksi, sah?""Sah!""Sah!"Perkataan Pak penghulu yang disambut kata "sah" dari para saksi menegaskan jika Azam telah selesai mengikrarkan ijab kabul. Artinya Alena kini telah resmi menjadi istri sah dari seorang Azam Dirgantara.Azam menatap Alena yang duduk disampingnya kemudian m
"Aku ingin keponakanmu Alena Geraldine, bisa kau berikan dia pada ku?" tutur seorang pria berparas tampan dengan senyum sinis menatap pria paruh baya dihadapannya.Sambil menyilangkan tangannya, pria itu menatap dengan senyum sinisnya. Ia sangat yakin jika pria paruh baya dihadapannya itu pasti tid







