공유

Pernikahan Balas Dendam
Pernikahan Balas Dendam
작가: Miss Mega

Permintaan Azam

작가: Miss Mega
last update 게시일: 2023-09-26 16:11:45

"Aku ingin keponakanmu Alena Geraldine, bisa kau berikan dia pada ku?" tutur seorang pria berparas tampan dengan senyum sinis menatap pria paruh baya dihadapannya.

Sambil menyilangkan tangannya, pria itu menatap dengan senyum sinisnya. Ia sangat yakin jika pria paruh baya dihadapannya itu pasti tidak akan menolak keinginannya.

"Tuan Azam, maaf Alena hanyalah gadis biasa, bagaiman jika putriku Nara dia—" ucap pria paruh baya itu, mencoba memberi jawaban pada pria bernama Azam namun langsung dipotong.

"Pak Hendro! Aku tidak butuh putrimu, yang aku inginkan adalah keponakan mu!" bentak pria bernama Azam itu dengan tatapan pembunuhnya.

Seketika pria paruh baya bermana Hendro itupun tertunduk takut. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Tubuhnya gemetar seketika ketika melihat sorot kemarahan yang ditampilkan oleh Tuan muda itu.

"Maaf Tuan saya hanya—" pria paruh baya itu mencoba kembali membuka suara akan tetapi, perkataannya lagi-lagi dihentikan oleh Azam.

"Aku tidak akan mengulangi lagi perkataan ku! Dan aku berharap Anda paham apa yang aku minta!" tegas Azam kini berkata tepat di depan wajah Hendro dengan tatapan tajamnya yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

"Ba-baik Tuan Azam," jawab Hendro terbata dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.

"Bagus! Aku tunggu besok sore di rumah ku, jika kau tidak membawa keponakan mu itu. Maka bersiaplah, karena bukan hanya perusahaan mu yang hancur tapi kau juga akan aku hancurkan!" Azam tersenyum miring, seraya kembali keposisi dudunya.

"Zen, siapkan pernikahan ku besok sore!" ucapnya lagi kini pada sang asisten.

"Baik Tuan," jawab Zen patuh.

"Sampai bertemu besok sore Pak Hendro." Azam kembali berkata disertai dengan senyum denvilnya yang hanya dijawab dengan anggukan ketakutan dari pria paruh baya itu.

Pria berparas tampan itu pun bangkit dan berlalu. Meninggalkan pria paruh baya yang kini tengah ketakutan.

"Ya Tuhan bagaimana ini, kenapa dia malah meminta gadis bodoh itu!" tutur Hendro kesal mengapa yang dipilih oleh Azam adalah keponakannya dan bukan putrinya.

Sementara, di dalam mobil Azam tersenyum penuh kemenangan. Karena sebentar lagi balas dendamnya akan segera dimulai.

"Jonatan tunggu saja!" ucapnya dengan sorot mata penuh kebencian saat menyebut nama Jonatan.

Hendro pulang dengan wajah lesunya. Angan-angannya mendapatkan menantu kaya raya ternyata hanya mimpi semata.

Hendro yang semula begitu bersemangat setelah Zen tiba-tiba menelponya dan mengabarkan jika Azam ingin melamar salah satu gadis yang ada di rumahnya. Hendro sudah begitu percaya diri, jika gadis yang Azam inginkan adalah Nara sang putri.

Nyatanya kini pria paruh baya itu menelan kecewa. Karena ternyata gadis yang Azam inginkan adalah keponakannya.

Kini, Hendro tengah berkumpul bersama anak istri dan Alena keponakannya. Pria paruh baya itu harus segera memberi tahu Alena, tentang keinginan sang tuan muda. Hendro tak ingin Alena mengecewakannya sebab ia tahu jika Alena sudah memiliki kekasih.

Hendro tak ingin mempertaruhkan perusahaannya jika sampai Alena mengacaukan rencana Azam. Ancaman Azam tak pernah main-main dan Hendro tak ingin menyesal nantinya.

"Alena besok sore kau harus menikah dengan Tuan Azam," ujar Hendro tegas pada sang keponakan.

"Aku tidak mau Paman, aku sudah punya kekasih kami akan—" Alena mendongak terkejut, dengan nada sedikit meninggi. 

Gadis itu, mencoba menolak keinginan sang paman namun langsung dipotong oleh sang paman.

"Cukup Alena! Saat ini kamu tidak dalam posisi untuk memilih!" bentak Hendro tak bisa dibantah.

"Tapi Pah! Nara lebih baik dari Alena mengapa bukan Nara saja yang menikah dengan Tuan muda!" ucap Marta istri Hendro yang juga terkejut akan keinginan sang tuan muda.

"Iya Pah, kenapa malah gadis kampung ini sih!" ketus Nara yang terlihat begitu kecewa.

"Mau ku juga seperti itu tapi, Tuan muda itu hanya menginginkan Alena!" Hendro menjabak rambutnya frustasi, karena pria itu juga menginginkan hal yang sama.

Pria itu juga sebenarnya ingin sekali putrinya yang dipilih oleh Azam. Namun, apa boleh buat Azam hanya menginginkan Alena.

"Besok sore Alena harus dibawa kerumah Azam, pria itu sudah mempersiapkan pernikahan mereka akan menikah sore itu juga," ucap Hendro tak terbantahkan.

Seketika Alena terduduk lemas, bagaimana bisa ia menikah dengan orang lain. Sementara, ada pria lain yang ia cintai.

"Untuk mengantisipasi, sekrang aku harus mengurungmu." Hendro kembali berucap seraya menarik tangan Alena pergi menuju kamar gadis itu.

"Paman lepaskan! Aku tidak mau menikah dengan pria itu!" Alena berteriak histeris seraya menggedor pintu meminta sang paman mengurungkan niatnya.

Sungguh gadis itu tidak ingin dinikahkan apalagi dengan pria yang samasekali tidak ia kenal. Impiannya bersama sang kekasih akan segera mereka wujudkan begitu sang kekasih pulang dari luar negeri.

"Persetan dengan cinta mu itu! Perusahaan ku lebih penting dari apapun!" Hendro berkata seraya menatap tajam Alena kemudian melempar gadis itu masuk kedalam kamarnya. Tak lupa Hendro mengunci kamar Alena agar gadis itu tidak bisa melarikan diri.

"Paman buka pintunya! Paman tolong buka pintunya!" Alena berteriak seraya menangis histeris. Tak ada lagi yang bisa Alena lakukan, dirinya tak berdaya melawan sang paman.

* * * *

Keesokan harinya, sore yang begitu ditunggu oleh Azam kini datang juga. Pria itu sudah terlihat begitu rapi dengan setelan jas berwarna putih yang terlihat begitu gagah.

Senyumnya tersungging akan tetapi bukan senyum kebahagiaan seperti layaknya pasangan pengantin. Senyum yang Azam tampilkan justru senyum sinis layaknya iblis.

Sementara, di kediaman keluarga Hendro. Alena juga sudah terlihat cantik dengan balutan kebaya putih yang terlihat begitu anggun.

Berbeda dengan Azam, Alena justru terlihat murung dengan mata juga terlihat sembab. Untungnya penata rias begitu pandai menutupinya sehingga Alena tetap terlihat cantik meski sebenarnya keadaannya sangat kacau.

"Kau begitu cantik Nona, pengantin pria pasti sangat terpukau melihat kecantikan mu," ujar penata rias memuji kecantikan Alena.

"Terima kasih." Alena memaksakan senyumnya menjawab perkataan sang penata rias.

'Harusnya momen ini menjadi hal yang membahagiakan untuk ku, jika saja mempelai pria itu adalah kamu Kak Jonatan' Alena membatin sesak, saat tersadar jika dirinya sebentar lagi akan menjadi milik pria lain.

"Bagaiman Zen, mereka sudah siap?" tanya Azam pada sang asisten lewat sambungan telepon. Sang asisten rupanya kini sudah berada dikediaman Hendro guna menjemput Alena.

"Sudah Tuan, saya akan segera kembali bersama mempelai wanita." Zen menjawab seraya melirik anggota keluarga Hendro yang telah siap.

"Bagus cepat bawa mereka, jangan buat aku menunggumu terlalu lama Zen." Azam berkata untuk terakhir kalinya memerintahkan Zen untuk segera bergegas.

"Cepat Tuan muda sudah menunggu," ucap Zen dengan nada dingin memerintahkan Hendro dan keluarganya untuk segera naik ke mobil.

Tak ingin membuang waktu Zen, langsung mengemudikan mobilnya. 40 menit kemudian Zen dan keluarga Hendro kini sudah sampai di kediaman Azam.

Satu persatu anggota keluarga Hendro keluar dari dalam mobil. Mereka semua menatap takjub pada bangunan megah bak istana itu.

Marta dan Nara kemudian menatap sinis penuh kebencian kearah Alena. Kebencian mereka kini telah diliputi rasa iri yang semakin mendarah daging.

"Lihat Mah, betapa beruntungnya gadis kampung itu. Harunya ini semua menjadi milikku, harusnya aku yang ada diposisi ini bukan dia." Nara berbisik pada sang Mamah seraya terus menatap Alena.

"Ayo cepat masuk Tuan muda sudah menunggu." Teguran bernada dingin terdengar dari Zen sang asisten. Mengintruksi rombongan keluarga Hendro untuk segera masuk.

Alena hanya mengguk kecil seraya mengikuti langkah paman, Bibi dan juga Nara masuk kedalam rumah megah itu. Alena, melangkah perlahan dengan wajah yang terus ia tundukan.

Sungguh sedari tadi gadis itu hanya terdiam seakan raganya tak memiliki jiwa. Hari ini dirinya akan  benar-benar kehilangan segala mimpi dan cinta yang telah ia bina bersama sang kekasih.

"Sudah sampai, mari kita langsung mulai prosesi ijab Kabulnya, aku sudah menunggu lama untuk ini," ujar Azam yang sudah duduk disamping penghulu.

Pria itu menatap kearah Alena dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Nona Alena silahkan." Zen menarik kursi untuk Alena mempersilahkan gadis itu untuk duduk disamping Azam. 

Alena berjalan perlahan dengan wajah yang masih ia tundukan. Alena kini duduk disamping Azam namun, gadis itu sama sekali tak berani menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

"Bisa kita mulai?" tanya Azam pada penghulu yang diangguki oleh pria paruh baya itu.

"Mari Tuan Azam, ikuti saya." Pak penghulu kemudian menjabat tangan Azam untuk memulai ijab kabul.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Vita Zhao
Wah, keren banget ceritanya, Kak...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Pernikahan Balas Dendam    Dua Anggota Baru Keluarga Dirgantara

    Sembilan bulan telah berlalu sejak kasus D-G Holdings ditutup. Rumah keluarga Dirgantara yang dulu dingin dan penuh rahasia, kini berubah menjadi rumah yang paling hangat di kompleks itu. Aroma kayu manis dan baju bayi yang baru dicuci selalu memenuhi ruangan. Alena hamil 8 bulan. Perutnya sudah sangat besar, karena di dalamnya ada dua kehidupan. Hasil USG terakhir dari Dr. Anya menunjukkan sepasang bayi kembar, satu laki-laki dan satu perempuan, yang sudah mereka beri nama: *Azlan Gavino Dirgantara* dan *Aluna Gavina Dirgantara*. Dan Azam... Azam berubah menjadi manusia paling posesif di dunia. "Mas, aku cuma mau ambil air putih di dapur," keluh Alena pagi itu, berusaha turun dari sofa. Azam yang sedang rapat online langsung mematikan laptopnya. "Duduk. Biar Mas ambil. Kamu jangan banyak gerak. Dokter Anya bilang kamu harus banyak istirahat, ingat? Apalagi Lano sama Luna kita ini beratnya hampir 3 kilo masing-masing." Alena mencubit pelan lengan suaminya. "Mas, aku cuma ha

  • Pernikahan Balas Dendam    Kebenaran Terakhir

    Pintu ruang bawah tanah yang berat itu tertutup dengan bunyi berdebum. Debu berjatuhan dari langit-langit rendah.Bram masih mengarahkan pistol hitam itu kepada Azam. Tangannya tidak gemetar sedikit pun. Matanya dingin. Nara berdiri di sampingnya dengan wajah tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja ketahuan mengkhianati sepupunya sendiri."Di mana ayahku?" tanya Azam, suaranya parau. Ia berdiri di depan Alena, menjadi tameng.Nara tersenyum miring, senyum yang tidak pernah Alena lihat sebelumnya."Di tempat yang tidak akan pernah kau temukan, Azam. Ayahmu itu pintar. Lebih pintar dari kau dan Mark digabung.""Dia masih hidup?" tanya Azam lagi, butuh kepastian."Masih. Sangat hidup. Dan sedang menonton kita semua dari jauh," jawab Nara.Alena yang dari tadi diam akhirnya bersuara, suaranya pecah. "Kenapa kau melakukan semua ini, Ra? Kita tumbuh bersama. Aku menganggapmu kakakku sendiri. Setelah Mama Papa meninggal, cuma kamu yang aku punya."Nara menatap Alena lama.

  • Pernikahan Balas Dendam    Ruang Bawah Tanah

    Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun. Cat dindingnya mengelupas, halaman depannya dipenuhi ilalang setinggi lutut, dan jendela-jendelanya pecah di beberapa sisi.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar. Ini adalah rumah masa kecilnya. Tempat ia belajar sepeda, tempat ibunya mengajarinya membuat kue, tempat ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur. Tapi sekarang rumah itu terasa asing dan menakutkan."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah di rumah ini, Mas," bisik Alena, suaranya hampir hilang tertiup angin malam. "Ayah tidak pernah cerita.""Karena mungkin sengaja disembunyikan darimu," jawab Azam pelan, sambil merangkul bahu istrinya. "Kunci dari Bram ini pasti petunjuknya."Mark yang membawa senter besar berjalan di depan, menyingkirkan papan-papan kayu yang menutupi pintu masuk.Aroma lembab dan kayu lapuk langsung menyergap begitu pintu utama berhasil dibuka.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci kecil berkarat yang diberikan

  • Pernikahan Balas Dendam    Ruang Bawah Tanah

    Rumah lama keluarga Geraldine telah kosong selama bertahun-tahun.Alena berdiri di depan pintu utama dengan tangan gemetar."Aku tidak pernah tahu ada ruang bawah tanah.""Karena mungkin sengaja disembunyikan," jawab Azam.Mereka mencari petunjuk berdasarkan kunci yang diberikan Bram.Di balik lemari tua, mereka menemukan pintu kecil yang tertutup papan.Kunci itu cocok.Pintu terbuka dengan suara berderit.Tangga sempit membawa mereka ke ruangan gelap di bawah rumah.Mark menyalakan senter.Dinding ruangan dipenuhi kotak arsip.Di tengah ruangan terdapat meja besi.Di atasnya ada sebuah tape recorder tua.Azam menekan tombol putar.Suara Rendra terdengar."Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku sudah tidak ada."Alena menahan napas."Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Bahkan orang-orang terdekatku mungkin sudah berada di bawah kendali mereka."Rekaman berlanjut."D-G Holdings bukan hanya perusahaan pencucian uang. Perusahaan itu dibentuk untuk menyimpan bukti transaksi ilegal

  • Pernikahan Balas Dendam    Jejak yang Terkubur

    Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.

  • Pernikahan Balas Dendam    Jejak yang Terkubur

    Malam itu, ruang kerja Azam berubah menjadi tempat penyelidikan.Beberapa berkas lama memenuhi meja.Mark berdiri di hadapan rak dokumen sambil membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini semua arsip yang berhasil aku dapatkan."Azam menerima map tersebut."Surat wasiat?""Termasuk itu."Mark kemudian meletakkan sebuah folder lain di atas meja."Dan ini laporan kecelakaan orang tua Alena."Azam menatap kedua berkas tersebut.Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.Selama ini ia mengetahui orang tua Alena meninggal dalam kecelakaan mobil.Ia juga tahu setelah kejadian itu, Alena berada dalam kondisi yang sulit dan akhirnya tinggal bersama keluarga pamannya.Namun, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kecelakaan tersebut.Karena saat itu, ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.Sekarang semuanya terasa berbeda.Azam membuka surat wasiat ayahnya.Ia membaca perlahan.Beberapa halaman pertama berisi pembagian aset keluarga.Rumah.Tanah.Perusahaan.Saham.

  • Pernikahan Balas Dendam    Kedatangan Jonatan.

    "Azam! Azam!" teriak Jonatan dengan penuh emosi memanggil nama Azam seraya melangkah kedalam rumah Azam. Sebelumnya pria itu tidak diperbolehkan masuk oleh satpam. Namun, Nyonya Reina yang ngotot dan mengancam pada sang satpam dengan membawa nama Tuan Abraham. Membuat satpam tersebut dengan terpaks

  • Pernikahan Balas Dendam    Kehormatan yang Terenggut.

    Azam benar-benar sudah kehilangan kendali. Teriakan serta jeritan Alena tak ia dengarkan sama sekali. Pria itu seakan menulikan telinganya, yang ada di otaknya hanyalah kebencian dan dendam. Dalam sekali tarik lingerie tipis itupun telah lepas dari tubuh Alena. Azam melempar lingerie yang sudah ta

  • Pernikahan Balas Dendam    Dendam Azam

    Azam malangkah tegap menuju lantai dua kamarnya. Pria itu tersenyum devil membayangkan penampilan Alena yang mengenakan lingerie yang telah ia kirimkan beberapa jam lalu. Pria itu rupanya telah memiliki rencana untuk bersenang-senang dengan wanita yang sangat dicintai oleh adik tirinya itu. Azam b

  • Pernikahan Balas Dendam    Menjadi suami istri

    "Bagaimana para saksi, sah?""Sah!""Sah!"Perkataan Pak penghulu yang disambut kata "sah" dari para saksi menegaskan jika Azam telah selesai mengikrarkan ijab kabul. Artinya Alena kini telah resmi menjadi istri sah dari seorang Azam Dirgantara.Azam menatap Alena yang duduk disampingnya kemudian m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status