Share

Bab 104

Author: Vannisa
Maggie mengetik di ponselnya.

[ Beli makan dan beres-beres itu nggak berat. Sarapan harus dimakan selagi hangat. ]

Maggie terlihat sangat terbiasa merawat orang sakit. Easton pun teringat, dia memang punya seorang ayah angkat yang sudah lama sakit. Dari hasil penyelidikan latar belakang, tercatat bahwa setelah umur 17 tahun, Maggie kembali ke orang tua kandungnya, lalu berganti nama menjadi Maggie seperti sekarang.

Namun ... bagaimana dengan sebelum 17 tahun itu? Dengan orang tua angkatnya yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 620

    Easton sudah seperti anak panah di ujung busur, tidak mungkin tidak dilepaskan lagi. Dia tiba-tiba menyingkap selimut dan berjalan masuk ke kamar mandi.....Keesokan paginya, Maggie terbangun karena cahaya matahari yang menyilaukan menembus celah tirai. Dia membalikkan badan, lalu secara refleks mengulurkan tangan untuk memeluk orang di sampingnya.Namun, kali ini Maggie memeluk udara kosong, sehingga dia menggerutu dengan kesal dan tiba-tiba membuka mata yang masih mengantuk. Sisi tempat tidur itu sudah kosong dan bahkan seprainya pun rapi, seolah-olah tidak ada orang yang pernah tidur di sana.Maggie berusaha mengingat apa yang sudah terjadi semalam, tetapi hanya ingat Easton akhirnya menundukkan kepala terlebih dahulu dan menggendongnya kembali ke tempat tidur. Setelah itu, dia sempat mengeluh beberapa kalimat dengan perasaan sedih. Selanjutnya, dia terlalu mengantuk hingga tidak memiliki kesan apa pun.Dia mengulurkan tangan dan menyentuh seprai yang rata di samping, lalu mengenak

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 619

    Easton menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang.Maggie menatap Easton dengan mata berkaca-kaca. Dengan tatapan yang basah dan buram, dia mengangkat kepala dan menatap melihat pria yang berdiri di hadapannya."Jangan menangis lagi, tidurlah," kata Easton sambil menghela napas tak berdaya, lalu membungkuk dan memeluk Maggie.Sambil menyeka air mata dengan punggung tangan, Maggie menghindari Easton. "Aku nggak mau tidur bersamamu. Aku sudah minta maaf soal kejadian malam ini, kenapa kamu masih terus mempermasalahkannya dan nggak mau memaafkan kesalahanku? Nggak ada yang menyangka malam ini akan terjadi hal seperti itu, aku juga nggak sengaja."Maggie menangis tersedu-sedu. Mungkin karena hormon dalam tubuhnya sedang tidak stabil, bahu dan tangannya ikut bergetar juga saat emosinya memuncak.Hal itu benar-benar membuat Easton panik. Dia segera melembutkan sikapnya dan berjongkok di depan Maggie, lalu mengulurkan tangan untuk menyeka air mata Maggie. "Tarik napa

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 618

    Easton tiba-tiba berhenti. Dia mengangkat tangan untuk mengambil alat cukur di dekat pintu masuk, lalu berbalik dan masuk ke kamar mandi.Karena sudah beberapa saat berlalu pun tidak ada kelanjutannya, Maggie tiba-tiba membuka mata. Mendengar suara air mengalir deras dari kamar mandi, wajahnya langsung memerah dan terasa panas. Mengapa dia tidak memiliki harga diri seperti ini? Apa yang sebenarnya diharapkannya?Orang bilang nafsu itu seperti pisau di atas kepala, ternyata memang benar. Tidak peduli apa itu pria atau wanita, semuanya sama saja.Maggie menelan ludah, lalu duduk manis di sofa dekat jendela.Tak lama kemudian, suara air berhenti. Easton keluar dengan mengenakan jubah mandi yang longgar dan poni basah di dahinya masih meneteskan air. Dia berjalan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu merebahkan dirinya seenaknya di tempat tidur dan menguasai setengah lebih dari sisi ranjang.Pada detik berikutnya, Easton pun mematikan lampu kamar. Hanya tersisa satu lamp

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 617

    Saat tatapan Maggie beralih ke pintu lift, satu tangan Easton menahan di sisi pintu sampai urat di punggung tangannya menonjol. Sementara itu, Easton menatapnya langsung dengan sepasang mata hitam pekat yang dalam. Ternyata, tadi Easton yang menahan pintu liftnya.Maggie pun mundur setengah langkah dengan rasa bersalah. Dia tiba-tiba tidak ingin tebal muka dan satu lift dengan Easton lagi, hanya bisa tersenyum dengan canggung. Namun, baru mundur setengah langkah, pinggangnya sudah dirangkul. Dengan satu tarikan kuat, dia sudah ditarik masuk ke dalam pelukan Easton dan sepasang tangan besar Easton menguncinya hingga tak bisa bergerak."Kenapa menghindar? Bukannya tadi kamu rela dijepit lift demi ikut di belakangku? Maggie, sikapmu benar-benar cepat sekali berubah," kata Easton dengan bulu mata hitam yang terkulai. Dia mengangkat kelopak matanya sedikit, lalu menatap Maggie dengan tatapan malas dan sengaja melepaskan genggamannya.Dalam keadaan panik, Maggie yang tidak siap hampir kehila

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 616

    Parlin pun menyalakan mobilnya dan mulai melaju. Untuk sesaat, suasana di dalam mobil menjadi sangat hening dan hanya ada aroma kayu cendana terasa dingin serta menenangkan yang memenuhi ruangan.Tak lama kemudian, Maggie bersandar pada jendela mobil dan tertidur. Saat kepalanya terangguk-angguk pelan dan hampir saja membentur kaca jendela, sebuah tangan besar menopang sisi wajahnya dengan lembut agar tidak terbentur jendela."Pak Parlin, pelan sedikit," perintah Easton dengan suara pelan sambil menopang wajah Maggie dengan hati-hati.Kecepatan mobil pun perlahan-lahan melambat dan lajunya makin stabil.Tangan Easton mulai terasa kebas, tetapi dia tetap mempertahankan posisi itu tanpa bergerak. Saat menatap wajah Maggie dengan saksama, wajah kecil yang sebesar telapak tangan itu terlihat makin kurus dan rapuh.Tak lama kemudian, mobil berhenti dengan stabil di pelataran air mancur hotel tempat Maggie dan yang lainnya menginap."Pak Easton ....""Ssst!"Easton segera mengangkat telunjuk

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 615

    "Bagaimana kalau hari ini aku bukan hanya ingin memberinya sedikit pelajaran?" kata Easton sambil mengangkat kelopak matanya dan terselip niat membunuh di sorot matanya yang dalam.Karena terintimidasi oleh tatapan Easton, Landon diam-diam menelan kembali kata-katanya yang menyuruh Easton untuk berhenti.Maggie tiba-tiba merasakan firasat buruk saat melihat Easton menyeret tongkat golf yang berkilau dingin itu dan melangkah maju selangkah demi selangkah."Easton, jangan bodoh. Nggak sepadan buat kesalahan demi orang seperti ini," kata Maggie yang bergegas maju, lalu menggenggam tangan Easton dan perlahan-lahan menarik tongkat golf itu. Tangan Easton sangat dingin. Cuaca di Sarnya memang sejuk, tetapi jelas tidak sampai membuat seseorang menjadi terasa begitu dingin.Landon menghela napas lega karena untung saja masih ada seseorang yang bisa menghentikan Easton. Dia segera mendekati Brianna, lalu mengusap sisa air mata di wajah Brianna dengan penuh kasih sayang. "Jangan takut, semuanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status