Share

Bab 159

Auteur: Vannisa
Pintu lift perlahan terbuka. Orang-orang yang keluar dari dalam semuanya menatap ke arah Maggie tanpa terkecuali.

Rasa penasarannya semakin besar, tetapi Maggie tetap melangkah masuk ke lift sambil menahan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.

Tepat ketika pintu lift hampir menutup, Teresa muncul. Wanita itu memakai jaket tebal hitam, topi rajut merah, kacamata hitam besar berbingkai tebal. Headphone putih menutupi telinganya.

Penampilannya yang acak-acakan justru mencolok sekali. Melihat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 593

    Lobi lantai satu di Hotel Foniks.Maggie bergegas datang dengan sepatu datar, tetapi rapat pagi sudah selesai. Rekan-rekan kerjanya membawa tugas dan tanda pengenal masing-masing, lalu berbaris untuk satu per satu naik ke bus.Dengan napas terengah-engah, Maggie langsung melihat Owen yang bertubuh tinggi dan ramping di tengah kerumunan. Seolah-olah memiliki firasat, pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Dia membuka mulut saat tatapan mereka bertemu, tetapi tidak mengeluarkan suara.Owen telah mengatur proyek resor untuk klien level S, lalu kembali ke lobi dan berdiri di hadapan Maggie. Senyumnya tetap lembut seperti sebelumnya, seolah-olah tidak pernah ada jarak apa pun di antara mereka."Maaf, aku ...."Sebelum Maggie sempat meminta maaf, Owen langsung memotong ucapan Maggie, "Nggak apa-apa, waktunya pas. Teresa duduk di mobil nomor tiga, kamu bisa mencarinya."Maggie menganggukkan kepala, lalu hendak melangkah pergi.Namun, Owen tiba-tiba memanggil, "Maggie.""Apa?" tanya Maggie yan

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 592

    "Oh ya. Setelah Tahun Baru, aku kembali ke ibu kota dan kebetulan melihatmu kencan buta dengan gadis muda di sebuah kafe. Setelah itu, kamu menemaninya belanja dan membawakan tasnya dengan sopan. Pak Easton memang orang sibuk yang mudah lupa, aku bantu ingatkan catatan lama," kata Maggie.Easton tersenyum pahit, lalu menggesek batang hidung Maggie dengan jari. "Aku baru bilang satu kalimat, kamu sudah siapkan sepuluh balasan."Maggie meletakkan kuas riasnya dan menjawab serius, "Kamu yang mulai bicara nggak masuk akal lebih dulu.""Saat seniormu memberiku alat perekam itu, aku hampir saja mati karena marah besar. Kenapa kamu nggak sebut itu? Pemuda yang terus berusaha mendekatimu seperti lalat itu juga, siapa dia? Wajahnya agak familier, tapi aku benar-benar nggak ingat," kata Easton.Maggie melirik Easton dan berpikir ingatan orang ini ternyata cukup bagus, baru pernah lihat sekali pun masih ingat. "Namanya Yogi. Dua tahun yang lalu saat di barat laut, dia yang mengantarkanku ke rumah

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 591

    "Baik," jawab Easton sambil mencium pipi Maggie, lalu meletakkan tangannya di atas perut Maggie dengan hati-hati.Karena rasa hangat menyebar, Maggie menatap Easton dengan bingung. "Kamu sedang apa?""Aku sedang menyapa bayi kita."Setelah mengatakan itu, Easton menundukkan kepala dan berkata ke arah perut Maggie dengan pelan, "Nak, ini Papa. Nggak lama lagi kita akan bertemu. Di dalam perut Mama, kamu harus patuh. Jangan membuatnya terlalu lelah. Kalau kamu patuh, Papa kasih kamu hadiah. Kalau nggak patuh, Papa akan pukul pantatmu setelah kamu keluar nanti."Suara Easton makin lama makin pelan, seolah-olah sengaja agar Maggie tidak mendengarnya.Mata Maggie memerah. "Kamu sedang bisik-bisik apa sih? Dokter bilang sekarang ukurannya baru sedikit lebih besar dari blueberry dan lebih kecil dari ceri. Belum bisa dengar apa-apa.""Nggak apa-apa, kami punya telepati," kata Easton sambil mengelus perut Maggie dengan lembut, lalu menciumnya penuh kasih sayang."Kamu lebih suka anak perempuan

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 590

    Maggie memang sudah lelah. Saat dia akhirnya melepaskan ketegangannya, seluruh tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya makin berat. Dia sepertinya mendengar Easton berkata sesuatu saat dalam keadaan setengah sadar, tetapi dia terlalu mengantuk dan bahkan tidak memiliki tenaga untuk memikirkannya. Dia samar-samar merasakan pelukan yang sangat erat dan kecupan pelan.Keesokan paginya, Maggie membalikkan badan dan hendak melanjutkan tidurnya. Namun, dia tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan langsung meraih ponselnya untuk melihat waktu.09.40?Melihat waktu itu, Maggie tiba-tiba bangkit. Namun, pergelangan tangannya ditarik dan pinggangnya dirangkul, tubuhnya pun ditarik kembali ke atas tempat tidur.Easton bergumam dengan tidak puas, "Kenapa buru-buru? Tidur sebentar lagi, masih pagi."Maggie berusaha memberontak beberapa kali, tetapi sia-sia. Dia mencoba membuka tangan besar yang merangkul di pinggangnya dan memohon, "Jangan bercanda. Jam sepuluh harus kumpul di bawah, benar-benar

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 589

    Suasana di kamar mulai berubah menjadi terasa agak mesra.Maggie merasa dunianya berputar dan lampu di atas kepalanya terlihat terus bergoyang. Gaun tidur sutranya juga sudah dilepaskan. Ciuman Easton makin dalam dan membuatnya kewalahan."Nggak boleh."Maggie mencoba mendorong Easton dengan sisa akal sehat yang masih ada, tetapi semuanya sia-sia. Dia hampir menangis karena panik. Dia jelas tahu ini tidak seharusnya terjadi, tetapi tubuhnya malah merespons Easton dengan jujur. "Easton, benar-benar nggak boleh. Aku mohon.""Kenapa nggak boleh?" tanya Easton yang menghentikan gerakannya, rambut di dahinya pun sudah dibasahi keringat. Dengan tatapannya yang dalam, dia menatap Maggie dan menuntut jawaban dengan keras kepala.Maggie menggigit bibir bawahnya. Setelah pergulatan batin yang panjang, dia berkata dengan sangat pelan, "Aku hamil.""Apa?"Easton langsung tertegun, lalu berkata dengan napas yang masih terengah-engah dan suara serak, "Kamu bilang apa?""Aku bilang aku sudah hamil, s

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 588

    Tidak mengirim satu pesan pun, ini yang namanya khawatir?Maggie sendiri juga tidak tahu mengapa dia merasa kesal. Dia melempar ponselnya kembali ke dalam tas, lalu pergi ke resepsionis untuk check-in dan naik lift ke lantai atas. Setibanya di kamar, dia langsung mandi karena beraktivitas seharian membuat tubuhnya penuh keringat.Saat gaun Maggie dilempar ke keranjang pakaian, kartu kamar yang diberikan Kaeso padanya terjatuh keluar. Dia terdiam beberapa detik, lalu berpura-pura tidak melihatnya dan berbalik pergi.Maggie berbaring di tempat tidur dan membaca sekilas jadwal kegiatan besok. Dia harus berkoordinasi dengan pihak klien mengenai progres proyek dan menghadiri acara endorsement offline di markas tim e-sports.Sore harinya, pihak bank akan mengeluarkan formulir penilaian kualifikasi risiko. Maggie harus memeriksa pembukuan sesuai prosedur, lalu melakukan evaluasi risiko dan memperkirakan secara awal potensi keuntungan investasi basis e-sports itu.Setelah itu, Jilly menelepon.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status