Share

Bab 430

Author: Vannisa
Maggie membongkar isi kulkas dan menemukan dua botol terakhir air mineral.

"Boleh ajak aku keliling sebentar?" Owen tiba-tiba membuka suara, meminta izinnya.

Maggie mengajaknya berkeliling secara singkat. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang keluarga, satu dapur. Gaya hunian siap huni seperti hotel, sangat minimalis.

Dia sengaja mengosongkan satu kamar khusus untuk pakaian dan tasnya. Awalnya barang yang dia bawa ke Kota Hardina tidak banyak, tetapi seiring bertambahnya acara sosial dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 573

    Jilly sebenarnya malas meladeni Lucano, tetapi bagaimanapun dia adalah teman bos besar. Tidak mungkin tidak memberi muka. Setiap perkataannya tetap dia tanggapi satu per satu."Kita punya kontak masing-masing. Dulu aku pernah kirim pesan ke kamu, tapi kamu nggak balas.""Hah? Masa? Aku lagi syuting, grup kru banyak sekali, mungkin chat-nya ketimpa.""Ke depannya bisa ajak kamu keluar main? Nggak ada maksud lain, cuma merasa kita cukup cocok.""Boleh saja kalau ada kesempatan. Cuma akhir-akhir ini lagi sibuk, masih syuting."Selama bertahun-tahun di industri ini, Jilly sudah sangat mahir berbasa-basi. Dia berniat membuat tuan muda ini kehilangan minat sendiri. Nanti juga rasa penasarannya akan hilang.Setelah merias wajahnya secara sederhana, Jilly menoleh ke Maggie. "Kita masih tunggu siapa sih? Kok makanannya belum keluar?"Begitu mendengar itu, Maggie baru sadar orangnya memang belum lengkap. Dia membuka kunci ponsel dan mengirim pesan kepada seniornya.[ Kak, sudah sampai? Nomor rua

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 572

    "Hah?" Maggie belum sempat bereaksi, kursinya sudah digeser ke sisi lain. Easton mengulurkan tangan menarik kursi yang didudukinya, menyeretnya duduk di sampingnya."Kenapa kamu duduk sejauh itu dariku?"Maggie menatapnya dengan bingung. "Memangnya iya?"Dia hanya sedikit mencondong ke arah Jilly, mana ada menjauh darinya.Di sebelah kirinya adalah Easton, di sebelah kanannya adalah Jilly. Bahkan kalau dia duduk tepat di tengah pun, Easton mungkin tetap akan bersikeras mengatakan dia mencondong ke arah Jilly."Iya. Nyonya Devantara, tolong jangan sampai lupa suami demi teman, bisa?" Easton mencubit telapak tangan Maggie, lalu bersandar sedikit ke belakang, menoleh ke arah Jilly."Pak Easton." Jilly menjalankan profesionalisme pekerja sampai akhir. Meskipun sudah syuting seharian, dia tetap tersenyum cerah sambil mengangkat gelas anggur, berinisiatif bersulang dengan bosnya.Easton mendentingkan gelasnya dengan sopan. "Sudahlah, jangan terlalu kaku. Itu bukan sifatmu.""Hehe. Terima kas

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 571

    Alvian memasang wajah dingin, berharap bisa membunuh Lucano dengan tatapan karena terlalu banyak bicara. Sudah tahu orang itu mulutnya tak punya rem, tadi seharusnya tidak memberitahunya.Brianna menggigit bibir bawahnya, menyangkal dengan tegas, "Aku nggak begitu, Kak, jangan asal bicara."Alvian mengusap kepalanya dengan nada menenangkan. "Baiklah, tapi kamu jauhi semua pria di meja ini. Dengarkan Kakak, nggak satu pun dari mereka orang baik."Maggie membalikkan ponselnya menghadap meja. Dia lapar sampai kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Dia melirik ringan ke arah gadis muda yang tampak panik itu.Dari saku, dia mengeluarkan sepotong cokelat, bersiap membuka bungkusnya untuk mengganjal perut.Namun detik berikutnya, cokelat itu sudah diambil seseorang. Tangan Easton sangat indah. Sambil tersenyum mengobrol dengan teman-temannya, dia membantu membukakan bungkusnya."Lapar?" Easton mengernyit, melihat wajahnya yang pucat dengan khawatir.Maggie menggeleng, tetapi jari

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 570

    "Baru saja kupungut di ruang VIP." Suara Landon agak rendah. Jarak mereka begitu dekat, seolah-olah ingin menyihir hati orang."Nana, kamu masih menyukainya? Dia sekarang sudah mendaftarkan pernikahan dengan orang lain, kamu sudah menyerah?"Landon mengenakan kemeja biru muda, dipadukan dengan hoodie abu-abu muda. Dia terlihat segar dan bersih seperti mahasiswa, hanya saja aura intelektual yang tinggi dan penuh wibawa di tubuhnya terlalu kuat, membuat Brianna agak segan pada tipe "murid teladan" seperti itu.Brianna menggeleng, lalu mengangguk."Aku memang masih sedih untuk sementara ini, tapi tenang saja, aku nggak akan mengganggu kehidupannya sekarang."Landon menatapnya. Jakunnya bergerak naik turun, menelan kalimat yang telah lama dia pendam di hati selama bertahun-tahun."Kamu akan membantuku menjaga rahasia, 'kan?" Brianna mengangkat kepala menatapnya. Matanya yang merah seperti kelinci kecil. Tiba-tiba seperti teringat sesuatu, dia menambahkan dengan suara jernih, "Kakak."Lando

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 569

    Koridor itu remang-remang, sesekali terdengar dentuman bass metal rendah dari dalam aula. Brianna keluar dari toilet dengan mata merah. Suasana hatinya buruk sekali.Sosok pria jangkung dan ramping bersandar di dinding, memainkan sebuah anting berlian. Ujung jarinya memantulkan kilau gemerlap."Sudah selesai nangis? Sudah merasa lebih baik?"Brianna secara refleks ingin menghindar, tetapi pergelangan tangannya sudah digenggam dan tubuhnya ditekan ke dinding. Dengan bantuan cahaya redup di koridor, dia melihat jelas wajah pria itu.Brianna mendongak menatapnya. Sepasang mata indahnya penuh perasaan, tetapi kata-kata yang keluar sedingin embun beku di bawah bulan. "Kamu nggak takut kakakku tahu?"Landon menahan diri dan menarik kembali tatapannya. Ujung jarinya menyeka sudut mata Brianna dengan lembut, menghapus setetes air mata. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku harus takut apa?""Aku adik dari temanmu, tolong jaga batas." Mata Brianna memerah saat dia berusaha melepaskan diri dari c

  • Pernikahan Dadakan: Gadis Bisu Pemenang Hati Presdir   Bab 568

    Alvian meliriknya. "Kamu ini di pihak siapa? Bajingan itu jauh lebih tua dari adikku. Mau makan daun muda ya? Tega sekali."Saat mereka masih berbicara, pintu tiba-tiba diketuk. Pelayan mendorong pintu. Easton masuk dengan wajah berseri-seri, menggandeng tangan Maggie."Wah, selamat, selamat! Kami sudah lihat postinganmu, cukup pamer ya! Halo, Kakak Ipar! Nggak nyangka setelah mutar-mutar, kamu tetap jadi kakak iparku." Lucano sudah menenggak dua gelas alkohol, jadi bicaranya tak terkontrol.Easton berdecak, mengulurkan tangan mendorong Lucano menjauh, melindungi Maggie sambil berjalan masuk."Istrimu hamil?" Alvian tiba-tiba bertanya.Satu kalimat itu hampir membuat Maggie muntah darah. Di atas kepalanya seakan-akan ada petir menyambar. Ini mesin USG berjalan? Cuma lihat sekilas sudah bisa tahu?Easton mengernyit dan meliriknya. "Kenapa bilang begitu?"Maggie berusaha tetap tenang, meskipun kakinya terasa lemas. Mendengar Easton bertanya begitu, dia langsung memasang telinga untuk men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status