로그인Kini Jingga dan Arjuna berada di sebuah restoran VIP yang baru saja dibuka. Restoran seafood itu menawarkan berbagai hidangan laut, dengan menu andalan berupa sup bibir ikan.Jingga sempat tercenung ketika menyadari bahwa Arjuna membawanya ke restoran yang menyajikan makanan favoritnya—seafood.Mungkin hanya kebetulan. Pikir Jingga menarik kesimpulan. Arjuna pasti tidak tahu kalau seafood adalah makanan kesukaannya. Setidaknya, Jingga berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihan restoran itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa buku catatan kecil. Pelayan itu mencatat pesanan dengan cepat dan sopan sebelum melangkah pergi meninggalkan meja VIP yang dikelilingi dinding kaca kedap suara. Suasana elegan restoran mendadak terasa makin intens saat kini hanya ada mereka berdua.Arjuna merapikan posisi lengan kemejanya, lalu menuangkan teh hangat ke cangkir Jingga tanpa banyak bicara.Jingga memperhatikan tiap gerak-gerik p
Arjuna menarik napas dalam, berusaha tenang menghadapi sikap Jingga yang impulsif. Sungguh, ia terkejut bukan main ketika Jingga masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan dia belum siap. “Dengar, tenanglah! Kamu tidak usah panik.” Ujarnya sembari mengancingkan kemejanya.Kemarahan dan kekesalannya mulai mereda ketika melihat wajah Jingga pucat pasi. Tanpa sadar, tangannya terulur hendak menyentuh lengannya tetapi detik berikutnya, ia langsung menariknya kembali. “Ayo!” ajaknya dengan suara yang melunak. Jingga berkedip dua kali. Kedua tangannya meremat ujung kemejanya dengan erat. “Keluar? Kita temui Tante Saras?”“It’s okay!” seru Arjuna kemudian ia menggamit tangan Jingga begitu saja. Ketika mereka keluar kamar, Saras sedang duduk di ruang tengah.“Maaf ya Tante ganggu malam-malam.” Ia langsung menegakkan tubuhnya, berjalan menghampiri sepasang suami istri dengan senyuman hangatnya. “Ada apa Tante?” tanya Arjuna yang tidak pandai berbasa-basi. Wajahnya tetap datar. Tidak ada raut k
Jingga menatap Arjuna kaget. “Kok Bapak bisa tahu jenis kuas?” Pertanyaan itu datang secara spontan.Arjuna mengerjap. Ia berdiri dengan cepat. “Om Senopati yang mengirim ini semua. Dia memang seorang kurator seni dulu. Dia lebih tahu soal peralatan lukis.”Jingga menoleh dengan senyum lebar. “Oh, aku kira Pak Arjuna. Tapi, makasih banyak ya,”“H-hadiah pernikahan! Ya, hadiah pernikahan dari Om Seno.” Lanjut Arjuna cepat.Jingga mengernyit tatkala mendengar jawaban Arjuna. Butuh waktu beberapa detik untuk memahaminya seperti memecahkan teka-teki game. “Hadiah pernikahan?”Ketika jingga hendak menyahut, Arjuna sudah hilang dari pandangannya. Hanya suara daun pintu yang tertutup pelan. Klik.“Aneh,” gumam Jingga mengedikkan pundaknya, lalu kembali menatap perlengkapan lukisnya. Saat Jingga asik membuka kotak berisi cat berikutnya, tiba-tiba suara bel pintu terdengar. Tumben!Selama Jingga tinggal di sana, tidak pernah ada tamu yang datang malam hari. Tatapan Jingga beralih ke arah pi
“Jingga,” panggil Arjuna. Suara baritonnya terdengar memelan, dalam, dan lurus menatap mata istri kontraknya.Jingga tertegun sesaat. Ia menghela napas panjang. Kalimat sederhana itu jujur saja terdengar sangat tulus dari seseorang yang merasa bersalah. “Baik, Pak. Jingga juga minta maaf karena tidak minta izin dulu pakai ruang tengah,” pungkas Jingga tak ingin memperpanjang percakapan. Matanya kemudian melirik pelan ke arah jemari kokoh Arjuna yang masih menahan tepi daun pintu.Sadar akan arah tatapan Jingga, Arjuna langsung melepaskan cengkeramannya dan membuka pintu itu lebar-lebar. “Istirahatlah. Sudah malam.”Jingga mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih lega. Bagaimanapun, rasanya sangat tidak nyaman harus tinggal di bawah satu atap dengan orang yang saling mendiamkan.Namun, permintaan maaf singkat itu tak lantas meluluhkan rencana Jingga. Rasa sungkan yang besar membuat Jingga tetap bertekad menyewa kamar kos khusus untuk studionya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Jingga langsung membereskan perlengkapan melukis miliknya lalu membawanya ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, suara pintu dibanting terdengar. Sebetulnya, Jingga tidak berniat membanting pintu. Ia lebih senang melemparkan cat kaleng ke muka Arjuna. Hanya saja, barusan dia menutup pintu dengan tendangan kakinya hingga menyebabkan suara bantingan cukup keras. Istilahnya, kelepasan begitu. Dengan napas yang memburu, Jingga duduk di balik pintu. Cairan bening sudah memenuhi ke dua pelupuk matanya, nyaris jatuh. Ia berusaha keras agar tidak cengeng. Namun— Satu detik, dua detik, tiga detikAkhirnya, air matanya jatuh tanpa seijinnya. Yang pada mulainya merintik kini menderas seperti air hujan yang turun saat kemarau. Namun, ia berusaha membekap mulutnya dengan telapak tangannya agar bisa meredam tangisannya. Ia tidak mau dianggap lemah meski kenyataannya selemah itu. “Tega banget, sih!” Jingga menggerutu, bibirnya mengerucut. “Kalau aku sampai nggak bole
“Hai! Lagi pada ngapain nih, dua srikandi?” Bintang—salah satu mahasiswa populer berpakaian necis—tiba-tiba menghampiri dan langsung menyandarkan tubuhnya di tepi meja mereka.Jingga memutar kedua bola matanya jengah tanpa mengalihkan pandangan dari buku. “Lagi ngantri sembako, Tang. Nggak lihat?”Bintang terkekeh santai. “Lagian tegang amat. Oya, kamu kenapa tadi di kelas? Tumben melamun parah sampai kena semprot Bu Naura. Lagi mikirin paylater ya?”Jingga mendongak, menatap Bintang dengan binar mata jahil. “Kok tahu? Kenapa, mau bantu bayarin?”“Boleh banget,” Bintang menaikkan sebelah alisnya, mengumbar senyum andalannya. Senyuman cap kadal tengkurap. “Tapi ada syaratnya. Kamu wajib jadi pacarku.”“Dealer aja rugi kalau transaksi sama kamu,” tembak Jingga cepat. “Gini deh, sehari kamu jatah aku sepuluh juta tunai. Mau?”“Deal! Detik ini juga aku transfer—”Puk!Buku referensi tebal mendarat mulus di lengan Bintang dan Jingga secara bergantian. Karina menatap mereka berdua dengan ta







