เข้าสู่ระบบJingga menatap Arjuna kaget. “Kok Bapak bisa tahu jenis kuas?” Pertanyaan itu datang secara spontan.Arjuna mengerjap. Ia berdiri dengan cepat. “Om Senopati yang mengirim ini semua. Dia memang seorang kurator seni dulu. Dia lebih tahu soal peralatan lukis.”Jingga menoleh dengan senyum lebar. “Oh, aku kira Pak Arjuna. Tapi, makasih banyak ya,”“H-hadiah pernikahan! Ya, hadiah pernikahan dari Om Seno.” Lanjut Arjuna cepat.Jingga mengernyit tatkala mendengar jawaban Arjuna. Butuh waktu beberapa detik untuk memahaminya seperti memecahkan teka-teki game. “Hadiah pernikahan?”Ketika jingga hendak menyahut, Arjuna sudah hilang dari pandangannya. Hanya suara daun pintu yang tertutup pelan. Klik.“Aneh,” gumam Jingga mengedikkan pundaknya, lalu kembali menatap perlengkapan lukisnya. Saat Jingga asik membuka kotak berisi cat berikutnya, tiba-tiba suara bel pintu terdengar. Tumben!Selama Jingga tinggal di sana, tidak pernah ada tamu yang datang malam hari. Tatapan Jingga beralih ke arah pi
“Jingga,” panggil Arjuna. Suara baritonnya terdengar memelan, dalam, dan lurus menatap mata istri kontraknya.Jingga tertegun sesaat. Ia menghela napas panjang. Kalimat sederhana itu jujur saja terdengar sangat tulus dari seseorang yang merasa bersalah. “Baik, Pak. Jingga juga minta maaf karena tidak minta izin dulu pakai ruang tengah,” pungkas Jingga tak ingin memperpanjang percakapan. Matanya kemudian melirik pelan ke arah jemari kokoh Arjuna yang masih menahan tepi daun pintu.Sadar akan arah tatapan Jingga, Arjuna langsung melepaskan cengkeramannya dan membuka pintu itu lebar-lebar. “Istirahatlah. Sudah malam.”Jingga mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih lega. Bagaimanapun, rasanya sangat tidak nyaman harus tinggal di bawah satu atap dengan orang yang saling mendiamkan.Namun, permintaan maaf singkat itu tak lantas meluluhkan rencana Jingga. Rasa sungkan yang besar membuat Jingga tetap bertekad menyewa kamar kos khusus untuk studionya
Dengan langkah tergesa-gesa, Jingga langsung membereskan perlengkapan melukis miliknya lalu membawanya ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, suara pintu dibanting terdengar. Sebetulnya, Jingga tidak berniat membanting pintu. Ia lebih senang melemparkan cat kaleng ke muka Arjuna. Hanya saja, barusan dia menutup pintu dengan tendangan kakinya hingga menyebabkan suara bantingan cukup keras. Istilahnya, kelepasan begitu. Dengan napas yang memburu, Jingga duduk di balik pintu. Cairan bening sudah memenuhi ke dua pelupuk matanya, nyaris jatuh. Ia berusaha keras agar tidak cengeng. Namun— Satu detik, dua detik, tiga detikAkhirnya, air matanya jatuh tanpa seijinnya. Yang pada mulainya merintik kini menderas seperti air hujan yang turun saat kemarau. Namun, ia berusaha membekap mulutnya dengan telapak tangannya agar bisa meredam tangisannya. Ia tidak mau dianggap lemah meski kenyataannya selemah itu. “Tega banget, sih!” Jingga menggerutu, bibirnya mengerucut. “Kalau aku sampai nggak bole
“Hai! Lagi pada ngapain nih, dua srikandi?” Bintang—salah satu mahasiswa populer berpakaian necis—tiba-tiba menghampiri dan langsung menyandarkan tubuhnya di tepi meja mereka.Jingga memutar kedua bola matanya jengah tanpa mengalihkan pandangan dari buku. “Lagi ngantri sembako, Tang. Nggak lihat?”Bintang terkekeh santai. “Lagian tegang amat. Oya, kamu kenapa tadi di kelas? Tumben melamun parah sampai kena semprot Bu Naura. Lagi mikirin paylater ya?”Jingga mendongak, menatap Bintang dengan binar mata jahil. “Kok tahu? Kenapa, mau bantu bayarin?”“Boleh banget,” Bintang menaikkan sebelah alisnya, mengumbar senyum andalannya. Senyuman cap kadal tengkurap. “Tapi ada syaratnya. Kamu wajib jadi pacarku.”“Dealer aja rugi kalau transaksi sama kamu,” tembak Jingga cepat. “Gini deh, sehari kamu jatah aku sepuluh juta tunai. Mau?”“Deal! Detik ini juga aku transfer—”Puk!Buku referensi tebal mendarat mulus di lengan Bintang dan Jingga secara bergantian. Karina menatap mereka berdua dengan ta
Jingga duduk di salah satu meja studio, lengkap dengan buku sketsa dan alat gambar yang tertata di hadapannya. Beberapa mahasiswa lain lebih sibuk mengobrol tentang liburan semester panjang yang mereka lewati. Ada yang menghabiskan liburan keliling Eropa, Asia hingga Afrika. Ada juga yang menghabiskan liburannya dengan magang di perusahaan keluarga. Ada yang mengikuti workshop di luar kota. Ada yang mengerjakan proyek pribadi. Dosen mereka, seorang wanita paruh baya bernama Naura berdiri di depan kelas sembari membuka daftar presensi. “Baik, sebelum kita mulai, saya ingin tahu perkembangan kalian selama liburan kemarin.”Beberapa mahasiswa yang berasal dari keluarga sultan langsung antusias menjawab. Sementara itu, Jingga hanya menopang dagu dengan tatapan yang acuh tak acuh. Pikirannya melayang. ‘Nikah kontrak, utang Arman, debt collector—’ batin Jingga berisik. “Jingga?” panggil sang dosen wanita berlipstik nude itu. Ia menatap Jingga seperti menatap anak ayam yang kehilangan in
Jingga merebahkan tubuhnya yang terasa pegal di atas sofa ruang tamu dengan helaan napas panjang. Akhirnya, ia bisa pulang ke apartemen dengan perasaan yang lega. Ia bersyukur masalah utang ayah tirinya pada Juragan Anwar sudah khatam. Ketika pria itu memberikan ancaman padanya, sebuah pertolongan datang. Bak dewa penolong, Pak RT datang bersama dua warga membawa berkas pendataan warga. Juragan Anwar langsung salah tingkah dan buru-buru bersikap sopan. Dengan saksi Pak RT, Jingga bisa menuntut kwitansi resmi bertanda tangan. Urusan utang Arman akhirnya resmi selesai.Saking lelahnya, untuk kedua kalinya, ia ketiduran di sofa dengan posisi kaki selonjoran dan mulut yang sedikit terbuka. Namun ketika ia terbangun saat malam hari, ia diam sejenak, menatap pintu kamar utama Arjuna. Lampu kamar itu tampaknya gelap. “Pak Arjuna sepertinya tidak pulang ke rumah.” Monolognya sembari menatap jam dinding yang menunjukan pukul satu malam. Dengan kesadaran yang tersisa, ia menyeret kakinya ma







