공유

Bab 2

작가: Piemar
last update 게시일: 2026-07-17 19:17:54

Senopati ternyata bukan tipe pria yang suka mengumbar janji kosong. Hanya dalam hitungan jam setelah Jingga mengangguk pasrah hari itu, kekuatan uang sang konglomerat langsung bekerja bagai sihir. 

Sebelum tengah malam, biaya operasi darurat Diana di ICU sudah dilunasi seluruhnya, dan surat peringatan SP3 dari bank yang sempat membuat dada Jingga sesak seketika ditarik kembali oleh pihak kurir seolah-olah ancaman penyitaan itu tidak pernah ada. 

Semuanya beres dalam satu kedipan mata, menyisakan Jingga yang kini harus menepati bagiannya dari kesepakatan gila ini!

Keesokan harinya, sesuai instruksi, Senopati langsung mengatur pertemuan Jingga dengan sang calon suami di sebuah restoran privat tersembunyi. 

Jingga sudah duduk lebih dulu di sebuah ruangan VIP dengan gelisah. Ia menunggu pria itu sembari sesekali mengecek arloji murah dari pasar loak yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

‘Semoga saja pria itu bukan mafia, berkepala botak dan … CEO NPD.” Monolog Jingga sembari mengatur napasnya yang mulai tidak karuan. Peluh mulai menetes di pelipisnya. 

Jingga mengetuk-ketuk jarinya di atas meja. ‘Lebih baik menikah kontrak daripada menjadi sugarbaby.’

“Jingga Naswari?” suara bariton terdengar menyapanya. 

Jingga sampai lupa cara berkedip. Pria yang berdiri di hadapannya jauh dari bayangan seorang mafia berkepala botak atau pengusaha tua berperut buncit yang sempat memenuhi kepalanya sepanjang perjalanan menuju restoran. Rahangnya bahkan menganga cukup lama. Untung saja tidak ada lalat yang nekad masuk. Sosok itu adalah perwujudan dari apa yang selama ini Jingga lihat di sampul majalah bisnis.

Selain diberkati wajah tampan yang khas, pria berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu berpenampilan rapi ala eksekutif, setelan kemeja berwarna putih dipadukan celana hitam licin serta jam branded. Penampilannya sangat kontras dengan penampilan dirinya yang ala kadarnya. 

Jingga hanya mengenakan kaos oversize berwarna putih dengan celana jeans longgar serta sebuah tote bag perca yang melengkapi penampilannya. 

Penampilan mereka seperti langit dan bumi. Atau, seperti pangeran dan pelayan kelas rendahan.

“Kamu yang bernama Jingga Naswari?” pria kharismatik itu memanggil Jingga ke dua kalinya, memecah lamunan gadis itu. 

“Ah, ya, Pak, benar sekali. Saya Jingga tapi bukan Jingga Naswari apalagi Jingga mejikuhibiniu, Pak. Nama saya Jingga Nareswari.” Jawab Jingga dengan senyum lebar. Ia menegakkan tubuhnya, berdiri menyambutnya.

Pria berwajah dingin itu mengerutkan keningnya tipis. Kerutannya semakin dalam tatkala melihat penampilan gadis itu yang jauh dari kata modis.

Sebagai CEO sebuah perusahaan raksasa, Arjuna terbiasa bertemu dengan para wanita yang menghabiskan waktu berdandan hingga dua jam lamanya. Gadis di depannya justru terlihat seperti menghabiskan waktu selama dua menit untuk memastikan kausnya tidak terbalik. 

Apakah gadis ini tidak paham peraturan tidak tertulis untuk dresscode berada di restoran elit?

“Bapak keponakannya Pak Senopati?” Gadis berambut kuncir ekor kuda itu mengulurkan tangannya. 

Alih-alih menerima uluran tangan Jingga, pria di depannya langsung duduk dengan tegap. “Kita hanya punya waktu sepuluh menit. Saya langsung to the point. Saya Raden Arjuna Widjayakusuma. Dan, ini adalah surat perjanjian pernikahan kontrak kita.” Pria itu mengeluarkan map dari dalam tas kerjanya tanpa basa-basi sama sekali lalu menaruhnya di atas meja. 

‘Pria es batu,’ umpat Jingga di dalam batinnya berisik. 

Tunggu, tadi dia bilang pernikahan kontrak? Baiklah, bukankah berita baik. Karena mereka bisa bekerja sama secara profesional tanpa melibatkan perasaan. Masalahnya, Jingga juga sudah memiliki kekasih tak kalah tampan dan setia. 

Tanpa membuang tempo, Jingga kembali mengenyahkan bokongnya di atas kursi, membuka isi map perjanjian pra nikah tersebut. Di dalam lampiran tersebut ada beberapa point kesepakatan yang harus mereka patuhi.

“Kontrak selama satu tahun,” ucap Arjuna tanpa basa-basi. Air mukanya dingin sedingin es batu. “Kita akan menikah di KUA. Selama kamu menjadi istriku, kamu akan mendapatkan uang kompensasi sebesar satu miliar—”

“Saya tidak butuh satu miliar.” Potong Jingga spontan. 

Arjuna berhenti. Tatapannya sempat bertemu dengan Jingga beberapa detik. 

Biasanya, setiap perempuan langsung mengiyakan. Namun, kenapa Jingga justru menolaknya?

“Saya belum selesai.” Lanjut Arjuna tegas, berhasil membuat Jingga mengatupkan bibirnya kembali. 

“Kamu akan tinggal di penthouse milikku sementara sampai rumahku selesai direnovasi. Dan … di depan keluarga Widjayakusuma, kamu harus berperan baik sebagai istriku. Untuk kesepakatan lain, kamu bisa membaca sisanya.” Kata Arjuna singkat, jelas dan padat. Tatapannya sesekali tertuju pada benda bulat yang melingkari pergelangan tangannya.

Jingga mendongak, menatap Arjuna dengan tatapan serius. “Pak Arjuna, jangan salah paham. Uang ratusan juta untuk urusan keluarga saya sudah diselesaikan oleh Pak Senopati tadi malam. Dan, bagi saya, itu adalah utang budi sangat besar yang akan saya bayar dengan menjadi istri pura-pura Bapak selama satu tahun. Jadi … Bapak tidak perlu memberi saya bonus satu miliar lagi setelah kontrak selesai. Saya bukan perempuan yang sedang memanfaatkan keadaan.” Imbuh Jingga bersikukuh.

Mendengar hal tersebut, Arjuna sama sekali tidak terkesan. Pria itu justru mendengus sinis, menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi sembari menatap Jingga dengan pandangan meremehkan. 

Arjuna sudah terlalu sering menghadapi perempuan matre yang berpura-pura menolak uang di awal demi mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar nantinya. 

“Cukup, Jingga,” potong Arjuna datar, mengalihkan pandangannya. “Di dunia ini tidak ada yang gratis. Terima saja bagianmu sesuai kesepakatan dan jalankan peranmu tanpa banyak drama.” 

Jingga terdiam. Bibirnya terkatup rapat. 

Mengabaikan raut kaget gadis di depannya, Arjuna langsung melirik ke arah jam tangan mahalnya sekali lagi, menutup ruang bagi Jingga untuk membela diri. “KTP dan dokumen identitas lainnya sudah kamu siapkan?” tanya Arjuna dingin, menatap Jingga lurus-lurus. “Sore ini jam tiga kita bertemu di KUA Jakpus. Jangan sampai terlambat satu menit pun.” 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 12

    Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia mengangguk lemah. “Karin, dia belum tahu.”Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya. Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karina mencubit pipi Jingga gemas. “Jangan sedih! Aku gak bisa lihat sahabatku sedih. Jingga selalu ceria,” katanya sembari mengangkat kedua tangan Jingga ke udara, memberi semangat. Setelah melepas rindu, berbincang hangat dengan sahabatnya, Jingga memutuskan pergi menuju WK Gallery Space Art untuk melanjutkan proyeknya muralnya yang tertunda. Perlengkapan melukis mural masih berada di sana sehingga gadis itu tidak membawa barang banyak dari kampus. Hanya tas ransel berisi tablet, buku sketsa dan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 11

    Seorang wanita muda berseragam housekeeping berwarna abu-abu charcoal dengan lis hitam membuka pintu dengan tenang. Name tag terpasang rapi di dada kirinya, sementara rambutnya disanggul tanpa sehelai pun yang terurai.Ketika pandangan mereka bertemu, baik Jingga maupun petugas housekeeping itu sama-sama terperanjat.“Anda siapa ya?” tanya wanita berseragam rapi tersebut membuka suara lebih dulu. “Pak Arjuna tidak pernah mengizinkan siapapun menginap di sini sebelumnya. Apalagi … perempuan,”Jingga membeku di tempat. Tangannya semakin mencengkram tali tas ranselnya. Ia dilanda bingung harus menjawab apa atau memperkenalkan dirinya sebagai siapa di sana. Masalahnya, ia dan Arjuna belum bicara serius perihal pernikahan mereka secara langsung. Pria dingin itu hanya memberikan salinan kontrak tanpa menjelaskan apakah pernikahan yang mereka jalani bersifat rahasia ataukah diketahui oleh keluarga dekat semacam itulah. Namun, sebelum Jingga membuka mulut untuk merangkai kembali karangan abs

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 10

    Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 9

    Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 8

    “Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 7

    Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status