LOGINSenopati bukan tipe pria yang suka mengumbar janji kosong. Hanya dalam hitungan menit setelah Jingga mengangguk pasrah dan Arjuna menyetujui perintah pamannya via telepon, kekuatan uang sang konglomerat bekerja bagai sihir.
Sebelum jam dua siang, biaya operasi darurat ibunya di ICU resmi dilunasi, dan SP3 dari pihak bank seketika ditarik kembali. Semuanya beres dalam satu kedipan mata, menyisakan Jingga yang kini harus menepati bagiannya dalam kesepakatan gila ini.
Keesokan harinya, sesuai instruksi Senopati, Jingga langsung diarahkan menuju ruangan VIP sebuah restoran tersembunyi untuk menemui sang calon suami.
Jingga duduk gelisah seraya meremas jarinya yang dingin. Penampilannya teramat ala kadarnya. Ia hanya mengenakan kaos oversize putih dipadukan dengan jeans longgar. Sangat kontras dengan kemewahan restoran elit di sekelilingnya.
Pintu ruangan bergeser.
Suara langkah kaki yang mantap berderap masuk, membawa serta aroma parfum maskulin yang elegan.
Jingga menegakkan punggungnya, membelalak pelan. Pria berusia sekitar dua puluh delapan tahun yang berdiri di hadapannya tampil amat berkarisma dengan setelan kemeja putih licin dan jam tangan mewah. Sosok yang lebih cocok berada di sampul majalah bisnis ketimbang di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu.
“Kamu Jingga Naswari?” suara bariton yang dingin menyapa.
“Saya Jingga Nareswari, Pak. Bukan Naswari,” ralat Jingga berdiri menyambutnya, berusaha menutupi rasa canggung dengan senyum tipis.
“Arjuna.” Ucap pria itu singkat.
Arjuna sempat mengerutkan kening, menyapu penampilan gadis bersurai panjang di depannya. Sebagai CEO sebuah perusahaan raksasa, Arjuna terbiasa bertemu dengan para wanita yang menghabiskan waktu berdandan hingga dua jam lamanya. Gadis di depannya justru terlihat seperti menghabiskan waktu selama dua menit untuk memastikan kausnya tidak terbalik.
Namun ketimbang membuang waktu berkomentar, Arjuna menarik kursi dan langsung duduk tegap di hadapannya.
“Kita hanya punya waktu sepuluh menit,” pangkas Arjuna tanpa basa-basi.
Jingga mengerjap.
Sepuluh menit?
Tanpa membuang tempo, Arjuna mengeluarkan map tebal dari tas kerjanya dan menaruhnya di atas meja. "Saya Raden Arjuna Widjayakusuma. Ini surat perjanjian pernikahan kontrak kita."
Jingga ikut duduk dan langsung menarik dokumen tersebut lalu membukanya.
“Pernikahan ini berlangsung selama satu tahun,” terang Arjuna dingin, menatap lurus manik mata Jingga. "Kita akan menikah resmi sore ini. Setelah satu tahun, pernikahan berakhir, kita kembali ke kehidupan masing-masing.”
Jingga membaca cepat isi kontraknya.
Arjuna menambahkan. “Selama kamu menjadi istri saya, kamu berhak atas kompensasi sebesar satu miliar rupiah—”
“Saya tidak butuh satu miliar itu, Pak,” potong Jingga lugas.
Arjuna menghentikan kalimatnya. Tatapannya memicing tajam.
Jingga menatapnya lurus. “Biaya rumah sakit Ibu saya dan masalah rumah saya sudah diselesaikan oleh Pak Senopati. Bagi saya, itu utang budi besar yang akan saya bayar dengan menjalankan peran sebagai istri Bapak selama satu tahun,” lanjut Jingga tegas tanpa keraguan. “Saya tidak sedang berusaha memanfaatkan keadaan.”
Bukannya terkesan, Arjuna justru menyandarkan punggungnya. Tatapannya tetap dingin.
“Di dunia bisnis tidak ada yang gratis, Jingga,” sahut Arjuna datar.
“Saya tahu, Pak.” Timpal Jingga.
“Kalau begitu, terima bagianmu. Jangan membuat keputusan emosional hanya karena merasa berhutang budi.”
Jingga terdiam sesaat. Pria di depannya benar-benar dingin dan tegas.
Namun, sebelum Jingga sempat menjawab, seorang pelayan yang berjaga di sudut ruangan privat menyajikan secangkir hot chocolate hangat yang berasap tipis serta sebotol air mineral kaca lalu menaruhnya di meja mereka. Tak lama kemudian ia pamit dengan sopan.
Jingga mengernyit. “Saya tidak pesan ini.”
“Saya yang memesannya.” Arjuna bersuara.
Ketika Arjuna melirik wajah Jingga yang sembab dan pucat, ia menggeser cangkir cokelat hangat itu tepat ke hadapan Jingga.
“Minum dulu,” ucap Arjuna datar.
Jingga mendongak ragu. “Saya tidak—”
“Saya tidak butuh calon istri yang pingsan saat ijab kabul,” potong Arjuna dingin. “Habiskan, lalu tanda tangani berkasnya.”
Ia lalu menyodorkan pena eksklusif tepat ke jemari Jingga dan melirik jam di pergelangan tangannya. “Dokumen identitasmu sudah lengkap?”
Jingga menatap cangkir hangat itu sejenak, lalu menatap Arjuna. Tanpa ragu lagi, jemarinya membubuhkan tanda tangan di atas materai dokumen tersebut.
“Sudah lengkap, Pak,” jawab Jingga singkat.
Arjuna langsung menarik kembali dokumen tersebut, merapikannya ke dalam tas hanya dalam hitungan detik.
“Bagus. Jam tiga sore ini kita bertemu di KUA Jakarta Pusat,” tuntut Arjuna berdiri tegap, menatap Jingga lurus. “Jangan terlambat satu menit pun.”
“Maaf, Mas. Aku tidak tahu.” Jawab Jingga canggung setelah melihat reaksi Arjuna yang tidak seperti biasanya. Sorot manik obsidiannya berubah gelap setelah mendengar pertanyaannya tadi. Arjuna memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia mengatur napasnya yang terasa sesak dan berat setiap kali mendengar seseorang menanyakan tentang ibunya. “Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih SMP. Setelah itu Ibu tinggal di luar negeri.” Lanjut Arjuna singkat. Jingga mengangguk halus. Ia paham ketika melihat reaksi Arjuna tentang ibunya. Ia pasti kehilangan sosok ibu sejak lama. Beberapa menit keheningan yang syahdu berlalu sebelum suara langkah kaki dan gema perbincangan lembut mulai terdengar mendekat dari arah jalan setapak.“Tuh kan, Saras, Arjuna sudah lebih dulu datang sama Jingga.” Suara Senopati memecah keheningan di area pemakaman yang asri. Jingga dan Arjuna serempak menoleh ke arah mereka. Di sana, Senopati melangkah bersisian dengan Saras yang tampil elegan dengan selendan
…“Siapa juga yang cemburu?” Jingga spontan memekik, lalu terkekeh sambil menepuk pahanya. “Enggaklah, Mas. Ngapain cemburu? Mas percaya diri banget, sih!”Tawanya perlahan mereda. Jingga mengembuskan napas, lalu menatap Arjuna lurus-lurus. “Lagian, ingat, kan, poin perjanjian kita? Kita enggak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.” Ia menunjuk Arjuna dengan telunjuknya. “Dan perasaan itu urusan pribadi.”Arjuna terdiam.Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa mengusiknya.“Jadi...” Jingga menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. “Kenapa Mas repot-repot nanya aku cemburu atau enggak?”Tatapan Arjuna seketika mengeras. “Aku hanya bertanya.”“Oh.” Jingga mengangguk-angguk sok paham. “Berarti cuma penasaran?”“Ya.”“Enggak ada alasan lain?”“Ada.” Jawaban Arjuna terlalu cepat.Jingga mengernyit. “Apa?”“Kamu diam setelah ketemu Amanda.” Lanjut Arjuna dengan raut datar.Jingga mendengus pelan. Pertanyaan pria ini ada-ada saja. Entah mau mengetesnya atau hanya se
“Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu
Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan
Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin
“Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti







