Share

Bab 3

Penulis: Piemar
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 21:36:38

Jingga berdiri di trotoar depan restoran dengan ponsel menempel di telinga. Waktu terus berjalan, dan hanya tersisa beberapa jam sebelum pukul tiga sore. Ayah tirinya, Arman, memang bajingan yang kabur dari rumah, tetapi pria itu membawa serta map berisi dokumen keluarga.

Tanpa kartu keluarga dan akta kelahiran, KUA tidak akan bisa memproses akad nikahnya sore ini.

Panggilan pun tersambung.

[Halo, Jingga! Jangan tagih Ayah uang! Ayah lagi sembunyi dari debt collector!]

“Diam dan dengar, Pak Arman!” potong Jingga tajam, membuang jauh rasa hormatnya. “Bawa KK dan akta lahirku ke KUA Jakarta Pusat sekarang juga. Uang tebusan rumah dan utang-utangmu sudah dilunasi. Tapi kalau kamu terlambat satu menit saja membawa dokumen itu, pihak bank bakal seret kamu ke penjara!”

[Apa?! Sudah lunas?! Oke, oke! Ayah ke sana sekarang juga!]

Panggilan terputus. Jingga menarik napas dalam-dalam. Satu masalah dokumen teratasi.

Namun saat jemarinya membuka aplikasi pesan untuk menghubungi Abimana, dadanya mendadak terasa dihantam batu besar. Puluhan telepon dan pesannya sejak pagi masih berstatus centang satu.

Abi... kamu di mana? Aku butuh kamu...

Senyum pahit terukir di bibir Jingga. Kenyataan menghantamnya telak. Hari ini, di saat hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat, ia harus melangkah sendirian.

KANTOR URUSAN AGAMA

Pukul 15.05 WIB. Jingga tiba di halaman KUA Jakpus dengan dress brokat merah muda bekas kondangan dua tahun lalu.

Di sudut koridor, Arjuna sudah berdiri tegap dengan setelan jas gelap tailor-made. Sosoknya yang terlalu tampan dan berwibawa membuat beberapa staf KUA berbisik-bisik ragu, mengira ada lokasi syuting Drama pendek.

“Terlambat lima menit,” pangkas Arjuna dingin saat Jingga berjalan ke arahnya.

“Dokumennya sedang dibawa—” seru Jingga menggantung. 

“Jingga!”

Suara terengah-engah memotong kalimatnya. Arman berlari menghampiri mereka sambil mendekap map cokelat. Melihat Arjuna yang mengenakan jas berkelas, jiwa matre pria paruh baya itu langsung berbinar serakah.

“Ini calon suamimu? Wah, Pak, saya ayahnya—” Arman berbasa-basi, mencoba akrab. 

“Mana dokumennya?” potong Arjuna dingin, tanpa sudi menatap wajah Arman.

“Eits, santai dulu,” Arman tersenyum culas, menahan map di balik punggungnya. “Surat-surat ini mahal. Kalau mau dokumen ini lepas, beri saya uang kompensasi seratus juta rupiah sekarang juga.”

Wajah Jingga memucat. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. “Pak Arman, jangan gila ya—”

Sebelum Jingga selesai bicara, Arjuna sudah merogoh buku cek dari balik jasnya. Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, jemari panjang Arjuna menuliskan angka seratus juta rupiah di atas lembaran cek tersebut, menyobeknya, lalu menyodorkannya dingin ke hadapan Arman.

“Ambil ini dan serahkan mapnya,” pungkas Arjuna datar, nadanya begitu mengintimidasi hingga Arman refleks menukar map cokelat itu dengan lembaran cek mahal di tangan Arjuna.

“W-wah... Terima kasih, Menantu!” seru Arman dengan mata berbinar.

“Wira, kawal pria ini keluar dari area KUA,” perintah Arjuna dingin pada asistennya. “Pastikan dia tidak pernah menampakkan kakinya lagi di depan saya.”

“Baik, Pak Arjuna,” sahut Wira tegas, langsung menggiring Arman yang masih kegirangan menuju luar gerbang.

Jingga terpaku di tempat. Ia syok melihat betapa mudahnya Arjuna melempar uang seratus juta hanya demi menghemat waktu lima menit.

Arjuna membuka map cokelat tersebut, menyerahkan dokumennya pada staf KUA, lalu berbalik menatap Jingga. Tatapan kaku CEO itu sempat tertahan beberapa detik pada bahu Jingga yang gemetar dan matanya yang membendung air mata.

Arjuna merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan kain hitam yang halus, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Jingga.

“Usap wajahmu. Jangan sampai petugas KUA berpikir saya memaksa kamu menikah,” ujar Arjuna datar seraya berbalik melangkah masuk ke ruang akad. “Penghulu sudah menunggu.”

Jingga menggenggam erat saputangan beraroma Black Cedar itu, mengusap sudut matanya, lalu menegakkan kepala dan mengikuti langkah kaki panjang Arjuna. 

Pintu kayu ruang akad terbuka lebar. 

Ketika masuk ke ruangan tersebut, petugas KUA langsung menyambut kedatangan mereka. “Pengantin sudah lengkap? Mari, Pak Arjuna dan Mbak Jingga. Penghulu dan wali hakim sudah siap di dalam meja akad,” ucapnya tegas.

Di tengah ruangan berukuran sempit itu, meja akad sudah tertata. Dua saksi bertokoh penting, wali hakim, dan sang penghulu telah memegang mikrofon.

Langkah Jingga mendadak membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa mau pecah. Di hadapannya, Arjuna sudah duduk tenang membelakanginya, siap mengulurkan tangan pada sang penghulu.

Tidak ada jalan kembali. 

Dalam waktu kurang dari dua menit, status hidupnya akan berubah selamanya bersama pria asing sedingin es itu!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 131

    “Maaf, Mas. Aku tidak tahu.” Jawab Jingga canggung setelah melihat reaksi Arjuna yang tidak seperti biasanya. Sorot manik obsidiannya berubah gelap setelah mendengar pertanyaannya tadi. Arjuna memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia mengatur napasnya yang terasa sesak dan berat setiap kali mendengar seseorang menanyakan tentang ibunya. “Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih SMP. Setelah itu Ibu tinggal di luar negeri.” Lanjut Arjuna singkat. Jingga mengangguk halus. Ia paham ketika melihat reaksi Arjuna tentang ibunya. Ia pasti kehilangan sosok ibu sejak lama. Beberapa menit keheningan yang syahdu berlalu sebelum suara langkah kaki dan gema perbincangan lembut mulai terdengar mendekat dari arah jalan setapak.“Tuh kan, Saras, Arjuna sudah lebih dulu datang sama Jingga.” Suara Senopati memecah keheningan di area pemakaman yang asri. Jingga dan Arjuna serempak menoleh ke arah mereka. Di sana, Senopati melangkah bersisian dengan Saras yang tampil elegan dengan selendan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 130

    …“Siapa juga yang cemburu?” Jingga spontan memekik, lalu terkekeh sambil menepuk pahanya. “Enggaklah, Mas. Ngapain cemburu? Mas percaya diri banget, sih!”Tawanya perlahan mereda. Jingga mengembuskan napas, lalu menatap Arjuna lurus-lurus. “Lagian, ingat, kan, poin perjanjian kita? Kita enggak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.” Ia menunjuk Arjuna dengan telunjuknya. “Dan perasaan itu urusan pribadi.”Arjuna terdiam.Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa mengusiknya.“Jadi...” Jingga menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. “Kenapa Mas repot-repot nanya aku cemburu atau enggak?”Tatapan Arjuna seketika mengeras. “Aku hanya bertanya.”“Oh.” Jingga mengangguk-angguk sok paham. “Berarti cuma penasaran?”“Ya.”“Enggak ada alasan lain?”“Ada.” Jawaban Arjuna terlalu cepat.Jingga mengernyit. “Apa?”“Kamu diam setelah ketemu Amanda.” Lanjut Arjuna dengan raut datar.Jingga mendengus pelan. Pertanyaan pria ini ada-ada saja. Entah mau mengetesnya atau hanya se

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 129

    “Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 128

    Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 127

    Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 126

    “Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status