LOGINJingga berdiri di trotoar depan restoran dengan ponsel menempel di telinga. Waktu terus berjalan, dan hanya tersisa beberapa jam sebelum pukul tiga sore. Ayah tirinya, Arman, memang bajingan yang kabur dari rumah, tetapi pria itu membawa serta map berisi dokumen keluarga.
Tanpa kartu keluarga dan akta kelahiran, KUA tidak akan bisa memproses akad nikahnya sore ini.
Panggilan pun tersambung.
[Halo, Jingga! Jangan tagih Ayah uang! Ayah lagi sembunyi dari debt collector!]
“Diam dan dengar, Pak Arman!” potong Jingga tajam, membuang jauh rasa hormatnya. “Bawa KK dan akta lahirku ke KUA Jakarta Pusat sekarang juga. Uang tebusan rumah dan utang-utangmu sudah dilunasi. Tapi kalau kamu terlambat satu menit saja membawa dokumen itu, pihak bank bakal seret kamu ke penjara!”
[Apa?! Sudah lunas?! Oke, oke! Ayah ke sana sekarang juga!]
Panggilan terputus. Jingga menarik napas dalam-dalam. Satu masalah dokumen teratasi.
Namun saat jemarinya membuka aplikasi pesan untuk menghubungi Abimana, dadanya mendadak terasa dihantam batu besar. Puluhan telepon dan pesannya sejak pagi masih berstatus centang satu.
Abi... kamu di mana? Aku butuh kamu...
Senyum pahit terukir di bibir Jingga. Kenyataan menghantamnya telak. Hari ini, di saat hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat, ia harus melangkah sendirian.
KANTOR URUSAN AGAMA
Pukul 15.05 WIB. Jingga tiba di halaman KUA Jakpus dengan dress brokat merah muda bekas kondangan dua tahun lalu.
Di sudut koridor, Arjuna sudah berdiri tegap dengan setelan jas gelap tailor-made. Sosoknya yang terlalu tampan dan berwibawa membuat beberapa staf KUA berbisik-bisik ragu, mengira ada lokasi syuting Drama pendek.
“Terlambat lima menit,” pangkas Arjuna dingin saat Jingga berjalan ke arahnya.
“Dokumennya sedang dibawa—” seru Jingga menggantung.
“Jingga!”
Suara terengah-engah memotong kalimatnya. Arman berlari menghampiri mereka sambil mendekap map cokelat. Melihat Arjuna yang mengenakan jas berkelas, jiwa matre pria paruh baya itu langsung berbinar serakah.
“Ini calon suamimu? Wah, Pak, saya ayahnya—” Arman berbasa-basi, mencoba akrab.
“Mana dokumennya?” potong Arjuna dingin, tanpa sudi menatap wajah Arman.
“Eits, santai dulu,” Arman tersenyum culas, menahan map di balik punggungnya. “Surat-surat ini mahal. Kalau mau dokumen ini lepas, beri saya uang kompensasi seratus juta rupiah sekarang juga.”
Wajah Jingga memucat. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. “Pak Arman, jangan gila ya—”
Sebelum Jingga selesai bicara, Arjuna sudah merogoh buku cek dari balik jasnya. Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, jemari panjang Arjuna menuliskan angka seratus juta rupiah di atas lembaran cek tersebut, menyobeknya, lalu menyodorkannya dingin ke hadapan Arman.
“Ambil ini dan serahkan mapnya,” pungkas Arjuna datar, nadanya begitu mengintimidasi hingga Arman refleks menukar map cokelat itu dengan lembaran cek mahal di tangan Arjuna.
“W-wah... Terima kasih, Menantu!” seru Arman dengan mata berbinar.
“Wira, kawal pria ini keluar dari area KUA,” perintah Arjuna dingin pada asistennya. “Pastikan dia tidak pernah menampakkan kakinya lagi di depan saya.”
“Baik, Pak Arjuna,” sahut Wira tegas, langsung menggiring Arman yang masih kegirangan menuju luar gerbang.
Jingga terpaku di tempat. Ia syok melihat betapa mudahnya Arjuna melempar uang seratus juta hanya demi menghemat waktu lima menit.
Arjuna membuka map cokelat tersebut, menyerahkan dokumennya pada staf KUA, lalu berbalik menatap Jingga. Tatapan kaku CEO itu sempat tertahan beberapa detik pada bahu Jingga yang gemetar dan matanya yang membendung air mata.
Arjuna merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan kain hitam yang halus, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Jingga.
“Usap wajahmu. Jangan sampai petugas KUA berpikir saya memaksa kamu menikah,” ujar Arjuna datar seraya berbalik melangkah masuk ke ruang akad. “Penghulu sudah menunggu.”
Jingga menggenggam erat saputangan beraroma Black Cedar itu, mengusap sudut matanya, lalu menegakkan kepala dan mengikuti langkah kaki panjang Arjuna.
Pintu kayu ruang akad terbuka lebar.
Ketika masuk ke ruangan tersebut, petugas KUA langsung menyambut kedatangan mereka. “Pengantin sudah lengkap? Mari, Pak Arjuna dan Mbak Jingga. Penghulu dan wali hakim sudah siap di dalam meja akad,” ucapnya tegas.
Di tengah ruangan berukuran sempit itu, meja akad sudah tertata. Dua saksi bertokoh penting, wali hakim, dan sang penghulu telah memegang mikrofon.
Langkah Jingga mendadak membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa mau pecah. Di hadapannya, Arjuna sudah duduk tenang membelakanginya, siap mengulurkan tangan pada sang penghulu.
Tidak ada jalan kembali.
Dalam waktu kurang dari dua menit, status hidupnya akan berubah selamanya bersama pria asing sedingin es itu!
Jingga tergugu mendengar pertanyaan Arjuna yang terang-terangan. Tak habis pikir, pria itu yang telah mengatur pernikahan mereka dalam sebuah perjanjian kontrak dan ia pula yang melanggarnya terlebih dahulu.“Mas, sebaiknya kita kembali pada perjanjian awal kita sebelum menikah.” Jingga menjawab dengan tenang meski di dalam batinnya terjadi pergulatan hebat tentang bagaimana pernikahan itu akan mereka bawa. Ini adalah penolakan secara halus tetapi terang-terangan.Wajah Arjuna yang sempat melunak kembali mengeras. Ia merasa jawaban Jingga bukanlah jawaban yang sesungguhnya.Seandainya Jingga menolak setiap kali ia memeluk atau menciumnya, mungkin Arjuna bisa percaya bahwa gadis itu memang tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, Jingga selalu menerima setiap sentu
Di sebuah pub di ibu kota, seorang pemuda tampak larut dalam alkohol. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini adalah menenggelamkan diri dalam minuman keras demi melupakan peliknya masalah hidup.“Udah cukup, Abi.” Zoey, teman koas Abimana, berusaha mengingatkan. “Kamu intoleran alkohol. Kalau terus dipaksakan, kamu bisa kolaps.”Zoey segera menyambar gelas berisi minuman berbusa dari tangan Abimana.Abimana menatap rekannya dengan tajam. “Kamu nggak usah ikut campur, Zoey. Ini bukan urusanmu.”“Urusanku, soalnya ibumu nyuruh aku mantau kamu.” Jawab Zoey dengan dengusan kasar. “Lagian cewek masih banyak. Hilang satu tumbuh seribu—”
“A loving heart is the truest wisdom.” (Hati yang penuh kasih adalah kebijaksanaan sejati: Charles Dickens)…Wira menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan argumennya dengan kepala dingin. “Saya justru melihat ini sebagai sebuah peluang emas, Pak.”Arjuna mengernyitkan dahi, menatap tajam asistennya. “Peluang? Peluang apa yang dimaksud? Kau ingin aku menyerahkan diri pada singa yang sedang kelaparan?”“Bukan menyerahkan diri, Pak,” sanggah Wira cepat. “Justru dengan kembalinya Aldi Heriawan, Bapak punya kesempatan untuk membereskan kekusutan ini sampai ke akarnya. Bapak bisa berbicara langsung dengannya, meluruskan segala kesalahpahaman masa lalu yang dibuat oleh keluarga Widjaya, sekaligus membuktikan ketulusan cinta Bapak pada Bu Jingga.”Wira menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada serius, “Dengan begitu, Bapak bisa meminta restu secara jantan padanya untuk memiliki Bu Jingga seutuhnya. Semoga saja rantai dendam dan kenangan buruk masa lalu itu bisa benar-bena
“I almost wish we were butterflies and lived but three summer days.” –John Keats(Aku hampir berharap kita menjadi kupu-kupu yang hanya hidup selama tiga hari musim panas.)…Hari itu, suasana hati Arjuna benar-benar hancur lebur, membuat aura di kantor mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Sepanjang rapat pagi itu, seluruh ide dan laporan yang dipresentasikan oleh para staf bawahannya ditolak mentah-mentah tanpa ampun. Ruang rapat utama yang megah seketika berubah suasananya menjadi mirip ruang sidang militer, di mana setiap orang memilih menunduk kaku dan menahan napas rapat-rapat. Takut banget kena semprot sang presdir. Ketika pintu ruang rapat tertutup dan para staf keluar dengan lemas, bisik-bisik gosip langsung berhamburan di area pantry.“Pak Presdir kita kesambet apa, sih? Horor banget dari tadi pagi,” bisik salah satu staf pemasaran bergidik ngeri. “Jangan-jangan lagi tantrum?”“Hus! Sembarangan kalau ngomong,” sahut staf lain. “Mungkin dia lagi PMS.”“Pria Masa Sulit
Jingga menarik napas lega dalam-dalam, bersyukur dalam hati karena sang ayah berinisiatif mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap jika harus menjelaskan duduk perkara kontrak pernikahan mereka, apalagi memicu amarah baru dari sosok ayah yang baru saja kembali ke dalam hidupnya.“Bapak bangga sama kamu,” lanjut Aldi dengan senyuman hangat, menuangkan teh hangat ke cangkir Jingga. “Gadis kecil Bapak sekarang sudah tumbuh jadi perempuan hebat dan mandiri.”Jingga tersenyum tipis, meski sisa-sisa rasa canggung masih menggelayut di benaknya. Sepanjang sisa jam makan siang itu, mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan seputar keseharian Jingga di kampus dan kenangan masa kecil yang sempat terlewatkan.Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan pada sang ayah, pikiran Jingga tiba-tiba melayang pada sosok suami.Arjuna... batin Jingga mendadak gelisah. Sialnya, ia lupa kalau Arjuna pasti akan menjemputnya. Benar saja, ketika ia merogoh ponselnya. Ada banyak notifikasi mulai dari chat hin
Pagi itu, Diana dan Jingga menikmati sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa sedikit lengang karena pelayan yang biasa bekerja di sana kebetulan sedang pulang kampung, memaksa mereka menyiapkan semuanya sendiri.Jingga mengaduk-aduk nasi gorengnya, lalu memberanikan diri menatap sang ibu yang sibuk mengunyah roti panggang.“Ibu... kenapa sih enggak mau nerima Bapak lagi?” Jingga memulai bujuk rayunya. “Bapak kan sudah jelaskan kalau beliau amnesia dan lumpuh bertahun-tahun, bukannya sengaja kabur. Seharusnya Ibu maafin Bapak. Kalau perlu, Ibu sama Bapak nikah lagi aja! Jingga ridho lahir batin. Lagian, Ibu sama Pak Arman kan sudah resmi cerai juga.”Diana mendengus kasar. Ia meletakkan roti panggangnya kembali ke piring dengan sentakan pelan, lalu menatap tajam putrinya.“Nikah lagi kepalamu!” semprot Diana tanpa ampun. “Kamu pikir nikah lagi kayak beli kerupuk di warung? Tinggal bayar terus sah?”Jingga cemberut, bibirnya maju beberapa senti seperti anak kecil yang merajuk. “Bu







