MasukTanpa basa-basi bertele-tele, prosesi ijab kabul langsung dimulai. Luar biasanya, Arjuna mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu helaan napas yang teramat lancar. Nada suaranya datar, tegas, dan lugas. Seolah sedang membacakan poin laporan keuangan tahunan perusahaan yang sudah ia hafal di luar kepala.
“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Nareswari binti Aldi Heriawan dengan mas kawin dua puluh gram emas putih dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!”
Kata itu menghantam dada Jingga bagai petir. Meski ini hanya pernikahan kontrak di atas kertas, jantungnya tetap mencelos. Pria yang baru saja mengucapkan kalimat sakral tersebut adalah orang asing yang baru ditemuinya beberapa jam lalu, bukan Abimana, pria yang selama ini ia harapkan.
Selamat, Jingga, bisiknya dalam hati secara sarkas. Satu tahun dari sekarang, kamu bakal menyandang status janda perawan di kampus seni rupa.
Beberapa menit kemudian, seluruh berkas telah ditandatangani. Penghulu dan para saksi memohon diri, menyisakan sepasang pengantin baru yang kini berdiri di halaman kantor KUA dalam keheningan yang serasa membekukan udara.
“Kamu akan langsung tinggal di penthouse milik saya,” ucap Arjuna tanpa menatap Jingga. Pandangannya tertuju lurus pada mobil SUV hitam mewah yang sudah mengondisikan mesin menyala di depan gerbang.
Jingga berusaha menelan saliva yang terasa pahit. “Baik, Pak. Tapi saya izin mau ke rumah sakit dulu untuk melihat kondisi Ibu—”
“Segala kebutuhan ibumu sudah ditangani tim medis terbaik atas perintah Om Senopati,” potong Arjuna cepat dengan nada dingin yang tidak suka dibantah. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya yang mahal, lalu berbalik menghadap Jingga.
Arjuna menundukkan tubuhnya sedikit, memastikan tatapan mata mereka bersirobok lurus.
“Dengar, Jingga. Saya tidak peduli seberapa rumit latar belakang atau masalah keuangan keluargamu,” tutur Arjuna datar, memotong sisa keberatan di wajah Jingga. “Di antara kita, segalanya berjalan murni sesuai poin kontrak. Tidak kurang, tidak lebih. Jangan bawa perasaan, dan jangan ciptakan drama di luar kesepakatan.”
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi rasanya jauh lebih tajam daripada sayatan pisau. Rahang Jingga mengeras seketika. Jiwa idealismenya yang sempat ciut kini mendadak terbakar oleh rasa harga diri yang terusik.
Jingga menegakkan kepalanya, menatap lurus manik mata gelap sedingin es milik Arjuna tanpa rasa gentar sedikit pun.
Oke, fine, tantang Jingga dalam hati.
Lihat saja nanti, Tuan Es Batu. Begitu kontrak satu tahun ini selesai dan utang budiku pada Pak Senopati lunas, surat cerai akan jadi hal pertama yang melempari wajah sombongmu!
…
Satu jam setelah ikrar di KUA, Jingga melangkah mengekor Arjuna masuk ke dalam sebuah penthouse di lantai teratas gedung pencakar langit.
Dinding kaca raksasanya langsung menyuguhkan pemandangan lanskap ibu kota dari ketinggian. Jingga menahan napas sejenak, mengedarkan pandangan ke setiap sudut interior yang didominasi warna monokrom maskulin. Luasnya luar biasa, tapi atmosfernya terasa sedingin galeri seni tanpa pengunjung.
“Kamar tamu di sebelah sana,” kata Arjuna datar, menunjuk sebuah pintu kayu kokoh di sisi ruang tengah. “Itu kamarmu.”
Pria itu melepas jas mahal dan sepatu pantofelnya, menyusunnya dengan presisi yang sangat rapi. Sebagai mahasiswi seni rupa yang terbiasa mengamati gestur dan anatomi, Jingga tak menampik bahwa perawakan dan gerak-gerik Arjuna memang memancarkan kelas atas yang teratur.
Ketika memasuki kamar tamu, Jingga mengembuskan napas panjang. Kamar itu lengkap dengan fasilitas setara hotel bintang lima. Ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin.
Kenyataan bahwa ia kini telah berstatus sebagai istri seorang CEO konglomerat terasa seperti mimpi buruk yang terjadi terlalu cepat.
Ponsel di dalam tasnya mendadak bergetar heboh. Layar menyala menampilkan nama Abimana.
Pria yang ia cintai itu akhirnya menghubunginya. Tepat setelah ia resmi menjadi istri pria lain.
Di luar kamar, Arjuna duduk di sofa sambil sibuk menatap layar tabletnya, sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi.
Sementara itu, Jingga menatap panggilan masuk tersebut dengan tangan gemetar.
Haruskah ia menjawab?
Atau membiarkan pria yang selama ini ia cintai itu pergi untuk selamanya?
Layar ponselnya terus bergetar. Abimana masih menelepon.
“Maaf, Mas. Aku tidak tahu.” Jawab Jingga canggung setelah melihat reaksi Arjuna yang tidak seperti biasanya. Sorot manik obsidiannya berubah gelap setelah mendengar pertanyaannya tadi. Arjuna memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Ia mengatur napasnya yang terasa sesak dan berat setiap kali mendengar seseorang menanyakan tentang ibunya. “Kedua orang tuaku bercerai saat aku masih SMP. Setelah itu Ibu tinggal di luar negeri.” Lanjut Arjuna singkat. Jingga mengangguk halus. Ia paham ketika melihat reaksi Arjuna tentang ibunya. Ia pasti kehilangan sosok ibu sejak lama. Beberapa menit keheningan yang syahdu berlalu sebelum suara langkah kaki dan gema perbincangan lembut mulai terdengar mendekat dari arah jalan setapak.“Tuh kan, Saras, Arjuna sudah lebih dulu datang sama Jingga.” Suara Senopati memecah keheningan di area pemakaman yang asri. Jingga dan Arjuna serempak menoleh ke arah mereka. Di sana, Senopati melangkah bersisian dengan Saras yang tampil elegan dengan selendan
…“Siapa juga yang cemburu?” Jingga spontan memekik, lalu terkekeh sambil menepuk pahanya. “Enggaklah, Mas. Ngapain cemburu? Mas percaya diri banget, sih!”Tawanya perlahan mereda. Jingga mengembuskan napas, lalu menatap Arjuna lurus-lurus. “Lagian, ingat, kan, poin perjanjian kita? Kita enggak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.” Ia menunjuk Arjuna dengan telunjuknya. “Dan perasaan itu urusan pribadi.”Arjuna terdiam.Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa mengusiknya.“Jadi...” Jingga menyipitkan mata, seolah baru menyadari sesuatu. “Kenapa Mas repot-repot nanya aku cemburu atau enggak?”Tatapan Arjuna seketika mengeras. “Aku hanya bertanya.”“Oh.” Jingga mengangguk-angguk sok paham. “Berarti cuma penasaran?”“Ya.”“Enggak ada alasan lain?”“Ada.” Jawaban Arjuna terlalu cepat.Jingga mengernyit. “Apa?”“Kamu diam setelah ketemu Amanda.” Lanjut Arjuna dengan raut datar.Jingga mendengus pelan. Pertanyaan pria ini ada-ada saja. Entah mau mengetesnya atau hanya se
“Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu
Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan
Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin
“Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti







