分享

Bab 4

作者: Piemar
last update publish date: 2026-07-17 21:40:49

Tanpa basa-basi bertele-tele, prosesi ijab kabul langsung dimulai. Luar biasanya, Arjuna mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu helaan napas yang teramat lancar. Nada suaranya datar, tegas, dan lugas. Seolah sedang membacakan poin laporan keuangan tahunan perusahaan yang sudah ia hafal di luar kepala.

“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Nareswari binti Aldi Heriawan dengan mas kawin dua puluh gram emas putih dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah!”

Kata itu menghantam dada Jingga bagai petir. Meski ini hanya pernikahan kontrak di atas kertas, jantungnya tetap mencelos. Pria yang baru saja mengucapkan kalimat sakral tersebut adalah orang asing yang baru ditemuinya beberapa jam lalu, bukan Abimana, pria yang selama ini ia harapkan.

Selamat, Jingga, bisiknya dalam hati secara sarkas. Satu tahun dari sekarang, kamu bakal menyandang status janda perawan di kampus seni rupa.

Beberapa menit kemudian, seluruh berkas telah ditandatangani. Penghulu dan para saksi memohon diri, menyisakan sepasang pengantin baru yang kini berdiri di halaman kantor KUA dalam keheningan yang serasa membekukan udara.

“Kamu akan langsung tinggal di penthouse milik saya,” ucap Arjuna tanpa menatap Jingga. Pandangannya tertuju lurus pada mobil SUV hitam mewah yang sudah mengondisikan mesin menyala di depan gerbang.

Jingga berusaha menelan saliva yang terasa pahit. “Baik, Pak. Tapi saya izin mau ke rumah sakit dulu untuk melihat kondisi Ibu—”

“Segala kebutuhan ibumu sudah ditangani tim medis terbaik atas perintah Om Senopati,” potong Arjuna cepat dengan nada dingin yang tidak suka dibantah. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya yang mahal, lalu berbalik menghadap Jingga.

Arjuna menundukkan tubuhnya sedikit, memastikan tatapan mata mereka bersirobok lurus.

“Dengar, Jingga. Saya tidak peduli seberapa rumit latar belakang atau masalah keuangan keluargamu,” tutur Arjuna datar, memotong sisa keberatan di wajah Jingga. “Di antara kita, segalanya berjalan murni sesuai poin kontrak. Tidak kurang, tidak lebih. Jangan bawa perasaan, dan jangan ciptakan drama di luar kesepakatan.”

Kalimat itu meluncur pelan, tetapi rasanya jauh lebih tajam daripada sayatan pisau. Rahang Jingga mengeras seketika. Jiwa idealismenya yang sempat ciut kini mendadak terbakar oleh rasa harga diri yang terusik.

Jingga menegakkan kepalanya, menatap lurus manik mata gelap sedingin es milik Arjuna tanpa rasa gentar sedikit pun.

Oke, fine, tantang Jingga dalam hati.

Lihat saja nanti, Tuan Es Batu. Begitu kontrak satu tahun ini selesai dan utang budiku pada Pak Senopati lunas, surat cerai akan jadi hal pertama yang melempari wajah sombongmu!

…

Satu jam setelah ikrar di KUA, Jingga melangkah mengekor Arjuna masuk ke dalam sebuah penthouse di lantai teratas gedung pencakar langit.

Dinding kaca raksasanya langsung menyuguhkan pemandangan lanskap ibu kota dari ketinggian. Jingga menahan napas sejenak, mengedarkan pandangan ke setiap sudut interior yang didominasi warna monokrom maskulin. Luasnya luar biasa, tapi atmosfernya terasa sedingin galeri seni tanpa pengunjung.

“Kamar tamu di sebelah sana,” kata Arjuna datar, menunjuk sebuah pintu kayu kokoh di sisi ruang tengah. “Itu kamarmu.”

Pria itu melepas jas mahal dan sepatu pantofelnya, menyusunnya dengan presisi yang sangat rapi. Sebagai mahasiswi seni rupa yang terbiasa mengamati gestur dan anatomi, Jingga tak menampik bahwa perawakan dan gerak-gerik Arjuna memang memancarkan kelas atas yang teratur.

Ketika memasuki kamar tamu, Jingga mengembuskan napas panjang. Kamar itu lengkap dengan fasilitas setara hotel bintang lima. Ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin.

Kenyataan bahwa ia kini telah berstatus sebagai istri seorang CEO konglomerat terasa seperti mimpi buruk yang terjadi terlalu cepat.

Ponsel di dalam tasnya mendadak bergetar heboh. Layar menyala menampilkan nama Abimana.

Pria yang ia cintai itu akhirnya menghubunginya. Tepat setelah ia resmi menjadi istri pria lain.

Di luar kamar, Arjuna duduk di sofa sambil sibuk menatap layar tabletnya, sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi.

Sementara itu, Jingga menatap panggilan masuk tersebut dengan tangan gemetar.

Haruskah ia menjawab?

Atau membiarkan pria yang selama ini ia cintai itu pergi untuk selamanya?

Layar ponselnya terus bergetar. Abimana masih menelepon.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 265

    “The opposite of love is not hate, it’s indifference.” (Lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian; Elie Wiesel)…“Ough, sakit banget. Tau gitu aku ikut Karina pulang ke kosannya.” Jingga merutuk dalam batinnya. Sepulang dari mall, ia menyempatkan diri mampir ke sanggar lukis di mana ia mengajar dulu. Sebulan yang lalu ia resign karena sangat sibuk dengan persiapan tugas akhir.Beruntung, ia juga masih mendapatkan penghasilan tambahan dari sebuah situs yang menjual ilustrasi digital. Setidaknya, kemampuannya dalam seni gambar atau lukis sangat membantu masalah finansialnya. Ia hanya ingin bertemu dengan rekan sesama tutor di sana. Sebetulnya, alasannya hanyalah ingin menghindari Arjuna. Ia kesal pada suaminya karena sudah pergi berduaan di toko perhiasan bersama cinta pertamanya, pikirnya sudah salah paham. Dan, malangnya, hari sial tidak ada dalam kalender. Ponselnya tertinggal di mobil Karina dalam keadaan silence. Pasti, Karina yang rempong tidak akan memper

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 264

    “The single biggest problem in communication is the illusion that it has taken place.” (Masalah terbesar dalam komunikasi adalah ilusi bahwa komunikasi telah terjadi ;George Bernard Shaw)…Malam itu, Arjuna bolak balik berjalan di depan balkon kamar miliknya. Tatapannya tertuju pada gerbang rumah mewah yang menjulang pongah, menunggu kepulangan istrinya. Padahal jarum pendek sudah merangkak ke angka delapan malam. Namun, batang hidungnya belum kelihatan juga. Ada rasa gelisah sekaligus tak sabar menanti kehadirannya. Pasalnya, ia sudah mempersiapkan cincin berlian yang akan ia sematkan pada jari manis istrinya. Cincin yang menandakan awal baru hubungan mereka berdua. Bukan cincin simbolis yang menunjukan formalitas hubungan suami istri yang palsu. Sejak cincin itu sudah menghuni saku jasnya, ia tak sabar menantikan istrinya. Naasnya, rencananya sepertinya akan ditunda mengingat Jingga belum pulang. “Kemana lagi anak itu?” gerutu Arjuna kini tatapannya teralihkan pada benda pipih y

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 263

    Jingga tergugu mendengar pertanyaan Arjuna yang terang-terangan. Tak habis pikir, pria itu yang telah mengatur pernikahan mereka dalam sebuah perjanjian kontrak dan ia pula yang melanggarnya terlebih dahulu.“Mas, sebaiknya kita kembali pada perjanjian awal kita sebelum menikah.” Jingga menjawab dengan tenang meski di dalam batinnya terjadi pergulatan hebat tentang bagaimana pernikahan itu akan mereka bawa. Ini adalah penolakan secara halus tetapi terang-terangan.Wajah Arjuna yang sempat melunak kembali mengeras. Ia merasa jawaban Jingga bukanlah jawaban yang sesungguhnya.Seandainya Jingga menolak setiap kali ia memeluk atau menciumnya, mungkin Arjuna bisa percaya bahwa gadis itu memang tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, Jingga selalu menerima setiap sentu

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 262

    Di sebuah pub di ibu kota, seorang pemuda tampak larut dalam alkohol. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini adalah menenggelamkan diri dalam minuman keras demi melupakan peliknya masalah hidup.“Udah cukup, Abi.” Zoey, teman koas Abimana, berusaha mengingatkan. “Kamu intoleran alkohol. Kalau terus dipaksakan, kamu bisa kolaps.”Zoey segera menyambar gelas berisi minuman berbusa dari tangan Abimana.Abimana menatap rekannya dengan tajam. “Kamu nggak usah ikut campur, Zoey. Ini bukan urusanmu.”“Urusanku, soalnya ibumu nyuruh aku mantau kamu.” Jawab Zoey dengan dengusan kasar. “Lagian cewek masih banyak. Hilang satu tumbuh seribu—”

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 261

    “A loving heart is the truest wisdom.” (Hati yang penuh kasih adalah kebijaksanaan sejati: Charles Dickens)…Wira menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan argumennya dengan kepala dingin. “Saya justru melihat ini sebagai sebuah peluang emas, Pak.”Arjuna mengernyitkan dahi, menatap tajam asistennya. “Peluang? Peluang apa yang dimaksud? Kau ingin aku menyerahkan diri pada singa yang sedang kelaparan?”“Bukan menyerahkan diri, Pak,” sanggah Wira cepat. “Justru dengan kembalinya Aldi Heriawan, Bapak punya kesempatan untuk membereskan kekusutan ini sampai ke akarnya. Bapak bisa berbicara langsung dengannya, meluruskan segala kesalahpahaman masa lalu yang dibuat oleh keluarga Widjaya, sekaligus membuktikan ketulusan cinta Bapak pada Bu Jingga.”Wira menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan nada serius, “Dengan begitu, Bapak bisa meminta restu secara jantan padanya untuk memiliki Bu Jingga seutuhnya. Semoga saja rantai dendam dan kenangan buruk masa lalu itu bisa benar-bena

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 260

    “I almost wish we were butterflies and lived but three summer days.” –John Keats(Aku hampir berharap kita menjadi kupu-kupu yang hanya hidup selama tiga hari musim panas.)…Hari itu, suasana hati Arjuna benar-benar hancur lebur, membuat aura di kantor mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Sepanjang rapat pagi itu, seluruh ide dan laporan yang dipresentasikan oleh para staf bawahannya ditolak mentah-mentah tanpa ampun. Ruang rapat utama yang megah seketika berubah suasananya menjadi mirip ruang sidang militer, di mana setiap orang memilih menunduk kaku dan menahan napas rapat-rapat. Takut banget kena semprot sang presdir. Ketika pintu ruang rapat tertutup dan para staf keluar dengan lemas, bisik-bisik gosip langsung berhamburan di area pantry.“Pak Presdir kita kesambet apa, sih? Horor banget dari tadi pagi,” bisik salah satu staf pemasaran bergidik ngeri. “Jangan-jangan lagi tantrum?”“Hus! Sembarangan kalau ngomong,” sahut staf lain. “Mungkin dia lagi PMS.”“Pria Masa Sulit

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status