Teilen

Bab 4

last update Veröffentlichungsdatum: 17.07.2026 21:40:49

“Cukup!” suara Arjuna terdengar tegas, menyela percakapan Jingga dan Arman. Tanpa tedeng aling–aling, ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek lalu menuliskan angka di sana dengan gerakan cepat. 

Sreek. 

Arjuna menyobek lembaran cek itu lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Arman. “Seratus juta untuk membeli dokumen itu.”

Wajah Arman langsung berbinar serakah saat menerima cek itu. Ternyata, menantunya benar-benar kaya raya. 

“Terima kasih menantu. Ini dokumennya. Semoga acaranya lancar. Dan, pernikahan kalian sakinah mawaddah warahmah.” Ucap pria itu sembari melenggang pergi meninggalkan mereka begitu saja. 

Wajah Jingga sudah memerah sebab amarah dan rasa malu yang menyatu. Sungguh, demi apapun, ia merasa harga dirinya tercoreng di depan pria dingin penuh kharismatik di depannya. Rasanya, ia ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya.  

Arjuna menatap Jingga lurus-lurus, masih dengan ekspresi yang sama. “Ayah dan anak sama saja,” gumamnya hanya terdengar oleh dirinya sendiri. 

Namun, Jingga bisa merasakan tatapan meremehkan dari sosok yang kini akan menjadi suaminya setahun ke depan. 

Setelah drama singkat tersebut, Arjuna menyerahkan dokumen itu pada petugas KUA yang sudah menunggu di pintu. 

Kini mereka sudah berada di sebuah ruangan tiga kali tiga meter persegi. Seorang penghulu, seorang wali hakim, dua orang saksi dan petugas KUA sudah menunggu mereka dengan rapi. 

Atmosfer ruangan itu lebih mirip ruangan sidang skripsi ketimbang tempat sakral menuju pelaminan.

Namun, luar biasa, Arjuna mengucapkan kalimat ijab qabul itu dengan sangat lancar. Nada suaranya datar tetapi tegas seolah sedang membaca laporan keuangan perusahaan yang sudah dihafal di luar kepalanya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga binti Aldi Heriawan dengan mas kawin dua puluh gram emas putih dibayar tunai.”

Kalimat itu terdengar seperti sebuah trumpet penanda kematian. Untuk sesaat Jingga tercenung dengan pikiran yang gaduh dan berat. 

Harapannya, pria yang mengucapkan kalimat sakral itu adalah Abimana, bukan pria asing yang baru ia temui. Naasnya, semesta tengah bermain-main dengannya. 

“Sah!”

Dan, kata itu terdengar seperti petir bagi Jingga. Meskipun itu pernikahan kontrak, tetapi rasanya jantungnya mencelos.

Selamat, Jingga, bisiknya dalam batin sarkas. Setelah bercerai dengan Arjuna, kamu akan resmi menyandang status janda perawan terkaya di kampus seni rupa. 

Setelah kalimat ijab qabul selesai, satu per satu mengundurkan diri kecuali sepasang pengantin baru yang saat ini tengah berdiri di halaman kantor KUA dengan kecanggungan yang sanggup membuat rumput di sana layu. 

“Kamu akan tinggal di penthouse milikku.” Ucap Arjuna tanpa menatapnya. Tatapannya hanya tertuju pada mobil SUV mewah yang terparkir di depan matanya. 

Jingga mengangguk pasrah, berusaha menahan diri untuk tidak memutar ke dua bola matanya. “Baik, Pak. Tapi saya ijin—”

Lagi-lagi, kalimatnya dipotong mentah-mentah karena Arjuna menyela dengan hembusan napas pendek yang terdengar tidak sabaran. “Dengar, Jingga.”

Jingga terdiam tetapi hatinya merasa tidak nyaman melihat cara pria itu bersikap padanya. Sungguh, kalau bukan karena ibunya yang tengah terbaring di rumah sakit dan tagihan SP3 dari bank, tak sudi ia ikut dalam permainan ‘nikah-nikahan’ kaum konglomerat yang sepertinya kekurangan hiburan ini.

Arjuna memasukkan kedua tangan ke saku celana kainnya yang mahal, lalu memutar tubuh menghadap Jingga. “Saya tidak peduli seberapa banyak masalah keuangan yang kamu selesaikan lewat kesepakatan ini,” ucap Arjuna datar.

Jingga mengernyitkan alisnya rapat-rapat. Jiwa idealismenya mulai terusik. Bukankah ia sudah mengatakan keberatannya soal uang satu miliar itu? Apa jangan-jangan ini orang amnesia?

“Segala hal di antara kita berjalan sesuai poin kontrak. Tidak kurang dan tidak lebih.” Arjuna menundukan tubuhnya sedikit, memastikan tatapan mereka bersirobok tegak lurus. 

Kalimat itu meluncur pelan. Namun, rasanya jauh lebih tajam ketimbang sayatan pisau dapur. 

Jingga tergugu sesaat. Rahangnya mengeras seketika. Sikap bodo amatnya mendadak menguap, tergantikan oleh gairah ingin membalas harga dirinya yang diinjak-injak. 

Okay, fine, tantang Jingga dalam hati sembari menatap lurus mata gelap sedingin es milik Arjuna. 

Lihat saja nanti, Tuan Es Batu. Aku akan membayar kembali bantuan Pak Senopati. Setelah lunas, surat cerai akan menjadi hadiah pertama yang kulempar ke wajah sombongmu!

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 12

    Jingga mengembuskan napas pendek kemudian ia mengangguk lemah. “Karin, dia belum tahu.”Karina menepuk-nepuk punggung tangan Jingga. “Aku paham, Gia. Ini tidaklah mudah. Tapi … mungkin kamu sebaiknya segera membuat keputusan sebelum semua terlambat. Aku gak mau kamu terkena masalah. Apalagi, kita sekarang udah di tingkat akhir. Kita harus fokus untuk persiapan skripsi.”Jingga tersenyum pahit mendengar nasehat Karina yang sialnya benar adanya. Melihat raut wajah Jingga yang berubah sendu, Karina mencubit pipi Jingga gemas. “Jangan sedih! Aku gak bisa lihat sahabatku sedih. Jingga selalu ceria,” katanya sembari mengangkat kedua tangan Jingga ke udara, memberi semangat. Setelah melepas rindu, berbincang hangat dengan sahabatnya, Jingga memutuskan pergi menuju WK Gallery Space Art untuk melanjutkan proyeknya muralnya yang tertunda. Perlengkapan melukis mural masih berada di sana sehingga gadis itu tidak membawa barang banyak dari kampus. Hanya tas ransel berisi tablet, buku sketsa dan

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 11

    Seorang wanita muda berseragam housekeeping berwarna abu-abu charcoal dengan lis hitam membuka pintu dengan tenang. Name tag terpasang rapi di dada kirinya, sementara rambutnya disanggul tanpa sehelai pun yang terurai.Ketika pandangan mereka bertemu, baik Jingga maupun petugas housekeeping itu sama-sama terperanjat.“Anda siapa ya?” tanya wanita berseragam rapi tersebut membuka suara lebih dulu. “Pak Arjuna tidak pernah mengizinkan siapapun menginap di sini sebelumnya. Apalagi … perempuan,”Jingga membeku di tempat. Tangannya semakin mencengkram tali tas ranselnya. Ia dilanda bingung harus menjawab apa atau memperkenalkan dirinya sebagai siapa di sana. Masalahnya, ia dan Arjuna belum bicara serius perihal pernikahan mereka secara langsung. Pria dingin itu hanya memberikan salinan kontrak tanpa menjelaskan apakah pernikahan yang mereka jalani bersifat rahasia ataukah diketahui oleh keluarga dekat semacam itulah. Namun, sebelum Jingga membuka mulut untuk merangkai kembali karangan abs

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 10

    Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 9

    Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 8

    “Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 7

    Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status